11 Juni 2016

AKU, KAMERA PONSELKU, DAN MUPENG INGIN YANG BARU





Sebagai pekerja kantoran yang gajinya kurang dari 1,5 juta, praktis saya tidak memiliki anggaran lega untuk bela beli belu ponsel baru. Kalaupun iya, saya harus  menunggu THR dulu. Saat THR datang ternyata masih banyak hal lain yang lebih penting ketimbang membeli ponsel baru.  Sementara membeli dengan cara berhutang bagi saya memberatkan. Saya tak sanggup membayangkan saban bulan harus dikejar-kejar hutang, sedangkan gaji saya tidak terlampau besar.

Oleh karena itu saya  manfaatkan saja  gadget yang ada, yang sejak 2009 bersama saya. Peduli amat jadul dan tidak kekinian. Asal masih bisa digunakan berkirim pesan, telepon, dan bermain internet sudah cukup bagi saya. Fitur-fitur lain yang katanya dahsyat, tak saya pedulikan. Bahkan setiap kali muncul peer pressure dari teman-teman atau lingkungan agar membeli ponsel baru saya cuek saja. Racun mereka tidak mempan bagi saya. Alasannya ya itu tadi, anggaran yang tidak mencukupi. Kalau nekat mengikuti kompor semacam ini, waduh bisa-bisa dompet saya gantungisasi (baca : gantung diri). Ujung-ujungnya yang mumet saya juga nanti.

Tapi, keputusan macam ini bukan tidak mengandung resiko. Kerap orang menertawakan ponsel jadul saya. Malah ada yang menjadikannya guyonan segala. Mereka bilang ,”Hari gini kok ya masih pakai ponsel jaman baheula? Nggak bisa buat BBM-an, WA-an...hadeuuh.”
Saya jarang menanggapi candaan semacam itu. Paling-paling hanya tertawa. Meski kadang ingin garuk tembok juga kalau sudah keterlaluan (hahai!).


Diam-Diam Tidak Puas dengan Ponsel Jadul Saya

hasil foto menggunakan ponsel jadul di luar ruangan
 Meski menerima keadaan, ada sesuatu yang bikin saya tidak puas dengan ponsel jadul saya. Itu terkait dengan kegemaran jeprat-jepret dan nulis blog.  Artikel di blog akan lebih kece kalau disertai foto yang keren. Disiang hari  dengan cahaya yang cukup hasil jepretan si kamera 2 MP tadi boleh juga. Begitu pindah ke lingkungan yang redup hasilnya kurang mulus, banyak noise

di dalam ruangan, dimana cahaya kurang, hasil gambar cenderung noise

Masalahnya menggunakan blitz juga berefek buruk pada hasil fotonya. Selalu terdapat pantulan cahaya, yang membuat performa foto jadi tidak maksimal. Tidak ada autofokus pula, sehingga untuk memotret jarak dekat akan buram. 

 
tanpa fitur autofokus, blur jika digunakan untuk memotret jarak dekat (makro)
 Mau selfie dengan hasil yang caem? Wah biasanya saya selalu mencari kaca, sehingga bisa melihat bagus tidaknya pose saya. Kalau tidak ada kaca besar ya pakai saja kaca mungil yang biasa terdapat dalam compact powder. Tangan kanan pegang tombol shooter kamera ponsel, tangan kiri pegang compact powder, lalu...jepret! Karena itulah saya tidak terlampau suka selfie. Kadang-kadang saja jika kepingin. Sebabnya ya itu tadi, suka ribet sendiri.


Ponsel Warisan Ibu
Sepeninggal Ibu, ponsel yang biasa digunakannya Bapak percayakan untuk saya jaga. Keadaan sedikit berubah dengan ponsel baru itu. Dengannya saya tak hanya eksis di twitter atau facebook saja, tapi juga BBM dan WA. Ini membantu saya untuk terhubung dengan siapa saja. Terutama dengan rekan-rekan sekantor saya yang baru. Maklum semua hal mengenai pekerjaan dilakukan lewat ponsel itu. Dari sekedar laporan sampai rapat dengan pimpinan saya juga dilakukan lewat aplikasi BBM yang tertanam di ponsel. Begitu juga dengan teman-teman nulis. Dengan ponsel milik almarhum ibu itu saya terhubung dengan mereka. Ikutan arisan blogger, sampai silaturahmi dengan grup kepenulisan. Ah, tidak lupa teman-teman SMA. Dari mulai buka mata sampai terpejam, ada saja yang mereka bicarakan di grup WA (meski kadang isinya bikin males juga).

