10 September 2012

Giveaway Novel Cinderella Syndrome, Leyla Hana


         
       Anisa selalu gagal dengan impian-impiannya selama ini. Pria-pria hebat yang dikencaninya tak lebih dari seorang pecundang yang bersembunyi di ketiak ibunya. Alih-alih menuruti orang tua, mereka selalu memutuskan untuk meninggalkan Anisa bila Anisa sudah mendesak mereka untuk menikahinya. Masing-masing dengan alasannya, tapi kebanyakan serupa. Anisa jelita, tapi tak cukup panas mendampingi mereka. Butuh seorang perempuan canggih untuk berada di sisi mereka, eksekutif muda.
          Anisa acap terpuruk karenanya. Dan mulai menyalahkan Tuhan atas kemandegan kariernya, jodohnya yang tak datang, dan segala hal buruk yan terjadi padanya.
          Sampai kemudian seseorang menasehatinya saat ia sedang sesengguhkan sendiri setelah putus dengan pacar terakhirnya, seorang manager bank. Pria yang kata-katanya lembut menenangkan. Yang mengatakan padanya, bahwa Tuhan sering kali mengabulkan doa manusia serupa dokter mengabulkan doa orang yang sakit maag. Ketika si pasien minta jeruk, meskipun enak dimulut, dokter akan melarang. Sebab ia tahu si jeruk tidak akan bagus untuk perutnya. Begitulah.
          Anisa terperangah. Kalimat itu terngiang-ngiang di benaknya. Diam-diam ia berharap bias kembali berjumpa dengannya. Tapi seberapa sering pun kembali ke taman itu, ia tak pernah bertemunya. Hingga enam bulan kemudian, saat ajaran baru datang ia bertubrukan dengan seorang pria yang tengah menggendong putrinya. Anisa ingat pria itu, ialah pria yang member nasehat baik waktu itu.
          Tak dinyana si pria juga mengingatnya. Hubungan mereka jadi akrab setelahnya. Berawal dari obrolan tentang putrinya, Harlan pun dekat dengan Anisa. Anisa sendiri mendapati dirinya tertarik dengan Harlan. Pria itu memenuhi mimpinya. Tampan, kaya, baik hati. Menikah dengannya pasti akan bahagia, pikirnya.
Tak dinyana gayung bersambut. Harlan juga tertarik padanya. Berbeda dari pria-pria sebelumnya, pria satu ini menunjukkan keseriusannya berhubungan dengan Anisa. Ia bahkan berani mengenalkan Anisa pada keluarga besarnya di bulan ke-empat mereka berhubungan.
          Tersanjung dengan segala hal yang dilakukannya, Anisa menerima lamarannya di bulan ke-enam. Pikirannya dilambungkan ke angkasa. Ia yakin bersamanya ia bisa bahagia selamanya.
          Yang terjadi justru sebaliknya. Segala kemewahan dinikmatinya. Tapi kesunyian dihadapinya. Harlan lebih sibuk dengan bisnis dan rapat-rapatnya ketimbang dengan dirinya. Setiap kali membutuhkannya Harlan jarang ada. Bila ada pun, ia malah asyik sendiri dengan kegiatan otomotif kegemarannya. Saat ia tengah menghadapi konflik dengan putri tirinya pun, Harlan justru tidak menjadi penengah yang baik. Ia menyalahkan Anisa. Menurutnya ia harusnya bisa memahami anaknya. Yang lebih menyakitkan Anisa, pria itu bisa berlaku manis pada perempuan mana saja. Seolah ia tak ada.
          Ketika satu hari ia sampaikan kesulitan itu pada ibu mertuanya, berharap mendapat nasehat, justru cemoohan yang didapatnya. Menurutnya, Anisa terlalu menuntut macam-macam. Ia harusnya diam, menerima segala sesuatu yang dilakukan suaminya dengan lapang. Asalkan ia pulang.
          Anisa frustasi. Dan mulai mempertanyakan impian-impiannya selama ini. Betapa dulu ia bangga telah berhasil menikah dengan pangeran. Tapi apa artinya seorang pangeran, jika hasilnya adalah sakit hati dan dicekam kesunyian.


 ditulis dalam rangka GA dari Mbak Leyla, tokoh yang diambil adalah Anisa-si guru TK
         
         
         

Tidak ada komentar:

Posting Komentar