23 Juli 2011

KEMARAHAN HARI INI




Sepagian tadi saya emosi naik ke tingkat tertinggi. Seorang sales kena sembur karena harga-harga sekian item yang masuk di supermarket Key Account masih salah sejak 2010. Apakah Bapak tidak pernah memberi tahu perubahan harganya? Kesal saya. Begitu juga dengan seorang Supervisor dan MD Supermarket. Betapa jengkelnya saya ketika mereka masih tanya tentang laporan weekly. Padahal sudah saya jelaskan sebelumnya bahkan email ke beberapa pihak yang berkepentingan dengan laporan-laporan itu bahwa laporan akan telat saya kirimkan. Bahwa saya harus bekerja keras untuk mengisi ulang data base penjualan yang hilang sejak awal bulan karena errornya komputer kami sebelumnya, bahwa saya perlu waktu menyelesaikannya.
Sialan! Batin saya sambil ngedumel tak karuan. Terlebih ketika si MD minta saya laporan berapa total karton produk obat nyamuk inovasi baru yang iklannya lagi wara-wiri di tivi itu.
Huugh! Apakah aku tahu aku sedang sibuk mensetting lagi promo-promo yang bubar? Memasukkan kembali beberapa item yang hilang karena errornya computer itu? Tahukah kamu sudah tiga hari ini aku tidak istirahat siang dan pulang sore demi menyelesaikannya?
Saya sudah berteriak berulang kali, saya benar-benar jadi macan hari ini. Saya ingin mereka merasakan napas naga api milik saya, agar mereka tahu betapa capeknya saya.

Tapi siangnya, ketika semua mereda saya teringat pagi tadi ketika seorang perempuan setua nenek saya menuntun sepeda tuanya. Di belakangan sepeda itu ada tobos kecil (wadah berbentuk kotak terbuat dari bambu, biasanya disampirkan di boncengan belakang sepeda), berisi sayuran. Diatas tobos itu ada sebuah karung plastik bekas terhampar sebagai tutupnya. Diatasnya lagi ada tampah berisi semanggi, sayuran yang biasa tumbuh di sawah-sawah. Warna sepedanya sendiri sudah tak jelas lagi.
Bertanya-tanya saya tadi pagi ,”Berapa usia sepeda ini? Setua diakah? Mungkin tidak, tapi yang jelas sudah lama sekali dan usang.”
Sembari mengikuti perempuan itu pergi, saya membatin ia pasti seorang wlijo (pedagang sayuran) kecil. Terlihat dari dagangannya yang ala kadar, hampir tidak menjual barang lain selain sayur-mayur yang jumlah dan jenisnya terbatas.

Berapa ya hasilnya seharian? Apakah semua akan laku terjual? Bagaimana jika banyak yang tidak terjual? Mau makan apa ya? Seberapa lelahnya bersepeda sekian panjang menjajakan dagangan? Apakah ia pernah sekali saja mengeluh dan memilih untuk berhenti?
Mendadak aku ingat perempuan-perempuan lain seperti dia. Aku kenal, banyak malah. Mereka tetap harus bekerja meski usia telah mencapai senja. Tak banyak waktu mengistirahatkan badan, meski seluruh tubuh telah berteriak karena kelelahan. Tak banyak pilihan bagi mereka. Dengan usia tua dan kemiskinannya mereka tak peduli berapa jam harus bekerja, asal perut tetap terjaga.
Ah, betapa beruntungnya saya ya, hanya duduk di belakang meja. Berkutat dengan komputer, tidak berpanas-panas. Kemana-mana naik motor. Tak perlu memeras peluh seperti mereka. Hwah, apakah terlalu banyak mengeluh ya? Tanyaku sambil menatap sajadah merah.Mungkin saja, sahutku sendiri sambil menghela nafas dan duduk menghadap layar komputer kembali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar