02 Februari 2015

DALAM KESEMPITAN SELALU ADA HAL MENAKJUBKAN!




Saya tidak bilang hidup saya selalu senang. Kalau saya mau saya bisa menulis berlembar-lembar kesusahan. Tapi menulis hal demikian tak kan mengubah keadaan. Ibu selalu bilang ,”Simpan kesedihan untukmu sendiri. Jangan libatkan orang lain disitu. Jangan susahkan mereka dengan kesedihanmu, mereka sudah cukup punya masalah. Mengapa harus kau tambahi lagi dengan masalahmu? Tapi jika itu soal kebaikan, tak apa kau sampaikan.”

Saya setuju dengan apa kata Ibu saya. Mengapa harus menyusahkan orang lain dengan masalah saya? Semua orang mengalami masalah dalam hidupnya. Tak ingin ada masalah, berarti sama dengan tidak menginginkan kehidupan. 

Wah!

Hidup kita boleh susah, hidup kita boleh getir...Oh, tidak! Jangan bilang hidup itu susah atau getir, lebih baik katakan saja hidup itu banyak tantangan. Tetapi kita tak boleh lupa didalamnya banyak hal menyenangkan. Ya, ya...dalam kesempitan selalu ada hal menakjubkan.

KANTOR SAYA BEGITU LUAS
 
Mau jadi penulis tapi nggak gableg internet? Itu menyedihkan. Padahal internet adalah sahabat karib penulis masa kini. Dengan internet kita dapat berselancar mencari informasi yang kita perlukan, mengirim email ke majalah dan koran, mengirim naskah novel, dan sebagainya.
Bisa saja saya memaksa orang tua saya untuk memasang wifi di rumah. Entah bagaimana caranya, saya memanfaatkan kasih sayang mereka untuk menuruti keinginan saya. Tapi saya teringat ketika saya terjun bebas ke dalam bidang ini, sayalah yang memutuskan. Bukan orang lain, jadi kenapa saya harus merepotkan? Jadi yang bisa saya lakukan adalah menggunakan sumber daya yang ada. Wifi gratisan di taman, kawan!


Daripada mengatakan tak punya kantor, saya selalu mengatakan pada diri saya betapa luas kantor saya. Di kantor itu saya bebas merdeka menghirup udara bebas, melihat matahari, pohon, dan langit biru. Bertemu orang-orang dan banyak lagi kejadian tak terduga. Saya bisa duduk di mana saja, tak terkungkung ruang kubikel kecil seperti pekerja kantoran pada umumnya. Terpikir oleh saya, bagaimana kelak jika saya mempunya kantor dengan desain semacam ini? Begitu dekat dengan alam, seolah anda sedang berada di dalamnya meski sesungguhnya berada di saatu ruang? Aih, mengesankan.
Jadi kenapa saya harus sengsara? Ini adalah anugerah yang pantas dikatakan sambil tersenyum lebar, kawan. 

MENYERAP BANYAK PELAJARAN
Siapa bilang dalam kesempitan anda tak bisa kuliah S2? Anda bisa. Secara gratisan! Tuhan memberi materinya lewat alam sekitar. Tinggal unduh dan ambil saja jika mau. Mungkin tak ada gelar untuk hal-hal semacam itu. Tapi percayalah, kau bisa belajar banyak kebijakan dengan caramu. 

a.      Setiap langkah Awal Memang Penuh Tantangan
Saya sedang capek dengan kegagalan waktu melihat seorang ibu berjalan tertatih dengan tangan dan kaki yang kaku di suatu siang. Tak tahu kenapa, tapi saya menduga itu akibat stroke.  Jalannya pelan, menyusuri jalur untuk jalan yang tersedia di taman. Kentara sekali ia berusaha.
Saya menolehi diri saya. Sering saya ingin menyerah dan berhenti berjuang. Tapi wanita itu mengajari saya untuk berusaha. Mungkin penuh tantangan pada awalnya. Namun jika kau tak mencoba, kau takkan tahu langkahmu sampai sejauh apa.

b.      Jangan menyalahkan keadaan
Saya melihat bocah kecil berjalan tertatih-tatih diikuti ibunya. Beberapa kali jatuh, ia bangkit kembali. Hebat sekali. Ia seperti tidak takut jika nanti jatuh lagi. Ia benar-benar pejuang!
Saya? Jika saya jatuh, apa yang saya lakukan selama ini? Saya tidak menyukainya. Saya akan mengatakan andai saja keadaan begini, begitu, anu...Jika saya diibaratkan seorang manajer perusahaan, saya adalah  manajer yang kurang baik. Ketika prestasi divisi saya turun atau bahkan gagal, saya cenderung menyalahkan keadaan. Bukannya mempertanggungjawabkannya dan mencari cara untuk bertahan. Padahal kualitas terpenting untuk mencapai sukses justru datang dari rasa tanggung jawab. Sebab rasa tanggung jawab akan memacu seseorang berprestasi tanpa menghiraukan tekanan dari luar

c.       Meningkatkan kemampuan secara otodidak
Ini sebuah cerita konyol bagaimana saya belajar menulis artikel kesehatan. Saya belum pernah menulis artikel apapun ketika seorang teman bilang bahwa situs online anu membutuhkan artikel kesehatan. Karena saya butuh uang kenapa tidak saya lakukan? Saya tulis artikel tentang  manfaat buah sirsak. Setelah saya kirimkan tak ada balasan. Saya kecewa, padahal saya menulisnya susah payah. Saya membaca banyak artikel dan jurnal berbahasa Inggris yang saya unduh dari berbagai web untuk referensinya. Sampai rasanya kepala mau pecah. 

