26 Mei 2008

SURAT CINTA UNTUK SUKRI, GITARIS AMATIR



Hey… belum juga aku mengerti

Apa yang sedang kurasakan

Tak seperti biasanya

Hey… mungkin semua karenamu

Sudah tak bisa kunikmati

Saat kau tak bersamaku

Seandainya saja bisa kukatakan

Jangan kau tinggalkan

Saat ini ku ragu

Bisakah kunikmati semua

tanpamu selamanya


Hey…pernah kukatakan dalam hati

Mencoba menikmati apa yang terjadi


Hey…ternyata sangat melelahkan

Harus kuhadapi kenyataan sendiri

tak bersamamu

Seandainya saja bisa kukatakan

Jangan kau tinggalkan

Saat ini kuragu bisakah kunikmati semua tanpamu

Selamanya

Berharap kuterbiasa sendiri menikmatinya

(Ipang and Sheila Marcia on Hey)


Jangan dengarkan lagu cinta itu, Kri. Baca saja surat-surat cinta yang menyejukkan jiwa, surat cinta-Nya yang mana saja, karena semua yang terangkai disana bukan hasil karya pujangga biasa yang menye-menye dan cenderung menyesatkan hati yang berduka. Resapilah perlahan, semoga kau temukan Polaris ditengah kelamnya malam, sebagai penunjuk jalan pengembara yang tengah kebingungan seperti dirimu sekarang.


Sesudahnya, ungkapkan saja rasa cinta itu pada-Nya. Tuntaskan tanpa ada yang perlu disembunyikan. Kau tahu, Ia satu-satunya yang takkan menolakmu meski kamu bukan siapa-siapa, hanya sebangsa manusia kerdil yang kekurangan segala-galanya.

Ia-lah teman sejati yang kau perlukan sekarang, bukan aku, dia atau lainnya. Karena bersama-Nya kau akan temukan kedamaian, mengadu padanya tanpa kesulitan atau rahasiamu akan terbongkar.

Meski begitu seringkali kita tak paham mengapa jika Ia cinta pada kita ia harus menguji kita dengan kesusahan? Mengapa jalan yang terlihat sudah lurus dan indah tiba-tiba saja dibelokkan? Mengapa ia tiba-tiba ia seolah tak rela mempertemukan jalan cinta yang telah kau bina sekian panjang? Ada apa ini?

Percayalah, Kri, jika sekarang engkau diuji oleh oleh rasa cinta yang menyusahkan akan kau temukan juga kebahagian saat waktunya tiba pada seseorang yang telah digariskan sebagai kekasihmu seperti yang tersebut di Lauhul Mahfudz. Ambillah pelajaran dari masa lalu, Kri, karena orang yang berbahagia adalah orang yang dapat mengambil pelajaran dari masa lalu yang telah dilewatinya.

Jangan beri aku tongkat, biarkan aku memerangi sendiri kesulitan yang menghadang. Aku takkan jadi dewasa bila kau terus mengacungkan tongkat itu padaku,” katamu saat kita bicara malam itu.

Sebagai saudara dan sahabat aku tahu, kamu benar (meski kadang ingin saja kuambil tongkat itu dan kupukulkan padamu agar kau sadar). Apapun yang kukatakan, apa yang kuungkapkan hanyalah bahan pertimbangan karena kamulah sang penentu kebijakan. Dan aku yakin kamu pasti punya banyak pertimbangan sebelum memutuskan sebuah perkara.



Dedicated to Sukri, Kriwil dan Tec

2 komentar:

  1. lah mbak, emang kadang2 kl liat temen ky gini rasanya pengen banget mukul dia pk tongkat segede gambreng biar dy sadar. (berasa pernah senasib)

    BalasHapus
  2. wah,lagunya aku suka bgt tuh pin...

    aku ada lho..kekkekek

    BalasHapus