06 September 2013

EFEK BER-HIGH HEELS : REMPONG, SAKIT, DAN NJUNGKIR




Sebagai perempuan yang dikarunia tinggi tubuh aduhai, semampai (semeter sampai), terkadang saya juga berkeinginan untuk menambah tinggi tubuh secara instan. Karena tidak mungkin pakai egrang, selain tidak terlihat gaya dan nggak keren dilihat orang, maka cara tercepat adalah memakai high heels. Ya, high heels.

Karena saya amatir jelas saya tidak bisa memakai yang diatas sepuluh senti atau dua belas senti. Ukuran semacam ini nanti-nanti sajalah kalau saya sudah mahir. Maka pilihan saya jatuh pada sepatu berhak runcing setinggi tujuh cm. Saya pikir bakalan aman, lha wong tingginya cuma tujuh senti.  Lalu apa yang terjadi ketika saya, seseorang yang berhasil mempertahankan gelar sebagai Miss Sandal Jepit ini, memakainya? Mari ikuti kerempongannya...

Hari pertama, saya merasakan efek luar biasa memakai high heels. Kaki jadi terlihat lebih panjang dan seksi (ingat ya hanya terlihat, bukan asli begono). Maka saya berhaha-hihi sendiri, karena dalam sekejap si high heels ini berhasil menyulap sedikit penampilan saya. Pantaslah banyak yang bilang kalau high heels itu ‘Must Have Item’. Sesaat rasanya saya merasa tepat memilih dia sebagai salah satu penunjang penampilan. Tetapi hari berikutnya?

Hari kedua, saya mulai merasakan sakit di, terutama bagian ujung kaki yang harus rela berdesakan diantara ujung sepatu yang lancip mirip moncong buaya. Kalau saja mereka bisa berkata maka menjerit dan berdemolah mereka. Tapi saya mengabaikannya, demi terlihat keren hal kayak gini nggak ada apa-apanya.
Hari ketiga, betis juga ikut-ikut demo. Sepertinya ia sudah bosan saya memaksanya berdiri dengan high heels semacam ini. Kalau dia bisa menulis, saya pasti akan ditulisnya sebagai seorang manusia tak berperisepatuan. Sudah dikasih kode kalau dia nggak tahan masih juga dipaksakan. Tapi sekali lagi kawan, sepatu ini membuat saya terlihat keren. So kalau di stop, ntar kerennya jadi ilang.

Hari ke empat, kelima, ke enam, ketujuh?
Seluruh  tubuh teriak kencang.  Mulai telapak kaki sampai leher  stress deh dengan apa yang saya lakukan.
Tetapi itu masih belum membuat saya berhenti memakaianya, hingga satu hari saya sukses njungkir di tepi jalan gara-gara high heels. Lha kok bisa?



Jadi ceritanya hari itu setelah menghabiskan jam makan siang dengan belanja di pertokoan dekat kantor, secara otomatis saya balik kanan. Maksudnya balik ke kantor. Dengan langkah nan gaya saya melenggang. Kalau dilihat dari jauh udah kayak model lagi peragaan busana *ngeeek . Padahal sebenarnya untuk berjalan dengan tubuh tegak dan dada membusung itu saya harus menahan sakit nggak karuan. Meski begitu saya berusaha terlihat biasa, hingga kemudian...

Syuut, glubuuuk!

Saya jatuh di tepi karena hak sepatu goyah saat menapaki jalan. Saya yang tak bisa menjaga keseimbangan langsung pek...buk...glodak ditepi jalan. Maka bisa dibayangkan bagaimana bunyi jatuhnya mengingat saya ini bukan seorang yang langsing, tapi langsung (baca : sehat atau agak kelebihan berat). Sesaat semua terpana sebelum akhirnya pada cekikikan melihat pada saya. Iya saya, bukan lainnya. Tukang becak yang ada disitu nggak berhenti-berhenti tertawa. Sampai saya pingin aja nyumpal itu mulut pakai dollar *eits songong!

Tetapi layaknya model profesional, saya bangkit dari njungkir (nggak pakai balik itu), dengan wajah tanpa dosa meski orang-orang menertawakan saya.  Saya melangkah kembali seolah tak terjadi apa-apa, padahal bagian pergelangan kaki sakit sekali rasanya.  Alhasil selama tiga bulan itu orang-orang disekitar toko kalau melihat saya melintar isinya pengen ngetawain aja. Coba siapa yang nggak kesel? Ada aja yang iseng nyeletuk ,”Oh, ini mbak yang kemarin dulu njungkir ya?”

Lalu apa saja efek buruk yang saya alami setelah memakai high heels?
Kapalan, nyeri di bagian ujung kaki, keseleo, nyeri di betis, saking pinggang, punggung dan  leher kaku saya alami ketika saya bersikeras memakai high heels.

Apakah sekarang saya masih pakai?
Jarang, apalagi sejak saya sudah tidak ngantor lagi (dulu pas ngantor aja udah jarang hehehe). Tapi kadang kalau pergi ke kondangan saya pakai juga. Itu pun nggak lebih dari dua jam. Kalau lebih maka bisa dipastikan pegal seluruh badan.



