25 Januari 2014

MENDUNG DAN BERIBU KETAKUTAN TAK BERALASAN







Mendung memang, tapi ketimbang mengeluhkannya mengapa kau tidak mencari payung dan melangkah sesuai rencana yang kau inginkan.
Becek, cipratan air kotor, dan basah di badan itu resiko yang harus diambil. Tapi itu lebih baik daripada duduk tanpa berbuat apa-apa selain menggerutu nasib sial yang menimpa kita.

“Aduh, tapi diluar terlalu dingin, kau tahu kan aku tak kuat dingin. Kalau aku sakit bagaimana bisa sampai di tempat tujuan?”

Kau benar, memang diluar dingin. Tapi kau masih punya jaket, kawan. Pakai saja dan teruskan perjalanan.


“Tapi angin terlalu kencang, uh aku takut tak bisa bertahan.”

Baiklah angin memang cukup kencang, tetapi bukan angin topan. Kau masih kuat menahan terpaannya hingga tujuan.

“Ck, kalau nanti aku sakit bagaimana? Kau tahu kan aku ini ringkih?”

Jangan terlalu mendramatisir keadaan. Kau bahkan belum terjun ke jalan. Apa yang kau takutkan itu masih ada dalam bayangan. Belum kejadian. Buat apa dirisaukan.
Kau tahu seringkali kau seringkali diri sendiri yang membatasi kemampuan kita. Merasa diri tak sanggup bertahan hanya karena kau memikirkan hal-hal buruk yang belum kejadian.
Tuhan menciptakan manusia memiliki kemampuan alamiah untuk bertahan. Percayalah!

“Ah, andai saja cuaca terang...”

Apakah kau yakin jika cuaca terang perjalananmu akan lancar? Di jalanan selalu ada penghalang. Tak mungkin selamanya jalanmu mulus tanpa hambatan. Tersandung batu, jalanan menanjak, kerikil tajam...bukankah itu penghalang?

“Lalu bagaimana dong?!”



Mungkin kau dan aku hanya perlu belajar dari bambu yang menjulang.
 
Coba perhatikan saat angin datang. Saat angin sepoi, ia bergerak pelan. Saat angin kencang, ia juga lebih keras bergoyang. Tapi itu bukan tarian, itu caranya bertahan. Bayangkan jika dia berdiri kaku menantang angin, maka dalam sekejap kekuatan angin yang besar akan mematahkannya.

Maka belajarlah lentur menerima keadaan.
Adanya mendung ya terima saja mendungnya. Lebih baik sedia payung, jas hujan, dan beragam keperluan yang diperlukan jika hujan datang. Toh ngedumel juga tak mengubah apa-apa.


“Tapi...tapi....”

Katakan saja semua alasan yang kau punya, kawan. Satu hal yang kau ingat, kau sendiri yang bisa mengubah mendung jadi ceria. Seceria daun-daun puring yang penuh warna.










6 komentar:

  1. waaa...kata2nya daleeeeem.

    BalasHapus
  2. elaaah, gali sumur kaleee daleeem jeng hehehe

    BalasHapus
  3. harus fleksibel menerima keadaan ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. mestinya begitu Mbak Lidya, tapi kalo manusianya kaya saya ini kok rasanya lebih banyak nggerundel ya. Makanya kemarin pas chit chat sama diri sendiri saya langsung menuliskannya

      Hapus
  4. bersyukur akan keadaan itu lebih baik ya, dan berusaha untuk berbuat terbaik dari keadaan itu :)

    http://salmanbiroe.blogspot.com/2014/01/travelwork-surabaya-jember.html

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener banget mas Salman, ketimbang ngedumel nggak karuan. Ngedumel nggak ngubah keadaan heheh

      Hapus