10 April 2013

REVIEW CERITA DI BALIK NODA : BUKAN NODA BIASA




Judul              : Cerita di Balik Noda
ISBN/EAN    : 9789799105257 / 9789799105257
Harga buku     : Rp 40.000
Pengarang       :  Fira Basuki
Penerbit          :  Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Terbit              :  14 Februari 2013
Halaman          :  248
Berat               :  231 gram
Kategori          :  Fiksi

Cover buku Cerita Dibalik Noda itu telah menarik saya sejak pertama kali. Sederhana, tidak banyak pernak-perniknya.  Hanya percikan noda diatas warna putih bersih. Sederhana tetapi kuat kesan yang ditimbulkannya. Tetapi seberapa kuatkah kesan yang ditimbulkan isi bukunya? Benarkah sehebat covernya, atau akan saya letakkan begitu saja hanya di paragraf awalnya? Itu yang menjadi pertanyaan saya pada awalnya.
Ternyata tidak juga. Dugaan itu meleset jauh dari awalnya. Fira Basuki  benar-benar piawai menulis ulang cerita-cerita pilihan juri lomba “Cerita di Balik Noda” yang di adakan oleh Rinso Indonesia melalui facebook menjadi sebuah cerita inspiratif  yang enggan kita letakkan hingga akhir halamannya.

Dimulai dari cerita berjudul “Bos Galak” yang ditulis sendiri oleh Fira Basuki, membuat saya menelan ludah sekaligus berlega hati. Bagaimana tidak? Saya juga pernah punya bos segalak Bos Rani. Setiap hari ada saja yang salah. Sampai-sampai kami tak jenak duduk di tempat kerja. Waktu itu yang saya pikirkan saya persis dengan rekan-rekan sekerja Rani, bahwa bos macam begini tak mungkin berubah kecuali matahari terbit dari timur. Tetapi dalam kisah ini justru Rani hendak mengajarkan pada kita untuk tetap optimis bahwa segala-galanya bisa terjadi jika kita meyakininya. Dalam hal ini Rani yakin satu ketika bosnya yang super galak itu bisa luluh juga.


Tetapi dengan cara seperti apakah? Menjilatkah hingga sang bos terkesan atau bagaimana? Ternyata yang ia lakukan sederhana, hanya membawa rainbow cake dengan sepuluh lilin tertancap diatasnya saat sang bos ulang tahun. Tak dinyana justru hal itu membuka kisah yang tak pernah terbuka sebelumnya, bahwa putra sang bos telah meninggal sepuluh tahun silam. Tak ayal semua mata terbuka, rupanya kesedihan akibat ditinggal sang putra menyebakkan sang bos jadi galak dan keras terhadap bawahannya. 

Hanya sampai disitukah si cerita berakhir? Oh, tidak. Kisah noda dibaju sang bos justru mengakhiri kisah tersebut dengan apik. Noda yang terjadi karena ketidaksengajaan Bimo menyenggol Rani yang tengah membawa kue, hingga ia oleng dan menyebabkan  si kue jatuh menimpa sang bos merupakan akhir yang mengesankan dari kisah “Bos Galak” tersebut. Tak urung saya turut tersenyum membaca sang bos tertawa gelak, sembari menjilati kue tersebut dengan jarinya.

Saya lalu beranjak ke halaman-halaman berikutnya. Semakin banyak jumlah halaman saya semakin terkesan. Terlebih ketika saya mencapai halaman 127. Kisah tentang “Boneka Beruang Zidan” telah menyentuh hati saya. Betapa tidak? Sebagai perempuan saya turut merasakan apa yang ibu Zidan rasakan. Betapa ia harus tegar menghadapi kondisi Zidan yang hiperaktif sementara cibiran terus berdatangan. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana bila saya berada diposisinya. Bisakah saya sabar sementara saya berusaha keras mengupayakan yang terbaik untuk tumbuh kembangnya.

