25 Agustus 2013

42 : COULD YOU HANDLE YOUR EMOTION?


 Theatrical release poster for  film "42"

Judul Film    : 42
Genre          : Drama
Sutradara    : Brian Helgeland
Negara       : Amerika
Tahun edar  : 2013
Pemeran     : Chadwick Boseman, Harrison Ford, Nicole Beharie
Durasi        : 128 menit

Menilik judulnya sepertinya tak ada yang istimewa. Tapi sesungguhnya film ini layak jadi tontonan oleh anda-anda semua, rekan penulis yang tercinta. Yang pemula atau yang kawakan. Yang bersedih karena berbagai penolakan, yang berduka karena cemoohan. Karena dalam film ini ada sebuah pesan yang penting yang mengesankan. Apakah itu?

Let’s follow me, guys...

Kisah dimulai ketika General Manager Brooklyn Dodgers, Branch Rickey mengutarakan niatnya mencari pemuda kulit hitam untuk menjadi anggota tim bisbol tersebut. Semua menentang keinginannya. Wajar mengingat pada masa itu tak ada orang kulit putih yang bersedia main satu liga dengan pria kulit hitam. Tetapi Branch Rickey seseoang yang punya visi ke depan. Tak hanya soal uang yang ia pikirkan, tetapi ada yang lebih dalam dari itu. Kecintaannya pada olahraga itulah yang membuatnya berpikiran jauh melampaui orang-orang di masanya.

Segenap usaha dilakukan untuk mencari pemain yang pas mengisi klubnya. Bertumpuk profil pemain masuk ke mejanya namun ia justru tertarik Jackie Robinson. Seorang pemuda kulit hitam, shortstop terbaik Kansas City Monarch, yang terkenal sangat emosian.

Ketika Jackie resmi dipanggil masuk ke klubnya, Branch Rickey sempat mengujinya dengan serangkaian kata-kata provokatif yang memerahkan telingan. Tujuannya hanya satu, ia ingin tahu seperti apa reaksi Jackie terhadapanya. Saat Jackie bertanya dengan sedikit menantang ,”Apakah kau menginginkan seorang yang punya tidak punya nyali untuk membalas?”

Rickey justru menjawab, “Tidak, aku ingin seorang pemain yang punya nyali, untuk tidak melawan balik.”


Seperti sudah diduga sebelumnya. Hampir semua lapisan  menolak Jackie karena warna kulitnya. Mulai dari penonton, rekan se-tim, pihak lawan (dari anggota tim sampai manajer klub-nya) membenci kehadiran Jackie ditengah arena.Tak peduli ia bermain bagus, tak peduli ia mencetak angka. Jackie tetap tidak diterima, Jackie tetap minoritas di tengah olahraga yang dicintainya.

Apakah Jackie mundur? Tidak. Dengan dukungan istrinya ia tetap maju meski menerima cemoohan, cacian, makian, dikucilkan bahkan diperlakukan tidak adil sepanjang pertandingan. Pada akhirnya ia berhasil membuktikan kualitas dirinya. Bahwa ia adalah seorang pemain hebat yang layak mendapatkan apresiasi atas prestasinya, di dalam maupun di luar lapangan.



Secara keseluruhan film ini ditulis dengan apik oleh Brian Helgeland. Yang juga berperan sebagai sutradara. Para pemain yang terlibat pas memerankan setiap tokohnya. Dimulai dari Chadwick Boseman, pemeran Jackie. Ia terlihat menjiwai perannya sebagai pemain bisbol minoritas yang berjuang di liga bisbol utama negerinya. Keteguhan, kegembiraan, frustasinya, tergambar jelas dalam dalam gestur tubuh dan mimik muka saat mengucapkan dialognya.

Harrison Ford sendiri berhasil menerjemahkan dengan baik seperti apa Branch Riley, General Manager penuh semangat sekaligus keras kepala. Meski kadang kasar dan mengintimidasi tetapi  pandai memotivasi anak buahnya lewat gaya bicara, sikap tubuh, dan kalimat-kalimat mengesankan yang kerap ia selipkan saat bicara.



Tak kalah pentingnya adalah tokoh istri Jackie, Rachel Robinson yang diperankan oleh Nicole Beharie. Ia digambarkan sebagai istri yang mendukung penuh perjuangan sang suami. Percaya bahwa sang suami mampu mengatasi keadaaan, dan bukannya menyuruh Jackie mundur untuk menghindari persoalan.

Film ini tak melulu tentang bisbol. Lebih dari itu ia menceritakan tentang sebuah perjuangan seseorang sebelum menjadi legenda. Boleh saja orang berkata, andai Branch Rickey tidak mewujudkan keinginan gilanya, Jackie Robinson takkan ada. Namun sesungguhnya penentu keberhasilan adalah Jackie sendiri.  Bukan Branch Rickey atau lainnya.

