MENGINTIP BERANDA FACEBOOK-MU

Sebuah bayangan berhenti di sudut. Diam memperhatikan perempuan yang kepalanya terkulai di depan laptop.
Setengah berbisik ia berkata,
"Mengintip berandamu facebook-mu,
selalu kubaca kerinduanmu di tiap lekat katamu. Untukku. Selalu.
Terharu. Tapi tak bisa menjangkaumu.
Hanya kurasa aku akan menjagamu dari jauh. Dan bukan memerangkapmu untuk bersetia padaku. Aku lepaskan kau dengan segenap hatiku jika memang ada seorang yang bisa menjagamu.
Bukan, bukan karena tak cinta kamu. Justru kukatakan itu karena aku amat mencintaimu. Aku tak ingin kau sendiri menyusur lingkar jalan hidup ini.Aku tahu kamu teramat kuat. Amat sangat kuat. Setiap lekuk jalan sanggup kau lewati.
Tapi bagaimanapun juga berdua itu lebih baik ketimbang sendirian memikul beban dipundak, tak berkawan.
Menikahlah saja. Sungguh aku tak apa. Sudah cukup kurasa pengabdian dan cintamu selama kita bersama. Kini carilah bahagiamu sendiri. Jangan terpaku pada bayangku.
Aku tak ada lagi disisimu.
Aku kini berada disisi Tuhanmu, yang juga Tuhanku.
Peluk ciumku untukmu dan anak-anak.”

Sekilas kecupan mampir di kening si perempuan. Perempuan terjaga, merasakan kehadiran seseorang. Tak ada siapa. Hanya dia, ruang kamarnya, dan laptop yang masih terbuka.
Suara adzan nun jauh disana, merasuki gendang telinga. Diusapnya airmata. Lalu bangkit mengusapkan air wudlu kemuka. Segenap takzim berdoa untuk suami tercinta, yang berpulang tanpa pesan apa-apa.

Komentar