16 Oktober 2013

YANG BAIK DARI NIKITA MIRZANI DAN ZASKIA GOTIK


Zaskia Gotik


Zaskia Gotik itu tak lebih dari lulusan SD, dia tak sepolos kelihatannya, kacang lupa pada kulitnya, dan  dia juga pernah berfoto syur pada masa lampaunya.

Entah mengapa hal-hal itu membuat saya justru terketuk untuk membandingkan Zaskia dengan diri saya. Hasilnya luar biasa, hehehe...saya sadar betapa jauhnya kualitas saya dibanding dia (terlepas kesalahan yang dilakukannya). Usia lebih muda dia, tetapi perjuangannya untuk mencapai keberhasilan seperti sekarang jelas lebih rumit Zaskia.  Sekolah ia tinggalkan bukan tanpa alasan. Keadaan memaksa dan ia harus memilih mana yang paling penting—sekolah atau cari makan. Dan ia memilih yang kedua. Sebuah pengorbanan besar bagi anak usia belasan untuk keluarga.

Saya tak bisa membayangkan andai saya dilahirkan menjadi dia. Apa iya saya akan kuat menjalaninya? Pertanyaan itu membuat saya membayangkan saya menjadi Zaskia kecil yang berdiri di tengah lautan manusia sebagai penyanyi dangdut kampung.  Sebelum anda membayangkan lebih jauh, mari saya ingatkan Mbak, Mas, Tante, dan Om dengan kisah Inul Daratista. Pernah ada yang melihat CD-nya jaman dulu kala?
Nah, kira-kira kondisi panggung-panggung dangdut dibawah sana ya seperti itu. Meski sebenarnya aset seorang penyanyi itu ada pada suara, tetapi tak urung goyang juga bisa jadi senjata.  Yang lebih celaka kemudian banyak yang lebih memilih mengedepankan goyangan seksi sebagai pemikat penonton. Kenapa? Saya juga ndak tahu, apakah yang laku memang begitu atau dipengaruhi oleh kerasnya persaingan antar penyanyi sehingga memunculkan ide “seru” semacam itu. Who knows? Sampai-sampai saya pernah dengar, entah siapa mengatakan, jika anda jadi penyanyi dangdut nggak mau “goyang” macam itu, ya jangan ngarep laku. Sebagai penyanyi Zaskia kecil pasti bisa melihat jelas hal-hal kondisi semacam ini. 



Nah pertanyaannya adalah : “Dalam usia belasan dan berasal dari keluarga miskin kira-kira apa yang bakal saya lakukan? Ikut arus atau justru kekeuh menjadi penyanyi dangdut baik-baik saja, yang goyangan atau pakaiannya tidak berpotensi merubuhkan panggung saking seksinya?”
 Hm, saya tidak menjamin. Apalagi jika saya kelaparan, butuh makan—secara insting saya akan melakukan apa yang penting duluan. Saya akan ikut arus biar dapat uang, keluarga saya bisa makan, adik-adik bisa sekolah dan perkara lainnya pikir saja belakangan.

Dari situ pertanyaan kedua muncul ,”Apa yang bakal saya atau mereka lakukan saat melihat Zaskia di masa silam? Saat ia memilih putus sekolah dan mencari uang? Melewatinya begitu saja  atau justru memberi bantuan agar ia bisa mendapat pendidikan bagus hingga bisa bekerja di tempat yang layak. Jadi  tak harus berfoto syur dan nyanyi dangdut sambil goyang aneh-aneh demi uang.”

Jika jawaban anda adalah gelengan kepala, merasa tak sanggup membantunya (seperti saya). Ada baiknya mendiamkannya. Tak usah ikut meributkannya. Sebab semakin suka kita melihatnya (entah sambil ngedumel atau sambil nguleg sambel), berita itu akan semakin sering diulang, semakin ditambah, diberi bumbu dan sebagainya. Tahu kan, kemana juntrungnya? Rating, kawan...rating! Kalau sudah ngomong begini yang untung pihak teve juga. Kita? Nggak dapat apa-apa.

By the way tapi Afin kasih saran supaya nggak nonton berita gituan, tapi kok tahu perkembangan ceritanya? Jangan-jangan penggemar setia tayangan gosip ya?
Gimana ya, lha seluruh channel di Indonesia membicarakannya. Tiap pindah channel ada. Meski udah jarang nonton teve begitu buka eh...berita itu lagi-itu layang yang muncul disana, hahahaha....*oo, ngeles!

Eh, jadi Fin apa dong hal baik yang bisa dilihat dari Si Miss Gotik ini? Kerja keras, rasa cinta dan sayangnya pada keluarga terlepas bagaimana masa lampaunya. Itu buat saya, anda bagaimana?

