Bergabung sejak 2006, saya memang tergolong anggota pasif disana. Meski begitu saya mengikuti perkembangannya. Gara-gara Blogfam juga saya kenal Mbak Yovita Admadjaja aka Mbak Vi3, juga Tuteh dan Arien Ratih. Dua nama terakhir inilah yang membuat saya mupeng pengen punya buku. Gimana caranya sih biar bisa kayak mereka meski pun keroyokan dengan lainnya?
Hahahaha, tapi sekian lama keinginan itu terpendam saja. Sebab saya tak tahu caranya.
Gara-gara blogfam juga saya tergiur untuk jadi penulis begitu tahu anggotanya macam Kang Iwok Abqary dan Mbak Indah Juli itu penulis terkenal. Kayaknya asyik niiih, pikir saya waktu itu.
Dan gara-gara Blogfam juga saya akhirnya berani terjun ke dunia penulisan setelah menang nomer tiga di lomba Agustusan Blogfam 2008. Saya yang sebenarnya tidak pede-an jadi berani mengirimkan karya ke lomba penulisan lain setelah kemenangan itu. Entah kenapa, serasa dapat suntikan semangat.
Dan pede saya kian nambah saat tahun 2009 saya menang lomba Agustusan Blogfam lagi. Kali ini nomer dua saya dapatkan. Wah, saya enggak percaya. Masa? Dan inilah akhirnya yang membuat saya kian berani mengikuti berbagai lomba meski pengalaman saya minim banget.
Alhasil di tahun 2010 ini mimpi saya untuk punya buku terwujud dengan hadirnya Antologi Anak Kos Gokil (Gradien) dan Antologi Setan 911 (Leutika Publisher). Sebelum itu celotehan saya tentang bos lebih dulu masuk dalam MSBFS (My Stupid Bos Fans Stories) dengan Mbak Kerani sebagai Koki. Wah siapa sangka ya? Padahal saya dulunya cuma berangan-angan saja.
So, adakah diluar sana yang punya mimpi sama tapi seolah belum nemu jalan keluarnya. Jangan pernah berhenti membawa mimpi itu kemana saja. Percayalah satu ketika akan terbuka jalan meraihnya.
Ganbatte!!!!
Dan untuk Blogfam, selamat ultah ke-7. Tak sadar karenamu aku berlari menggapai mimpi jadi penulis. Hihihihihi...Triiiing! *kedip mata sebelah kanan
06 Desember 2010
05 Desember 2010
LUCUNYA ANAK-ANAK
Sania, mantan murid saya saat masih menjadi instruktur di salah satu kursus bahasa Ingris itu memang menyenangkan. Ia yang masih duduk di TK A itu terkenal cantik, lucu ,dan pintar. Setiap kali bertemu ada saja yang ia ceritakan. Seperti waktu itu saat ia bicara tentang pacar. Tak ayal saya mesam-mesem mendengar apa yang ia omongkan. Iseng saya bertanya, ,”Memangnya pacar itu apa sih, San?”
"Pacar itu seperti Mama dan Papa, Kak Afin. Kemana-mana bersama," jawab Sania dengan kepolosan khas anak-anaknya.
Twiiiing...pek…buk….glodaag! Saya tergelak mendengar jawaban pintarnya. Nggak nyangka dalam benak bocah seusia dia sudah ada konsep pacaran juga. Beuuuh, ini gara-gara kebanyakan nonton sinetron atau apa sih? Tanya hati saya sambil nyengir kuda.
Tak berapa lama kemudian tempat kursus itu saya tinggalkan. Saya ganti profesi menjadi admin di salah satu distributor di kota kelahiran saya. Di kantor itulah saya mendapatkan celoteh lucu bin menohok dari putri rekan sekerja saya.
Cerita bermula saat ia merengek minta adik pada ibunya. Karena banyak pertimbangan permintaannya belum dikabulkan. Hingga satu siang tak sengaja gadis kecil itu nonton berita korban perkosaan yang kemudian hamil dan punya anak. Melihat itu spontan ia bertanya ," Bu, bisa gak punya adik kalau ayah memperkosa ibu?"
Huahahaaha! Mendengar kisah itu kami terpingkal-pingkal. Sementara bapaknya terbahak-bahak kegelian. Lha iya, kok kepikiran sampai kesitu sih?. Ahahahahaha, jadi nggak bisa ngebayangin gimana wajah sang bunda. Barangkali pucat plus bingung kali ye menghadapi pertanyaan cerdas putrinya.
