Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2015

PROBLEMA : TERPAKSA DILANGKAHI ADIK KARENA “KECELAKAAN”

Gambar
Saya sedang iseng menengok posting lama ketika membaca komentar Anonim yang berbunyi :
Mbak, kalo boleh tau, setelah menikah adik mbak tinggal sama siapa? Kalo saya, karena adik masih belum mapan dan telah menghamili diluar nikah, akhirnya mau dinikahkan dan setelah itu tinggal sama ortu dan saya selaku kakak perempuan satu2nya ( kami hanya 2 bersaudara). Saya khawatir sekali akan pandangan tetangga dan saudara, sebelumnya aja mereka uda memandangi saya dgn begitu apalagi nanti adik saya menikah dan ngadain pesta dirumah.. Dan pacar adik saya adalah anak yg belum cukup umur, sedangkan saya adalah seorang wanita dewasa yg sudah saatnya menikah akan tetapi masih belum menjalin hub dgn siapapun..Alangkah baiknya jika saya bisa memiliki sifat cuek bebek seperti mbak tanpa harus mikirin kata2 org lain. Boleh minta sarannya mbak?

Ada semacam perasaan bersalah muncul karena telat membacanya. Maklum posting berjudul “Jika Status Jomblomu MenghalangiPernikahan Adikmu” itu tayang sudah lama, seki…

SAAT IBU SAKIT : SAYA PILIH MELEWATKAN KESEMPATAN ITU...

Gambar
Membaca judulnya pasti anda mengira saya telah melakukan hal yang luar biasa. Mengorbankan sebuah kesempatan besar bernilai jutaan dollar hanya demi ibu saya. Tidak. Saya tidak melakukannya. Yang saya lakukan hanyalah melewatkan kesempatan mendapatkan pekerjaan baru. Tidak lebih. Semua bermula hari Jumat pekan silam saat seorang teman mengirim pesan : “Gak minat melamar jadi tenaga pendamping? Yang dibutuhkan S1 Pertanian”
Wah, lowongan yang bagus. Sesuai dengan ijazah saya. Rasanya patut dicoba. Itu sebelum saya teringat kalau jadi pendamping petani otomatis kerjanya di lapangan *krik, krik. Kalau nanti saya ikutan dan diterima (hihi udah yakin aja diterima) terus Ibu nanti sama siapa? Kalau Bapak sendiri yang menjaga ibu kasihan juga. Sementara dua adik saya sudah besar-besar dan bekerja semua. Satu nun jauh di Kalimantan, satunya lagi meski dekat tetap saja namanya orang bekerja itu tak bisa sebebas saya.
Lho memang Ibu kenapa?

DEPRESI VALENTINE : PERLUKAH?

Gambar
Hari valentine sudah di depan mata. Segala sesuatu yang berkaitan dengan cinta dan kasih sayang mendadak nampang di mana-mana—rangkaian bunga, perhiasan ciamik untuk si dia, segala pernak-pernik lucu seperti teddy bear merah muda hingga hiasan bentuk hati bertulis “I LOVE YOU”. Tak lupa film-film romantis yang mengetengahkan tema happily ever after di teve dan bioskop. 
Buat sebagian orang hari valentine memang menyenangkan sebab di hari spesial itu mereka bisa saling mengungkapkan rasa sayang. Tetapi buat sebagian lainnya, yang jomblo dengan beragam alasan, valentine’s day kemungkinan menjadi hari yang menyedihkan. Tak hanya sedih, tapi juga menyebalkan terlebih bila melihat temanmu mendapat kejutan segebung kembang atau mengetahui mereka tengah merencanakan valentin-an dengan pacar. Alih-alih bahagia untuk mereka, yang ada si jomblo malah jadi Jones alias Jomblo Ngenes karena mengalami depresi valentin.
Kenapa depresi? Menurut Psychology Today, manusia itu butuh berhubungan dengan oran…

DALAM KESEMPITAN SELALU ADA HAL MENAKJUBKAN!

Gambar
Saya tidak bilang hidup saya selalu senang. Kalau saya mau saya bisa menulis berlembar-lembar kesusahan. Tapi menulis hal demikian tak kan mengubah keadaan. Ibu selalu bilang ,”Simpan kesedihan untukmu sendiri. Jangan libatkan orang lain disitu. Jangan susahkan mereka dengan kesedihanmu, mereka sudah cukup punya masalah. Mengapa harus kau tambahi lagi dengan masalahmu? Tapi jika itu soal kebaikan, tak apa kau sampaikan.”
Saya setuju dengan apa kata Ibu saya. Mengapa harus menyusahkan orang lain dengan masalah saya? Semua orang mengalami masalah dalam hidupnya. Tak ingin ada masalah, berarti sama dengan tidak menginginkan kehidupan. 
Wah!