27 Februari 2013

RESIGN (AGAIN)




GILA !

Kurasa itu yang akan dikatakan orang-orang pada saya. Saya memutuskan hengkang dari tempat kerja hanya dalam jangka dua bulan setelah tandan tangan kontrak kerja.
Bukan hal main-main mengingat mencari pekerjaan itu susah. Bahkan rekan sekerja saya berkata ,”apa nggak sayang? Sekarang nyari kerja kan gak gampang.”
Saya tidak membantahnya. Saya justru memembenarkannya. Memangnya kenyataannya demikian. Pencari kerja banyaknya alakazaam, tetapi lowongan pekerjaan tidak sebanyak yang diinginkan. Semua berbondong-bondong, berebutan mencari tempat kerja. Sementara saya yang sudah dapat justru melepaskannya. Padahal  saya juga tidak punya “plan” cadangan setelahnya.
Semua bermula ketika saya merasa tersiksa dengan perubahaan keadaan di tempat kerja yang baru. Saya jadi kerap pulang malam. Bahkan pernah sohib saya si pecinta onyet yang kini beralih jadi pecinta uba-uba (Lumba-Lumba) dan paus Orca (bukan Okra lho, kalo itu sayuran jepang ya hehe) pernah bilang,”Elu pulang malam mulu kerjaan lu satpam ya?”

Buseeet, dikatain satpam dah saya. Enggak tahu dia, kalo saya ini sopir *lhooh malah parah. 

Pulang dari kantor sudah malam.  Seringkali diawal-awal bisa lewat jam delapan. Jalanan sudah sepi, tak banyak mobil dan motor berkeliaran.  Sementara tak semua jalanan yang saya lewati dilengkapi lampu jalan. Belum lagi saya harus daerah-daerah sunyi yang kiri kanannya dihiasi padi. Kalau pagi sih pemandangan mengesankan, kalo malam? Hwaduuh, tidaaak...Saya langsung ngeplas aja setiap melewatinya. Zwiiiing, dengan kecepatan melebihi suara (lebay!).
Apa pasal? Hihihi, saya takut jalan malam sendirian. Meski sebenarnya naik motor kencang-kencang itu juga beresiko.  

Perjalanan yang memakan waktu 30 sampai 45 menit itu saya lakukan setiap hari, tepatnya dua kali dalam sehari. Pagi dan sore hari. Bisa dibayangkan kalau sampai dirumah badan remuk redam. Setelah mandi dan makan, saya langsung molor. Alarm yang saya pasang jam setengah tiga malam, sering kelewatan. Bangun-bangun sudah subuh. Setelah sholat subuh baru mulai nulis. Jam setengah tujuh, nulis harus disudahi. Padahal lagi hangat-hangatnya mengembangkan ide *ngeeek.
Saya jadi mikir lagi. Terus terang sebagai manusia saya butuh uang. Tetapi jika karena itu saya jadi kehilangan waktu bersenang-senang saya juga tidak tahan. Bersenang-senang disini bukan dalam artian menghabiskan waktu tanpa tujuan, tetapi melaksanakan hobi yang saya sukai. Dalam hal ini membaca, menulis, merajut, memotret, dan seabrek hal lainnya. Yang paling berat saya rasakan adalah nggak bisa membaca buku dan menulis seperti semula



Bayangkan saudara-saudara, nggak bisa nulis dan membaca. 

Aih gila! I can’t staaand *muter-muter kepala ala rocker.

So that’s it. I quit! 

Sebulan pertama, saya masih berpositif thinking. Pasti ada waktunya kau menemukan celah untuk bersenang-senang, begitu kata hati saya. Tetapi di bulan kedua, saya sudah tidak mampu menahannya meski ortu berkata agar saya mempertahankannya.
Bukan hanya itu Ibu Ketum satu itu dengan gwalaknya (ihihihi) bilang “Elu mau ngapain kalo nggak kerja? Elu bisa jadi katak dalam tempurung ntar.”

Alasannya apa sih? Sampai senekat itu?

Sebenarnya ada banyak alasan lain yang mendasarinya, tetapi  itu terlalu private untuk diumbar diruang terbuka. Saya dan teman-teman sesama admin kerap saling mengatakan “ganjalan” ketika pintu ruang tertutup dan hanya kami berempat yang ada.  Hal yang nampaknya sepele tetapi luar biasa dampaknya buat kesehatan jiwa *hahahah apa seeeh. Namun biarlah itu tetap menjadi rahasia. Yang saya kedepankan ketika mengirimkan surat pengunduran diri adalah saya tidak mampu mengelola waktu antara pekerjaan kantor, jualan rajutan, dan menulis tentu saja.

