24 November 2014

PRIA IDAMAN ITU HARUSNYA...





Saya selalu bingung kalau ditanya soal pria idaman. Kalau sekedar bilang saya bisa aja secara klise berkata, pria idaman itu harusnya :

“Yang pantes dibawa ke kondangan”


Tapi kemudian saya batalkan karena ketika saya berpikir kalimat itu terdengar seperti bingkisan. Kalau bingkisan berarti saya harus siap menghadiahkan pada orang suatu hari kelak *gleg!
Oke, kali ini saya akan bilang :

“Yang pantes dipamerin di meja makan...”



Masalahnya saya merasa kalimat itu menunjukkan pria saya kelak semacam hidangan. Semua orang boleh mencicip dan dibawa pulang. Oh, tidak!
Atau mungkin malah semacam barang pecah belah dan teman-temannya, seperti sendok, garpu, atau malah pisau roti? Lho, ndak bener ini. Maka saya pun nggak jadi mengatakannya.
Well, bagaimana dengan kalimat di bawah ini :


“Yang tinggi besar, tinggi derajatnya
besar pangkatnya.”


Dereng, dereng, dereng, dereeng...Pertanyaannya adalah : Siapa elu?! *nunjuk diri sendiri.
So, saya coret kalimat itu dari daftar jawaban. Sebab pada kenyataannya saya tidak punya semuanya. Toh kalau pun punya nanti di akhirat Allah yang dihisab adalah amal kita, bukan derajat dan pangkat to?
Terus piye? Saya garuk-garuk kepala. Lalu berbinar-binar waktu menemukan kalimat klise lain yang berbunyi :
 

“Yang sedang-sedang saja. Sedang ingin beli mobil, ada. Sedang ingin liburan ke luar negeri, ada. Sedang pingin bela-beli-belu perhiasan, ada...”


Jreeeng! Woi, woi lagi-lagi pikiran sehat saya bertanya ,”Nah lu gimana? Kira-kira kalau harapan itu dilontarkan oleh seorang pria, lu masuk kriteria nggak?”
Hihi, enggak! So, kembali jawaban ini saya buang.
Baiklah, kalau begitu saya akan bilang :

“Yang berakhiran -an saja...Tampan, mapan, menawan, hartawan.”


Hak preet! Di dunia mimpi kali ye...di dunia nyata yang begitu biasanya juga milih dari kalangannya sendiri bukan?
Ah, pusing saya. Terus pria idaman saya itu macam apa? Saya merenung, mencari kalimat paling tepat. Setelah membaca sono-sini, akhirnya jawabannya justru ada di buku saku pramuka, yaitu pria idaman saya adalah yang ber-DASADHARMA PRAMUKA!
Yang didalamnya memuat butir-butir seperti di bawah ini :
1.    Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
2.    Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia
3.    Patriot yang sopan dan ksatria
4.    Patuh dan suka bermusyawarah
5.    Rela menolong dan tabah
6.    Rajin, terampil, dan Gembira
7.    Hemat, cermat, dan bersahaja
8.    Disiplin, berani, dan setia
9.    Bertanggung jawab dan dapat dipercaya
10.  Suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan
Gimana keren ‘kan?
Tapi itu sebelum saya sadar betapa saya sendiri tidak memenuhi seluruh butir itu. Kalaupun memenuhi standarnya nggak sampai bernilai 70, jangan-jangan 50 pun enggak ada *ngoook.
Lha terus piye? Kalau ndak punya kriteria kesulitan dong biro jodoh mbantuin kamu, Fin...
 
Muahahaha, iya juga ya *garuk-garuk kepala.
Kriteria itu nggak bisa sembarangan. Kudu serius lho kamu! Kudu jelas, jangan asal. Ini perkara seumur hidup.
Oke, oke...Hmm...(kelop-kelop). Nganu...(bingung jelasinnya). 
Ah, ngona-nganu! Tak jual di E-bay juga lo kamu kalau begitu!
*Ngakak guling-guling 
So, kriteria pria idaman saya itu bagaimana? Rasanya saya harus angkat tangan kalau disuruh mengatakannya. Meski terkadang kalau ada yang tanya saya akan bilang seperti Brad Pitt, tapi saya mengatakannya semata bercanda. Sekedar lucu-lucuan doang.
Nggak tahu kenapa jauh dalam hati saya merasa tidak pantas sebegitu kukuhnya menetapkan kriteria, sementara pada kenyataannya diri sendiri jauh dari sempurna. 
Dan saya pun ngakak ketika teman saya berkata ,”Boleh saja kamu menetapkan kriteria. Tetapi kamu juga harus ngaca, diri kamu sendiri gimana? Minta yang soleh, yang kaya ilmu dan kaya harta, yang nggak memalukan kalo dipamerin dimana-mana...tapi diri sendiri ajrut-ajrutan itu namanya dodol jaya!  Oh, iya. Kalo kamu berdoa baiknya yang wajar aja, nggak usah sok-sok maksa! Misal dengan bilang ‘Saya mau saya dia aja, Tuhan! Nggak pakai lainnya, karena cuma dia yang bisa bikin saya bahagia’.”
“Emang kenapa?”
“Pertama, kamu itu hanya manusia, nggak pantes maksa Tuhan. Masih untung kamu dikasih nyawa gratisan. Kedua, karena kamu belum tentu sanggup menempuhi ujiannya ketika doamu dikabulkan.”
“Jadi gimana?”
“Berdoa ya berdoa aja, jangan mikir bagaimana-bagaimana. Perkara dikasih seperti apa seterah Allah dah ya...Dia lebih tahu yang pantas buatmu.”
Saya nyengir kuda. Dan pada akhirnya saya tetap membiarkan titik-titik di belakang kalimat “Pria Idaman Itu Harusnya...”  tidak berisi apa-apa.

Salam sayang.
Hug, hug dari kejauhan.

8 komentar:

  1. heheheh..kok ada dhasa dharmanya pula xixixixxi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, mbak Hanya jadi bikin saya ketawa lagi

      Hapus
  2. Kalau saya Mak, yang bisa menggetarkan hati saya. Kalau dia memang jodoh saya, bel-bel di hati saya berdentang dan bergetar..hihihi..Alhamdulillah, dapat yang menggetarkan hati.

    BalasHapus
  3. ahihihi, iya ya mbak Rizka siapapun dia, pokoknya klonengan di hati berbunyi berarti itulah tandanya

    BalasHapus
  4. Hahahaha... Jadi keinget masku mbak... Udah umur 30 lebih, hadehh nyari cewek milih milih banget gak ngaca,, iya sih dia pinter tapi pinter aja apa cukup ckckckckck karena ternyata para wanita juga punya kriteria pria idaman yaaa heheheheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. sebenarnya milih itu wajar kok Neng Icha. Lha kalo ndak milih lak yo sembarangan jadinya hihi.
      Tapi saya sepakat tuh dengan MBak Rizka, ketika dia berhsail membunyikan klonengan di hati mungkin itulah jawabaannya. Bahkan ketika dia tak sesuai dengan kriteria. Lha soalnya banyak temen yang meski punya pasangan ideal, cocok kriterianya, tapi begitu masuk ke gerbang pernikahan ternyata malah berantakan. Entah kenapa

      Hapus
  5. Membaca tulisanmu membuatku teringat masa ababil dulu..... : )

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahah, pasti sambil cekikikan ya?

      Hapus