01 September 2015

KETIKA DIA BERKATA “SAYA PUNYA ORIENTASI SEKSUAL BERBEDA”






Seperti ditoyor rasanya begitu mendengar pengakuan semacam itu dari teman saya. Untunglah pengakuan tersebut disampaikan lewat sms, kalau tidak ...entahlah harus bersikap bagaimana di depannya.
Dia mengatakan sejak kecil ia menyadari sudah berbeda. Semakin besar perasaan itu semakin menguat. Tentu saja tidak ada yang mengetahuinya, ia memendam kuat-kuat perasaan itu bahkan kepada orang tuanya. Yang tahu siapa? Beberapa orang tahu, termasuk saya. Lalu lainnya? Ya mungkin menduga-duga. Tetapi, tidak ada yang bisa membuktikannya.

Lalu, apakah dia sadar ketertarikannya pada sesama jenis itu dilarang agama?
Iya. Dia sadar bahwa itu salah, tetapi lepas begitu saja juga tidak mudah.

Nelangsa saya mendengarkan. Saya membayangkan jadi ibunya, kakaknya, adiknya, bapaknya, dan temannya di saat yang sama. Apa yang harus saya lakukan jika jadi mereka? Apakah saya akan membencinya, menghardiknya, memukulnya dengan kata-kata yang menyakitkan bila saya keluarganya? Atau mengucilkan jika saya temannya?

Mana bisa. Melakukan hal-hal semacam itu takkan menghasilkan apa-apa kecuali rasa sakit di hatinya. Lalu harus bagaimana? Aduh, saya jadi garuk-garuk kepala. Sungguh, belum pernah seumur hidup saya mendapati seseorang curhat soal beginian pada saya.
Terdorong oleh pengakuan itu, saya jadi rajin browsing artikel yang membahas soal orientasi seksual yang berbeda. Dari banyak website, terutama yang berasal dari luar, kebanyakan justru mendorong mereka untuk berani membuka diri siapa sejatinya mereka. Tak usah takut. Wong memang sudah begitu kok jalannya. It’s natural! Waduh, jelas ini berbeda dengan ajaran agama yang saya pegang yang justru menganjurkan agar orang menjauhi liwath (hubungan sesama jenis). 


Sementara  website yang membahas cara agar orang-orang SSA (Same Sex Attraction) bisa kembali sesuai fitrahnya, tidak bisa memuaskan rasa ingin tahu saya. Anjuran di dalamnya bagus-bagus semua, tapi sekedar membaca tulisan tanpa praktek itu ya jelas kecil kemungkinan bisa bikin mereka berubah. Harus ada orang yang merangkul,  menarik, mendorong, dan  mengajak mereka tanpa menghakimi. Tapi siapa?

Jelas bukan saya. Wong saya tidak mumpuni soal itu. 

Lama mencari, saya bertemu di sosmed  dengan Kak Sinyo Egie penulis Anakku Bertanya Tentang LGBT. Nah, semula saya hanya mengamati saja, sampai kemudian saya tertarik ikut masuk ke grup Peduli Sahabat yang dikelolanya. Disanalah saya menemukan jawaban pertanyaan saya.

Lho jadi apa sih grup Peduli Sahabat itu? Tempatnya orang cari obat untuk menyembuhkan kaum LGBT yah?
Hihi bukan euy!
Grup Peduli Sahabat itu grup yang bertujuan mendampingi orang-orang yang berorientasi non heteroseksual menjalani hidup sesuati perintah Allah (dikutip dari grup Peduli Sahabat). Terlepas apakah mereka sudah pernah melakukan tindakan homoseksual atau belum. Tentunya butuh waktu agar mereka bisa berubah. Tidak bisa langsung seperti sulapan. Sekali sim salabim langsung kembali ke fitrah—laki-laki menyukai wanita atau sebaliknya. 

Konseling-nya gratis nggak?
Kalau pendampingan Peduli Sahabat Pusat (lewat chat Fb) memang gratis. Cuma memang klien-nya harus sabar, soalnya yang jadi klien banyak. Plus harus aktif kontak mereka, karena pendamping sifatnya pasif. Tentu saja ini sifatnya rahasia antar klien dan konselor lho ya. 

Psst, kalau konseling lewat tatap muka gimana? Ada biayanya nggak?Terus tata caranya gimana kalau mau jadi klien?
Nah, kenapa nggak masuk aja grup Peduli Sahabat, baca-baca dokumennya, baru kalau mau lanjut tanya-tanya kontak saja Kak Sinyo Egie (kedua-duanya via FB ya teman). Jadi lebih penjelasannya lebih byar (terang), tidak nggrambyangm alias ngambang gak jelas.

