16 Desember 2015

BULAN-BULAN TERAKHIR BERSAMA IBU





Memandang foto ibu dan bapak di tembok ruang, memang terasa timpang. Bukan karena letaknya yang miring atau kurang sesuai dengan estetika ruang. Bukan. Melainkan karena ketiadaan ibu karena berpulang tanggal 13 September silam.
Mengingat jauh ke belakang, hubungan saya dan ibu dalam konteks anak dan orang tua sedari kanak-kanak tak luput dari kesalahpahaman. Seperti ombak ada kalanya pasang datang dan kami kerap berbeda pendapat tentang segala hal. Bergesekan keras meski ujungnya kembali tenang. Seperti laiknya pantai kala ombak telah surut.  

Terlahir sebagai anak pertama, saya memiliki kecenderungan keras kepala dan bersikap blak-blakan. Sejak kecil saya memiliki pemikiran sendiri atas banyak hal. Tidak bisa diatur-atur atau disuruh seperti gadis kecil yang manis dan penurut. Itu bukan saya banget. Mungkin karena itulah penyebab saya dan ibu kerap bergesekan. Meski begitu, boleh dikatakan hubungan saya dan ibu tergolong aman. Dalam artian komunikasi kami berjalan baik. Tidak ada hambatan. Saya dan ibu adalah teman. Kami bisa ngobrol segala hal, dari yang jadul sampai yang kekinian. Memang beberapa kali ibu “terasa ketinggalan jaman”, tetapi secara keseluruhan ibu saya bisa mengikuti pola pikir anak muda sekarang. 

Tahun berganti, saya bukan lagi remaja tetapi sudah menjadi manusia dewasa. Saat itulah tanpa sadar komunikasi itu hanyalah ala kadar. Saya terlalu sibuk dengan diri sendiri dan pekerjaan, hingga hampir tak pernah saya menanyakan apa kabar. Tidak juga bertanya bagaimana keadaannya atau hal-hal kecil lainnya.  Saya menganggapnya tidak perlu. Alasannya sederhana ,”Lha wong masih tinggal serumah dan bertemu saban hari masa iya hal-hal begitu ditanyakan? Kecuali saya tinggal jauh, wajarlah hal-hal begitu diomongkan.”


Porsi cerita saya pada Ibu pun berkurang. Tidak seperti semasa kanak-kanak dan remaja, saya selalu menceritakan segala hal padanya. Sekarang berbeda, saya merasa sudah dewasa. Hingga tak perlu menceritakan segala-galanya padanya. Tanpa saya sadar, di hari-hari itu Ibu tersingkir dari kehidupan saya. Meski ia ada, tetapi saya sudah jauh darinya.  

Saya lupa membahagiakan ibu tak selalu dengan benda atau uang. Namun, cukup dengan bicara, bercengkrama bersama, sekedar mengenang masa lalu sambil duduk di beranda. 

di sebuah pengajian tahun 2013, saya sibuk memotret ibu, tidak terpikir untuk foto bersama mungkin karena saya pikir ibu akan hidup lebih lama...
Hingga tiga tahun belakangan ketika saya berhenti kerja dan memiliki banyak waktu untuk bersama Ibu. Tetapi, sayangnya dua tahun pertama saya masih terlalu fokus dengan diri saya. Keinginan saya untuk menjadi penulis membuat saya lebih banyak berkutat di depan komputer dan mencoba menelurkan berbagai jenis tulisan. Meski berbincang dengan ibu, tetapi sepertinya saya tidak benar-benar berbincang. Mungkin karena saya pikir Ibu akan berumur panjang. Mungkin karena saya berpikir saya masih memiliki waktu panjang untuk melakukannya. Mungkin karena saya karena saya pikir masih ada Ayah, tempatnya bertukar pikiran dan berbagi banyak hal.

Saya tidak ingat kalau hidup ini Tuhan yang menentukan. Ia bisa memanggil kapanpun Ibu pulang jika menginginkan.