Kisah semakin menarik ketika sang tante memberikan hadiah beruang pada Zidan. Beruang itu rupanya sebuah jembatan yang bisa membuatnya belajar berinteraksi dan berbicara lancar. Zidan sangat menyayangi boneka itu. Kemanapun, kapanpun, bahkan saat hujan dan berguling-gulingan di lumpur pun ia lakukan bersamanya. Tetapi justru dari situlah semua bermula. Kebiasaannya berbicara sambil menatap Teddy si beruang, pada akhirnya ia lakukan pada ibunya. Sebuah hal yang luar biasa mengingat sebelumnya pandangan mata Zidan selalu menari-nari kearah lainnya. Dan hati ini dibuat trenyuh ketika di akhir cerita, Zidan mencium pipi sang Mama. Aduh, saya meneteskan air mata. Turut terharu pula melihat perkembangannya.

Dari kisah Zidan dan beruangnya, saya beranjak menelusuri halaman-halaman berikutnya. Saya semakin tengelam menikmati kisah-kisah yang dijalin rapi oleh Fira Basuki ini. Mendekati halaman akhir saya terantuk oleh sebuah cerita mengesankan berjudul “Mobil-Mobilan si Panjul”. Kisahnya sederhana, tentang seorang gadis kecil bernama Rina yang mengaduk tong sampah besar demi membuatkan adiknya mobil-mobilan. Mobil itu jelas tak sama dengan mobil-mobilan yang diminta Panjul adiknya, yaitu sedan mungil berwarna merah. Tetapi justru disitulah pelajarannya. Betapa gadis sekecil dia telah berpikir kreatif (meski dengan bantuan orang dewasa) untuk membuatkan mobil-mobilan berbahan dasar botol air mineral. Voila! Betapa mengesankannya pemikiran bocah kecil seperti dia.
Ternyata keterbatasan tak menyempitkan sisi kreatifitasnya. Dan yang membuat saya mengacungi jempol adalah kecintaannya kepada sang adik telah membuatnya mau berkotor-kotor ria mengaduk tong sampah. Uh, saya kehabisan kata-kata. Mendadak saya jadi rindu adik-adik saya.  Mendadak saya jadi teringat masa kecil saya, ketika kami bertiga main mobil-mobilan dari kulit jeruk buatan ayah.
Seperti Panjul kami juga pernah memimpikan punya mobil-mobilan keren seperti sedan merah itu, tetapi ayah kami telah menggantinya dengan mobil-mobilan sederhana. Dari kulit jeruk pula. Yang tanpa kami sadari ayah telah mengajari kami untuk berpikir kreatif.

Ketika akhirnya saya menyelesaikan buku itu yang saya kenang adalah kisah-kisah itu memang berdasarkan sebuah noda. Tetapi bukan sekadar noda biasa. Noda yang tertulis disana adalah jalinan kisah penuh makna, yang menyadarkan kita bahwa dari balik noda sesungguhnya ada pelajaran luar biasa.

Ah, saya menutup buku dengan senyum bahagia. Ah, ya, ya...saya akui saya telah jatuh cinta padanya,   pada buku berjudul CERITA DI BALIK NODA yang berisi 42 kisah inspirasi jiwa. Satu buku yang "recommended to read" buat siapa saja. So masih kita berpikir bahwa "BERANI KOTOR ITU BAIK" adalah jargon kosong semata? Jika ya maka harusnya kita menengok kisah inspiratif dalam buku ini.

6 komentar:

  1. Bagussss reviewnya... Good luck ya afin

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih mbak ade, weh ini super duper tergesa ini
      mbak ade juga ya *hug

      Hapus
  2. cerita-ceritanya inspiratif :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak, bagus2 banget makasih ya udah dijorokin ikutan

      Hapus
  3. yg mepet2 detlen apik apiiik..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huwaaaa...dibilang apik
      panci, mana panci aye mo sembunyi

      Hapus