Oh iya, di grup peduli sahabat kan ada anggota yang sifatnya umum kayak kamu dan  khusus alias klien tuh. Kalau dicampur gitu apa nanti identitas klien nggak terbongkar?
Jangan khawatir, identitas tidak akan terbongkar. Sebab khusus untuk klien memang disarankan untuk tidak memakai akun asli. Ini berdasarkan tata cara layanan pendampingan mereka pada poin ke-4  yang berbunyi :
“Buat id atau akun baru di FB, agar aman bagi Anda”

Kenapa begitu?
Kalau pakai akun asli bisa membuka aib (si klien) karena grup itu umum.
Jelas kan? Hehehe...

Tapi kan tetap mereka bisa berinteraksi? Siapa tahu ntar jangan-jangan  di belakang ada di antara klien  coba-coba “konek” dengan anggota umum atau sebaliknya?

Di poin 14 tentang cara layanan pendampingan Peduli Sahabat Pusat lewat chat Fb disebutkan bahwa :
“Dilarang membagi informasi pribadi (foto, CV, dll) kepada sesama klien atau anggota PS yang umum dengan alasan apa saja. Apalagi sampai bertemu darat kecuali dengan pendamping yang ditunjuk.”          
Jadi kalau semisal ada yang aneh-aneh macam itu langsung saja laporin ke Kak Sinyo Egie. 

Apa sih benefit ikut grup ini?
Belajar banyak soal SSA alias same sex attraction, terutama bagi awam seperti saya. Bagaimana bisa terjadi, apa penyebabnya. Bagaimana cara menyikapinya, karena bukan tidak mungkin ini terjadi di lingkungan kita. Untuk membuat mereka “sadar” dan kembali ke jalan Allah, tidak bisa dengan hanya dikucilkan. Butuh dirangkul dan dirangkul  agar proses itu terlaksana. Tentu ada cara-cara tertentu (istilahnya pe-er) yang harus dilakoni oleh klien selama kurang lebih tujuh bulan dibawah bimbingan konselor. Dan tentu saja itu butuh niat besar dan keteguhan luar biasa. 

Saya membayangkan prosesnya seperti orang yang sedang menjalani proses diet. Ada banyak pantangan yang harus dijauhi agar diet berhasil. Beberapa ada yang lulus dengan baik, lainnya  meski terengah-engah tetapi berusaha keras menyelesaikannya, tetapi ada juga yang diawal langsung cengar-cengir begitu sadar beratnya. Karena itu, sebelum memulai konseling, klien disyaratkan harus punya niat sungguh-sungguh terlebih dulu agar tidak sia-sia nantinya.

Eh, kembali ke temanmu yang kau ceritakan di awal, Fin....Apakah dia sudah berhasil memerangi kecenderungan SSA-nya?
Sayangnya, ketika saya menemukan grup Peduli Sahabat saya sudah lama tidak berkomunikasi dengannya. Hilang kontak sejak ponsel rusak. Tapi, dimanapun dia berada, semoga Allah melindunginya. Membawanya menuju jalan pulang ke fitrahnya. Siapa tahu, ‘kan?

Nah, untuk teman-teman  yang tertarik untuk  jadi pendukung, klien, bahkan donatur masuk saja ke grup Peduli Sahabat. Kalau mau melongok website-nya ada juga disini, http://pedulisahabat.org/

Satu hal yang pasti,  jangan masuk kesana bila niatnya untuk mencaci. Selain tidak terpuji, tindakan itu tidak membantu mereka untuk kembali. Mereka butuh dukungan dan doa kita semua, agar semakin mudah proses hijrahnya.

Salam.

30 komentar:

  1. mbak, setauku ada juga ustadz yang LGBT. tapi beliau tetap menikah dengan seorang perempuan dan menjalani peran seperti pria biasa, Zemarei Albakhin namanya. Ini salah satu link artikel berita yang pernah saya baca tentang dia. http://salmanitb.com/2012/03/16/meski-hasrat-gay-tujuan-tetap-surga/

    semoga temennya bisa menahan hasrat dan sembuh yaa.. baru tau ada grup ini, bermanfaat banget

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak Isti, saya juga pernah baca itu.
      Terima kasih doanya, semoga Allah mendengar dan mengirimkan padanya.

