15 Januari 2014

[Fiksi Blogfam] My Dad Is Presiden





Bab 1. Hayalan Tingkat Dewa
Candha baru saja tiba di bandara Soekarno Hatta waktu melihat rombongan Paspampres. Rupanya mereka mengawal anak Presiden Indonesia.
Candha jadi teringat dirinya 8 tahun silam. Ia jingkrak-jingkrak begitu Bapaknya terpilih dalam Pilpres 2014. Ia berlinang air mata membayangkan enaknya jadi anak RI 1. Ia akan dikenal dan dielukan seantero negara. Soal cinta takkan lagi merana. Jika dulu ditolak kini ia dicari-cari. Candha berlinang air mata, sampai ia sadar satu kelas memandangnya bak alien salah naik pesawat.

Bab 2. Why Me?
            Setelah Bapaknya resmi jadi presiden, Candha mendadak jadi trending topik di  mana-mana. Bukan karena prestasi melainkan karena gaya berpakaian dan omongan medhoknya. Semua bilang ia norak dan kampungan.
Kata Mama ia tak usah menghiraukannya. Bagaimana bisa? Bila setiap hari berita tersebut didengarnya. Untung ada Kiana, gadis keturunan China yang punya nasib tak jauh beda dengannya. Dengan cewek cupu itulah ia menemukan kawan senasib sepenanggungan. Mereka punya pola pikir yang sama, mengapa harus ikut trend jika tak cocok dengan mereka. 

Bab 3. Oh, Sial!
Sejak jadi anak Presiden praktis Candha tak bisa bebas kemana-mana. Selalu ada pengawal bersamanya. Sebagai protes, ia kerap berulah mengerjai mereka. Rupanya hal itu terdengar oleh media dan jadi berita. Akibatnya seantero Indonesia mencap buruk dirinya.
Tak hanya itu, ia juga jadi bulan-bulanan setelah situs berita online mengunggah foto dirinya menghadapi banyak makanan di sebuah restoran. Kiana, menyarankan kenapa Candha tidak meminta sang Bapak membereskan masalah tersebut. Hampir saja Candha menurutinya, kalau kedua kakak kembarnya mengingatkan ulah Candha itu bisa menyulitkan posisi sang Bapak. 


Bab 4. Fail In Love
Candha ditolak kesekian kalinya. Zefa bilang Candha lucu dan baik hati. Sayang kulit, tinggi badan, dan berat tubuhnya tidak ideal. Begitu juga Darren, cowok keturunan Irlandia itu berkata syarat jadi ceweknya harus tinggi, cantik, langsing, putih, dan berambut panjang.
Candha merana, semua syarat itu tak ada padanya. Ia pendek, berkulit sawo matang, dan berambut ikal. Kepada Kiana ia pun mendumal, kenapa cowok-cowok selalu mengisyaratkan hal yang sama? Bahwa cantik itu harus tinggi, cantik, putih, langsing, dan berambut panjang seperti model iklan. 

Bab 5. Home Alone
            Kiana mengeluh pada Candha tentang kedua orang tuanya. Ia lebih sering ketemu foto mereka ketimbang bertatap muka. Sebab mereka lebih sibuk berbisnis ketimbang mengurusi dirinya.
Candha merasakan hal yang sama. Ia kini kehilangan mereka. Kedua kakaknya juga tak bisa diharapkan. Sebagai mahasiswa baru mereka sibuk dengan kuliahnya masing-masing. Jika boleh berharap, ia ingin keadaan kembali seperti dulu kala. Saat mereka masih tinggal di Surabaya dan Ayahnya belum jadi Pemimpin Negara.

Bab 6. Dia, Dia, Dia
            Akhir-akhir ini Candha berbunga-bunga. Ada cowok cakep yang mengusir hari-hari sepinya. Tak ada Bapak dan Mama tak apa-apa, asal ada Andrew Blake tercinta. Bersama dia dunia ini jadi penuh warna. Melakukan hal-hal berbahaya seperti ngebut di jalan, merokok, atau mencicipi bir.
            Kiana yang menyadari perubahan pada diri Candha segera mengingatkannya. Sayangnya Candha salah paham. Bukannya sadar, Candha malah menuduh Kiana iri hati melihat ia jadian dengan Andrew. Akibatnya hubungan mereka pun renggang.

Bab 7.  New Candha 
Sejak jadian dengan Andrew, Candha pintar mengelabui orang tua dan pengawalnya. Apapun ia lakukan asal bisa bersama Andrew. Tak hanya itu ia juga menuruti apapun yang Andrew katakan. Termasuk diet ketat dan merubah penampilannya menjadi lebih trendy.
Wah, pokoknya Candha yang baru bikin orang ternganga. Efek positifnya media yang dulu suka mengolok-olok dirinya kini berbalik memuji. Tak ayal hal itu membuat Candha berpikir Andrew malaikat yang dikirim untuknya.

