27 Desember 2011

TENTANG CINTA



Apa kau mengerti?
Cinta bukan lagi tentangku saja
Tapi juga tentang bunga kecil yang kubawa kemana aku berada

Jika engkau berkenan hadir memenuhi ceruk jiwaku
Aku akan bertanya kepadamu
Sanggupkah kau merawat bunga kecil itu seolah bunga yang kau tanam sejak muda ditamanmu?
Lakukan jika memang kau sanggup dengan syaratku
Hanya harus kau sadari meraih hati bunga kecil itu tak semudah membuka pintu rumahku
Ia tahu dan merasa perempuan mana yang layak dicintanya
Tempat ia rela dan bersedia mempercayakan hatinya


inspired by Sasha and her daddy's image

14 Desember 2011



Semakin kita mengenal seseorang
Semakin kita mengetahui banyak kesalahan
Sesungguhnya itulah bentuk teguran
Betapa kesempurnaan hanya milik Tuhan
Manusia tak ubahnya seonggok debu di lautan

Semakin dalam kita memasuki hati seseorang
Semakin kita dikenalkan pada sisi-sisi kelam
Sesungguhnya pula itu pelajaran
Betapa manusia itu gudangnya kesalahan

Seorang guru pernah berkata padaku ,”Jangan terlalu jika kau mencintai sesuatu, begitu pula bila kau membenci sesuatu. Siapa tahu yang kau cinta itu satu ketika menyakitimu, sebaliknya yang kau benci justru membawa manfaat bagimu.”

Dan aku belum mampu melakukan itu
Hati manusiaku memiliki kecenderungan “terlalu”
Maka ketika kisah demi kisah dihamparkan padaku
Aku termangu
‘Tak salah apa yang guru itu katakan padaku,” gumamku

Maka aku kembalikan semua kepadamu, Tuhanku
Bukankah setiap lekuk kisahmu itu serangkaian pelajaran?
Agar semakin bijak aku menyikapi kehidupan
Menyadari padaku tersimpul banyak kekurangan

Lalu pantaskah aku menepuk dada dan berkata—padaku tersemat seribu kebaikan?


141212

09 Desember 2011

CHANGING




Sejak sepertiga malam hingga subuh menjelang
Kudengarmu bicara panjang
Tentang dia, hatimu, dan sekelumit keresahan

Belum pernah kau begini, kawan
Sepertinya ia telah mampu “menundukkan” hatimu yang liar
Aku tak tahu apakah ia rumah tempatmu pulang
Hanya kedengarannya ia merubahmu besar-besaran

Berapa lama kita berteman?
Baru kali ini kau dibuat kelimpungan oleh mahkluk berjenis perempuan
Sebelumnya kaumku-lah yang blingsatan, menadahi manis tuturmu yang melambungkan angan
Duhai kemana larinya pria itu?
Perayu yang ulung menaik turunkan kalbu
(Mau tak mau aku tergelak lucu tiap kali celotehmu merasuki telingaku)

Perasaan-perasaan lawan jenis yang dulu kau abaikan
Kini berbalik menyerang dan menyusupkan segenap kekhawatiran
Cemburu itu, getir itu, sedih itu
Menggelenyar di laju harimu
Menguakkan satu fakta baru
Karang hati sang petualang telah luluh olehnya—perempuan serupa tetes hujan yang menjatuhi kalbumu dengan ketepatan
Tanpa sadar ia telah mengetukmu dengan caranya
Menjumpalitkan rasamu, membuatmu tertegun, dan terpaku
(Dan aku terpingkal-pingkal tanpa kau tahu)

Demi Tuhan, ini diluar dugaan!
Kau kena batunya kali ini, kawan!
Kau,  si buaya  tak berkutik di depan sang pawang
(Hahaha menggelikan, tapi menyenangkan mendengar kabar demikian)

Betapa Tuhan itu Maha ya, kawan
Indah bukan caranya memberimu pelajaran?
Maka hanya satu yang kukatakan diakhir percakapan
“Kau tak butuh nasehatku, kawan. Kau sudah tahu kemana hendak berjalan. Semoga Allah, memudahkan jalan.”

* untuk satu hari yang lucu dan menggelikan
Diantara kantuk dan tawa terpingkal


pic taken from :  http://www.123rf.com

06 Desember 2011

UNGKAP RASAMU



Keterbiasaan membuat kita kehilangan
Ketika satu titik tidak kelihatan rasanya ada yang kurang
Apakah kau merasa demikian?
Bisa ya, bisa tidak

Jika kau  lebih suka memendam perasaanmu dalam-dalam
Pastilah enggan menunjukkan kejujuran
Naif, bersembunyi di baliik kalimat ,”Tak ada dia, aku baik-baik saja.”
Alih-alih hampa dan malu mengungkap rasa

Maka tunggu
Dan berharaplah ia mengerti
Sesungguhnya kau ingin dia ada disini

Berharaplah terus dan jangan bergerak
Gunakan telepati (yang kau tidak punyai)
Agar aku bisa mengatakan ,”Kau itu bodoh sekali!”

Ayunkan satu langkah kecil, sobat
Lalu lihat apa yang terjadi
Katakan rasamu dengan ridho Tuhan sebagai dasar
Agar tak kecewa bila ia memberi penolakan

Jika memang pada kenyataan Allah tak menjadikan ia milikmu
Lepaskan saja dan biarkan terbang
Sebab masih banyak kisah yang harus kau pintal dalam kehidupan
Yakin saja, yang terbaik yang akan tiba


02 Desember 2011

WHITE LIES




Tanya padaku seberapa jujur aku padamu
Mulanya begitu
Segala hal kukatakan padamu
Tapi syak wasangkamu membuatku ragu
Kau hilang jernih
Dan jujur justru “mematikan”-mu?
Mukamu yang ayu hilang disela kerucut bibirmu
Serta kernyit di jidat penuh curiga

Maka sejak itu aku beralih jalan
Jujurku kusimpan
Kupoles dan kubingkai manis dengan sedikit kebohongan
Sebab ia lebih ampuh untuk menenangkan hati yang diliputi prasangka
Dan benar saja
Kau tenang setelahnya
Pikiranmu tak mengembara di ranah yang bukan-bukan
Wajahmu cerah dibingkai senyuman
Cerlang matamu kian berbinar

Maka kesimpulanku white lies itu menyenangkan


10.26, December 2, 2011

Thinking about truth and lies