Tapi soal kamera memang masih kurang mumpuni menurut saya. Kualitas gambarnya tidak seperti yang saya inginkan. Terlebih jika itu digunakan untuk mendukung tulisan kegemaran saya menulis atau blogging. Untuk mendukung artikel yang saya kirimkan di media online atau majalah, saya tidak mengandalkan ponsel ini untuk memotret. Lebih suka kamera digital yang dibeli dari hasil patungan saya dan adik. Hanya memang merepotkan, agar tidak kehilangan moment saya selalu membawanya kemana-mana. Padahal tas jalan saya itu ukurannya kecil. Otomatis dijejali kamera digital, ponsel, dompet, notes, dan dompet sudah berdesak-desakan. 
 
hasil jepretan kawan Ijen menggunakan kamera ponsel sendiri

Itu masih belum apa-apa. Pernah saya saat mendaki ke Ijen, baterai kamera digital saya drop,  dan saya hanya kelimpungan. Masalahnya saya mengandalkan kamera ini untuk menangkap gambar. Sementara menggunakan kamera ponsel saya hasilnya tidak maksimal. Saya sempat iri melihat orang-orang lain bisa memotret dengan bagus menggunakan kamera ponsel mereka masing-masing. Sama-sama digunakan pada pukul 5 pagi, hasil jepretan kamera saya cenderung buram sementara punya mereka jauh lebih bening. Mau pinjam punya teman? Ah, kok nggak enak ya. Masa merepotkan orang? Aduh, mau gimana lagi? Bisanya gigit jari!  

hasil jepretan menggunakan ponsel pinjaman (ponsel kantor)

Sebelum itu  ada even tour de Ijen di Banyuwangi. Kebetulan Genteng, kota tempat saya tinggal ini, digunakan untuk start  lomba etape dua. Tak mau ketinggalan  saya pun pergi untuk mengabadikan momen keren itu. Tetapi, situasinya bikin nyesek euy!  Ketika hendak memotret saya langsung tepuk jidat,  ingat kapasitas kamera ponsel saya. Untuk menangkap gambar bergerak hasilnya tidak bagus. Saya pernah mencobanya beberapa kali, gambar yang didapat blur dan sulit dikenali. Sementara saya juga tidak membawa kamera digital. Waduh, pusing juga tuh! Beruntung ada ponsel kantor. Dengan kualitas kamera yang lebih baik, saya bisa mendapatkan gambar para pembalap sepeda beraksi di jalanan. 

Mimpi Memiliki Ponsel yang Mendukung Kegiatan Saya Menulis
Belakangan, demi mengakomodasi kegiatan nulis  sekaligus jeprat-jepret terpikir oleh saya membeli ponsel baru yang kameranya lebih oke. Tujuannya sih sederhana, supaya saya tidak repot membawa ponsel dan kamera sekaligus tiap kali bepergian.
Ponsel yang saya inginkan kurang lebih menggunakan dual kamera, dengan kamera belakang kurang lebih 13 MP dengan fitur auto focus, mampu memotret baik dalam kondisi cahaya rendah ataupun malam hari. Bahkan kalau bisa yang sanggup memotret di bawah terik matahari. Hweleeh muluk-muluk banget ya?  

Kebetulan pas searching nemu review ponsel yang pas, Zenfone 2 Laser ZE550KL. Dengan harga dua jutaan ponsel ini masih masuk dalam jangkauan keuangan saya. Tentu saja setelah nabung beberapa bulan.  Desain yang ergonomik membuat ponsel ini enak untuk digenggam. Layar depan yang menggunakan Corning Gorilla Glass 4 membuat ponsel ini lebih  kuat dan tahan banting. Pas banget untuk saya yang ceroboh dan suka menjatuhkan barang. Nah, yang paling penting tentu saja kameranya, euy! Pas banget dengan kebutuhan saya. 

gambar diambil dari : https://www.youtube.com/watch?v=zSWES5qtht8
Kamera Zenfone 2 Laser ZE550KL memiliki kamera depan 5 mega pixel dan kamera belakang sampai 13 Mega pixel dengan aperture lensa f/20. Dengan begini ponsel mampu mengambil gambar dengan resolusi tinggi tanpa khawatir shutter-lag. Fitur laser auto focus berfungsi untuk menstabilkan gambar dan mengurangi buram. Kemampuannya memotret di cahaya suram mencapai 400%, sehingga bisa memotret di kegelapan malam atau lingkungan bercahaya minim  tanpa perlu mengaktifkan flash! Di bawah terik sinar matahari pun tak perlu khawatir lagi. Kamera mampu menangkap obyek dengan jelas dan berdetil tinggi berkat mode super resolution. Dengan fitur realtone flash, foto akan terlihat alami, tidak over exposure (terlampau terang).

