21 September 2014

5 ANGGAPAN SALAH PENULIS PEMULA TERHADAP PENULIS SENIOR





Anda penulis pemula seperti saya? Pernah merasa kecewa dengan penulis senior karena suatu hal? Yuk  mari kita telusuri 5 anggapan salah penulis pemula terhadap penulis senior berikut fakta dan sarannya  :
1.      Penulis senior itu sombong dan nggak mau berbagai cara dan kiat-kiat buat jadi penulis. Nyatanya ditanyain di inboxnya nggak jawab.
Fakta :
Penulis senior punya waktu yang sama dengan manusia lainnya 24 jam. Yang masih harus kerja, ngurusin rumah tangganya, nulis juga (baik penulis pria atau wanita). Online dan bersosial media pasti bisa, tapi biasanya nggak bisa lama-lama. Membaca inbox (yang mungkin gak sedikit) butuh waktu juga kan? Balas satu-satu tanpa asisten bisa gempor juga. Masa iya sih harus ngadep di kompi atau tablet melulu? Jereng dong mata hehe...
Saran :
Ketimbang nunggu sampai lumutan kenapa nggak main aja ke blog-nya. Banyak penulis kok yang suka share kiat-kiat nulis di blog-nya, semisal Kang Iwok Abqary, Aida MA, dan Naqiyyah Syam,  Haya
Aliya Zaki, Leyla Hana, Riawani Elyta, dan sebagainya.  Bahkan uraiannya lebih jelas dan lebih detil. Search aja namanya pasti akan muncul. Atau search topik apa yang anda cari di Mbah Google. 

2.    Pemula penulis senior itu sok karena nggak peduli waktu disapa di inboxnya mau kenalan, padahal kita kan nyapanya baik-baik ya
Fakta :
a.       Kerap kita yang minta kenalan ini nulis dengan bahasa gaul bin alay. Jika tidak begitu disingkat-singkat kayak nulis sms. Padahal ini justru menyulikan para penulis yang maaf usianya berkisar 17 (lewatnya banyak itu) untuk nangkep apa maksud kalimatmu.
Saran :
Jadi pakailah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Karena orang lebih mudah memahami maksud anda. Simple kan?
b.      Sering pakai tanda seru dan menulis dalam huruf besar semua. Padahal tanda seru berarti marah. Begitu juga kalau menulis kalimat dalam huruf besar.  Menurut anda gimana rasanya dikirimi inbox yang isinya kayak gitu ? Ilfil nggak?
Saran :
Mulai belajar untuk nulis dengan baik dan santun maka yang nerima juga akan menghormatimu. Cari tahu penempatan tanda seru yang baik itu gimana, penggunaan huruf besar baiknya ditaruh dimana,  jangan KARDI (karepe dibi’ kata orang madura atau karepe dhewe alias sak enak udelmu sendiri).
c.       Meski sudah nulis dengan bahasa yang baik tetap nggak dibalas. Ngeselin banget. Kayak nggak butuh aja sama orang lain.
Saran :
Yah, again and again problemnya waktu. Jadi berlapanglah dada kala mengirim inbox. Dibalas syukur nggak dibalas ya nggak apa-apa. Memang sih kita lebih seneng di bales ya, kayaknya dihargai gitu. Tapi kita juga harus menempatkan diri jadi mereka.  Nggak  usah menghujat atau gimana. Suer,  saya baru tahu ketika bergaul dengan mereka kalau ternyata waktu mereka itu padat. Seringkali mereka tak punya waktu cukup membalas inbox, mention, dll ditengah padatnya jadwal kerja and soon.

