25 September 2007

MUKENA DAN SAJADAH

“ Baru ya mbak?” tanya seorang teman melihat saya tarawih memakai mukena merah muda. Saya cengengesan. Mukena itu mukena lama hadiah ibu, yang jarang saya pakai. Maklum warnanya yang merah muda cantik itu bikin nyolok mata kalau dipakai ditengah manusia yang bermukena putih. Bayangkan dari lautan putih eh ada satu warna yang tiba-tiba mak plok berbeda sendiri, merah muda lagi…wii mau nggak mau, ada atau tidak ada pasti ada yang memperhatikan sambil seenggaknya membatin ,” ealah kok ya merah muda…”

Sama dengan saya, Ayu yang pergi tarawih dengan mukena yang berwarna agak orange pun jadi risih saat ia melihat semua orang bermukena putiiih semua. Akhirnya ia pilih duduk di shaf belakang untuk menghindari ditatap sedemikian rupa oleh orang. Orang dewasa memang tidak perhatian, tapi justru anak-anak yang melihatnya dengan girang. Besoknya karena shaf-nya makin maju, ia pun terpaksa maju meski dengan sedikit risih. Tuh kan bener. Seada-adanya orang pun langsung memperhatikan. Maklum mukena orange-nya itu membuat nuansa putih jadi sedikit berbeda. Lah besoknya…tharararaa……..Mendadak nuansa putih yang kemarin merajai kini hilang dan jadi belang-belang, karena semua orang datang dengan mukena yang berwarna-warni. Hiks! Diam-diam Ayu tertawa sendiri. Waduuh padahal bukan maksudnya mengacaukan keadaan lho…..

Memang tanpa disadari sholat bisa enggak khusyu’ jika kita menatap orang lain memakai mukena warna-warni. Entah karena pikiran meleng dan tiba-tiba membatin betapa bagusnya atau justru mencerca-kok tega-teganya pake mukena beda warna. Jangankan mukena, coba kalau orang didepanmu memakai kaos bergambar dengan kata-kata lucu seperti kaos dagadu atau jogger…tanpa sadar kita akan membaca dan tertawa dalam hati. Walah hilang sudah khusyu’ itu, terbang bersama tulisan lucu didepan kita. Hehehehe…

Tapi yang paling bikin saya jadi mikir adalah ucapan seorang ibu pada seorang nenek yang diberinya sajadah.
“ Lho mbah, sajadahnya kok nggak dipakai? Nggak suka ya? Kalo nggak suka dikasih sama yang lain saga,” ucap si ibu yang melihat si Embah tetap saga memakai handuk merah mudanya sebagai sajadah.
Dengan ucapan tak tak terlalu nyambung si Embah memberi alasan sementara diam-diam saya jadi nggak enak sendiri mendengarnya. Diam-diam saya bertanya pada diri sendiri, bisakah saya menahan diri untuk tak menegur seperti itu jika apa yang saya beri tak dipakai si penerima? Saya ingat guru saya pernah berkata apa yang sudah kau berikan, apapun itu tak usah kau permasalahkan lagi. Terserahlah akan diapakan, karena hak si penerima untuk menjadikannya apa saja. Seandainya pun dijual karena ia lebih butuh uang ketimbang si barang, biarkan saja…mungkin itu lebih bermanfaat baginya.
Jadi ikhlaskah si ibu tadi memberi? Saya rasa ikhlas hanya saja ia kecewa melihat pemberiannya tak dipakai oleh si embah dengan segera…


6 komentar:

  1. Ikhlas iaitoe satoe tingkat kasempoerna'an sebagih orang Slam poen...mangka kitaoran gmistih slaloe broesaha sakoewat kitaorang poenja tenaga en oepaia boewat djahadie orang ikhlas itoe poen....

    BalasHapus
  2. setoedjoe poen! halah.

    mampir, fin. makasih, komenmu flattering, huehehe...

    eh kirain afin cowo tadinya :D

    BalasHapus
  3. hehe,,
    mending mbak ikutan JAWARAGAKTAKUTJERAWAT aja..
    jadi revolusioner mukena..
    he..

    BalasHapus
  4. makanya,klo trawih jgn bawa HP...

    *opo tho pin*

    BalasHapus
  5. Hehehe...jadi ingat sama iklan yg semuanya sholat pake putih trus tiba2 di tengah ada yg pake hitam :D
    Bukan warna yang jadi ukuran kan mbak?
    salam,
    ur bro [Muhammad Ilham]

    BalasHapus