03 Juli 2014

SAAT STASIUN TV MEMIHAK


                                                    tv kok memihak, preeet......


Saya tidak tahu apakah anda sependapat dengan saya bahwa dua teve swasta (Me**otv dan Tvo*e) punya kecenderungan mendukung salah satu capres dan cawapres. Yang satu lebih condong pada Jokowi-JK, satu lagi Prabowo-Hatta.

Menurut saya condong itu wajar, tapi jika berlebihan rasanya memuakkan.  Saya orang awam, saya tidak mengerti soal jurnalisme. Tetapi bukankah seharusnya teve itu media yang independen? Boleh saja punya kecenderungan tetapi haruskah sedemikian kental. Sajikan saja informasi tentang mereka dengan berimbang, tak usah berat sebelah.


 Sampai-sampai nara sumber pun seolah dicari yang seiring dan sejalan dengan kecenderungan itu (mohon maaf bila saya salah menilai soal ini). Bahkan terkadang saya menilai jatuhnya malah seperti saling bergunjing.

 Bagaimanapun saya, sebagai pemirsa, boleh dong protes soal ini?

Lagipula ini bulan puasa, mbok ya setidaknya stasiun teve ikutan puasa. Setidaknya di rem beritanya.

Jika anda bertanya—jangan-jangan karena dua nama besar dibalik dua teve (you know who) tersebut adalah pendukung salah satu capres?

Saya jawab : Entahlah!

Saya ndak ngerti.

Yang saya tahu berita yang cerdas dan seimbang-lah yang saya cari. Biarkan publik tergerak memilih pilihannya sendiri. Bukan dijejali dengan berita yang isinya weleh, weleh...saling mengunggulkan capresnya sendiri-sendiri.

Jika begitu kenapa tidak ganti nama saja jadi MemihakTv (buat yang satunya) dan TvOhHanyaDia (buat yang atunya lagi).

Percayalah keberpihakan yang terlampau besar pada salah satu calon itu pada akhirnya akan mengecewakan. Seperti guru saya bilang ,”Jangan berlebihan jika membenci atau menyukai sesuatu. Siapa tahu yang kau hujat dan kau benci, jadi penolongmu. Sebaliknya yang kau sukai menyakitimu.”


Aih, saya kok jadi tinggi (baca : emosi) hihi...
Mungkin begini ini omongannya orang yang ndak punya stasiun teve sendiri. Ya to?






12 komentar:

  1. Yg namanya media itu hrsnya netral,tidak berpihak..kasih berita yg seimbang kl yg kaya begini mah ga oke..makin males nonton tv jadinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. lha itu dia mbak. Kok gini amat ya

      Hapus
  2. 2 televisi tsb saya rasakan dari dulu juga gak netral beritanya, Mak. Cuma sepertinya banyak yang baru sadar pas zaman pilpres gini :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Soalnya sekarang makin menjadi mbak, duuh

      Hapus
  3. Au ah.. Beginilah resikonya TV berita. Jaga independensi. Berat untuk menjaganya, apalagi kalau pemiliknya politisi, hadeh.. "Owner berdaulat, pers sinting".. :D (sori emosi)..

    BalasHapus
    Balasan
    1. lha itu dia, mumet pemirsaaa

      Hapus
  4. Jika anda bertanya—jangan-jangan karena dua nama besar dibalik dua teve (you know who) tersebut adalah pendukung salah satu capres?

    Saya jawab : Memang!

    BalasHapus
    Balasan
    1. wahahahaha, mbak hilda jujur kacang ijo

      Hapus
  5. masing2 menayangkan jagoannnya ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener mbak lidya, mbok ya sudah gitu

      Hapus
  6. Sayang banget ya kedua stasiun TV itu, punya nama besar tapi ga professional dalam melaksanakan tugasnya. Seharusnya yang namanya media televisi, harus netral donk. Semoga kita tidak terpancing oleh berita2 yang semakin memperuncing keadaan itu ya, Mak. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. lha itu lho mbak Alaika, keduanya memang sudah lupa kalo pers itu independen harusnya.

      Hapus