16 Agustus 2013

KOK TUHAN NGGAK DATANG?



Satu ketika, dengan masygul saya bertanya ,”Kok Tuhan nggak datang-datang ya? Padahal saya sudah manggil Dia, sampai bikin telinga orang-orang pekak karena teriakan saya. Tapi Ia nggak muncul juga, padahal saya tengah merana. Dilanda kesulitan tingkat dewa.”
Tanah di bawah kaki saya tertawa. Tanyanya ,”Lha iya, memangnya kamu suka nyamperin dia apa?”
 “Heheh, ndak juga.”
“Lha itu, dia...Kamu nggak suka nyamperin, kok ngarep Dia datang itu gimana?”
Saya tersenyum kecut padanya. ”Lha aku kan sibuk to. Banyak kerjaan yang harus diselesaikan. Makan aja harus disambil pacaran...dengan komputer maksudnya,” alasan saya seraya nyengir kuda.
Tanah tersenyum lebar. Balasannya bikin saya diam ,”Kalau situ saja tak punya waktu barang semenit ketemu Tuhan, kenapa situ mengharap Tuhan datang waktu situ kesulitan?”
Dar! Saya seperti dilempar petasan. Kaget dan tidak bisa membalas apa yang dia bilang.
Tiga bulan kemudian saya muncul kembali  dengan keluhan yang sama. Kenapa Tuhan tidak datang-datang memenuhi panggilan saya. Kali ini rumput berhias embun sebening kristal teman saya bicara.


“Lha iya, kata tanah Tuhan akan datang kalau saya memenuhi panggilannya? Tapi kok ini enggak ya? Padahal saya datang lima kali sehari sesuai permintaannya. Lengkap, bahkan terkadang saya tambah ibadah sunnah segala,” kata saya sambil mengelus jidat saya.

“Emang darimana kamu tahu Dia nggak datang?” Rumput melirik saya ingin tahu.
“Ha nyatanya doa saya ndak dikabulkan.  Sudah tiga bulan saya jungkat-jungkit diatas sajadah dan menengadahkan tangan, tetapi kenyataannya tidak juga ada jawaban.”
 Rumput menjawab ringan ,”Elaaah, baru tiga bulan. Ono noooh, banyak orang yang udah jungkat-jungkit di atas sajadah, melakukan banyak kebaikan, nyatanya belum juga dikabulkan.”
“Wah, berarti Tuhan curang ya?”
“Ya nggak juga. Barangkali kita saja yang ndak memahami cara kerja-Nya. Apa yang bagus nurut manusia belum tentu buat Dia. Makanya kadang apa yang paling kita inginkan nggak dikabulkan, yang nggak diinginkan justru dikabulkan.”
“Ha kenapa begitu?”
“Siapa tahu kalau dikabulkan malah mendatangkan kesulitan. Seperti kamu itu contohnya, mosok cah ndeso minta *pangeran? Andai dikabulkan apa kamu ndak ngenes sendirian? Dapat pangeran itu nggak gampang. Banyak tata krama yang memusingkan. Memang sih dapat pangeran itu menyenangkan, di atas kertas. Dalam kenyataan, Lady Di aja menderita. Apalagi kamu nantinya.”
Saya memutar bola mata. Jengkel juga dibilang begitu olehnya.
Semak yang bergoyang turut pula berkomentar ,”Tuhan bukannya tidak datang, Ia datang. Ia mendengar doa-doa yang kau hamparkan. Tetapi jika harapan dan cita-cita adalah mempelai yang kau inginkan dan doa adalah mahar, bisa jadi maharmu masih kurang memenuhi persyaratan. Karena itu Tuhan belum berkenan memberikan apa yang selalu engkau doakan.”