Nikita Mirzani


Ia  membuat saya teringat salah satu jargon iklan rokok “Nggak ada lo, nggak rame”.
Dengan segala “kepolosannya berbicara” atau jujur kacang ijo dalam bahasa saya, sebenarnya ia menjadi contoh nyata bagaimana kita bisa memanfaatkan situasi tak mengenakkan untuk menaikkan pamor kita. Itu bagus banget untuk dicontoh kawan. Bikin sebuah kejadian yang penuh sensasi, kutuk seseorang yang terkenal di negeri ini, bongkar aibnya. Atau kalau mau yang lebih keren bisa kan kita meminta pihak teve untuk menayangkan gulat gaya bebas yang baru kita pelajari (baca pukul-pukulan, bertengkar, sampai keluar darah) dengan seseorang yang lagi naik daun (ulat kali).

Dengan begitu kita jadi terkenal, diwawancarai infotainment untuk klarifikasi. Setelah nama kita melambung, kita keluarin dah satu-dua single lagu atau malah ikut main sinetron di teve. Gimana? Keren kan?
Sayangnya kawan, bayaran untuk hal-hal semacam itu mahal sekali. Reputasimu dipertaruhkan. Cap jelek yang sudah mancep dijidat kita itu sulit dihilangkan. Hingga saat kita tobat pun orang takkan percaya. Musuh jangan ditanya, sudah pasti banyak bila kita melakukannya. Bahkan kemungkinan terburuk saat mati nggak ada yang mau mengusung kita, saking jahatnya kita dimata mereka.

Gimana? Masih mau mencoba? Silakan, nggak ada yang ngelarang. Asal tahu saja, resiko tanggung penumpang, hehehehe...

Hug, hug!



22 komentar:

  1. Nikita Mirzani itu prestasinya apaan ya? kecuali jualan body haha

    BalasHapus
  2. hush, husyh...asal kita nggak ikutan.
    Yang begonoan dibuang, yang baiknya diambil aja *xixixi

    BalasHapus
  3. ambil yang baik tinggalkan yang buruk.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya bener banget Mas Nurhadi, ambil yang baik aja ya

      Hapus
  4. Oooh jadi .... sebenarnya ... ehm ... Nikita Mirzani itu melakukan apa sih *sumpeh jeng, saya gak tau*

    Aaaah yang penting isi dari tulisan ini keren ... sudut pandang yang patut ditularkan kepada banyak orang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha Mbak Niar, dah...

      Tararenkyu, sebenarnya saya nulis macam ini karena saya lihat saya ini sebenarnya nggak lebih baik dari si Gotik atau siapapumn yang kerap diberitakan di infotainmen

      Hapus
  5. kejarlah akhirat, maka dunia beserta seluruh keindahannya akan mengejarmu agar engkau terpikat padanya...

    dan kejarlah dunia, maka tidak ada yang engkau peroleh selain haus, lelah, dan hampa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha bener itu Mew Da Vinci, mengejar dunia kadang malah bikin kita capek luar biasa ya.

      Hapus
  6. Salaaaam kenal maak et punten comment :D...liat yang baik, buang yang buruk ya Mak, itu memang rahasianya...jadi kita bisa selalu belajar dari semua orang ya maaak...thumbs up buat prasangka baiknya..harus diakui bahwa tidak semudah itu untuk mengalahkan prasangka buruk dan kecenderungan untuk mencibir ya maak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener banget Mbak Indah, memang lebih gampang deh menghujat timbang mikir positif hihihi *lirik diri sendiri

      Hapus
  7. Saya pernah berpikir hal yang hampir sama tentang seleb sejenis zaskia dan inul, Mbak
    Kita gak tahu ya kehidupan sekeras apa yang mereka hadapi hingga pada tahap itu
    Etapi, klo nikita...hmmm...no comment wkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu dia Mbak Esti, kadang saya ngeri kalo mikir jadi mereka. Cobaannya berat banget. Saya sih mikir saya lebih enak ketimbang mereka.

      Eh, kalo Nikita saya "hmm juga" hahaha

      Hapus
  8. Hmmmm....hmmmm...
    apa ya...??? he2..
    tapi tulisannya menginspirasi kok..., pinter mengambil hikmah dari suatu pristiwa..

    salam ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. salam kenal juga Nova, makasih udah mampir kemari.

      Belum pinter mengambil hikmah, aslinya lebih gampang ngedumel kalo lihat berita gitu

      Hapus
  9. hmm jd renunga jg ya mbak :)
    tp buat penyanyi dangdut dgn goyangan aneh2 gt.. kalau sdh ga kepepet ekonomi lg menurutku ya gimana gt ya.. efek dr adegan goyang gt tetap aja bnyk gak positifnya,.. wallahu a'lam.

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah setuju mbak binta, kalo udah enak baiknya goyangannya jangan gitu lagi kali ya. Gimana gitu lihatnya

      Hapus
  10. Jadi, nikita mirzani penumpang mana, mak? Hihihi....

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahah, mungkin penumpang bis jurusan Bogor Jakarta

      Hapus
  11. ambil hikmahnya jangan cuma nonton infotainment ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe, iya Mbak Lidya, bener atuh

      Hapus
  12. yang jelas kedua artis itu cuman mau nyari sensasi aja

    BalasHapus
  13. Nah kalau gitu selama mereka nyari sensasi kita nyari pahala aja hihi

    BalasHapus