Pertengahan 2014 ketika ibu mulai sakit. Meski tidak mengeluh, saya sering menjumpai ibu meringis menahan rasa celekat-celekit di bagian kaki. Tidak hanya di satu tempat tapi bisa berpindah-pindah. Misalnya awal di bagian dengkul, sekejap kemudian pindah ke paha, lalu betis dan sebagainya. Jika sudah kumat, ibu sampai menitikkan air mata. Banyak orang menduga penyakit itu karena kadar asam urat ibu tinggi. Tapi begitu diperiksa kadarnya normal saja.
Dari hasil googling dan bertanya pada orang-orang yang kompeten, saya menduga itu adalah efek penyakit diabetes yang dideritanya. Ya, orang dengan penyakit diabet dalam tubuhnya memiliki risiko yang lebih tinggi untuk terkena berbagai penyakit tulang dan sendi. Contohnya neuropati diabetik, osteoporosis, osteoarthritis, DISH (Diffuse idiopathic skeletal hyperostosis), atau Dupuytren contracture. 

Tentu saja, kondisi psikologis orang sakit dan sehat itu berbeda. Saat sakit emosi seseorang cenderung naik turun. Bisa jadi hari ini ia sangat tegar. Lalu esok harinya ia jadi sensitif, gampang sekali terpicu marah dan kesal karena hal-hal sepele. Tak jarang hal itu membuat saya menghela napas dan bertanya ,”Kemana perginya Ibu saya yang lama? Yang banyak tertawa dan enak diajak bicara?”

Saat itulah kenangan silam berputar. Saya teringat ketika saya masih bocah dan bersikap menyebalkan. Banyak ulah, suka pula membantah. Namun, Ibu tetap mencintai saya. Ketika saya mendapat nilai buruk di sekolah, Ibu selalu menenangkan dan mendorong saya dengan kalimat ,”Lain hari berusaha lebih keras”. Ketika saya patah hati, ibu memeluk saya  dan bilang semua akan baik-baik saja. Ketika saya merasa takut, Ibu selalu mendorong saya untuk berani. Waktu saya lulus sarjana dan sibuk mencari kerja, ibu juga yang mengantar saya kemana-mana.
Demi pendidikan saya dan adik-adik saya, ibu lebih suka menyimpan uang hasil kerjanya agar kami bisa sekolah tinggi dan dan mengesampingkan keinginannya untuk membeli benda-benda yang ibu inginkan seperti baju, tas, sepatu, atau perhiasan emas yang mahal. Menurutnya benda-benda itu tak penting, tetapi pendidikan kami-lah yang penting.
“Ibu tak bisa memberi harta, hanya ini yang ibu bisa. Memberi kesempatan kalian mengenyam pendidikan setinggi-tingginya. Inilah warisan ibu untuk kalian bertiga,” begitu ibu kerap mengucapkan untuk saya dan dua adik saya. 

Mengingat hal-hal itu tak urung hati kecil mengirim palu godam. “Baru begitu saja sudah kewalahan? Coba pikirkan, apa yang ibumu rasakan mengasuhmu bertahun-tahun sementara sikapmu seringkali menyebalkan? Apakah Ibu pernah mengeluh dan meminta berhenti melakukan semua tugasnya sebagai ibu? Tidak kan? Ia selalu bersamamu, mendukungmu, mengekorimu dari belakang—memastikan kau baik-baik saja tanpa banyak bilang. Dekatilah ibumu. Ia butuh banyak dukungan. Kalaupun ia suka-marah-marah sekarang, pasti bukan tanpa alasan. Mungkin sakitnya itu yang mendorongnya berlaku demikian.”

“Tapi dukungan seperti apa?” saya bertanya-tanya. Dukungan finansial? Saya tak punya banyak uang. Penghasilan dari menulis belum bisa dikatakan lega. Hanya cukup untuk membiayai diri sendiri.  