“Aduuuh...”  Aku melenguh sebal. “Betapa pelitnya Tuhan! Katanya  Ia kaya. Empunya alam semesta. Tapi kenapa masih minta ini itu untuk mengabulkan doa dan harapan manusia?
Semak-semak tertawa.
”Kenapa kau tertawa, kawan?” tanyaku heran.
Semak-semak mengerling lucu sebelum menjawab pertanyaan.  ”Kawanku, Tuhan tidak pelit kepadamu. Lihatlah, meski kau kerap kurang ajar. Meng-klaim kehebatanmu adalah kerjamu sendiri, Tuhan tetap memberimu udara untuk bernapas. Air untuk kau minum. Mata untuk melihat dan sebagainya dan sebagainya yang bahkan kau tak sadar.”
“Ada berbagai kemungkinan menganga doamu tidak dikabulkan sekarang. Mungkin ia ingin kau belajar banyak sebelum mencapai impian. Menjadi kuat sebelum masa itu datang. Sekaligus menjadi memahami bahwa segala sesuatu tidak ada yang instan dan tahu bagaimana bersikap saat persoalan datang. Tidak mudah rapuh dalam sekali goncangan. Ibarat seorang binaragawan, sekarang ini saatnya kau berlatih hingga mencapai bentuk tubuh yang diinginkan. Selama itu ia juga menjalani beragam pantangan. Ndak makan sembarangan, ada diet khusus plus latihan keras untuk mencapai tujuan. Jangan dipikir untuk mencapai bentuk perut kotak-kotak kaya roti kasur dan otot bisep yang njendul begitu ndak ada pengorbanan. Huuh banyak, kawan.”
“Atau   seperti yang si rumput katakan, doa yang kau pinta mendatangkan keburukan. Seorang guru pernah berkata ‘Tuhan mengabulkan doa hamba-Nya seperti dokter mengabulkan permintaan orang yang sakit maag’. Kau boleh saja menginginkan jeruk untuk menyegarkan mulut.Tapi dokter takkan mengijinkan, sebab jeruk jelas memberimu efek yang lebih buruk bagi perutmu yang  sakit itu.”
Saya garuk-garuk kepala.  Saya yang fakir ilmu pusing mencerna omongan mereka. “Aduh, mumet saya, ndak paham blas yang sampeyan-sampeyan katakan.”
Semak-semak dan rerumputan bertukar pandang.  “Pelan-pelan saja kau telan apa yang kubicarakan. Kunyah dan nikmati, sampai akhirnya kau mengerti apa yang kukatakan,” ujar semak-semak diantara hembusan angin pagi.


Saya menghela napas panjang. Sembari menegakkan tubuh saya menatap awang-awang.  Sebuah pertanyaan terlontar ,”Jadi kapan cita-citaku kesampaian?”
“Lha dalah malah tanya gitu. Meneketehe?” sahut rumput saat saya merebahkan tubuh  padanya.


“Kenapa sih jawabannya tidak dibikin mudah saja, serupa mencari informasi di Mbah Google saja.”
“Ah, kau ini! Kalau begitu mudahnya, orang-orang bandel seperti kau ini malah ndak mau berdoa, ndak mau berusaha, ndak mau melakukan apa-apa. Toh sudah jelas mau jadi apa. Ya to?”
Saya nyengir kuda bersamaan dengan sebuah kerikil terlempar ke muka. Entah perbuatan iseng si rumput atau semak-semak di seberang saya.  Saya sendiri kemudian terlena, diayun lembut angin pagi yang mengabarkan wangi bunga dari taman tetangga.
Note :
Pangeran = simbol impian yang mulut-muluk
>>I write this under title Mumble To My Self. Clearly what I write is an absurd chatting, betwen me and my self in the lonely night.
Hug, hug!


33 komentar:

  1. Bagus banget tulisannya... Membuat saya tertegun :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih mbak icha, saya emang nulis berdasarkan pengalaman saya. Nulis ini tujuannya juga buat ngingetin diri sendiri

      Hapus
  2. sangat menyentuh
    jadi kembali bercermin...