Terus adakah tips-tips memakai high heels?
Saya sih bukan pakar ya, jadi nggak ngerti banyak soal ini. Tapi kalau maksa ya udahlah saya kasih aja (widiih siapa juga yang maksa?), tapi jangan nyesel  tips-nya nggak terlalu jedar mengangkasa *et daah Syahrini banget bahasanya. So apa aja tips-nya? Inilah dia :

-Jika memilih sepatu berhak runcing pastikan ada besi penopangnya. Kalau tidak resiko hak patah  saat jalan sangat besar dan bisa mencederai kakimu saat berjalan. Umumnya sepatu berhak tinggi yang murah (seperti milik saya dulu), haknya terbuat dari plastik dan tanpa besi penopang. Sehingga kalau dipakai berjalan goyah dan tidak nyaman.  Kalau emang niat banget sih mending pakai sepatu bersol tebal/wedges.

-Jangan lupa bahannya yang nyaman, kalau enggak malah bikin lecet dan ini nggak enak banget buat jalan.  Tapi ya itu tadi sih, ihihihi, biasanya bahan yang bagus dan nyaman itu mahil alias mahal banget.

-Sebaiknya jangan memilih ujung yang runcing, mending pilih yang kotak atau bulat. Ujung semacam ini akan menyakiti jari-jari kaki. Semakin tinggi hak maka kaki makin terdorong ke bagian sempitnya. Efek jangka panjangnya bentuk jari kaki bisa berubah, semisal jempol bengkok.

-Ukurannya harus pas, karena ukuran yang sedikit kebesaran bisa membuat kaki tergelincir saaat jalan. Nah kalau udah gini yang repot kita sendiri.

-Oh ya jangan lupa merawat kaki. Memijat-mijatnya bisa membantu mengurangi ketegangan di kaki. Begitu juga dengan merendam kaki dengan air hangat bergaram.

Adakah yang ingin menambahkan? Dipersilakan banget supaya kita bisa sama-sama belajar.
Hug, hug.




19 komentar:

  1. pernah dibeliin hh sama teman buat acara wisuda, memang keren sih kalo dipake..saya yg tomboi jd bener2 cantik jalannya hahaha....tapi ya itu,efeknya eeeeeerrrrrr bikin kaki sakit berhari2.... ^^

    salam kenal

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahah sama kalo gitu Mbak Hanna, saya udah kapok aja hahahaha

      Hapus
  2. Saya termasuk yang nggak suka pake hig heels.. paling banter pake widges, itupun sangat amat jarang..

    Salam kenal :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. walaah samaan mbak Yuli (eh btw namanya sama). Kapok mbak udah pernah njungkir

      salam kenal juga

      Hapus
  3. mbak saya trauma pke high heels, saya pernah keseleo pke high heels, saya pikir cuman keseleo doang loh saya cuek aja, eh ternyata dua hari kemudian saya demam dan kaki kana saya sakit bgt buat jalan terutama pergelangan kaki, pas saya ingat-ingat saya keseleo beberapa hari yang lalu, akhirnya ke dokter ternyata ada urat yg kejepit dan saya terapi makanya saya kapok beli dan pke lagi deh, emang saya dri dahulu gak suka tapi emak saya yg maksa suruh pke high :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. aduh bener mbak, saya sakit beberapa hari gara-gara jatuh itu.
      Saya nggak sampai begitu, tapi udah kapok aja gara-gara sakitnya nggak nahan sejak awal pakai
      salam kenal

      Hapus
  4. Saya punya high heel dan jarang sekali saya pake. Penampakannya masih tampak seperti baru. Saya simpan baik-baik aja di dusnya. Kalau terpaksa saya pake, ke undangan misalnya, sepertinya saya ahrus bawa sendal bersol rendah dan rata, sebagai cadangan. Duh, rempong ya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. emang pake high heels cenderung bikin rempong. Salam kenal mbak efi

      Hapus
  5. ha ha high heels,,ya ampyuun,,emang bikin repot nih sepatu,,aku jg pernah mleyot pake high heels mba,,nyeri di tumit jg pernah,,ujungnya nyantol di bawah pinti rolling door kantor jg pernah he he krn tuntutan krjaan hrs pake hak tinggi aku ganti pake wedges,,bwtku itu lbh nyaman drpd yg runcing he he

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lha itu dia, hak saya pernah nyantol di kursi, sampe mo jatuh saya.

      Hapus
  6. Saya hanya sekali pakai high heels. Eh, sandal yang ada hak-nya itu termasuk high heels juga kan? hihi

    Nah, pas pakai itu di acara wisuda, pas saya dapat penghargaan dan naik ke panggung, high heelsnya sedikit goyah. Ternyata sesamoainya di bawah panggung saya lihat high heels-nya lepas. Untung... untung, pas di atas panggung tidak terjadi sesuatu yang memalukan. Heem, sejak itu jadi kapok.

    BalasHapus
    Balasan
    1. na itu tuh, jadi geli baca pengalamanmu jeng fìtri

      Hapus
  7. kyknya sy blm pernah berhigh heels. Baru ngebayangin aja udah nyeri ihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, emang atit banget. Mending pakai sepatu biasa aja

      Hapus
  8. high heels nggak bagus buat kesehatan kak. wajar kalau sehabis memakainya kaki terasa sakit.

    BalasHapus
  9. iya say, bikin kaki capek dan badan gak karuan

    BalasHapus
  10. aku punya highheels sama wedges, tapi jarang dipake. pegel banget, mba. apalagi kalo dipake buat muter2 pas belanja. walo pake wedges tinggi cuma 1-2 cm tetep aja kerasa pegelnya :')

    BalasHapus
  11. sama, aku njepit kemana-mana. Biar dah, yg penting gak nyakitin kaki

    BalasHapus
  12. salam kenal ...
    biar gak gampang lecet saar memakai wedges apa kita harus memakai kaos kaki wanita yang seperti apa ?..
    mohon pencerahannya..

    BalasHapus