“Sederhana. Kau bisa mulai memijitinya atau mengajak bicara!” begitu hati saya berkata.
Dan kedua hal itulah yang saya lakukan kemudian. Jangan tanya betapa canggung dan aneh melakukan itu pada mulanya. Tetapi, rupanya itulah yang membuka jalan saya untuk memahami ibu  lebih baik. Mengerti yang dipikirkannya. Ketika dia marah, kemarahan itu sebenarnya bukan pada orang lain, tetapi lebih kepada diri sendiri. Ibu ingin segera sehat kembali dan tidak menyusahkan siapapun di dekatnya, sayangnya yang terjadi justru kebalikannya. Ia juga kerap merasa bersalah karena penyakitnya itu ia kerap membuat orang-orang di rumah lelah—tidak hanya fisik tetapi juga mental. Rasa sakit di kakinya bisa kapan saja menyerang. Bahkan  malam hari saat orang seharusnya mengistirahatkan badan.  Orang-orang di rumah terutama Ayah harus ikut begadang senyampang menghadapi emosi Ibu yang naik turun tak karuan.

Tak jarang selama memijit itu saya melihat matanya akan berbinar-binar, seolah ada lampu bohlam menyala disana. Ia nampak begitu bahagia. Lupa akan penyakit yang kerap menyerangnya ketika membicarakan hal-hal yang menarik baginya.

Ya, Tuhan kenapa ya saya tidak melakukannya sejak lama? Pikir saya. 

Bulan berganti, tahun berlalu. Memasuki tahun 2015 kondisi ibu mulai baik kembali. Ibu sudah mulai bisa jalan kesana-kemari dan tidak melulu tinggal di kasur seperti sebelumnya. Saya senang melihatnya. Pikir saya ,”Ibu akan baik-baik saja. Hidup lebih lama, menyaksikan semua anaknya menikah dan mengikuti perkembangan cucu-cucunya hingga dewasa.”

Dugaan itu meleset. Tanggal 13 September, sekitar pukul dua malam,  Tuhan memanggil Ibu saya setelah mengeluh sesak napas sekaligus rasa tidak nyaman di perutnya. Menurut dugaan, ibu meninggal karena jantung koroner. Sempat terpikir di benak saya, andai kami lebih cepat membawa ke rumah sakit Ibu pasti bisa terselamatkan. Tetapi, kemudian hal itu saya tepiskan.  Ajal itu bisa datang kapan saja, tak bisa dihindari manusia. Kalau Allah sudah berkehendak, tak ada yang bisa menghalanginya. Jadi kenapa saya harus bersedih? Bukankah seharusnya saya bersyukur, bahwa Allah yang Maha Baik memanggil Ibu saya persis seperti yang didoa-doakannya. Ya, jauh-jauh hari Ibu selalu berdoa agar saat meninggal ia tidak sampai merepotkan keluarganya. Dalam artian tidak sakit lama sampai tidak berdaya melakukan apapun kecuali dibantu keluarganya. Bukankah saya harus berterima kasih karena diantara ketiga anaknya saya-lah yang diberi diberi kesempatan memijit ibu dan berbincang banyak sekali sehari sebelum ia meninggal dunia?

Papa (suami adik ibu) berdoa di pusaranya
 Dan hari itu, 13 September pukul 9.21,  saya menyaksikan Ibu dikebumikan tanpa tangis dan isakan. Karena saya tahu seberapa keras saya menangisinya, semua itu sia-sia. Saya tak ingin menghalangi jalannya. Saya justru ingin mengantarnya dengan senyuman, karena saya tahu Ibu telah mudik ke kampung halaman. Dimana dia bertemu Pencipta yang ia rindukan. Satu yang saya panjatkan, semoga Allah mengampuni dosanya dan menerima amal ibadahnya. 

