18 Januari 2016

DELAPAN PERMAINAN TRADISIONAL YANG GAUNGNYA HILANG DI ERA DIGITAL






            Masa sudah berganti. Permainan tradisional yang dulu saya kenal gaungnya sudah mulai menghilang kini. Kegembiraan bocah memainkan permainan anak seperti jaman saya kecil dulu sulit ditemukan. Ketimbang keluar rumah dan bermain di bawah hangatnya matahari, kanak-kanak di era digital lebih mengakrabi permainan yang disajikan lewat komputer, tablet, atau ponsel pintar.
            Jika terus demikian, maka tak heran bila kemudian permainan tradisional tinggal kenangan. Sayang bukan? Padahal permainan tradisional banyak memberikan manfaat positif seperti :
1.      Belajar mencoba hal-hal yang berbau kekuatan dan kecakapan
Yang tergolong dalam permainan jenis ini adalah gobak sodor, enthik, bentengan. Tak hanya butuh kekuatan tubuh tetapi juga  kecakapan dan strategi agar seseorang bisa memenangkan permainan.
2.      Melatih panca indra
Contohnya : gatheng, dakon, layangan, delikan (petak umpet), kelereng, dampar. Dengan permainan ini anak diajak meraba, memperkirakan jarak, melatih indra penglihatan dan pendengaran sekaligus menghitung bilangan

3.      Melatih kemampuan berpikir dan berbahasa
Contohnya adalah permainan melontarkan teka-teki seperti kanak-kanak masa dulu sewaktu melantukan lagu Bapak Pucuk atau Pong Pong Bolong. Didalam lagu ini tersirat petunjuk yang harus ditebak oleh anak-anak, yang pada akhirnya membantu mereka melatih kemampuan berpikir dan berbahasa.
4.      Melatih kemampuan dalam gerak dan lagu
Jamuran, cublak-cublak suweng, kidang talun, dan ilir-ilir tergolong permainan yang mengajak anak-anak untuk berlagu sambil menggerakkan badan. Efeknya tak hanya menguasai lagu, tetapi juga belajar menyesuaikan gerakan tubuh dengan teman. Seru kan?

            Lalu apa sajakah permainan tradisional yang jarang dimainkan anan-anak jaman sekarang? Berikut ini daftarnya :
1. JAMURAN
 
Jamuran yo gege thok...
             Jamuran umumnya dimainkan waktu sore hari atau kala bulan purnama tiba. Tidak butuh  peralatan macam-macam, hanya perlu halaman luas. Yang memainkan permainan ini bisa laki-laki, perempuan, atau campuran yang usianya tak lebih dari 13 tahun. 
             Cara mainnya sederhana, sejumlah anak (taruhlah 12 orang anak) akan melakukan hompimpah untuk menentukan siapa yang kalah. Pihak yang kalah inilah yang akan jadi dan ditaruh di tengah. Sementara itu sisanya akan membuat barisan melingkar, memutari bocah yang ada di tengah sembari  nembang Jamuran yang diakhiri dengan kalimat  tanya “sira badhe jamur apa (kamu tebak jamur apa)?” lalu serentak berhenti.
            Disaat inilah bocah yang jadi akan menjawab pertanyaan tadi. Misal dia menjawab “Jamur Macan”, maka kesebelas bocah lainnya akan meniru tindak-tanduk macan. Jika ada salah satu yang gagal, maka dialah yang akan jadi dan menggantikan posisi bocah yang ada di tengah tadi. Begitu seterusnya.
            Mau tahu bagaimana Tembang Jamuran itu? Nah, begini bunyinya :
Jamuran ya gege thok
Jamur apa ya gege thok
Jamur gajih mbejijih sak ara-ara
Sira badhe jamur apa?

2. Bentengan
 
bentengan, dolanan seru sepulang sekolah

            Bentengan atau jek-jekan, begitu anak-anak di daerah saya menyebutnya,  merupakan permainan yang bisa dimainkan kapan saja. Terbagi atas dua grup yang terdiri dari 4 atau lebih kanak-kanak. Masing-masing grup kemudian memilih tempat untuk dijadikan benteng atau markas. Bisa tiang, batu, pilar, bahkan batang pohon di sudut halaman.
            Untuk memenangkan permainan ini biasanya dengan dua cara. Pertama, adu cepat mengambil alih tiang atau pilar yang dijadikan markas pihak lawan. Caranya dengan menyentuh tiang atau pilar itu sembari menyerukan “benteeng!” atau “jeeek!”. Atau kedua, menawan seluruh anggota grup lawan dengan jalan menyentuh anggota tubuh mereka.
            Lalu bagaimana cara mengetahui siapa yang berhak menjadi penawan dan tertawan?
            Biasanya anak yang paling dekat waktunya kala menyentuh benteng (bentengnya sendiri) berhak menjadi penawan. Ia bisa mengejar anggota lawan, menyentuh, lalu menggiring si tawanan dan menempatkan mereka disekitar bentengnya. Tawanan bisa bebas apabila salah seorang rekannya bisa menyentuh anggota tubuh si tertawan, misal tangannya. Oleh karena itu biasanya si tertawan akan berdiri sambil menjulurkan tangan agar mudah tersentuh oleh rekan yang hendak menyelamatkan dirinya.
            Dalam permainan ini masing-masing anggota grup memiliki tugas sendiri-sendiri. Ada yang bertugas sebagai penyerang, pengganggu, penjaga, bahkan mata-mata. Agar bisa memenangkan permainan diperlukan taktik jitu dan didukung oleh kecepatan lari yang bisa diandalkan.

