31 Mei 2010

PEJALAN JAUH PART 8

Photobucket
Sejak bertemu denganmu aku merasakan sesuatu yang berbeda. Pikiran bebasmu menyeretku ke satu dunia yang tak pernah kumasuki sebelumnya. Dunia penuh mimpi, dunia yang kuabaikan selama ini.
“ Bermimpilah karena mimpi tidak bayar. Untuk apa takut bermimpi, apa kau tahu banyak hal hebat di dunia ini berawal dari mimpi,” katamu seolah percikan api yang membakar hasrat diri.
Begitukah? Bagaimana jika aku kehilangan segala kenyamanan yang kupunya hanya untuk mengejar sebuah mimpi yang belum pasti? Inilah hidupku, ini pilihanku. Sesuatu yang memang kusukai sejak dulu.
“ Benarkah itu?” ucapmu sambil menuang air panas dalam gelas berisi bubuk kopi. “ Jika kau suka mengapa kau selalu mengeluh? Tak pernah kulihat kau merdeka di dalamnya.”
Diam tak bisa berkata-kata. Kutekuri tanah di bawah kakiku. Mengiyakan dalam hati ucapnya itu.
Kau benar. Aku tak merdeka. Aku sudah lupa apa arti merdeka. Orang lain melihatku tampak bahagia, sesungguhnya tidak di dalam sana. Tapi aku selalu menepiskan segala haru biru rasanya. Melaju mengikuti alur jadi di depanku dan melupakan mimpi-mimpi masa kecilku. Tentang terbang mengangkasa ke sekujur dunia, seperti yang sering kugambarkan gumaman dan cerita. Kemana? Kemana keberanianku? Kemana hilangnya gadis kecil yang bermimpi menuliskan kisah perjalanannya sendiri?
Seolah sangkar maya, segala yang mereka katakan tentang hidup menjadi belenggu. Kau harus begini, kau harus begitu. Tak bisa tentukan sendiri langkahku. Setiap kali aku meneguhkan diri mengikuti jalanku, mereka mengingatkanku untuk kembali pada jalan utama yang harusnya kulalui. Jalanan yang dipenuhi batas-batas kaku bernama rutinitas dan kebiasaan hingga akhirnya aku jadi terlampau takut terbang demi demi mewujudkan impian. Dihantui bayang-bayang kegagalan, kepak sayapku selalu terhenti sebelum mencapai batas.
“ Hidup itu bukan sebuah kenyamanan. Jika hanya itu yang kau inginkan. Sesungguhnya kau telah mati di dunia yang penuh warna ini.” Ujarmu sambil tertawa kecil. Seperti denting lonceng, renyahnya mengalun di udara.
“Kau harus menebas hutan, rasakan desir angin, lolong anjing, dan harum pohon pinus. Menyentuh embun yang menetes di daunan. Pergi melintasi pucuk-pucuk cemara untuk mencium kabut senja pun gerimis renyai yang melingkupinya. Rasakanlah! Dunia itu penuh tantangan, dibalik itu banyak keindahan. Bukalah matamu lebar-lebar,” lanjutmu tak memperhatikan keruh wajahku.
Aku benci mendengar ucapmu. Seolah kau tahu saja apa hidup itu. Sejurus kemudian aku meluncur pergi, meninggalkan tanganmu mengulurkan secangkir kopi harum wangi padaku dalam kesia-siaan. Melihat tingkahku, tawa geli melejit dari tenggorokanmu. Mengejekku. Bahkan ketika aku merangkai serapah untuk menangkis hal itu.

