17 Mei 2011

SATU KETIKA DI TENGAH MALAM

Aku bertandang tengah malam ke rumah mayamu, Tuan. Menikmati anggun ruang tamumu, lalu beranjak ke galeri, menikmati foto-foto jepretanmu. Pada pohon, matahari, bunga, dan hujan pagi hari kutemukan sebuah kecintaan. Kususuri tiap detilnya dengan jemari, ringan.
Berharap bisa berlarian di padang yang kau abadikan. Riang, barangkali denganmu di tengah hujan.
Beranjak ke dalam, kupandangi perempuan-perempuan tertawa segar. Ranum bibirnya menggiurkan. Belah dadanya mengintip, mengundang mata melirik lebih dalam. Sejuring pipinya menggemaskan.
Secara keseluruhan dalam kalimat singkat kulukiskan sebagai M-E-N-A-N-T-A-N-G!
Aku terpesona, Tuan. Padahal aku perempuan. Bukan karena rasa tertarik yag berlebihan, tapi khayal menjulang andai aku sepertinya. Kurasa aku-lah yang jadi obyekmu sejak mula.
Tapi sebentuk hati perempuan ini bertanya, harus begitukah melukis perempuan. Seandainya ia putriku apa yang hendak kukatakan? Apakah akan kupasung dia dan takkan boleh mendekatmu agar tak ada gambar tubuhnya yang terekspos di luar?
Menghardiknya dan mencapnya “tolol!” karena mau saja setengah telanjang di hadapan pria yang bukan siapapun untuk segepok uang yang tak kekal?
Atau jika itu aku sekalipun apa yang akan ibuku ungkapkan?
Tuanku, bukankah banyak sisi-sisi lain perempuan itu? Sisi tegar sekaligus rapuh yang bisa kau eksplorasi lewat derit seni yang mengalir di tubuhmu?
Sisi cantik tak biasa yang bisa kau tangkap saat ia sunggingkan senyumnya di tengah luka?
Ah, tapi aku memilih tidak berkata, Tuan. Aku tak ingin bersilang-selisih dengan orang. Berdebat tak henti tanpa ujung pangkal (Aku juga belum tentu benar).
Kurasa kau sudah mengerti, Tuan. Tak hendak kuserang engkau dengan segala macam omongan.
“Kalau tak suka ya tutup saja,” batinku mengulang ucapan seorang kawan lama dari Jogja, yang bicaranya selalu lugas tak peduli rasa.
Ya, ya, kurasa ada benarnya. Tinggal tutup saja. Beres kan ya? Maka itulah yang kulakukan, melipir pulang. Lalau kembali terbang ke sisi kesadaran. Membuka kelopak mata perlahan-lahan. Terkejut mendapati weker menyalak garang. Tuhaaan, sudah jam 3 pagi sekarang! Naskah ceritaku belum kuselesaikan!
Dengan panik kutegakkan kepala. Kulihat komputer masih menyala. Sebuah website masih terbuka, milik seorang fotografer ternama.
06.15
Iseng aja, mengingat satu hari saat gentayangan cari-cari info tengah malam

1 komentar:

  1. wow jam 3 pagi masih keluyuran browsing lihat-lihat blog seorang seniman, sis? hehehehehe........ kisahnya indah dan deskripsinya juga melukiskan setiap detail, sis. sukses yah sis.

    BalasHapus