setelah translate dari bahasa indonesia, translate lagi ke bahasa jawa. Wahahaha

Lama saya diamkan, kemudian terpikir oleh saya mengirim ke majalah Jaya Baya. Majalah itu berbahasa Jawa. Tantangannya adalah translate artikel berbahasa Indonesia itu menjadi bahasa Jawa. Tentu saja saya menemui banyak kendala. Begitu banyak kata yang tidak pas, kata yang sulit dicari padan katanya di dalam bahasa Jawa. Tapi dengan segala penyesuaian akhirnya artikel itu selesai juga. Dan saya gembira ketika dimuat.
Saya ketagihan menulis artikel berikutnya. Tentu dengan segala tantangannya. Membaca artikel dan jurnal berbahasa Inggris, translate ke bahasa Indonesia, lalu mengolahnya menjadi artikel berbahasa Jawa  pula. Sungguh proses yang panjang.  Dan tak selalu dimuat juga. Tapi belakangan saya sadar, dipaksa melampaui hal-hal itu telah meningkatkan kemampuan saya berbahasa

d.      Tak sedia payung sebelum hujan
Kerap saat saya wifi-an di taman, hujan mendadak datang. Saya harus mencari tempat berteduh jika tak ingin kehujanan. Saya berpikir andai saya menyimpan payung, pasti tidak kerepotan. Ah, tapi percuma juga beranda-andai. Saya tidak bawa. Jadi saya nikmati saja hujan turun beserta hawa dinginnya.

Saya jadi berpikir sembari menatap hujan, dalam hari-hari kita tak selamanya matahari bersinar terang. Ada saat mendung mengawang atau malah hujan saban hari. Itu adalah siklus wajar. Tanpa mendung, mana mungkin ada hujan. Hujan kelak akan turun, mengaliri bumi. Disaat itu tunas-tunas baru akan tumbuh, merebak, dan kelak akan menjadi tumbuhan yang memberi manfaat.
 
suatu hari bibit semangka ini akan tumbuh dan menghasilkan buah
Saya menilik hidup saya. Saya mengalami hari-hari mendung sekaligus hujan deras yang menyebalkan. Atau bahasa mudahnya kesulitan kesulitan,  K-E-S-U-L-I-T-A-N.
Tapi jika kesulitan tidak ada, apakah saya tahu rasanya berjuang? Apakah saya tahu rasanya menggapai ratusan anak tangga menuju impian? Kesulitan...eh tantangan, adalah cara Tuhan mendidik seseorang untuk bersiap di masa depan. 

Jadi hari itu, ketiadaan payung justtru memberi keberkahan. Sebab saya bisa memandanginya seraya berpikir hal-hal semacam itu. Hihi...

e.       Prestasi muncul karena proses
Kadang iri merasuki hati saya melihat orang-orang lain memamerkan prestasinya di sosial media tatkala sedang wifi-an. Terutama di bidang nulis Saya apa? Saya pun mulai mengecilkan diri saya. Saya inilah, itulah, saya tidak berbakatlah...Karena itu saya nggak beranjak kemana-mana.
Saya terus memikirkannya sambil menggambar dengan software Coreldraw. Dulu saya tidak tahu menahu soal Coreldraw. Butuh 6-7 tahun bagi saya untuk mempelajarinya sendiri. Sampai bisa menggambar seperti di bawah ini.

butuh 6-7 tahun agar saya bisa menggambar seperti ini
 Anggaplah saya berbakat, tetapi jika saya enggan belajar apakah kemampuan saya meningkat? Tidak. Bakat tanpa didukung usaha keras dan terus menerus takkan memberikan hasil apapun. Menulis juga sama. Mereka, penulis yang sudah sukses hari ini, pernah berada dalam posisi saya.
Jadi kenapa saya tidak berpikir “saya bersyukur berada di titik yang sama dengan mereka dulu”. Jika saya mampu bertahan dan menjawab semua tantangan bukan tidak mungkin kesuksesan menghampiri saya kan? Cheers!

f.       Belajar menepis iri dengan share karya orang lain
Apakah ini kedengaran konyol? Buat apa saya share novel milik penulis lain? Belum tentu mereka melakukannya saat karya saya terbit? Kenapa tidak? Saya justru melakukannya.
Apakah saya tidak iri?
Saya memang iri, tapi saya ingin iri saya bernilai positif. Terutama agar diri saya tertantang untuk lebih rajin menulis lagi. Tidak perlu mengatakan hal-hal buruk seperti pasti bukunya bisa terbit karena kenal editor anu, CEO penerbit anu, punya koneksi dengan orang dalam...tidak perlu. Hal-hal semacam itu akan memperburuk hati kita.  

