23 November 2015

PICTURES TALK : HEAVEN IS NEAR





Tak perlu jauh mencari surga, ia ada setiap kali kau palingkan muka. Jika kau tak percaya tak apa. Kemarilah, akan kutunjukkan  bukti kalau surga itu memang benar-benar di dekat kita.



Surga, begitu kau bisa menyebutnya jika pagi buta saat kau terbangun, kau masih bisa menikmati cahaya lampu panjar tersampai di matamu. Bayangkan jika malam sebelumnya kau masih bisa melihat dan keesokan paginya Tuhan mencabut indra penglihatanmu. Akan jadi seperti apa dirimu. Jadi jika kau ingin tahu rasanya surga, itulah salah satu bentuk kecilnya.



Surga, begitu kau bisa mengatakannya bila kau menapakkan kakimu di luar rumah dan kau dapati pagi yang dramatis. Berdiri di bawah sebuah menara yang tingginya berkali-kali lipat tubuhmu, berlatar belakang awan-awan di pagi cenderung mendung dan angin dingin yang merasuki tubuhmu, kau pasti merasakan ketakjuban itu. Betapa luasnya alam raya dan betapa kecilnya kau disana.




Surga-lah rasanya, jika kau masih bisa menikmati pedasnya sambal saat kau sarapan. Apa jadinya jika indra pengecapmu tak berfungsi seperti biasa? Masihkah kau bisa merasakan rasa enaknya makanan? Tidak bukan? Jadi jika kau bertanya apa itu surga, itulah dia contohnya. Kenikmatan yang bisa jadi kau anggap kecil karena terbiasa, tetapi sebetulnya jauh lebih besar dari yang kau kira.

Surga adalah saat kau bisa menikmati keindahan di sekitar. Di sudut halaman dimana kau berhenti dan mendapati pengalaman mengesankan. Bahkan jika itu di halaman milik orang disaat warna-warni menyala pada sebatang bunga pisang-pisangan melambai kearahmu.



Atau melati yang menebar wangi, menggoda indra penciumanmu.




Atau disamping kakimu dimana dedaunan menghampar basah karena hujan.



Atau pada titik-titik air diatas bebungaan sehabis deras menemani siang.

 
Lalu bayangkan jika semua keindahan itu tercerabut paksa karena keadaan, mendadak ada bencana alam atau kesehatanmu yang berkurang. Apa rasanya? Apakah kau masih mengingkari bahwa kenikmatan kecil itu adalah surga?



Dan surga itu teramat dekat ketika kau mendongak dan mendapati matahari begitu terik diatas kepalamu lewat sela-sela rimbunnya dedaunan. Mari berpikir seandainya matahari tak lagi bersinar, saat itulah kita binasa. Tak ada lagi kesempatan untuk meminta pertolongan kepada-Nya lewat doa atau seruan mengiba. Jadi nikmatilah dan hentikan gerutuanmu selagi bisa. Lakukan hal-hal positif yang sekiranya memberi warna cerah pada dunia—duniamu, dunia mereka, dunia kita. 



Dikatakan itu adalah surga jika kau masih bisa menikmati potongan-potongan roti lezat di meja sembari minum jus dan bercengkrama dengan teman atau keluarga. Diluar sana masih banyak orang yang tak seberuntung kita. Ada yang hidup sendirian, tanpa teman, tanpa dukungan. Lainnya bersepi-sepi dalam keramaian sementara dunia dalam genggaman. Jangan bilang kebersamaan itu hal yang ringan, kau akan merindukan bahkan setengah mati menginginkan jika ia menjauh dan hilang.



Surga adalah kata lain dari kesempatan untuk berdekat-dekat dengan-Nya. Menceritakan ikhwal kehidupan yang kadang terasa penat dan menyesakkan dada. Ia tak pernah membuka rahasia, Ia juga sangat memahami kita. Bahkan di saat kita menggerutu Ia masih memberi kita rahmat-Nya. Ah, masa iya? Coba saja lihat dirimu. Apakah kau bisa dengan mudah memakai mukenamu, lalu sholat dengan lancar tanpa merasakan kesakitan? Bukankah itu kenikmatan yang besar? Seandainya saja kau kekuatan tubuhmu menghilang dan kau harus hidup dengan bantuan orang, apa rasanya? Apakah nyaman? Maka jika itu bukan surga, apalagi namanya?

Maka untuk apa kau mencari jauh surga? Surga sudah ada di depan mata. Tak perlu ke Maldives, Paris, Turki, atau mungkin di sudut Afrika. Kau hanya perlu menyalakan cahaya dalam hatimu. Apakah kau tahu apa namanya? Syukur, begitu mereka menyebutnya.

Salam sayang dari kejauhan.


6 komentar:

  1. romantis sekali fiin ....surga itu adalah ketika kita merasa bahwa sehela nafas, sejauh mata memandang, sesemerbak bau penggorengan membawa kedekatan kita pada Sang Maha Pencipta ....

    BalasHapus
    Balasan
    1. haahaha, iya...mash bisa merasakan bau wangi dari penggorengan itu mak surga

      Hapus
  2. Intinya....kalau kita bersyukur, semua nikmat di sekeliling kita laksana syurga dunia untuk kita ya...
    Romantis fin gaya bertuturnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hak ya betul kakak, begtulah arti mudahnya

      Hapus
  3. Indahnyaaaaa....

    Mengingatkan kita untuk bersyukur

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih mbak Ahliah,
      memang itu yang saya maksudkan tapi lebh ke diri sendri :)

      Hapus