22 Juni 2015

PERLUKAH MENGHUJAT LUKMAN SARDI?




 Lukman Sardi pindah agama.
Saya membaca berita itu lewat sebuah portal berita. Tidak hanya membaca berita tersebut tapi juga komen-komen mengenainya.
PEUDEUS ALIAS PEDES!
Begitulah kebanyakan isi komennya. Bahkan saling berbantahan antar satu dengan lainnya.
Saya menutupnya.
Saya tidak mau ikutan komen juga. Karena saya tahu kapasitas saya. Komen pun tidak ada gunanya? Buat apa? Yang ada justru berbantahan tidak jelas di dunia maya.

Sebaliknya saya bertanya balik ke diri sendiri “Perlukah Menghujat Lukman Sardi?” sambil ngaca.
Jawabannya : PERLU!

Perlu menghujat Lukman Sardi jika :
a.       Sampeyan ingin memanasi hati sampeyan sendiri, bikin sampean mengeluarkan kata-kata buruk untuk orang yang bahkan tidak sampeyan kenal

b.      Sampeyan  ingin mencari perkara dan bukannya pelajaran di balik sebuah berita
c.       Sampeyan ingin menambah dosa, dengan nyampah di facebook atau twitter anda
d.      Sampeyan merasa mendapat perasaan penting dengan menghujatnya (catet perasaaan penting dengan menghujatnya!)

Tapi sebelum itu sampeyan lakukan, mari bertanya kepada diri sendiri banyak-banyak :
1.      Apakah sampeyan itu sama dengan Afin Yulia, pemilik blog ini, yang ngajinya hanya Alif, Ba, Ta, Tsa...
2.      Apakah sampeyan sama dengan Afin Yulia, yang masih gemar meninggalkan sholat dan bukan menyegerakannya?
3.      Apakah sampeyan sama dengan Afin Yulia, yang menelan sebuah berita begitu saja dan enggan berkaca
4.      Apakah sampeyan sama dengan Afin Yulia, yang lebih peduli pada diri sendiri ketimbang orang lain yang susah di luar sana
5.      Apakah sampeyan sama dengan Afin Yulia, yang lebih pandai mencela ketimbang memahami maksud Allah menunjukkan satu hal di depan mata contohnya kasus Lukman Sardi
6.      Bla, bla, bla....

Jika iya maka mari kita pikirkan :
1.      Ngaji sampai sebatas Alif, Ba, Ta, Tsa...(Baca ndak ngerti apa-apa)
Dengan kemampuan segitu berani menghujat orang lain yang pindah agama, pikirkan sendiri kualitas sampeyan seperti apa.
Siapa tahu lho, setelah menghujat ternyata sampeyan tak sanggup menahan godaan hati untuk berpindah agama karena ada faktor X mempengaruhinya? Who knows?

2.      Sholat masih bolong-bolong, bahkan sering meninggalkannya. Kalau pun sholat selalu paling belakang (seperti saya).
Lha wong yang dasar begini saja ndak bisa melakukan, kok beraninya menghujat orang. Jangan-jangan di sosial media menghujat, begitu ketemu sama Lukman Sardi malah selfie.

3.      Menelan sebuah berita begitu saja dan enggan berkaca
Ada berita buruk langsung bereaksi,  komen ini-itu (hyaaah seperti saya  si bodoh ini). Kok nggak nanya pada diri sendiri ,”Kalau sampeyan Lukman Sardi, apa yang akan sampeyan lakukan? Saat bimbang  dengan keyakinan, anda menggali agama anda lebih dalam atau justru melongok ke luar  jendela dimana cahaya terlihat terang?”
Apa yang terjadi pada Lukman Sardi sebenarnya adalah kaca untuk diri sendiri, yang super ecek-ecek ini. Kalau tidak ada Lukman Sardi, orang (macam saya) mungkin tidak ingat kalau di KTP ngaku Islam.

4.      Lebih peduli pada diri sendiri ketimbang orang lain yang susah di luar sana
Sebelum sampeyan terlalu peduli dengan kepindahan agama Lukman Sardi, tengok sekeliling anda sendiri. Lalu tanyalah sampeyan sudah berbuat apa?
Banyak orang susah di luar sana—yang miskin, yang nggak sekolah, nggak punya pekerjaan layak. Pernahkah anda melakukan sesuatu pada mereka? Merangkul mereka? Membuat mereka merasa diperhatikan saudara sesama muslimnya.
Bukannya berpaling pada saudara lain yang rela mengulurkan tangan pada mereka. Jika saudara lain jauh lebih baik—murah hati, begitu penyayang—bukan tidak mungkin mereka tersentuh lalu menyeberang (baca : berpindah keyakinan).
Kalaupun mereka tidak pindah keyakinan, karena pengabaian orang-orang sekitarnya, mereka tidak ber-Tuhan. Buat apa? Wong ber-Tuhan juga ndak ngefek. Begitu pikirnya.