Gara-gara hal tersebut saya jadi mikir, betapa hebat dan kritisnya anak-anak sekarang. Gimana coba kalau nanti saya punya anak trus ditanyain darimana dia keluar. Waduh pusing juga jawabnya. Kalau begini ceritanya, kayaknya mulai sekarang sudah harus mencari buku panduan cara menjawab pertanyaan kritis anak nih…Hahahahaha….
"Pacar itu seperti Mama dan Papa, Kak Afin. Kemana-mana bersama," jawab Sania dengan kepolosan khas anak-anaknya.
Twiiiing...pek…buk….glodaag! Saya tergelak mendengar jawaban pintarnya. Nggak nyangka dalam benak bocah seusia dia sudah ada konsep pacaran juga. Beuuuh, ini gara-gara kebanyakan nonton sinetron atau apa sih? Tanya hati saya sambil nyengir kuda.
Tak berapa lama kemudian tempat kursus itu saya tinggalkan. Saya ganti profesi menjadi admin di salah satu distributor di kota kelahiran saya. Di kantor itulah saya mendapatkan celoteh lucu bin menohok dari putri rekan sekerja saya.
Cerita bermula saat ia merengek minta adik pada ibunya. Karena banyak pertimbangan permintaannya belum dikabulkan. Hingga satu siang tak sengaja gadis kecil itu nonton berita korban perkosaan yang kemudian hamil dan punya anak. Melihat itu spontan ia bertanya ," Bu, bisa gak punya adik kalau ayah memperkosa ibu?"
Huahahaaha! Mendengar kisah itu kami terpingkal-pingkal. Sementara bapaknya terbahak-bahak kegelian. Lha iya, kok kepikiran sampai kesitu sih?. Ahahahahaha, jadi nggak bisa ngebayangin gimana wajah sang bunda. Barangkali pucat plus bingung kali ye menghadapi pertanyaan cerdas putrinya.
Gara-gara hal tersebut saya jadi mikir, betapa hebat dan kritisnya anak-anak sekarang. Gimana coba kalau nanti saya punya anak trus ditanyain darimana dia keluar. Waduh pusing juga jawabnya. Kalau begini ceritanya, kayaknya mulai sekarang sudah harus mencari buku panduan cara menjawab pertanyaan kritis anak nih…Hahahahaha….
dibuat dalam rangka Lomba Celoteh Anak Blogfam
SEBUAH PERTOLONGAN
Malam pekat. Pagi melambat. Kulalui jalan setapak. Kuseka peluh sembari membenahi buntalan daun jati di pundak. Mendadak rasa tak enak menyergap. Bertalu-talu ia mengharap—Pulanglah cepat!
Di tikungan seseorang meraup dadaku lekat. Mulutku dibungkam kuluman yang jahat. Aku tak bisa berontak. Hingga satu kesempatan tiba, aku melesat.
“Sampeyan kenapa?” tiba-tiba pria tua muncul dan bertanya.
Aku tergugu dan menurut saja saat ia menuntunku ke warungnya.
“Diam disini, ia takkan menemukanmu,” katanya seolah tahu apa yang menimpaku.
Benar saja, sang durjana tak melihatku disana. Kudengar serapahnya, gara-gara aku tak juga ditemukannya.
“ Sudah aman, keluarlah sampeyan sekarang,” kata pria tua itu kemudian.
Aku mengiyakan, tapi mataku tak kuat menahan kantuk dalam. Hingga aku dibangunkan seorang pencari kayu yang bertanya heran ,”Ngapain sampeyan tidur di pring-pringan?”
Di tikungan seseorang meraup dadaku lekat. Mulutku dibungkam kuluman yang jahat. Aku tak bisa berontak. Hingga satu kesempatan tiba, aku melesat.
“Sampeyan kenapa?” tiba-tiba pria tua muncul dan bertanya.
Aku tergugu dan menurut saja saat ia menuntunku ke warungnya.
“Diam disini, ia takkan menemukanmu,” katanya seolah tahu apa yang menimpaku.
Benar saja, sang durjana tak melihatku disana. Kudengar serapahnya, gara-gara aku tak juga ditemukannya.
“ Sudah aman, keluarlah sampeyan sekarang,” kata pria tua itu kemudian.
Aku mengiyakan, tapi mataku tak kuat menahan kantuk dalam. Hingga aku dibangunkan seorang pencari kayu yang bertanya heran ,”Ngapain sampeyan tidur di pring-pringan?”
126 kata termasuk judulnya
Dibuat dalam rangka Lomba Flash Fiction Blogfam
Catatan
Sampeyan : kamu
Pring-pringan : rimbunan bambu
Langganan:
Entri (Atom)