Soal daya simpan tak perlu khawatir. Zenfone 2 Laser ZE550KL sudah dibekali oleh memori internal sebesar 16 GB yang masih bisa diperluas lagi dengan memori eksternal microSd berkapasitas max 128 GB. Sehingga mampu menyimpan banyak hasil jepretan kita di lapangan. Baterainya yang berkapasitas besar bikin kita nggak khawatir ponsel kehabisan tenaga pas lagi asyik jepret sambil nungging.  Nggak hanya itu,  dukungan sistem android Lollipop yang kinerjanya dioptimalkan lewat penggunaan prosesor Qualcomm Snapdragon 410, serta RAM sebesar 2 GB menjadikan Zenfone 2 Laser ZE550KL bekerja responsif dan maksimal. 

Aduh, bener deh jadi mupeng setelah membaca keunggulan ponsel satu itu!
Ndilalah, pas lagi mupeng gitu  eh  ada yang share link lomba ini di timeline. Tak buang waktu saya  cepat ikut saja. Saya tidak tahu apakah saya kelak jadi pemenangnya atau tidak. Yang saya tahu ini adalah salah satu jalan (selain menabung lebih dulu sampai uangnya cukup) untuk mendapatkan Zenfone 2 Laser ZE550KL. Jadi kenapa tidak saya ikutkan saja kisah saya ke lomba itu?

So siapapun yang juga berminat pada  Zenfone 2 Laser ZE550KL, ikutkan saja kisahmu dalam :
“Giveaway Aku dan Kamera Ponsel by uniekkaswarganti.com

27 komentar:

  1. Semoga berhasil dapat bekal ngeblog nya ya, mba Afin, alias kamera ponsel :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih Mbak Ley,heheheh

      Hapus
  2. Y allah Mba..smngt ya semoga menang, benar2 butuh nih=)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi, iya mbak Dian Farida. Terima kasih banget udah mampir

      Hapus
  3. Semoga dapat ganti HP dengan kamera yg TOP ya, Mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah ats doanya Mbak Ika

      Hapus
  4. Ponsel mewah tak harus mahal kan? Smg gadgetnya berguna.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, saya malah nggak kepikiran beli ponsel super mahal. Takutnya banyak aplikasi yang gak paham, yah malah nggak dipakai Mas. Mubazir jadinya kan?

      Hapus
  5. Waah aku pun bertahun2 bertahan dengan kamera ponsel yang gitu deh haha.. Jadi terinspirasi buat bikin tulisan juga.. Sukses ya mba GAnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, sama nih Bunda...terima kasih, terima kasih

      Hapus
  6. Zenfone 2 Laser ZE550KL memang cocok ya, Mbak :)
    Semoga berhasil. Aamiin...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Matur nuwun sanget pendonganipun, amiin

      Hapus
  7. Oh Banyuwangi toh. Saya juga tinggal di Banyuwangi, kecamatan Songgon :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oalah kita sama mbak Wenny, tos dulu

      Hapus
  8. Hasil foto pke flash kadang-kadang gak sesuai harapan ya Mbak. Alih-alih pengen dapat hasil terang, gambarnya malah kepantul cahaya hehe.. Sukses dengan GAnya Mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak, suka kecewa lihat hasilnya. Sama-sama, sukses juga mbak

      Hapus
  9. saya suka nih prinsipnya mbak, nggak kegoda buat beli sesuatu yang nggak sesuai isi dompet. walaupun memang hape dengan kamera yang bagus akan mendukung untuk kegiatan blogging. semoga menang ya mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak, takutnya dipaksain beli malah nggak sanggup bayar. Kan repot jadinya. Terima kasih ucapannya

      Hapus
  10. Semoga jadi rejekinya Mbak di GA kali ini dapetin smartphone ASUS, Amin... Salam dari Pontianak... :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama-sama Mas, terima kasih ucapannya ;)

      Hapus
  11. Dulu sih, ketika emang udah punya smarthphone dan kamera jadul, sempet ga mau make smartphonenya. Begitu tertarik sama kamera ponsel di smartphone, ketagihan banget buat jeprat jepret poto, hhee...

    Semoga berhasil dapetin ASUS Zenfone 2 Lasernya ya mbak ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih Mbak Rohmah, aih... sama soal kesenangan jeprat-jepret itu. Hanya saya pakai camera digital kecil itu

      Hapus
  12. Kamera ponsel sekarang bisa untuk ambil gambar makro dengan jelas. Asus zenfone misalnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. benar mbak Arin, sekarang smartphone kameranya udah keren banget

      Hapus
  13. Terima kasih sudah ikutan GA Aku dan #KameraPonsel. Good luck.

    BalasHapus