Kalau sampeyan kelasnya masih seperti saya lebih peduli pada diri sendiri (penderitaannya sendiri) lupakan dulu menghujat Lukman Sardi.

5.      Lebih pandai mencela ketimbang memahami maksud Allah menunjukkan satu hal di depan mata.
Kalau orang bodoh seperti saya membaca berita kepindahan agama Lukman Sardi, pasti senangnya mencela duluan. Mengatakan Lukman Sardi nggak bener, nggak tahu diri, anu, ono, ini...
Padahal maksud Allah bukan begitu ketika menunjukkannya. Ia sedang bertanya ,”Gimana kondisi keimananmu sendiri?”
Kalaupun sampai hari ini kita (mengaku) muslim, jangan-jangan kita sebenarnya sudah jauh dari Allah. Kita tidak mempercayai-Nya. Atau kalaupun  kepercayaan itu ada,  tidak lebih dari seujung kuku jari kita. Jadi apa bedanya dengan orang yang pindah agama, toh sama-sama jauh dari Allah. Oh, salah ding. Ada bedanya, yaitu tidak memproklamirkan kepindahan agama secara resmi saja.


“Sebentar, sebentar... ngomong panjang lebar poin pentingnya apa yah, Fin?” tanya bayangan saya.

Saya berkata ,“Sederhana, sebelum ikut-ikutan menghujat ngaca dulu banyak-banyak. Ketimbang sudah komentar panjang kali lebar kali tinggi, ternyata diri sendiri tergolong “manusia yang walah pinter omong doang kenyataan nol besar”.  Itu sama seperti anda menghujat Presiden Jokowi pencitraan, tapi ternyata di luar sana adalah anda juga melakukannya. Hak preet itu namanya!”


“Kalau ngomong soal ibarat, hujat-menghujat itu bisa diibaratkan menyuruh  orang lain gosok gigi, tapi diri sendiri kelupaan. Karena terlampau ngurus gigi orang tanpa disadari gigi sendiri kuning dan banyak caries-nya. Menyedihkan! Lha daripada gitu mbok ya sikat saja gigi sendiri, ketimbang meributkan gigi orang. Ya to?” lanjut saya

“Fin, lha terus kamu ngomong kayak gini itu sebenarnya ngasih tahu siapa?” tanya si bayangan.

“Lho ya sama kamu, masa kasih pesan buat orang lain. Sinten kula (siapa saya)?” saya nunjuk si bayangan di dalam kaca.

“Wo, tak kirain mau nyiapin buat ceramah ke orang-orang,” si bayangan tertawa mengejek.

Ih, sewot jadinya!
Saya balik kanan, menyudahi segenap omelan. Berbalik menatap layar komputer, mengedit tulisan sebelum akhirnya dikirimkan.


Salam.

31 komentar:

  1. Hehehehe, analogi yg bagus dengan mengibaratkan seperti menyikat gigi. Jadi ingat minggu ini mesti ke dokter gigi buat periksa rutin.

    Anyway, menurut saya sih nggak hanya masalah pindah agama saja. Masyarakat kita cenderung masih bersifat sosialis, jadinya menganut prinsip "masalahmu ya masalahku, masalahku ya masalahmu". Walau kecenderungannya sekarang sih hanya sebatas ngomongin thok. Tapi yang namanya omongan kan cepat berlalu seakan ditiup angin. Hehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. "masalahmu ya masalahku, masalahku ya masalahmu"

      prinsip ini bagus di satu sisi ya Wijna, dalam pngertian orang2 peduli dengan orang lainnya. Nah, kalau sudah menghujat tapi tidak lihat diri sendiri itu namanya...
      hihi

      Hapus
  2. baru tahu saya kalo lukman sardi pindah agama :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. beberapa hari ini ramai jadi berita mbak Santi

      Hapus
  3. nggak mau ikutan menghujat, tp ikutan sedih aja ttg Lukman Sardi.. hiks.

    BalasHapus
  4. Salam Mbak,
    Soal Lukman Sardi atau Asmirandah atau siapapun pindah agama, alhamdulillah saya sih ngga terlalu peduli ^^ Apalagi sampe menghujat... Ya itu sama dengan pikiran Mbak, siapa lah saya nih..Cuma manusia apalah-apalah..Hehe.. Lagipula urusan itu kan urusan tiap-tiap manusia dengan Tuhannya. Emang kalo Lukman Sardi pindah agama, kita ikut dosa? :D
    Ternyata ada juga blogger yang suka ngomong sama bayangannya yah :D Saya juga suka ngomong sama diri sendiri xD

    BalasHapus
    Balasan
    1. lha begitu harusnya mbak Utie, kenapa kita repot dengan Kepindahan Lukman Sardi?