3.    Penulis senior tuh udah ngerasa sok hebat,  sok iyes gak respon saat di add. Atau kalau di follow di twitter nggak bales follow
Fakta :
Ini bukan berarti si penulis ‘SOK IYES!’, bisa jadi kapasitas pertemanannya udah full. Atau bisa juga karena profile picture anda nggak banget.  Cowok telanjang dada atau cewek seksi nggak jelas.  Atau bisa jadi wall anda isinya hal-hal berbau sara, pornografi, tukang menghujat atau suka pake bahasa alay... Kalau begitu alamat bye bye. Soal nggak di follow balik di twitter memang hak si penulis. Ntar ada satu yang di follow yang lain protes. Padahal mau follow semua juga nggak mungkin (jika anda penulis senior  terkenal pula yang nge-add bisa lebih dari ratusan orang lho per-hari)
Saran :
Untuk pengguna fb, cek profile pic-mu, apa yang tertulis di wall-mu, alay enggak bahasamu. Bahasa alay memusingkan untuk kaum muda seperti saya (yang usianya jelas 17 lewat banyaaaaak). Kalau problemnya soal kapasitas yang full ya nggak bisa disalahin. Atau kalau tidak kalian suka nge-share hal-hal berbau sara, hujatan, celaan, dan pornografi. Kalau kayak gini kayaknya penulis manapun mikir deh kalau mau nerimamu jadi teman.
Untuk pengguna twitter, nggak usah sedih kalau nggak difollow. Bukankah yang penting ilmunya dia? Perhatikan saja twit-twit resep nulisnya. Soal lain usah dipedulikan.  Ya kan? 

4.    Penulis senior sombong karena nggak pernah tuh mau kasih masukan buat karya yang di-tag  atau di inbox padanya. Padahal dia kan pengen dapat kritikan juga, biar maju
Fakta :
Yang nge-tag atau inbox seringkali banyak hahaha, semua orang berniat mendapatkan masukan darinya. Saya dulu juga pernah jadi pelakunya. Saya dengan enteng nge-tag ke penulis senior biar dibaca. Padahal mereka itu sibuk juga. Saya jadi kesal ketika orang-orang itu nggak peduli sama saya. Sombooong! Begitu pikir saya.  Nah ketika saya ada di posisi mereka (di-tag in banyak karya lho, bukan soal seniornya haha ) saya jadi sadar ternyata gempor juga ya kalau harus baca banyak tag note karya orang lain. Sementara saya sendiri punya kesibukan yang lebih penting.
Saran :
Daripada nge-tag dan berharap sambil bersedih hati, kenapa enggak baca saja karya-karya dari majalah yang kita tuju. Misal Annida.  Coba aja cek kayak gimana sih cerpen yang mereka mau? Jadi kita belajar langsung dari karya penulis yang terbit disana untuk tahu selera majalah tersebut macam apa. Atau kalau novel ya cari deh novel terbitan penerbit yang anda hendak tuju, misal Gramedia, Bentang, Sheila, Indiva, dan sebagainya.
Nggak punya duit buat beli majalah !
Main ke web-nya. Disana karya cerpen atau cerbung yang sudah terbit suka dipajang.
Nggak punya ponsel yang terkoneksi dengan internet, gimana dong?
Ya pergi ke warnet.
Nggak punya duit pergi ke warnet, uang saku ngepres. Cukup buat naik angkot sama jajan sedikit.
Nggak jajan beberapa kali dan sisihin buat ke warnet atau cari tempat wifi gratisan, ngejogrok aja disana kayak saya biar bisa browsing banyak ilmu nulis disana.
Nggak punya duit buat beli novel!
Pinjem di persewaan. Cukup 5000 rupiah yang disisihkan dari uang jajan udah bisa baca novel terbitan penerbit terkenal.