Lalu apa hubungan film ini dengan rekomandasi saya di awal tulisan? Ibarat tokoh dalam film 42, maka kita—para penulis adalah adalah Jackie Robinson. Sementara penonton, rekan setim, dan lawan yang menolak kita adalah permasalahan yang ada di depan kita.

Bila Jackie harus berjuang dari nol sebelum menjadi legenda. Maka begitu pun kita. Namun dalam perjalanannya tak jarang kita merasa frustasi tingkat dewa. Ketika mendapati karyamu tidak ada yang diterima, setiap novel atau cerpen yang kau kirimkan ke media ditolak semua. Atau jika diterima, kritikan dari editor membuatmu merana. Bak menelan pil pahit dengan paksa. Akibatnya semangat mulai luntur dan kau merasa capek karena impian tak juga jadi nyata. Pada masa kritis ini tak jarang banyak yang memutuskan berhenti. Sementara yang bertahan belum tentu akan mengalami kegemilangan.
Karya yang jeblok di pasaran, lantas di jual dengan diskon gila-gilaan padahal baru sebentar edar. Belum lagi komentar yang menggiriskan. Isinya cemoohan yang menjatuhkan mental, bukannya kritik membangun agar kau tahu apa-apa yang kurang.

Yang karyanya laku di pasaran, dianggap mumpuni oleh penulis lainnya, belum tentu kalis dari kritik tajam. Tetap saja ada celah untuk menghujatmu habis-habisan. Jika itu masih kurang, masih ada hal lain yang menyesakkan. Yaitu dianggap sebelah mata oleh orang-orang menganggap dirinya sastrawan. Karyamu dikatakan kacangan, terlalu ringan, tidak pantas disejajarkan dengan karya mereka.

Sungguh sialan! Tak ayal emosi meluncur tajam. Membuatmu taring, tanduk, dan ekormu keluar. Seandainya kau bisa bernapas api habislah para pencemooh itu kau gosongkan. Tetapi sebelum itu dilakukan marilah kita ingat kembali ucapan Branch Rickey pada Jackie di awal pertemuan :
“... aku ingin seorang pemain yang punya nyali, untuk tidak melawan balik.”

Tahu apa yang ingin dikatakan Rickey sebenarnya? Dalam bahasa mudah, Rickey ingin agar Jackie bisa mengendalikan emosinya, fokus saja pada pertandingan, dan abaikan segenap cemoohan yang tertuju padanya.

Apakah itu mudah bagi Jackie? Oh, tentu tidak. Ada saat ia tidak bisa menahan emosinya, ingin melawan balik orang-orang yang memakinya. Tetapi jika ia menurutkan emosi saat itu juga, yakinlah ia takkan pernah dikenang sebagai salah satu legenda bisbol Amerika.

Pertanyaannya, bisakah kita? Tentu saja bisa. Tetapi masing-masing punya tingkat kemampuan belajar yang berbeda.
Well, selamat menonton ya.
Hug, hug.



14 komentar:

  1. tulisan mbak mencerhakan banget. saya termasuk seorang yang susah mengendalikan emosi (dulunya). tetapi belajar dari hidup bahwa capek untuk melawan balik mereka yang tidak suka ke kita. lebih baik fokus pada kemajuan diri sendiri. nice posting mbak, menambah semangat!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah saya juga susah jaga esmosi, masih banyak lolosnya. Thanks udah kemari mbak

      Hapus
  2. harus dihadapi dengan lapang dada dan bijaksana ya.... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. itulah yg bener mbak izza, hanya ternyata meredam emosi harus belajar juga. Contoh saya

      Hapus
  3. Tulisan yang tak hanya memancing minat untuk ikutan memburu film ini, tapi juga mencerahkan dan mengingatkan kita untuk tidak terus-terusan melawan arus. Capek. Mending belajar beradaptasi sambil terus berupaya fokus pada pembuktian kemampuan diri. Trims, mbak Afin!

    BalasHapus
    Balasan
    1. ah hai mbak alaika, saya nulisnya juga pas lagi capek. Rasanya film ini nendang saya

      Hapus
  4. makasih share-nya mbak.. menyemangati saya yang baru belajar menjadi penulis :)

    BalasHapus
  5. Makasih mbak diah, xixi saya juga baru belajar.

    BalasHapus
  6. Inspiratif!
    Pas sekali dgnku :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. wakakaka, masa mbak ley? Pst, aye nulis resensi pas lagi drop, jadi sambil nulis sambil nyemangati diri sendiri

      Hapus
  7. wuuuihhh...jadi ngiler......

    BalasHapus
  8. ngiler nongtongnya? Wua, silakeun

    BalasHapus
  9. hmm,bingung mau komen apa, baguss dehh
    follow blog aku mbaa ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. aduh maaf ya, kalo lagi on via lepi suka lupa. Via ponsel agak ribet

      Hapus