      Hapus
  2. Aduh, ngeri kalo ada teman yang berani jujur gitu sama saya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. pada mulanya merinding disko Mas Adi, lha gimana wong saya juga ndak ngerti soal gituan. Tahu tetapi tidak terbayang itu ada di lingkaran saya. Tapi selanjutnya biasa aja, soalnya dia juga biasa

      Hapus
  3. Mb memang teman tsb pria or wanita

    BalasHapus
    Balasan
    1. hai, hai Gustyanita.
      Mohon maaf yang ini biarlah tetap rahasia, biar saya aja yang tahu hihi

      Hapus
  4. duh, semoga kita semua dijauhkan dari hal-hal seperti itu. semoga temannya juga akhirnya bisa "sembuh". amin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiin, Mbak. Saya menulis ini juga biar kita aware, karena SSA itu kerap kali tak menampakkan tanda-tanda

      Hapus
  5. Semoga temannya bisa sembuh ya mbak.Ngerri juga dengarnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hallo Mbak Nunung, aih nggak usah ngeri. Btw banyak kok dari mereka yang tetap menahan diri dan berusaha kembali ke jalannya

      Hapus
  6. Balasan
    1. hai, yusi. huugh juga :)

      Hapus
  7. serem juga ya, aku belum pernah deket2 hal gini soalnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Awal tahu ya gimana gitu, tetapi ya saya berusaha memahaminya. Bukan berarti mendukung, tetapi lebih ke memahami psikologisnya

      Hapus
  8. aamiin..semoga temannya kembali ke jalan yg seharusnya ya mba..
    btw sepupuku juga ada yg begini, untungnya gak begitu parah banget. dan masih bisa di kontrol. alhamdulillah sekarang udah suka lawan jenis dan punya pacar. ibunya sempat khawatir dan tanya saya terus apakah anaknya normal. soalnya kelakukan dan gayanya kaya cowo mba.

    BalasHapus
    Balasan
    1. InsyaAllah kalo di maintan bener mereka bisa kembali kok Mbak, semoga aja calon istrinya sabar. Menurut konselor peduli sahabat itu salah satu kunci selain niatan untuk hijrah dari kaum SSA sendiri

      Hapus
  9. Jadi bingung gimana harus bersikap gitu ya mbak. Untung ada grup yang mau melakukan pendampingan ya mba.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lha itu dia mbak, ketika awal tahu ya kwageet pol.
      Memang benar mbak, grup itu tuh luar biasa. Gak semua orang soalnya mampu menangani mereka, bahkan orang-orang yang memahami agama

      Hapus
  10. Aku salut deh sama founder Peduli Sahabat :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama Mbak Mimi, aduh...saya aja dicurhatin perkara biasa sama temen aja kadang udah nggak sabar. Apalagi yang punya masalah seperti ini. Hebat euy!

      Hapus
  11. Aku pernah ketemu dengan orang yang seperti ini. Bingung, ga berani mengingatkan karena ga kenal dekat dan ilmunya masih cetek. Cuma bisa mendoakan dalam diam aja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. InsyaAllah doa Mbak Efi terdengar, yang penting justru itu dan bukannya maki atau ngolok. Takutnya semakin diolok semakin jauh dari Tuhan

      Hapus
  12. Orang seperti itu bisa sembuh kalau ada seseorang (lawan jenis) yang tau keadaannya tapi tetap menerima dia apa adanya. Tapi memang butuh proses yang agak lama. Kalau di Indonesia mungkin jarang yang mau curhat soal beginian tapi waktu saya kerja di hong kong orang seperti itu bebas berekspresi layaknya pasangan normal. Miris lihatnya :(

    BalasHapus
    Balasan













    1. Pendampingnya memang kudu kuat Mbak. Banyak yang menikah dengan SSA, mengaku kerap tidak sanggup dengan cobaannya. Lha gimana ya? Secara orientasi seksual mereka lebih ke sesama jenisnya.



      Hapus
  13. Baru tau ada group yang peduli dng orang yang memiliki kelainan seks.. Mudah2an banyak yang hijrah ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sedikit-sedikit Mbak Ika sudah mulai yang sadar membenahi dirinya, saya dapat info kemarin yang masuk kesana ada yang SMP juga. Tidak terlampau terlambat untuk ditangani

      Hapus
  14. Ikut mendoakan smg teman Mak Afi bs kembali ke fitrahnya.
    Tapi memang bener, mereka tdk butuh dicaci karena perbedaan orientasi itu saja pasti udah bikin mereka tersiksa. Salut dngn inisiator grup Peduli Sahabat ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Mbak Vhoy. Itu juga yang dibilang teman saya, tersiksa. Semoga orang-orang di Peduli Sahabat diberi hati seluas samudra

      Hapus
  15. Aku yakin grup tersebut bermanfaat banget, Mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mohon doanya ya mbak orang-orang yang jadi konselornya sabar dan istiqomah. Haduuh, saya aja gak kebayang gimana ngadepin klien SSA

      Hapus