03 November 2016

AKHIRNYA SAYA PILIH IBU DAN BUKAN PEKERJAAN

 
Bunda cinta dan kasihmu adalah cahaya

            Agustus, 2014.
            Tak ada yang lebih menyenangkan bagi seorang yang tengah dilanda “kekeringan” ketimbang tawaran pekerjaan. Maklumlah sebagai penulis saya memang masih taraf belajar. Tulisan saya belum banyak yang tembus ke media. Beberapa kali jadi finalis atau menang lomba nulis, tak berarti saya mumpuni. Maka tak heran jika hasil dari menulis jauh dari harapan. Tak bisa dijadikan pegangan.
            Maka wajar jika saya bergembira ketika karib saya, Endang, mengatakan ada lowongan pekerjaan. Meski pun profesi yang ditawarkan jauh sekali dari ilmu yang saya pelajari semasa kuliah dulu yaitu jadi guru SD di sebuah sekolah swasta baru.
            “Siapa tahu, Fin. Kenapa tidak dicoba? Nggak apa-apa meski kamu lulusan Faperta.”
            Pertanyaannya kemudian ”Apa saya mampu? Mengajar tak sekedar mencari uang, didalamnya ada tanggung jawab besar. Apalagi saya tak memiliki ilmu mengajar”.
            Seolah tahu apa yang saya pikirkan, Endang, sahabat saya itu berkata ,”Coba saja. Tak ada salahnya. Yuk aku antar ke tempat Mbak Sita (bukan nama sebenarnya). Katanya di sekolah Islam yang dia rintis ini butuh banyak guru.”
            Ah, dia benar juga. Coba saja. Tak ada salahnya. Lagipula jika saya memiliki pekerjaan, saya bisa memiliki penghasilan tetap. Sehingga saya tak selalu was-was diliputi pertanyaan “Adakah uang untuk pergi ke warnet?” setiap kali saya ingin mengirim artikel, cerpen, atau novel.

