Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2014

Unggahan Terbaru

Pelajaran Gratisan Dari Mereka Yang Bersikap Tak Menyenangkan Saat Diberi Daging Kurban

Gambar
Hari raya Idhul Adha selalu membawa cerita tersendiri untuk masing-masing keluarga. Termasuk keluarga saya. Dulu sewaktu kecil, rumah kami jarang kebagian daging kurban. Sampai-sampai bertanya pada Bapak ,"Orang-orang dapat, kok kita nggak dapat, Pak? Kenapa?" Bapak menanggapinya dengan bijak. Mengatakan mungkin karena kami sudah dianggap mampu, jadi tidak mendapatkannya. Sebagai gantinya Bapak akan membeli daging sendiri, lalu dimasak gulai dan sate sebagi pelipur hati kami.
Tahun berlalu dan kami sudah dewasa. Perkara dapat atau tidaknya daging kurban sewaktu Idhul Adha tak membuat kami risau atau pusing kepala. Dapat syukur, tidak pun syukur. Toh, masih banyak orang yang lebih membutuhkannya. Begitu hemat kami.
Dan Idhul Adha tahun ini, rejeki melimpah bagi kami. Di luar dugaan kami mendapatkan daging kurban yang jumlahnya lumayan. Padahal tahun-tahun sebelumnya biasa saja. Dapat tetapi tidak sebanyak tahun ini. Tak semua dimasak, setelah dibuat satai dan bakso sisanya…

KALAH? NGGAK USAH MARAH KALEE

Gambar
pic courtesy of www.148apps.com
Pernahkah anda merasa iri melihat keberhasilan orang lain? Perasaaan macam itu wajar adanya. Dalam tataran positif iri mampu memotivasi orang untuk melakukan hal yang sama. Sehingga bisa menyamai prestasinya bahkan lebih Iri mampu berkembang menjadi sesuatu yang negatif bila anda merasa iri tapi tidak berbuat apa-apa. Selain ngedumel dan mencari-cari kesalahan orang lain. Anda mendadak pandai menghujat orang lain. Padahal justru bukan itu yang harusnya anda lakukan. Sebagai contoh, anda seorang blogger. Biasa nulis doang di blog tapi ogah ikut lomba. Lalu ketika seorang blogger (sebut saja) namanya melati menang lomba anda merasa jengkel. Dalam hati anda ingin merasakan kemenangan juga. Bukannya mencoba anda nyinyir di sosial media menganggap Mbak Melati sok pamer dan sebagainya.

5 ANGGAPAN SALAH PENULIS PEMULA TERHADAP PENULIS SENIOR

Gambar
Anda penulis pemula seperti saya? Pernah merasa kecewa dengan penulis senior karena suatu hal? Yukmari kita telusuri 5 anggapan salah penulis pemula terhadap penulis senior berikut fakta dan sarannya : 1.Penulis senior itu sombong dan nggak mau berbagai cara dan kiat-kiat buat jadi penulis. Nyatanya ditanyain di inboxnya nggak jawab. Fakta : Penulis senior punya waktu yang sama dengan manusia lainnya 24 jam. Yang masih harus kerja, ngurusin rumah tangganya, nulis juga (baik penulis pria atau wanita). Online dan bersosial media pasti bisa, tapi biasanya nggak bisa lama-lama. Membaca inbox (yang mungkin gak sedikit) butuh waktu juga kan? Balas satu-satu tanpa asisten bisa gempor juga. Masa iya sih harus ngadep di kompi atau tablet melulu? Jereng dong mata hehe... Saran : Ketimbang nunggu sampai lumutan kenapa nggak main aja ke blog-nya. Banyak penulis kok yang suka share kiat-kiat nulis di blog-nya, semisal Kang Iwok Abqary, Aida MA, dan Naqiyyah Syam,Haya

EMPAT TIPS NULIS DUET UNTUK PEMULA

Gambar
GLAMO GIRLS contoh naskah yang ditulis oleh tiga orang 
Beberapa waktu lalu saya menulis tentang Lima Hal Yang Harus Ada Pada Penulis Pemula. Sekarang kita beranjak ke topik berikutnya, yaitu Empat Tips Nulis Duet Untuk Pemula.
Sebagai penulis bernapas pendek yang kemampuan menulisnya terbatas antara 6-8 halaman saja, memang tidak mudah novel sepanjang 150-200 halaman. Tapi bukan berarti kita tak bisa melakukannya. Jika menulis sendiri dirasa berat, kenapa tidak mencari teman duet atau triplet? Berduet (atau bahkan triplet) itu memberi sebuah keuntungan lho. Kita bisa berbagi beban dengan teman nulis kita. Dia bisa menutupi kekurangan kita, dan begitupun sebaliknya. Itulah yang terjadi pada saya ketika menulis bareng Tya Marty Al Zahira dan Ragil Kuning. Menulis dengan orang-orang seperti mereka membuat saya terkatrol secara mental. Mereka bikin saya—si pemula ini yakin, yes kamu bisa! 
Berat? Susah? Jangan dibayangkan. Lakukan saja! Itu baru benar. Lagipula ketika dilakukan prosesnya ta…

BEBAS MERDEKA TANPA GADGET DAN SOSIAL MEDIA

Gambar
Sudah beberapa bulan silam ponsel saya mati. Tak terselamatkan. Mungkin memang sudah waktunya. Maklum sudah tua. Sebelum itu saya memang tak pernah kepikiran pindah ke lain hati dan membeli gadget yang fiturnya macam-macam meski banyak yang menawarkan. Fungsi ponsel bagi saya cukup sederhana. Mengirim pesan, telepon, sesekali internetan. Sudah. Saya memang tergolong orang yang ketinggalan jaman dalam hal berponsel pintar. Saya bahkan pernah ditertawai teman karena hanya saya yang tidak memakai BB ketika ponsel macam itu marak dipakai orang.
Ah, saya memang belum perlu BB. Saya bisa mumet nanti kalau dengar tang ting tung-nya saban kali. Terus teman-teman saya yang biasa saya temui juga ndak pakai BB. Terus saya mau BB-an sama siapa? Ah, ndak lucu kalau saya nge-add orang tak dikenal. Cari perkara saja! Maka ketika ponsel mati dengan sentosa, saya tenang-tenang saja. Padahal orang-orang sudah banyak yang mengasihani saya. Ibu saya, Bapak saya, adik saya...Pikirnya, kok ngenes betul to nda…