08 Mei 2013

LOOK DOWN, CLOSER (MUMBLE TO MY SELF)



Apa kau melihat dia, Tuan?
Ia yang kini meringkuk kelelahan. Tak ada penyakit ganas menyerang tubuhnya. Ia   hanya terlalu banyak mendongak,  hingga leher kaku dan mata berkunang-kunang. Semakin mendongak, semakin timbul iri dan tidak senang. Semakin pula hatinya dipenuhi kemarahan. Pada taraf positif kemarahan itu membuatnya bergerak mengejar ketertinggalan.  Tetapi semakin kemari sisi positif itu kian pudar, smentara kutub negatif kian terpancar. Buntutnya ia menyalahkan Engkau, Tuan, atas jabatan, ketenaran, uang...segala gemerlap yang tak kesampaian. Hingga baginya dunia itu hanya suram.



Pada pagi seterang tanah, kau menggamitnya, Tuan. Mengajaknya keluar dari keterkungkungan perasaan. Kau ajak ia menapakkan kaki ke tanah lapang. Membiarkan kaki merasakan rumput-rumput basah oleh embun dan semilir angin yang menyejukkan. Tetapi hati yang kusam itu tak merasakan keindahan.

“Apa bagusnya berada di tanah lapang dengan tumbuhan liar sejauh mata memandang?” pikirnya kesal.  Lalu kau membuatnya tersandung, hingga ia melihat dedaunan berbentuk hati yang merambat di dekat kakinya.  



Ia membungkuk dan mengelusnya. Merasakan embun di daun itu jatuh di telapak tangannya. Dingin, menyegarkan. Menariknya pada satu pemikiran. Apa benar sih Tuan tidak mencintainya? Jika benar tidak cinta mengapa ia masih diberi nafas dan keleluasaan merasakan enaknya makanan setiap kali ia mengumpati-Mu?


Beranjak lebih jauh ia menemukan semak-semak berduri dengan bunga-bunga warna merah muda. Biasa saja nampaknya. Tidak ada yang istimewa. Tetapi engkau telah membuatnya menundukkan diri untuk mengamatinya, saat kumbang-kumbang muncul dari balik semak dan menghisa madunya  maka ia pun berujar ,”Bahkan bunga kecil sepertinya pun bermanfaat. Si kumbang menghisap madunya. Berarti setiap mahkluk diciptakan ada manfaatnya. Termasuk aku juga. Hanya aku yang belum tahu cara memaksimalkan potensi yang ada. Kurasa aku terlalu ingin mencapai kesuksesan seperti mereka, meniru mentah-mentah cara mereka. Dan terlupa bahwa masing-masing orang punya jalan berbeda untuk meraihnya.”


Meninggalkan si bunga merah muda, matanya terantuk pada bunga ungu di depannya. Bunga itu tersembunyi diantara semak-semak, tak terlalu nampak jika tak mendekat. Sesuatu yang kuat mendorongnya untuk mengabadikannya dalam kamera. Lalu klik, klik, klik! Beberapa kali ia mengambil gambarnya. Saat ia melihat hasilnya sebuah ketakjuban muncul diwajahnya. “Cantik sekali bunga ungu ini. Aku tak mengira inilah nampaknya. Tadi kelihatannya ia biasa-biasa saja. Berarti sesuatu yang indah dan luar biasa itu sesungguhnya berawal dari sesuatu yang sederhana. Kau hanya harus melihat dari sudut yang berbeda untuk menemukan keistimewaannya. Begitu juga diriku. Boleh saja orang bilang aku tidak punya kemampuan apa-apa. Meng-under estimate diriku dengan celanya. Tapi benarkah demikian? Mungkin saja bila dilihat dari kacamatanya. Tapi dari kacamata lain? Oh, belum tentu. Jadi intinya akulah yang harus memaksimalkan usaha. Jangan selalu minta bantuan orang lain untuk bersinar.”


Pada langkah kaki ke sekian, ia menemukan bunga mawar. Cantik nian, terlihat menonjol diantara singkong yang tinggi menjulang, rumput-rumput liar, dan sereh wangi yang ditanaman berjajar di halaman orang. Yang menjadi pertanyaan apakah kecantikan itu tetap akan menonjol bila disandingkan dengan banyak kembang? Jawabannya bisa ya, bisa tidak. Bisa jika kemudian ia dipelihara dengan baik. Tidak bila ia dibiarkan begitu saja tanpa perawatan memadai. Seperti juga manusia bukan? Kau punya kemampuan, tapi dibiarkan, tidak diasah. Cukup puas dengan keadaan sekarang. Tidak mau belajar. Memangnya apa yang bisa didapatkan?


Pada akhir perjalanan, ia mengabadikan semburat jingga keemasan yang membias di antara birunya langit. Lalu bergumam sembari berjalan pulang ,”Hidup selalu penuh warna. Jika satu hari hanya warna kelabu yang muncul di hadapan, sepertinya yang salah bukan keadaan. Diri sendirilah yang berpikir demikian. Jadi berhentilah mendongak ke atas, mulailah melihat ke bawah. Agar kau lebih bersyukur atas hidup yang diberikan Tuhan. Tidak bisa meraih kehebatan seperti orang-orang di atas sana, bukan berarti tak istimewa. Mulai lakukan hal-hal kecil yang kau bisa, dan biarkan orang lain menilainya apakah kau pantas disebut istimewa. Jangan biarkan dirimu sendiri yang mengatakannya.”

Posted : Under Mumble to my self
All images taken with DSC W520

8 komentar:

  1. Orang tua saya selalu mengajarkan, "Lihat ke atas untuk memotivasi dan lihat ke bawah untuk tetap bersyukur"

    BalasHapus
  2. setuju mbak Keke Naima
    Jangan melihat ke atas saja, capek hehehe

    BalasHapus
  3. bunga2 dan langitnya cantik mba *salah fokus..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hwkakakakaka, Mbak Matris makasih ya...
      Aku juga suka bunga-bunga itu. Simple tapi di kamera keren bo

      Hapus
  4. tulisan ini rada serius....hei afin dikau baik-baik sajakah?:)

    BalasHapus
  5. fine as always mbak sarah
    berat yah? ada seton gak sih

    gak semua pengalamanku sih, biasa aye pan kebagian mengamati
    jadilah cerita ini

    BalasHapus
  6. Standar sukses bagi orang kan berbeda2 Mbak :)
    Salam kenal ya :)

    BalasHapus
  7. salam kenal juga mbak, tentu saja berbeda. Nah kalo sama semua jadi artis atau presiden dong ya? Hehehe

    BalasHapus