“ Pikirkan kata-kataku!” serumu dalam kekeh kecilmu.
Seminggu, dua minggu aku menjauhimu. Melengos dan mengambil jalan lain tiap melihatmu. Sedangkan kau tak sedikitpun terusik atas tingkah kekanak-kanakanku. Anehnya tanpa bisa kutepiskan kata-katamu terus berdentam. Seperti genderang perang yang kerap dimainkan untuk membangkitkan semangat juang, aku sulit mengabaikannya. Alih-alih rasa marah, sebuah semangat baru merayap, menyaluti hatiku dengan caranya sendiri.
Maka sejak itu aku merasa ada sesuatu yang bergolak dalam dadaku. Saat berbincang denganmu selalu kunantikan. Meski untuk itu aku harus mencuri waktu ditengah kesibukan. Sejak itu pula nama dan wajahmu beterbangan bak kunang-kunang di kegelapan. Amat indah, berpendar-pendar dalam pandangan. Setiap kali mengingatmu kehangatan mengaliriku.
Sering aku bertanya apa nama geletar asing yang menyusupi jiwaku, hingga seekor belalang terkekeh-kekeh dan mengatakan ,” Kau sedang jatuh cinta, atau setidaknya demikian yang kau rasa.”
Oh ya? Aku tak percaya. Belalang bijak itu berkata kembali ,” Jika kau merasa kehilangan jika ia tak ada. Mendadak kau jadi punya keberanian menatap dunia sejak ia ada dan merasa nyaman bila di dekatnya maka aku bisa pastikan kau jatuh cinta.”
Nyanyian tempias hujan diatas dedaunan dan ranting menyuarakan kegembiraan perasaan. Ditingkahi suara kodok yang memainkan nada-nada riang, kurasakan hatiku mengembang. Ya, Tuhan…kupikir aku takkan menemukan seseroang yang melumpuhkan hatiku. Ternyata aku salah, inilah dia, desisku bahagia.
Syalalalala! Aku bernyanyi gembira. Sebelum akhirnya kenyataan mementahkan rasa. Kau pergi ketika aku merasa aku telah menemukan tempat bergantung yang sempurna. Yang bisa membawaku mengarungi mimpi-mimpiku. Pun mendorongku di saat aku tak mampu.
Banyak pertanyaan “mengapa?” mengabut dan menyesak di kepala. Melelehkan tangis yang mengaliri lembah-lembah di wajahku, menjatuhi daun berserak di bawah kakiku. Menyesali kepergianmu dan berharap kau kembali untuk membawaku.
Musim berlalu. Aku tak tahu kabar beritamu. Kekeraskepalaan membuatku menunggumu hingga seekor anjing hutan bertanya padaku ,” Apa yang kau tunggu sejak awal musim gugur lalu?”
Diamku sebagai jawaban. Sang anjing hutan tersenyum penuh pengertian. Ia tengadahkan muka. Mengendus sesuatu di udara lalu berkata seolah tahu,” Ia terlampau jauh kini...jangan lagi kau tunggu.”
Aku mengacuhkannya. Sementara musim gugur dan semi berlalu, digantikan musim panas yang menyengat dan lembab.
“ Udara telah menjadi sepanas ini gadis kecil, tak inginkah kau berteduh?” seru sang awan dari kejauhan.
“ Aku takut jika berteduh aku takkan melihatnya lewat disini.”
Sang awan menatapku tak percaya. Mempertanyakan keteguhanku lewat matanya. Aku tersenyum meyakinkan, hingga kudengar suara tawa yang dalam datang dari arah belakang. Rupanya seekor kumbang belang hinggap di dahan rapuh sebatang pohon yang telah tumbang ,“ Aku salut dengan pendirianmu meski kurasa penantianmu akan menjadi kesia-siaan belaka.”
“ Mengapa engkau mematahkan semangatku?”
“ Tidak begitu. Aku hanya ingin kau gunakan logikamu, tak hanya hatimu. Menunggu sesuatu yang tak tentu hanya akan menjadi belenggu. Cobalah lihat sekelilingmu, berapa banyak hal baik yang bisa kau lakukan selama kau termangu-mangu menunggu Pejalan Jauhmu?”
“ Banyak perubahan yang bisa kau lakukan dengan tangan kecilmu. Tak usah menunggu orang lain mendorong dan mengajakmu.”