Bab 8. Efek Samping
Perubahan Candha  membuat Kiana jadi merasa asing dengannya. Candha bukan teman yang asyik lagi. Yang doyan makan di kaki lima dan dandan semaunya. Ah, pokoknya Candha enggak banget!
            Di rumah Mama juga heran. Candha semakin keras kepala dan mengesalkan. Bapak juga sama, ia tak mengerti kenapa putri manisnya jadi sering nyolot jika dinasehati. Para pengawal kerap merasa kerepotan dengan ulah Candha. Sebab gadis itu tiba-tiba jadi suka menghilang dalam pengawalan mereka. 

Bab 9. Gap!
            Hubungan Candha dan orang tuanya semakin memburuk. Ia sering berselisih dengan Bapak dan Mama. Bahkan Candha sempat dihukum tak boleh keluar sebulan setelah kedapatan membolos dan merokok dengan kawan-kawan barunya (Andrew dkk).
Ia juga sebal ketika mereka melarang ia berhubungan dengan Andrew. Alasan mereka Andrew membawa pengaruh buruk bagi Candha. Ah, mereka tak tahu saja. Andrew itu baik luar biasa. Ia ada saat Candha butuh teman bicara. Sementara mereka malah tidak ada. Huh!

Bab 10. Merana
            Kehabisan akal membuat Candha jauh dari Andrew, terpaksa Bapak membuka rekanam percakapan Andrew dengan teman-temannya. Cowok itu terang-terangan mengatakan menggaet Candha demi ketenaran semata. Maklum ia newbie di dunia keartisan. Kata manajernya, semakin banyak gosip semakin baik dan bisa membantunya tetap eksis.
            Candha tak percaya. Ia yakin hal itu hanya rekayasa. Sayang begitu sadar, ia sudah banyak kehilangan. Tak hanya teman, kepercayaan ortu, tapi juga uang di rekeningnya. Dirundung kesal, sedih, dan malu, Candha pun kabur dari rumah. 

Bab 11. Kemana Kau, Candha?
            Bapak dan Mama kelimpungan begitu tahu Candha tidak ada. Begitu juga Kiana, meski hubungan mereka kini agak renggang. Para pengawal presiden dikerahkan untuk mencari-cari Candha. Belum sampai ketemu, Nenek mengabarkan kalau Candha ada dirumahnya.
            Bapak dan Mama menyusul ke Banyuwangi. Tapi Candha tak ingin ditemui. Akhirnya Nenek-lah yang kemudian mengatakan apa yang Candha rasakan selama ini. Betapa ia merasa kehilangan orang tua dan justru Andrew dkk. yang ada saat ia butuh bicara. Bapak dan Mama merasa bersalah, telah mengabaikan Candha. Meski sebenarnya hal itu terjadi karena kesibukan sebagai Presiden Republik Indonesia.

Bab 11. Escape
Meski hubungan dengan ortu sudah baik kembali, tak berarti Candha bebas begitu saja. Candha dihukum tidak boleh keluar selama tiga bulan, kecuali sekolah. Uang jajan pun di stop juga. Candha kelimpungan. Ia bingung mau apa selama itu di Istana.
Dasar bandel, Candha pun meloloskan diri dari istana. Tentu saja dengan bantuan Kiana. Sayang Candha ketauan. Akibatnya mereka harus sembunyi dari kejaran pengawal istana di kolong jembatan. Di tempat itulah Candha bersinggungan dengan kaum miskin yang tinggal disana. Kemana ia selama ini, sampai mereka luput dari pandangan matanya? Pikirnya trenyuh. 

Bab 12. Gebrakan Baru
Gara-gara ulahnya hukuman Candha ditambah. Candha tak menolak asal tiap minggu ia dibolehkan  pergi ke kolong jembatan. Bapak dan Mama mula-mula keberatan tapi penjelasan Candha membuat mereka mengiyakan.
Sejak itu setiap minggu pagi Candha dan Kiana mendatangi kolong jembatan sambil membawa makanan. Semula hanya mereka yang melakukannya. Tetapi kemudian banyak yang ikut-ikutan. Mereka bergabung dengan Candha dan Kiana, bergerak tiap minggu pagi untuk membagikan makanan pada orang-orang tidak mampu. Meski begitu tak semua menyambut baik apa yang Candha lakukan. Ada saja yang bilang semua itu untuk menutupi kesalahan yang ia lakukan dan bla, bla, bla...