Beberapa waktu silam saya pernah bicara dengan Nining Sumarni, rekan yang juga lolos audisi outline di Bukune sekaligus pejuang  Gradien Writer Audition (yang masih nungguin gimana hasil finalnya setelah prosesnya yang lumayan bikin jedag-jedug hati dan kepala) seperti saya. Dia sempat mengatakan tidak mudah membagi waktu antara menulis dan pekerjaan. Pasti ada yang timpang. Ketika dia bilang outline yang lolos itu masih belum kelar dijabarkan, saya nyengir kuda. Sama, beberapa kendala memang mampir dan memampetkan kepala untuk menyelesaikan secepat perkiraan saya. Kendalanya apa? Alaah, nggak penting juga diceritain. Buat saya lumayan berat, tapi kalo dibandingin penulis lain pasti kendala saya nggak ada apa-apanya *hukhuk, batuk-batuk.

Ya, saya akhirnya memilih keluar saja setelah menimbang-nimbang bagaimana baiknya. Selama itu saya kerap dibayang-bayangi quote-quote yang ada dalam buku karya Peter O’Connor, penulis When Tomorrow Comes  & Seeking Daylight’s End. Buku itu benar-benar mempengaruhi  dan memotivasi saya untuk berani meraih impian, meski buat sebagian lain saya edan! Saya tidak ingat semua quote-quotenya, tetapi jelas dua ini selalu terngiang di kepala saya,

“Akan selalu ada hal-hal yang tak mampu kau kendalikan, tapi kau baru benar-benar gagal kalau kau membiarkan hal-hal ini mencegahmu mencoba. Kalau kau tak pernah mengambil resiko, kau pun takkan pernah mencapai apa-apa. Lebih baik mencoba dan gagal, daripada takut mencoba.
Ada orang yang menghabiskan hidup tanpa pernah mencoba melakukan hal-hal baru, karena mereka takut gagal. Yang tidak mereka sadari adalah, walaupun orang pemberani takkan hidup abadi, orang yang selalu berhati-hati malahan tidak pernah hidup sama sekali.”

Setiap pilihan memang tidak ada yang mudah. Seperti jalan di depan kita, tak mungkin bila selalu mulus tanpa lubang didalamnya. So, bismillah saja dan teriakkan “ GANBATTE!” sekencangnya.

23 komentar:

  1. sebenarnya sebagai perempuan aku juga lebih nyaman kalu bisa berkiprah dari rumah aja. so neng afin don't worry be happy kalu emang resign itu better buat ur life ya jalani aja.....ganbatte!:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mbak sarah, hihi...dont worry be happy

      Hapus
  2. Yakin dan terus berusaha pasti yang namanya rejeki nggak akan ke mana-mana, yang penting bekerja dengan hati senang kan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih mbak Indah Juli, suhu yang baik hati
      semoga bisa nyontek jejak mbak ya

      Hapus
  3. note ini gue buangeets. Kayaknya kita 'sejenis' mbk apin #tumbuhan kali...

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahha, satu spesies lah pokoknya
      *baca ilmu genetika
      doain aye ya mbak

      Hapus
  4. Wew salut akan keberanian mba afin. Semangat mba meraih mimpi

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya sebenarnya takut juga mbak windi, tetapi saya berpikir jika saya tidak melepaskan diri saya gila juga
      sungguh saya takut banget

      Hapus
  5. Hidup adalah pilihan... :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, Mbak Yeni aka Mbak A.A
      banget mbak, pilihan tak selalu mudah
      saya punya ketakutan bila gagal
      tapi jika saya berhenti melangkah
      saya juga takkan kemana-mana

      Hapus
  6. wish you all the best, sist, yakinlah rezeki sudah ditulis semoga bisa kau raih cita dan cintamu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak Lyta, terima kasih doanya
      Hiihihi, insyaAllah

      Hapus
  7. go apin go apin go apin GO!*lonjak2 ala cheers.

    BalasHapus
  8. mbak anik, jangan kenceng-kenceng lompatnya
    Adik keen bisa melesat ke udara loh ntar
    anyway makasih ya

    BalasHapus
  9. apapun keputusannya semoga itu yang terbaik ya mbak...
    smangaaat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih mbak Riesta Emy, semoga doa mbak dan lainnya selalu menjadi penyemangat saya

      Hapus
  10. kenyamanan adalah yg paling penting, utk apa kerja klo hati ga nyaman. klo saya milih berhenti kerja krn ikut suami, bagi saya lebih nyaman ikut mendampingi suami

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak Lisa Tjut,
      nyaman itu penting
      bukan sekedar gaji yang jadi bahan pertimbangan kerja kan?
      terima kasih udah mampi kemari

      Hapus
  11. Mudah2an dapat kerjaan yang lebih nyaman ya jeng :D

    BalasHapus
  12. terima kasih doanya Mbak Mugniar Bundanya Fiqthiya,
    amiin

    BalasHapus
  13. kutipan dari bukunya keren, semoga cepet dapet kerjaan baru mbak

    BalasHapus
  14. Aha, sepertinya sebentar lagi aku juga akan mengambil keputusan sama sepertimu :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. kenapa Neng? Fokus ke bisnis ya?

      Hapus