3. Dampar
weeits, lempar batunya!

             Permainan sederhana, tetapi seru di masanya. Dimainkan sedikitnya empat orang, yang terbagi dalam dua kelompok. Sebelumnya,masing-masing anak akan melakukan hompimpah atau suit, untuk menentukan siapa kawan atau lawan. Jika sudah terbentuk kelompok, seorang dari mereka akan maju dan mewakili kawan-kawannya untuk melakukan suit kembali. Pihak yang kalah akan menata batu di tempat yang sudah disetujui. Sementara yang menang akan bergiliran memukul batu-batu yang disusun berjajar tadi hingga berjatuhan. Kurang lebih seperti permainan bowling. Bedanya dalam permainan bowling menggunakan bola khusus yang digelindingkan untuk menjatuhkan pin, dalam dampar yang dipakai adalah batu yang menjadi gacoan si pemain.
            Caranya yaitu dengan menjepit batu diantara punggung kaki dan kaki, lalu melemparkan batu dari jarak + 5meter. Jika batu yang dipukul atau dilempar melenting jauh, maka si pemain akan mendapat nilai paling tinggi. Sebaliknya bila batu yang dilempar masih disekitar susunan batu semula atau bahkan menempel, si pemain akan mendapat hukuman yaitu tidak boleh bermain sampai ada rekannya yang membebaskan. Begitu seterusnya.

4. Enthik
 
            Permainan ini juga melibatkan dua kelompok untuk bermain. Peralatan yang digunakan sederhana yaitu dua bilah kayu. Yang satu yang berukuran + 30cm dan lainnya lebih kecil, +  15cm.
            Cara bermainnya, mula-mula buat lubang berbentuk persegi panjang. Letakkan potongan kayu yang lebih kecil di dalamnya, lalu pukul menggunakan kayu yang lebih panjang. Dilanjutkan dengan akan memukul kayu kecil tadi sejauh-jauhnya. Pemain akan terus memukul satu waktu pukulannya meleset dan gagal. Bila ini terjadi, maka rekan yang lain akan meneruskan. Hal itu diulangi terus sampai tiba giliran orang terakhir. Begitu selesai, para pemain lawan akan menggendong pihak yang menang sebagai hadiah. Jarak menggendongnya tergantung seberapa jauh kayu kecil tadi terlempar dari lubang tempatnya diletakkan di awal. Semakin jauh, maka semakin menyenangkan untuk pemenang. Sebaliknya, yang kalah akan cengar-cengir kelelahan.

5. Dor-doran
 
senjata untuk dolanan dor-doran

            Menggunakan bambu sebagai senjata dan peluru dari kertas atau kembang jambu, permainan ini menjadi kegemaran banyak kanak-kanak di jaman saya. Permainan ini umumnya dimainkan oleh bocah laki-laki. Meski begitu bocah perempuan pun juga kerap memainkan permainan ini. Terbagi menjadi dua kelompok, para pemain dor-doran biasanya meniru cerita perang atau adegan tempur antara penjahat dan polisi.
            Berikut ini adalah 4 langkah membuat senjata dari bambu  untuk permainan dor-doran:
1.      Siapkan bambu berdiamater kecil (1-1,5 cm) dengan panjang 20-30 cm, usahakan bambu sudah cukup tua sehingga tidak mudah pecah saat dipotong atau digergaji.
2.      Potong bambu jadi dua,bagian pangkal sebagai penyodok dan dan ujung sebagai laras. Biasanya bagian pangkal berukuran 1/3 dari panjang bambu, sementara laras 2/3-nya.
3.      Untuk penyodok, ambilah sebilah bambu lalu raut membentuk lidi panjang, usahakan ukurannya sesuai dengan pangkal dan laras.
4.      Siapkan kembang jambu (mimis dalam bahasa Jawa) atau kertas yang sudah dibasahi dan dibentuk bulat-bulat kecil mirip peluru sebagai amunisi.
            Cara mainnya, ambil mimis atau peluru kertas pertama lalu masukkan dalam bambu. Kemudian sorong dengan penyodok hingga ke ujung laras. Masukkan amunisi kedua, tekan dengan keras dan sekejap kemudian peluru pun terlontar menuju sasaran. Plethok...aw!