Bab 13. Kok Gini Sih?
            Salah satu stasiun teve muncul dan mewawancari Candha dkk. tentang kegiatan minggu pagi mereka. Sayangnya begitu tampil berita yang muncul tidak selurus hasil wawancara. Tayangan itu justru diarahkan agar masyarakat berpendapat itu cara Presiden menarik simpati rakyat, setelah salah satu pulau dimiliki oleh negara tetangga.
            Candha kecewa.  Namun nasehat Mama dan Bapak menguatkannya. Biarkan saja mereka bicara apa saja, toh nanti mereka akan diam juga. Benar saja, pada akhirnya orang-orang yang semacam tak berbunyi lagi selanjutnya.  

Bab 14 Trendsetter
Candha dan Kiana kini jadi trendsetter baru di kalangan anak muda. Jargon “lakukan hal positif kalau lo pengen dikenal” menjadi panutan.  Jika dulu mereka suka meniru-niru gaya di televisi, kini mereka malah mengacungi gaya “be yourself”-nya Candha dan Kiana.
Omongan gaya omong medhok Candha juga juga mendapat tanggapan positif dari banyak pihak. Menurut mereka itu menunjukkan ciri “itulah Indonesia”, kaya ragam dan warna. Jadi mengapa harus malu jika berbeda? Namun  meski berkibar, Candha tetaplah Candha. Yang baik, sederhana, lucu, dan ceria.  Bersama sahabatnya Kiana, ia menebar kebaikan dimana-mana.

Bab 15. Me and Famous Dad
          Candha melangkah pergi dari Bandara bersama Bapak dan Mama. Dua hari kemudian ia muncul di salah satu talk show terkenal yang kala itu membahas  topik  “Suka Duka Anak Orang Terkenal” ya. Bersama beberapa bintang tamu lain ia berbagi kisah hidupnya. Candha mengaku lebih enak jadi anak orang biasa ketimbang jadi anak Presiden. Banyak peraturan, kemana-mana harus dikawal, dan ia sempat merasa kehilangan kebersamaan dengan kedua orang tuanya. Tak hanya itu ia juga merasakan pahitnya jadi bulan-bulanan media. Tetapi semua itu justru memberi pengalaman luar biasa. Membuatnyat lebih tangguh dari sebelumnya.

Sehari setelah wawancara twitter Candha dibanjiri mention. Salah satunya dari anak Presiden RI sekarang. Dalam DM ia bertanya kiat sukses menjadi anak Presiden.

sumber gambar : www.southbay.ymca.org

24 komentar:

  1. Wah, keren ide ceritanya. Afin, kalo bisa ditulis dengan gaya kocak dong, sesuai dengan gayamu itu lhoo, hihiiiii

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahah, mbak Ekky tau aja, kalo aye gak bisa serius xixixi

      Hapus
  2. Begitulah, jika sudah terkenal semua orang akan membicaraknnya..

    Salam..

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih mas Abdur Rosyid, salam kenal juga

      Hapus
  3. Waah, semoga lancar Mbak. Iya, tulis dengan gaya Mbak Afin yang kocak, renyah dan seger. :)
    Menunggu jadi novelnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. tararenkyu mbak Shab. Amiin

      Hapus
  4. iihh keren keren mbak...... saya tunggu jadinya yaaa :-D

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih mbak icha, amiin

      Hapus
  5. smoga lancar dan sukses ya mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih mbak Binta tuk doanya, peyuuuk

      Hapus
  6. Bagus mba, ditunggu kalau sdh jadi cerita

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih sudah dibilang bagus, xixixi.

      Hapus
  7. ada sesuatu yang hilang ya kalau sudah dikenal orang lain

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak Lidya,bener banget itu

      Hapus
  8. wah Mba Afin ini detail banget ya, ngga kayak punyaku yang di http://salmanbiroe.blogspot.com/2014/01/fiksi-blogfam-i-pop.html cuman beberapa paragraf aja, btw temanya menarik mba, minta saran balik donk mba :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. walah, masa detil mas Faris? Enggak ah, saya ini masih baru belajar malahan

      Hapus
  9. Ide ceritanya asyik. Numpang belajar ah :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. ehehehe, terima kasih sekali Ragil Duta. Saya juga baru belajar

      Hapus
  10. Balasan
    1. wah, masih belum bagus kok. Masih banyak kurangnya hehehe

      Hapus
  11. 1. Plottingnya bagus, tapi menurut saya temanya masih 'so-so' sangat mudah ditebak endingnya.

    2. Untuk membuat tema yang mudah ditebak, harus punya kekuatan lain, misalnya gaya penulisan yang tidak mainsteram. Misalnya, kocak/ngocol.

    3. Saran saya sisipkan karakter pendamping yang bisa membuat cerita lebih berwarna ( supir yang kaget, pembantu yang pelupa akut, dll).

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Mas Benny untuk masukannya, ihihihi. Masuk dalam notes penting saya
      hatur nuhun

      Hapus
  12. gak mudah ternyata jadi anak presiden ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihihi, kayaknya begitu. Ini mah ngarang doang mbak

      Hapus