pikiran positif seperti bibit bunga, bagaimana kau memeliharanya begitulah hasilnya
 Tak hanya itu, setiap kali share karya orang lain siapapun mereka, saya membayangkan sedang share karya tulis saya. Jika karya yang saya share kebetulan sudah dicetak ulang, saya berdoa semoga suatu hari kelak begitu juga karya saya.
Apakah susah melakukannya? Aih, bukan susah. Hanya penuh tantangan. Saya ini masih manusia, biasa. Nggak terbuat dari baja. Jadi kalau saya merasa hati saya sedikit ngilu lihat keberhasilan orang itu biasa. Tapi saya perlu membiasakannya. Sebab dengan begini saya belajar menekan rasa iri  dan mengubahnya jadi motivasi.

Nah begitulah mengapa kali ini saya bilang kesempitan justru memberikan keuntungan. Begitu banyak hal-hal mengesankan yang kita dapatkan dari kesempitan. Jika ada yang bilang kesempitan akan membuat kita megap-megap. Itu benar. Di saat seperti ini sulit menarik kebaikan darinya. Tetapi saat kita mulai terbiasa, akan terlihat banyaknya hal bagus yang berseliweran. 

Salam.

30 komentar:

  1. Balasan
    1. terimkasih sudah mampir

      Hapus
  2. Suka sekali dengan yang ini : saya bisa menulis berlembar lembar kesedihan. Tapi menulis hal demikian tidak akan mengubah keadaan.

    Setuju mbak. Salam kenal :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. salam kenal mbak lia nurmalasari,
      wah seneng karena sampeyan mampir kemari

      Hapus
  3. yesss.... mari jadikan iri spt yg positif,..jd motivasi bg diri kita tuk lbh baik dan bisa sama dgn org yg pernah kira irikan..
    TFS mak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama Mbak Anak. Saya juga terima kasih udah mampir kemari

      Hapus
  4. semangat...itu buat pemicu kita *toss kantor kita sama2 luas ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. hai mbak riza, wahahaha...harus ada asosiasinya niih

      Hapus
  5. Keren, Mak, bisa telaten belajar corel draw sendiri sampai 7 tahun! Keren! Kalo saya mungkin sudah patah semangat, dan nggak sanggup kala harus lama begitu belajarnya, hehehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, halo Mbak Isnuaansa. Temgan blogger lama ini.
      Waduh makasih dibilangin telaten, aslinya mah kurang kerjaan ahahaha

      Hapus
  6. jleb banget... keren!
    makasih udah berbagi :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. hwa apanya itu yang jleb, panah ya?
      Makasih mbak nathalia, saya juga makasih udah mau mapir kemari

      Hapus
  7. wihhhh kantornya boleh juga XD
    yang penting ada koneksi internetnya deh XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. xixixi, mbak Sari pasti kepengen ya?
      iya yang penting emang ada internetnya

      Hapus
  8. Menggugah semangat. Iri positif membuat kita mau berusaha menggali jati diri. Terima kasih ya.

    http://elly-hasilmasakanku.blogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak Elly, iri positif membuat kita pengen mengikuti yang baik-baik. hatur nuhun udah mampir kemari

      Hapus
  9. Woooow motivasi yang luar biasa, komplit dan bikin meleleh dan bikin semangat hidupku bangkit lagi setelah baru aja down karena sesuatu. Makasih ya Mak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aih, meleleh...jadi gimana gitu bacanya.
      Makasih Mbak Virgorini, saya senang mbak udah mampir kemari

      Hapus
  10. prestasi muncul karena proses karena gak ada yg instan di dunia ini ya mba.. dan jgn pernah mengeluh dengan keadaan karena saat itu pula kita menyerah..inspiring banget mba tulisannya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. setuju mbak winda, dngan mengeluh sebenarnya masalah jadi nambah. hihi. TErima kasih telah datang dan membaca kemari

      Hapus
  11. Balasan
    1. ah iya mbak Lidya. Tepatnya tidak mengasihani diri sendiri dengan membiarkan diri kita terlampau bersedih

      Hapus
  12. saya juga tidak suka memamerkan kesedihan, walaupun sesekali rasanya sakit tapi dituangkan ke coretan kemudian... dibakar...

    semangat!

    BalasHapus
    Balasan
    1. sedih sebenarnya wajah ya mbak tanti, tetapi bila terlampau lama dibiarkan merajalela wah kitanya nggak move on jadinya

      Hapus
  13. iri yang positif biasanya jadi bahan bakarku untuk lebih semangat mak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, iri positif bikin kita bergerak mencari tahu gimana caranya bisa kayak mereka

      Hapus
  14. Ruang kraetivitas itu ngga ada batasnya, yang ada batasnya adalah kita

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget mas Faris, apa kabar hari ini

      Hapus