Kepadamu yang masih memiliki Ibu dan Ayah, datangilah mereka dan mulai ajak bicara. Sapalah, tanyalah apa kabarnya. Segera. Kau tak tahu kapan Allah akan memanggilnya. Jika saat itu tiba, kau hanya bisa menyesal di tengah rasa sedih dan hampa. 

Tulisan ini diikutsertakan dalam GA Sejuta Kisah Ibu

24 komentar:

  1. Terharu baca tulisannya :'). Semoga Ibu mendapat tempat terbaik di sisi Allah. Aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. amin, terima kasih doanya Mbak Mia

      Hapus
  2. Duh, serasa tertampar, mirip saya kisahnya. Hanya, alhamdulillah ibu masih sehat.

    Semoga almarhumah khusnul khotimah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah Mbak, Ibu masih sehat. Masih ada waktu untuk melakukan hal-hal manis bersamanya. Barakallah ya

      Hapus
  3. Innalillahi, semoga Allah SWT beri tempat yang indah di sana. Jadi meninggalnya 3 bulan yg lalu ya?
    Untung di saat-saat terakhir Mba Afin sempat bermesraan dengan beliau.
    Makasih udah sharing kisah kasih ibunya di GA rosimeilani.com
    Pantengin apdet para peserta GAnya di sini: http://rosimeilani.com/2015/12/06/daftar-peserta-ga-sejuta-kisah-ibu/

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hallo, Mbak Rosi. Iya baru 3 bulan lalu. Iya itu, saya beruntung masih bisa dekat dengan ibu di saat terakhirnya

      Hapus
  4. aduh brebes mili nih mata, ya kita seharusnya yang merawat ibu setelah dia merawat kiat sepanjang masa hidup kita

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cup, cup Mbak Tira...semua memang sudah ditakdirkan-Nya. Meski dicegah pun tidak bisa, yang bisa dilakukan adalah ikhlas :)

      Hapus
  5. Baca tulisannya mbak Afin, beneran pengen nanges, jadi banyak berkaca diri. Akunya juga sering seperti itu ke ibu.
    Semoga Ibunya mbak Afin diampuni semua dosa-dosanya, dan di tempatkan pada tempat terbaik-Nya. Khusnul Khotimah ya mbak...

    Mbak.e tetep keep spirit yaa...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Mbak Rohma. Terima kasih doanya. Terima kasih juga karena kisah ini bikin Mbak Rohma berkaca. Semoga Mbak bisa memuliakan Ibu hingga saatnya ia berpulang ya

      Hapus
  6. agak2 sedih bacanya, semoga ibu selalu mendapatan tempat terbaik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin Mbak Lidya, salam ya buat putra-putranya

      Hapus
  7. Semoga almarhumah husnul khotimah mbak

    Salam kenal dari Bogor mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin, terima kasih Mbak Efi. Salam kenal juga dari aye di Banyuwangi

      Hapus
  8. Semoga ibunda mendapat tempat istirahat yang mulia di sisi-NYA. Aamiin ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Ko ndri, amin..

      Hapus
  9. Membaca ini jadi ikutan sedih saya mba... Ibunda memang luar biasa ya mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah iya, Mbak Yuni. Bunda memang luar biasa, bukan hanya bunda saya tapi juga bunda lainnya

      Hapus
  10. Sediiiih :'(

    Kita doakan Al-Fatihah untuk beliau ya, Mbak..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin, jeng Beby...Salam buat bundanya ya

      Hapus
  11. Kontak langsung jauh lebih penting ketimbang materi ya, Mbak. Hiks
    Ibu sudah tenang di sana, ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. insyaAllah begitu Mbak Idah. Soal kontak langsung itu yang seringkali kita lupa,meski sekedari apa kabar. mungkin karena kita berpikir ortu tak apa2, baru sadar ketika orangnya sudah tiada

      Hapus
  12. Ahhh baca ini jadi sedih. Smoga ibu tenang di sana yaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih mbak Maya. InsyaAllah begitu adanya

      Hapus