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah terima kasih mbak rahmah, sebenarnya saya nulis ini buat cermin saya kalo lupa

      Hapus
  3. Tuhan ada ketika kita menghadirkannya dalam kehidupan kita,
    masih suasana lebaran khan,
    sambil ucapin maaf lahir batin, back to zero again,
    sambil mata lirak lirik kiri kanan nyari ketupat...salam :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih udah datang kemari mas
      saya juga mau minta maaf
      btw ketupatnya udah bubar hehehehe

      Hapus
  4. foto2nya juga keren mbaaa,, ngimbani isi artikelnya yang abstrak tapi cukup menyentil ya. Good job :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahaha, wah fotonya dibilang keren. Makasih lho
      semoga satu hari bisa belajar mengabadikan gambar secara benar

      Hapus
  5. Salam kenal, suka tulisan ini, bagus bgt Mba... (suka ngerasa gitu juga), membaca ini jadi intropeksi diri deh... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salah alasan kenapa nulis ini juga untuk cermin pribadi Mbak, saya ini suka ndak tahu terima kasih sama Tuhan

      Hapus
  6. Gaya bahasany keren nih ,hehe,fotonya juga ngenaa bnget,silaturahmi juga mba blog saya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Mas Fikri, dibilang fotonya keren hihihi
      et dah semoga kelak bisa belajar motret lebih baik lagi

      Hapus
    2. mba follow balik blog baru aku ya^^ www.fikrias.com

      Hapus
    3. Haha iya, tadi saya nyari linknya ketemu g+ aja

      Hapus
  7. I Love Afin, the most beautiful girl on the world :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. waduh mbak lyta, kata bapak afin is the most stubborn girl

      Hapus
  8. keren mba afin, jadi mikir lg

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku nulis itu karena aku ngalamin, La. Di posting biar aku ingat

      Hapus
  9. afinnnn... aku naksir dengan si manusia kardusnya.. itu bikin sendiri atau beli jadi sih? darimana dapatnya? aduhh... aku suka lihatnya... itu punyamu sendiri atau boleh nyomot gambar orang lain sih? manusia kardusnya kereeeeennnnn

    BalasHapus
    Balasan
    1. oh si manusia kardus namanya danbo mbak ade, hadiah menang lomba foto di blogfam. Gambarnya punya afin, diambil di tanah lapang deket rumah kapan itu

      Hapus
  10. Blogwalking bisa menambah keakraban [Warung Blogger]
    Maka dari itu saya blokwalking :)
    visitback : http://andre-freelife.blogspot.com/

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih udah mampir mas andre, aye juga suka blogwalking. Tenkyu

      Hapus
  11. Aw...keren Mbak
    Hampir sama seperti yang saya pikirkan, hanya saja saya belum bisa menuliskan seindah ini :)

    BalasHapus
  12. hekhekhek, ah benernya tulisan yg gampang dimengerti jauh lebih mudah dicerna timbang indah tapi bikin kening berkerut :-P

    BalasHapus
  13. wah mba jdi trenyuh..memang kadang kita suka berfikir Tuhan tidak adil lantaraan Dia tdk mengabulkan permintaan kita ...aku baru mengalaminya mba...sudah berupaya maksimal, harapan belum jg terkabul, sempet drop jg meski coba utk tetap optimis....

    BalasHapus
    Balasan
    1. emang mbak, menjaga pemikiran tetap positif di saat itu memang gak gampang ya, hehehe. I know how does it feel

      Hapus
  14. suka sama tulisan ini,Mbak...Kadang merasa begitu juga,ternyata Tuhan selalu ada, selalu dekat, selalu mengabulkan doa-doa kita..dengan caraNYA....

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya, kecenderungan saya itu. Berprasangka buruk

      Hapus
  15. penuh makna mbak tulisannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. eits ada mbak lidya, tenkyu *bow

      Hapus
  16. Wah mbak tulisannya ngena :) *harus intropeksi diri lagi*

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih, terutama saya mbak titis

      Hapus
  17. Tuhan ada, hanya saja, kadang kita yang terlalu sibuk mencari, sehingga Ia yang jelas ada seolah tak ada. Bagus mbak <3

    Salam,
    Pink

    BalasHapus