            Maka hari itu saya diantar ke rumah Mbak Sita. Saya baru paham beliau itu kakak kelas saya semasa SMP. Beliau menyilakan saya untuk langsung melamar ke sekolah islami dimana ia ikut merintisnya. Sembari menjelaskan bahwa disana mereka tidak bisa memberikan gaji besar, dan lain sebagainya. Jam masuk dan segala macam yang berurusan dengan sekolah. Mendengar penjelasannya pikiran saya justru melayang ke rumah. Jika saya melamar dan diterima, otomatis saya akan berada di tempat kerja seharian. Lalu Ibu saya bagaimana?
            Sejak awal tahun 2014 kesehatan Ibu menurun. Ibu jarang keluar rumah dan lebih banyak berada di kamar sejak rasa nyeri menyerang tulang-tulangnya. Celekit-celekit, seperti ada beribu jarum yang menusuk, begitu Ibu menggambarkannya. Serangan nyeri itu bisa datang kapan saja, dibagian tubuh mana saja dalam waktu yang bersamaan. Saking sakitnya, Ibu sampai menitikkan air mata. Pijitan tak mampu meredakan rasa nyeri di tulang-tulangnya itu. Maka untuk meredakannya, saya dan Bapak mengelus-elus kakinya. Harus sangat lembut, karena terlampau keras justru menyakitinya.
            Banyak yang menduga biangnya adalah asam urat yang tinggi. Tapi hasil pemeriksaan mementahkan dugaan itu. Asam urat ibu normal. Belakangan kami menyadari itu adalah efek dari penyakit diabetesnya. Ya, orang dengan penyakit diabetes memang beresiko lebih tinggi terkena berbagai penyakit tulang dan sendi.
            Pulang dari rumah Mbak Sita saya merenung panjang. Saya butuh uang. Dan pekerjaan itu memberikan jaminan keuangan meski tidak besar. Tapi, meninggalkan Ibu sendirian rasanya tak tega. Apalagi di rumah hanya ada Bapak seorang. Bapak, saya yakin bisa mengurus Ibu sendiri, jika seharian saya bekerja. Tetapi mengurus orang sakit itu menguras pikiran dan tenaga. Tidak mudah, karena harus mampu mengontrol emosi dan perasaan. Maka saya pikir, tinggal di rumah dan menulis adalah keputusan terbaik. Meski hasilnya tak bisa diharapkan, tapi pekerjaan ini memiliki keunggulan dibanding lainnya. Waktunya fleksibel dan saya pasti ada jika Ibu membutuhkan saya. Maka tanpa mengurangi rasa hormat pada Endang, yang sudah bersusah payah mengantar saya menemui Mbak Sita, saya menolak lowongan pekerjaan itu.
            Beberapa bulan kemudian, sekitar Februari 2015, Endang memberi tahu saya ada lowongan pekerjaan selaku tenaga pendamping pertanian. Yang dibutuhkan adalah S1 Pertanian. Wah, ini dia! Batin saya. Ini sesuai ijazah saya. Saya pikir saya tak boleh melewatkannya. 
            Tapi, kemudian saya teringat ibu. Ibu yang belakangan semakin sering kesakitan. Serangan nyerinya semakin parah dan intervalnya semakin pendek. Dalam kondisi demikian, Ibu jadi lebih membutuhkan saya dan Bapak. Jika saya bekerja, Bapak pasti kewalahan mengurusnya. Dengan pertimbangan itu saya pikir lebih baik tinggal di rumah saja.  Fokus dengan Ibu sembari menulis seperti biasa. Nanti-nantilah jika Ibu sudah lebih baik, saya mencari kerja. Insyaallah ada. Tak perlu khawatir, bukankah rejeki sudah ada yang mengatur? Pikir saya.
            Beberapa waktu kemudian kondisi Ibu berangsur membaik. Ibu sudah tidak sakit lagi. Ibu sudah sehat dan bisa jalan-jalan, tidak hanya menghabiskan waktu di ranjang sembari menahan kesakitan. Saya dan Bapak senang. Saya bahkan mengira Ibu akan membaik selamanya. Tapi, perkiraan tinggallah perkiraan. Segala sesuatunya Allah yang menentukan. Disaat saya berpikir demikian, Allah memanggil Ibu pulang pada tanggal 13 September 2015.
            Kabar meninggalnya Ibu mengejutkan dua adik saya, Wendy dan Wawan. Saya tahu keduanya menyesal karena tak bisa mendampingi Ibu di saat-saat akhir hidupnya. Saat itulah saya seperti disadarkan, mengapa saya selalu menolak lowongan pekerjaan yang disodorkan teman. Rupanya semua itu bukan kebetulan. Allah sudah mengaturnya sedemikian rupa, sehingga saya bisa menemani Ibu di rentang waktu yang tidak panjang.  
            Mendadak hati saya diliputi kesyukuran. Allah telah menghadiahi saya kesempatan untuk dekat dengan Ibu hingga ajalnya datang.



Lomba Blog “DILEMA” 


picture source :  https://www.pexels.com

10 komentar:

  1. Mbrebes mili bacanya Mbak. Insyaallah, berkah Mbak Afin. Pilihannya adalah pilihan yang terbaik, amin :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. amin, terima kasih Mbak Wahyu. Waduh, saya meh mbrebes juga ini

      Hapus
  2. Subhanallah... :'( speecless ... barakallah... :'(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Mbak Mumu Ahmad

      Hapus
  3. subhanallah, semoga saya juga diberi kesempatan yang sama, aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. amin, semoga Allah memberi berkah itu kepada Mbak. Bisa menemani dan merawat ortu hingga akhir hidupnya

      Hapus
  4. Subhanallah... Semoga Allah beri balasan terindah ya, mbak Afin. Semoga ibu juga mendapat tempat terbaik di sisi Allah. Amiin. :)

    Wahhh...jebolan Faperta juga ya. Sama dong. Tapi ijazahnya cuman nganggur di lemari. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin, terima kasih Mbak Isnaini. Wah, sama dong. Dulu pernah ngantor, cuma terus keluar. Tapi, bidangnya lain hahahah

      Hapus
  5. :') Tetap semangat aja ya kak. Memang segala sesuatu yang kita jalani, semua telah ada hikmahnya masing-masing.
    Penulis? Wew!

    BalasHapus