      Hapus
  5. Sempat kaget dengan berita ini, karena sepengetahuan saya keluarga beliau adalah muslim yang taat. Tapi saat beliau memutuskan untuk murtad, ya saya hanya berdoa semoga beliau nggak salah langkah --- salam kenal, Mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga mbak Putri.
      Allah lebih tahu kenapa Lukman Sardi memilih pindah agama :)

      Hapus
  6. Kenapa gigi mbaakk..kenapaaahhhh...*lalu ke kamar mandi..

    Aku nggak trlalu respect sih mbak sm berita yg begitu2, lebih respect kpd berita yg berkaitan dg anak. Kekerasan, penelantaran. Rasanya pgn aku angkut smua dah anak2 itu ke rmh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak Inda, semoga Allah mendengar harapan ini. Mbak diberi berkah dan kesabaran mengurus anak2 semacam itu

      Hapus
  7. aku juga punya temen, yg demi sebuah apalah-apalah dia berpindah haluan, kalo kata Naruto mah "Saya sudah memilih jalan ninjaku sendiri", padahal dulu kami kuliah subuh bareng. Ah sudahlah, cuma bisa berdoa semoga diri ini tetap istiqomah di jalanNya sampai akhir hayat. Aaamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin, kitalah yang sebenarnya diberi pelajarn oleh mereka. Semoga kita tetap istiqomah

      Hapus
  8. Kalau saya pribadi menanggapinya santai mak hehehe. Soalnya emang keluarga besar tuh campuran jadi ga begitu musingin yg penting mereka taat.

    Tapi kalau masalah keluar dari islam. Kalo saya sih balikin lagi bahwa


    "LAA IQROHA FIDDIIN" Ga ada tuh paksaan dalam menganut ajaran islam. gitu mba...

    Jadi kalau ada yg mau masuk islam yaa tawarin aja ayat lainnya tentang Masuklah Islam secara keseluruhan.


    Kalau mau keluar ya tinggal inget lagi, ga ada yang namanya Allah maksain orang buat komitmen sama islam.

    Itu kalau saya pribadi mba...hehehe maklum saya masih hina dina gini sok komen hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya setuju, mbak.Allah tidak pernah memaksa. perkara mau pergi atau mendatangi silakan.
      Siapa kita berani menghujat mereka yang pindah ya? :)

      Hapus
  9. Aduh iya itu heboh banget. -_-
    namanya juga pencarian, belum tentu sama kan masing-masing orang. Apalagi ini pencarian Tuhan loh.

    Ah tapi emang bener tuh kata mawi wijna di atas, masyarakat kita terlalu rempong mengurusi urusan orang lain. Agamanya apalah, udah kawin apa belum lah..
    Hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. wahhahaha, iya mbak vera. Allah maha Tahu

      Hapus
  10. yup keyakinan itu urusan pribadi dengan Tuhan, kita sebaiknay lebih memperbaiki diri kita sendiri untuk menjadi orang yang lebih baik lagi di mata Allah

    BalasHapus
    Balasan
    1. cocok sekali mbak Tira, setuju!

      Hapus
  11. Cuma bisa sedih. Tapi gak perlu juga menghujat. Allah tidak rugi jika ada makhluk-Nya yang murtad, sekali pun seluruh isi dunia murtad. Dan Allah juga tidak untung ketika seluruh umatnya soleh. Semua sebenernya untuk kita-kita juga. Tidak susah bagi Allah untuk memurtadkan dan mensolehkan hati manusia. Alhamdulillah, kita masih bisa berada dalam Islam. Semoga selalu begitu. Ah Lukman Sardi :'(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak Nia, itu benar.
      Semua yang terjadi pasti bukan karena kebetulan, bahkan peristiwa Lukman Sardi. Allah ingin kita belajar

      Hapus
  12. Dari semuanya yang sy sayangkan malah org2 yang membahasnya dengan kata-kata yang gak kalah 'kasar'nya dari orang yang menghujat Lukman Sardi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu juga mbak Vita yang bikin kita garuk kepala.Gimana ya?

      Hapus
  13. Mbak, saya baru tahu kabar ini dr postingan samoeyan lho. :)

    Kalau tentang pindah agama, itu hak masing2 yo. Hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak Idah, soal agama itu urusan masing-masing. Kita ikut repot eh ternyata belum bener, piye jal?

      Hapus
  14. Hahah.. Kalok aku, agama masalah privasi, Mbak.. Kan uda sama-sama dewasa.. Kalok dianya sendiri uda ngga percaya sama keyakinannya, ya kita jangan ikut-ikutan :P

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, itu cocok sayang! Setuju

      Hapus
  15. Beritanya sudah heboh ya. wah, berarti sy termasuk ketinggalan ya. Baru tahu dari postingan Mbak Afin Yulia ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Enggih Pak, beberapa waktu lalu heboh. Waduh komennya astaga, pedees

      Hapus
  16. menghujat malah bikin hati kita cape dan kotor

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lha bener Mbak, setuju saya. Sudahlah, buat apa menghujat wong kita (saya ding) sholat aja angot-angotan

      Hapus