6.      Sepak Tekong
nah, kan jadi lagi deeh...
 
            Permainan satu ini memang mirip dengan delikan (petak umpet). Tetapi, ada perbedaannya yaitu dalam petak umpet tidak diperlukan bola dan kreweng. Caranya bermainnya, sekumpulan anak akan melakukan hompimpah sampai tersisa dua orang. Untuk menentukan siapa yang jaga, dua orang tersebut lantas bersuit. Yang menang akan ikut main, yang kalah akan jaga. Tiap-tiap pemain lalu mencari kreweng (pecahan genting) yang kemudian ditaruh di dalam sebuah lingkaran dan disusun meninggi. Senyampang menyusun kreweng, pemain yang jaga akan menghitung sampai sepuluh. Tentu saja, sebelum hitungan mencapai angka sepuluh pemain lain bergegas mencari tempat persembunyian. Sembunyi yang rapi, biar yang jaga tidak bisa mencari.
            Jika sampai ketahuan, maka si penjaga akan menyebut nama orang itu dan si pemain pun harus keluar dari tempat persembunyiannya. Dan begitu seterusnya. Eits, tapi hati-hati! Penjaga tak boleh lengah sama sekali. Jika sampai ia lengah, siallah nasibnya. Seseorang bisa muncul dan menghancurkan tumpukan krewengnya lewat tendangan bola. Bila sudah demikian itu berarti ia harus menyusun tumpukan krewengnya kembali, sementara anak-anak lain sembunyi lagi. Kebalikannya, jika ia berhasil menemukan semua rekan-rekannya, maka bocah yang pertama ketahuan dialah yang menggantikan posisinya sebagai penjaga. Seru ya?

7.      Gatheng
ayo mulai lempar gaconya!


            Permainan ini mirip bola bekel. Bedanya tidak memerlukan bola dan perkakas yang dipakai adalah batu semua. Umumnya yang memainkan adalah anak perempuan, sejumlah 2-5 orang. Untuk menentukan siapa yang main duluan biasanya dilakukan suit atau hompimpah di awal. Setelah itu barulah para pemain mengumpulkan kerikil yang jumlahnya ditentukan dalam sebuah lingkaran. Misal dua puluh kerikil untuk satu orang. Ini tidak termasuk gaco tiap-tiap pemain.
            Cara memainkannya, pemain pertama akan melempar gaco (batu kerikil yang jadi jagoannya) ke udara. Sementara baru melayang di udara, pemain tersebut akan mengacau tumpukan batu agar menjadi renggang dan lebih mudah diambil kemudian. Lemparan kedua pun dilakukan, kali ini ia akan berusaha mengambil satu demi satu kerikil tadi tanpa bersenggolan. Begitu terus sampai ia gagal. Bila gagal maka pemain berikut akan meneruskan permainan. Pemenangnya ditentukan oleh banyaknya batu yang dimiliki oleh si pemain.

8.      Gobak Sodor
serbu, serang, terjang...dan menang

             Permainan ini terkenal seantero Indonesia. Meski namanya berbeda-beda tetapi cara memainkannya sama, terdiri dari grup yang berisi 3-5 orang. Bahkan bisa lebih. Permainan ini dilaksanakan di lapangan berbentuk persegi panjang  yang ukurannya tergantung oleh luasnya halaman. Semakin luas halaman, maka ukurannya juga semakin luas. Lapangan tadi terbagi atas  6 petak kecil yang ditandai dengan kapur. Anggota grup biasanya dibagi menjadi dua, yaitu yang menjaga garis horisontal dan vertikal. Tugas mereka adalah menghalang-halangi  pemain lawan agar tidak melewati garis-garis batas tersebut dan mencapai kemenangan. Tentu saja untuk menjadi pemenang dalam permainan ini dibutuhkan ketangkasan, kecepatan, kecerdikan, dan strategi yang handal. 




