13 Agustus 2015

KEPEL, BUAH LANGKA YANG KAYA MANFAAT



     

                                                                       
            Kepel, jarang orang jaman sekarang mengenalnya. Pamornya kalah dengan apel, melon, semangka, dan lain-lainnya. Tanaman yang biasa hidup di atas ketinggian 600 m dpl ini bisa tumbuh hingga 25 m, dengan diameter 40 cm. Kulit luar batangnya unik, terlihat benjol-benjol, sebab semula menjadi tempat keluarnya bunga dan buah kepel. Warna buahnya coklat, berbentuk bulat, dengan bagian bawah agak lancip. Daging buahnya berwarna jingga dan berbau harum.
            Menurut sejarah, kepel yang juga kerap disebut kecindul merupakan kesukaan para putri keraton. Sayang, jaman sekarang buah satu ini sudah langka. Jika pun bisa hanya ditemui di tempat tertentu seperti TMII, Taman Buah Mekarsari, Taman Kyai Langgeng ing Magelang, kraton Jogja, lan Kebun Raya Bogor.
            Jarangnya orang yang membudidayakannya kemungkinan disebabkan karena menaati kepercayaan lama bahwa kepel tidak bisa ditandur sembarangan. Hanya orang-orang tertentu seperti adipati yang bisa menanamnya. Bukan untuk rakyat biasa. Tetapi, tidak hanya itu sebabnya. Nilai ekonomis buah yang rendah menjadi penyebab lainnya. Meski rasanya manis dan harum, buah satu ini tidak laku dijual. Sebab dagingnya yang tipis dan hanya disesaki oleh biji. 

            Tentu saja keadaan ini memprihatinkan. Apalagi tanamana yang telat dinobatkan sebagai flora identitas Daerah Istimewa Yogyakarta tersebut banyak manfaatnya. Menurut Purwatiningsih dan Arif Rahman Hakim dari Fakultas UGM, ekstrak etanol dan heksan daun kepel memiliki potensi menurunkan asam urat. Efek hipourikimia ekstrak etanol dan heksan tersebut setara dengan allopurinol, obat untuk asam urat.
            Akan tetapi bukan hanya itu saja khasiat kepel. Buah satu ini kerap digunakan oleh nenek moyang kita untuk mengharumkan napas dan bau bahan. Hal inilah yang menarik peneliti dari Indonesia dan Jepang yaitu yaiku H.S Darusman, Rahminiwati, Sadiah, I. Batubara, L.K. Darusman and T. Mitsunaga, untuk mengadakan penelitian apakah benar kepel bisa menjadi deodoran. Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa kepel memiliki potensi dijadikan deodoran bila dilihat dari fungsi adsorben dan aktivasi probiotik.




            Selain itu kepel juga kerap digunakan untuk mengurangi bau urin yang menyengat. Kenyataan inilah yang membuat Purba lan Nur Adilla Adha dari IPB untuk meneliti apakah kepel bisa mengurangi bau feses tikut mencit yang umumnya mengandung amonia, fenol, lan trimethylamine. Ternyata dalam sepekan setelah diberi bubuk kepel, kadar amonia yang terkandung dalam feses berkurang hingga 75,5% sedangkan kadar fenolnya berkurang hingga 42,4%.
            Tidak cukup sampai disitu, rupanya kepel memiliki khasiat lain. Kandungan antioksidannya berguna untuk kesehatan badan. Apa sih antioksidan itu? Antioksidan adalah senyawa yang bisa menetralkan racun yang masuk ke dalam tubuh kita sekaligus mengurangi kerusakan sel-sel yang diakibatkan oleh oksidasi radikal bebas. Radikal bebas itulah yang selama ini memberi pengaruh terhadap munculnya penyakit seperti kanker, jantung koroner, atau bahkan penuaan dini. Karena badan kita tak memilihi sistem pertahanan antioksidan yang lebih, oleh karena itu dibutukan antioksidan dari luar berupa nutrisi, contohnya yang terkandung dalam buah kepel. 

            Manfaat kepel lainnya adalah melancarkan buang air kecil, mencegah radang ginjal, juga menjadi alat kontrasepsi alami bagi wanita. Kayunya yang baik dan mampu bertahan lama (hingga 50 tahun), cocok digunakan untuk membuat perkakas rumah atau bangunan.
            Lalu bagaimana caranya membudidayakan buah yang sekarang mulai terkenal di manca negara ini?
            Kepel umumnya dibudidayakan dari bijinya. Cara lain seperti cangkok dan stek belum menunjukkan hasil. Caranya, biji dicuci bersih lalu diangin-anginkan di tempat yang teduh. Setelah itu biji baru disebar. Untuk menanti tumbuhnya memerlukan kesabaran, sebab biji baru bisa memiliki daun sekitar setahun disemaikan. Dengan daun berjumlah 3 sampai lima. Saat masih muda kepel membutuhkan tempat yang teduh, tidak terkena sinar matahari langsung. Dan agar tumbuhnya baik kepel sebaiknya ditanam di tanam lempung yang basah dengan pengairan baik.  


Semoga saja pengetahuan “KEPEL, BUAH LANGKA YANG KAYA MANFAAT” membuat kita kembali mencintai buah ini, lalu melestarikannya sebelum punah dan sulit ditemukan di bumi Indonesia.


9 komentar:

  1. elah saya malah baru tau ada buah ini mak

    BalasHapus
  2. Maaaak di kampungku ada nih pohon kepel, klo lg musim, wuih ngedompol dompol buahnya, maniiiis banget, ah jadi pengen kepel aku

    BalasHapus
  3. kirain buah sawo, agak mirip warnanya

    BalasHapus
  4. saya kok baru tahu ya..., betul harusnya kalau kaya manfaatnya bisa dibudidayakan ya



    BalasHapus
  5. Di daerah kelahiran saya masih ada yang punya pohonnya, Mbak. Dulu rumahnya di belakang rumah orangtua saya ...

    BalasHapus
  6. Cilacap bagian barat. Dusun Tegalsari-Kawunganten. Pohonnya lurus.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kawunganten blah mana y bu. Ancer2nya

      Hapus
  7. ini rasanya kaya gimana, jadi penasaran nih...

    BalasHapus
  8. kalo ada yang jual tolong email ke ardinee_putra@yahoo.com ya terimakasih

    BalasHapus