“ Tapi aku takut jika tanpa pembimbing jalan,” ungkapku.
“ Pembimbing jalan? Jadi itu yang kau pikirkan? Benarkah Sang Pejalan Jauh menjadi jawaban?” Sang kumbang belang menatapku dalam-dalam.
“ Bak pemantik, ia telah membakarmu. Membangkitkan kembali semangat mengarungi mimpi-mimpimu. Selanjutnya engkaulah yang harus mewujudkan itu.”
“ Tapi…tapi bagaimana jika aku gagal. Karena itu aku butuh teman…”
“ Dan Sang Pejalan Jauh yang kau harapkan bisa memberi bantuan?” sahut sang Kumbang Belang sambil terkekeh.
“ Tidak sayang…Menurutku kau tak bisa bergantung pada orang lain jika hendak mewujudkan seluruh angan. Melangkahlah ke hutan kehidupan dan belajar dari segala tanda yang ia suarkan. Dengarkan bisikan-bisikan. Ambil yang positif, buang yang negatif. Kau akan temukan jalan melayari kehidupan. Pupuskan keraguan, tanamkan kemauan kuat.”
Aku terdiam, meresapi ucapan si Kumbang Belang. Benarkah? Ia mengangguk tanpa keraguan. Ketika ia berlalu kata-katanya berdenging di kepalaku. Menghasilkan lubang-lubang kecil dengan seribu cahaya menyerangku. Kurasa ia benar. Aku memang harus menempuhi perjalanan dengan kepak sayapku sendiri. Terlampau khawatir tentang ini dan itu telah mematahkan semangat juangku.
Berbeda dengan hari-hari kemarin, hari ini kepakanku melebar dan menguat. Begitu pun tekadku. Dengan keyakinan kuterjuni hutan maha luas di depanku dan mempelajari kebijakan yang akan kutemui disitu. Aku tahu perjalananku takkan mudah, tapi bukan tidak bisa dilampaui. Akan kuletakkan ketakutan jauh di belakangku dan takkan kubiarkan ia menghalangiku mencoba hal-hal baru. Agar kelak ketika aku tiada aku takkan menyesalinya. Karena aku telah merasakan hidup yang sesungguhnya. Dengarkan, dengarkan kata hatimu. Dengarkan, dengarkan desis lembut angin yang membelahmu. Lajulah, laju! Kepakkan sayapmu dan hadapi hari-hari penuh petualangan baru.
Di satu sisi ranting cemara kuhentikan langkah. Menatap jingga langit senja diufuk sana. Suara adzan menggema, memanggil tiap mahkluk bersujud dihadapan-Nya. Tunduk luruh dalam doa sewaktu bayang Sang Pejalan Jauh melintas cepat. “ Terima kasih Tuhan ia pernah kau hadirkan dalam satu episode perjalanan hidupku. Sedikit banyak ia telah meninggalkan jejak positif untukku. Berperan menggelontor dan menjungkirbalikkan pikiran-pikiran berkarat di kepalaku.”
Senja melayang. Kegelapan datang. Bersama bisikan lembut yang kian lama kian terang di pendengaran,
Akan selalu ada hal-hal yang tak mampu kau kendalikan, tapi kau baru benar-benar gagal kalau kau membiarkan hal-hal ini mencegahmu mencoba. Kalau kau tak pernah mengambil resiko, kau pun takkan pernah mencapai apa-apa. Lebih baik mencoba dan gagal, daripada takut mencoba.
Ada orang yang menghabiskan hidup tanpa pernah mencoba melakukan hal-hal baru, karena mereka takut gagal. Yang tidak mereka sadari adalah, walaupun orang pemberani takkan hidup abadi, orang yang selalu berhati-hati malahan tidak pernah hidup sama sekali.”

(Peter O’Connor, Seeking Daylights End)


Episode yang kelewatan
Inspired by
* Peter O’Connor (When Tomorrow Comes and Seeking Daylights End) I love this book so much
* my friends words : Diana Rini, Rina Astari, Tasya Madina, Tectona, Ceples Dian Kartika and Yuniati Nur Wahidah
pic taken from www.ib.berkeley.edu/labs/bentley



Tidak ada komentar:

Posting Komentar