18 Desember 2013

WHEN THE LIGHT IS OFF






Kau mengira seluruh hidupmu selalu secerah langit pagi ini. Selalu bahagia, takkan ada aral melintang. Tuhan Maha Baik, Tuhan Maha Baik...Begitu kau selalu berkata.



Tapi dunia serasa runtuh ketika persoalan datang padamu. Kau harus meniti titian setipis itu untuk sampai ke seberang.   Tak ada pilihan bagimu—terus maju atau kau lantak ditempat. Kau pilih yang pertama. Tetapi ada yang tak tetap di hatimu. Kau meragukan “Tuhan Maha Baik”-mu. Bisa ditebak apa yang terjadi kemudian. Kau melangkah tanpa kepercayaan, tak kau serahkan nasib pada Tuhan. Kau hilang keseimbangan. Kau jatuh dan duniamu gelap seketika.

And You’re drowning when the light is off!



Kau menggelepar dalam gelap, seperti ikan tercerabut dari kolam. Pikirmu kau akan mati sejurus kemudian. Ternyata tidak juga. Seseorang memberi cahaya. Teramat terang hingga kau mengira itulah surga.



Kau berpesta pora sampai kemudian cahaya itu meredup dan meninggalkanmu dalam gelap seperti sebelumnya. Kau tergugu lantas menangis dan bertanya ,”Mengapa Tuhan meninggalkanku?”

Yang terjadi sesungguhnya tidak begitu. Kaulah yang meninggalkannya sejak kau lupa berterima kasih waktu kau masih jaya. Kaulah yang meninggalkannya ketika meniti titian tanpa kepercayaan. Kaulah yang meninggalkannya ketika memilih sumber cahaya selain Dia.

Lalu tangismu mereda. Kau tahu kau takkan beranjak jika tak berusaha. Kembali kau meraba dalam gelap mencari-cari cahaya. Kau tertawa tatkala menemukan sumber cahaya kedua kalinya.



Kali inipun kau tak bertanya darimanakah asalnya. Yang kau tahu kau harus meraihnya.




Sejurus lamanya kau merasa bahagia. Hingga cahaya inipun meredup seperti cahaya sebelumnya. Kau kembali meraba-raba dalam gulita. Mencari-cari dalam kemarahan sebuah cahaya. Hingga seseorang menepuk dan mengingatkan bahwa selama ini kau telah menunduk pada dzat yang fana. Sumber cahaya tak nyata.


 
“Kesana, kesana!” Ia berkata. “Pergilah kesana!”



Atau dimana saja, tempat kau bisa bersimpuh pada Empunya Semesta—Ya Rahman Ya Rahim.



13 komentar:

  1. ini perenungan di pagi hari ^^...good photography mbk,suka yg nomor 2..simple ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Walah dibilang good photography, malu rek. Tapi makasih nggih

      Hapus
  2. beberapa hari ini aku ngerasa disentil karena berharap sama manusia, setelah nyadar kalo Allah yang bukain jalan, baru jalan kebuka lebar T.T

    BalasHapus
    Balasan
    1. waduh ini tulisan aku banget la, ngingetin diri sendiri ceritanya

      Hapus
  3. itu foto apa sih yang kembang api itu? emang kembang api ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak Ade itu kembang api

      Hapus
  4. itu foto apa sih yang kembang api itu? emang kembang api ya?

    BalasHapus
  5. Subhanallah, keren sekali pun.
    Renunganmu inilah yang disebut dengan Dzikir yang mengantarkan kepadaNya.
    Alladziina yadzkurullaha qiyaaman wa quudan..

    Yang berdzikir kepada Allah dalam keadan berdiri dan terbaring. Keren sekali,.. pelajar berharga. Intinya, pertama carilah cahaya Allah yang merupakan cahaya sesungguhnya, permasalahan harus dicurhatkan kepada Allah. Dunia adalah penipu, perlu keseimbangan menjalni kehihidup yang tak tenang ini.

    Subhanallah, mari budayakan silaturrahim antara blogger. www.makruf.com
    hehe

    BalasHapus
  6. makasih mas Agha, belum sekeren itu

    hanya ngingetin diri sendiri ini ceritanya

    BalasHapus
  7. kata-katanyakeren mbak. menyentuh ;D

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih Mbak Haura

      Hapus
  8. kalau melihat langit takajub begitu kecilnya kita sebagai umat Allah ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak Lidya, tapi setelah selesai melihat kita...saya ding sering lupa kalau kita ini nggak ada apa-apanya

      Hapus