Tulisan ini diikutkan dalam Giveaway Permainan Masa Kecil yang diselenggarakan oleh Mama Calvin dan Bunda Salfa



33 komentar:

  1. aah... dulu memang banyak banget permainan tradisional. kalo skrg, tempat bermain berupa lahan luas sdh berkurang

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak Santi, sudah nggak ada tanah lapang. Jangankan tanah lapang, tanah buat nanem kembang di depan rumah aja susyaah sekarang. Kangen masa silam jadinya

      Hapus
  2. gambare apik-apik ....iya aku kangen bermain tradisional ...skrg era digital :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. hah itu dia mbak, anak sekarang kalo nggak les mainnya tablet euy! Nggak ada yang teriak ramai di sebelah rumah sampai dimarahi hwahahaha...huu kangen masa dulu

      Hapus
  3. hampir semua kumainkan, bener juga memang

    BalasHapus
    Balasan
    1. tos- tossss, sama saya juga melakukan itu semua. Kangen ya jadinya

      Hapus
  4. permainan no. 8 itu kami menamainya "enggo" :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. oh enggo mbak, woh aru tahu ihihi

      Hapus
  5. kayaknya pernah main.tapi beda nama deh... kecuali yang sodor itu.. beda daerah beda nama..

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak, bener banget. Biasanya tergantung bahasa daerah masing-msing.

      Hapus
  6. kok aku bnyk yg ga tau permainan di atas yaaa -__-.. tp memang sih, anak2 skr udh jrg bgt yg mw main begituan :(.. semua pada gadgetan.. dlu hobiku main lompat kelinci, bekel ama engklek :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. sebenarnya permainan yang mbak Fanny lakukan itu sama dengan saya, hanya beda nama mungkin. Saya juga main lompat kelinci, bekel sama engklek hihi

      Hapus
  7. Kalau saya dulu sih sukanya main egrang, panggal (gangsing) sama yang paling saya suka yaitu layangan, menyenangkan sekali pokonya. Btw kunjungan baliknya ya di http://amir-silangit.blogspot.co.id/2016/01/mengenang-era-90-dengan-memainkan.html terimakasih :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya main juga mas Amir, hahaha, cuma gak pinter ketiga-tiganya. terima kasih udah mampir

      Hapus
  8. Pernah main semua kecuali dor-doran. Cuma liat anak laki2 maen di tegalan tetangga hehehe!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waah, padahal dor-doran itu seru banget Mbak Vhoy. Saya suka bikin senjata sendiri dulu hahahaha

      Hapus
  9. saya juga pernah main semua itu ^^ kecuali jamuran,rada-rada lupa, beda bahasa juga sih. Asyik ya zaman kecil dulu^^, kok anak-anak sekarang sering dilarang ya main diluar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. lha iya itu, dulu jaman kita kalo nggak main di luar malah nggak ditemenin. Sekarang lain. Seperti tanah lapang yang kian tergerus acara main di luar kini juga dianggap jadul. Rasanya ortu lebih safe kalo anak main di dalam rumah, mungkin karena kejahatan juga meningkat ya?

      Hapus
  10. Entah kenapa di tempat saya Gobak Sodor itu sebutannya jadi "Dor-Dor" ^_^
    Saya juga banyak yang baru tahu beberapa mainan yang disebutkan di atas


    Terima Kasih sudah ikut GA saya dan mbak Lidya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wooo, jadi beda ya istilahanya. Sama-sama Mbak Rahmah, GA mbak Rahmah dan Mbak Lidya ngingetin lagi masa kecil saya dan segala permainannya...

      Hapus
  11. saya baru tahu ada permainan namanya jamuran. dampar di tempat saya kayaknya namanya dampu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. oh dampu mbak? Beda tipis ya? Kalau jamuran biasanya dimainkan di daerah Jawa Tengah sama Jawa timur

      Hapus
  12. iyaa beberapa permainan diatas aku kenal semua, cuma mungkin ada beberapa yang beda namanya yaaa, tapi tetep sama cara mainkan nya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya bener mbak, biasanya namanya beda tapi cara mainnya sama

      Hapus
  13. iyaa beberapa permainan diatas aku kenal semua, cuma mungkin ada beberapa yang beda namanya yaaa, tapi tetep sama cara mainkan nya...

    BalasHapus
  14. mainanku banget ituh...hahahahah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahahah, tos Mbak Chela

      Hapus
  15. dor-doran aku pernah menemukan ada yangjual di salah satu SD dekat rumah mnak. Terima kasih sudah berpartisipasi ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sudah jarang banget tapi ya mbak, lebih sering mainan pistol yang lebih modern dan gaya.

      Hapus
  16. Dor-doran.. dulu kalo main ini di sekolah pasti disita guru.. soalnya buat perang di kelas dan suka ada yang nangis hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. ahahaha, pasti...soalnya pasti ada yang ribut gara-gara mainan itu

      Hapus
  17. Jadi inget masa kecil.
    Saya sebenernya pngen nulis permainan masa kecil saya mbk.
    Gambar ilustrasinya itu bkin sndri atau gmn ya.hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. hallo Mas Arif, maaf baru dibalas. Iya ilustrasinya bikin sendiri, pake corel

      Hapus