03 September 2007

APA KABARMU HARI INI SAYANG?

23 Juni, 12:32
Apa kabarmu hari ini, Sayang? Apakah kau merasa nyaman didalam buaian di dekat Sang Empunya alam? Ah tak terasa, hari ini, sepuluh tahun tepat bunda menunggumu ditengah deraan dan bisik-bisik menyakitkan. Andai saja Ayah tak menguatkan bunda, entah bagaimana bunda melalui seluruh hari yang penuh penuh cemooh atau tatapan kasihan. Ayahlah yang selalu menggenggam tangan Bundamu setiap kali Bunda mulai lelah menghadapi hari-hari panjang menantimu dan berkata ,” Jangan dengarkan setiap orang yang menanyakan kapan pangeran atau bidadari kita datang, karena cuma Allah yang memegang rahasia kehidupan”.
Ia pula yang tak bosan-bosannya membisikkan kata manis ditelinga Bunda agar tak pernah berhenti memanjatkan doa kebaikan pada-Nya, agar kelak jika Ia mengijinkanmu turun, bunda dan ayah sudah siap mengemban amanah.

Oh Sayang, apakah kau melihat mendung di langit siang? Rasanya sebentar lagi hujan akan datang, membasahi bumi yang sekian lama nelangsa kekeringan. Coba lihat itu sayang, hujan benar-benar datang bukan? Ia turun tanpa ampun dan menguarkan bau tanah basah yang hangat setelah lama tak terjamah oleh derasnya hujan. Coba bayangkan berapa banyak senyum yang terkembang karena guyuran hujan ini. Pastilah kesuraman musim kemarau lalu telah terbilas habis olehnya ya? Ah, iya ada baiknya kita berdoa seiring lebatnya hujan ini, Sayang, karena berdoa saat hujan turun pertama kali itu penuh ijabah. Ah, betapa lelahnya Bunda sayang. Entah kenapa badan bunda jadi tidak nyaman akhir-akhir ini….Maafkan Bunda, sayang, Bunda merasa harus segera mengistirahatkan badan, sebelum mata Bunda kian berkunang-kunang.

25 Juni, 18:30
“ Ibu, selamat ,” Dokter Nida menyalamiku dengan hangat. Tatapan matanya yang berbinar cerah sama sekali tak menjawab kecamuk pertanyaan dihatiku. Selamat? Mengapa harus diberi ucapan selamat?
“ Maksud, Dokter?”
“ Ibu hamil 5 minggu,” jawab Dokter Nida sambil menepuk-nepuk tanganku.
Hamil? Aku menatap suamiku, dan berteriak tertahan saat ia mengangguk mengiyakan. Ya Allah, terimakasih…Akhirnya Engkau mengirimkannya datang juga, seorang bocah yang sudah sepuluh tahun kami tunggu. Terima kasih Ya Allah, dan air mata pun turun tak tertahan….
“ Sayang, akhirnya kau turun juga dari buaian di dekat Empunya Alam. Terlihatkan olehmu langit cerah hari ini, Sayangku? Terlihatkah olehmu bintang bulan berkilauan menyambutmu? Ulurkan tangan mungilmu, Sayangku, ajak Ayah dan Bunda menari disitu,” bisikku seraya menengadah ke angkasa dan memanjatkan doa syukur pada Allah Yang Akbar.


Only story, Inspired by TY’s family (both of you are great!)
Done, 12:51, 030907

Tidak ada komentar:

Posting Komentar