5.    Oh iya hampir lupa, Penulis senior bikin ilfil karena nggak mau jawab soal-soal kayak gini :
TNR 12 apa ya, kak?
Atau maksudnya A4 itu apa?
Kalau ketentuan di penerbit anu harus pakai  huruf Times New Roman saya pakai huruf Cambria boleh nggak?
Atau kalau misal saya ikut lomba tanggal 14 kirim tanggal 15 boleh nggak? Dst...
     Fakta :
     Mereka bukannya nggak mau jawab. Tetapi hal-hal fundamental semacam itu adalah pengetahuan wajib bila kita hendak terjun ke dunia nulis. Kalau ini aja nggak tahu gimana nasib ke belakangnya *garuk-garuk kepala.
Saran :
Biasakan untuk mencari tahu lebih dulu sebelum tanya. Bisa facebook-an atau twitter-an berarti koneksi dengan internet lancar dong? Nah, kenapa enggak colek si Mbah Google soal-soal apa itu TNR 12 atau A4?
Soal pertanyaan ke-4, pemakaian huruf Cambria padahal harusnya pakai huruf Times New Roman jelas itu tidak sesuai aturan. Kalau dilogika jika aturan dasar saja dilanggar kemungkinan besar naskah kita nggak bakalan dibaca. Ini ibarat anda bersekolah, kalau anda  melanggar peraturan dihukum nggak tuh kira-kira? Heheh,
Begitu juga soal pengiriman yang lewat dari tanggal, harusnya tanggal 14 jadi tanggal 15, itu juga nggak akan dimaafkan. Sebagus apapun karyamu kalau tanggalnya kelewatan nggak masuk hitungan. 

Oke, setelah baca ini pasti ada aja yang mikir ,”Nggak, kamu tuh salah udah bilang kayak gitu. Emang para penulis senior itu sialan! Sombong, kasar, dan nggak menyenangkan. Baru punya buku beberapa biji aja lagaknya udah nggak karuan!”
Well, nggak bisa dipungkiri yang demikian itu memang ada. Tapi karena anda adalah penulis hebat di masa depan, haruskah hal itu jadi fokus perhatian? Justru karena ada yang sombong, justru karena mereka nggak jawab pertanyaan kita, merupakan keberuntungan. Kok bisa ? Ya dong, karena dengan begitu anda :
1.      Sadar bahwa masih banyak jalan menuju roma, penulis senior nggak punya waktu jawab kita, Mbah Google masih ada
2.  Nggak gampang patah. Dicuekin para penulis senior dengan berbagai alasannya justru adalah sarana menggembleng diri. Ketika nanti karya kita dicuekin oleh majalah, koran, dan pihak penerbitan udah punya pengalaman *hihi.
3.     Paham bahwa anda nggak bisa mengharapkan bantuan dari orang lain kalau mau maju. Andalah yang bisa bantu diri anda sendiri tentu saja dengan bantuan Allah.
4.     Belajar, kelak di masa depan hal-hal diatas juga akan terjadi pada diri anda. Ketika anda di titik senior dan anda punya jadwal nulis yang ketat.

Semangat!


6 komentar:

  1. Saya dulu juga merasa begitu je.
    Penulis saya ajak nulis bareng nggak mau.
    Makanya saya lalu mai-matian berusaha agar bisa menerbitkan buku.

    Saya bukan senior tapi sudah tua (64) saya Insya Allah akan menjawab pertanyaan jika memang saya tahu jawabannya.
    Salam hagat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. lha bener banget Pakdhe, saya setuju dengan apa yang Pakdhe bilang. Daripada mumet mikirin orang lain nggak mau diajak kerjasama nggak mau ditanyain mending usaha sendiri aja dulu. Pasti akan ada jawaban permasalahannya

      Hapus
  2. sy sbg blogger yg bnr2 pemula prnh juga brfikiran gitu,di suatu komunitas tpi seolah2 ada "blok-blok" nya,senior ma junior,mdh2n cuma perasaan aja ya,heheee.... salam kenal dari jakarta :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, santai aja. Hal-hal itu pasti ada. Tapi saya mikir kalo dimasukkan hati malah nanti jadi males ngeblog sama nulis.
      Semangat Mbak Aira hihi

      Hapus
  3. saya kadang merasa gitu,, tp udah itu kan perasaan aja, kalau ketemu sama temen2 yang suka nulis mereka welcome kok bantu kita...
    kalau ada hal2 yang ga saya tau saya lebih sering ngesearch di google.. disnaa lebih enak nanyanya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. lha itu dia Mbak Lulu, kita ngerasa gitu karena kita nggak tahu keadaan mereka sebenarnya. Saya juga sama, pernah ngerasa gitu. Tapi dipikir-pikir halaah ribet sendiri jadinya. Hahahahah

      Hapus