14 Desember 2016

KETIKA BUNDA BERPULANG



            Saya berpikir Ibu saya akan hidup lama. Bisa mendampingi saya menikah, melahirkan anak-anak, dan melihat mereka tumbuh menjadi dewasa. Tapi, Allah Sang Maha Kuasa itu memiliki skenario berbeda. Ibu saya dipanggilnya pulang dua bulan sebelum ulang tahunnya yang ke-59.
            Saya masih ingat, jauh-jauh hari Ibu sering kali bilang bahwa dia tak ingin merepotkan siapapun saat meninggal. Ibu ingin saat hari itu tiba ia tidak mengalami sakit  panjang hingga menyusahkan seluruh anggota keluarga. Allah yang baik mendengar dan mengabulkan pintanya. Ibu meninggal tanggal 13 September pukul 2.30 setelah mengeluh sesak di dadanya.
            Saya ingat betul, tengah malam itu Bapak membawa Ibu ke rumah sakit dengan bantuan Om saya. Saya tidak ikut karena harus jaga rumah. Tak berapa lama terdengar suara mobil memasuki halaman, saya berlari menyongsong Om dan menanyakan bagaimana keadaan Ibu saya.Tapi jawaban yang saya dengar mengejutkan.
            Dengan suara terbata-bata Om berkata ,”Ibu sudah tidak ada, Nduk...”
            Seperti orang linglung saya menatapnya. Saya tidak menangis. Saya juga tidak bisa berkata apa-apa. Saya hanya merasa kosong di dalam sana. Sekosong botol yang isinya ditumpahkan paksa. Saya kembali pulang dan terdiam di kamar beberapa waktu lamanya. Saya perlu menenangkan diri  sebelum akhirnya memberitahukan kabar ini. Ini penting karena ketenangan membuat saya mampu mengontrol emosi dan perkataan. Sulit untuk berkata dengan lancar bila hati saya diliputi kesedihan. 
 
  sesaat setelah Ibu tiada perasaan saya kosong, sekosong botol yang isinya ditumpahkan paksa            

            Saya ambil napas dalam, saya katakan pada diri sendiri bahwa saya mampu melampaui musibah ini. Bukankah ada dalil yang mengatakan “Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku”? Berulang-ulang saya mengatakan itu hingga mampu menguasai diri sendiri. Barulah setelah itu saya mengambil ponsel dan menghubungi kedua adik saya, Wendy dan Wawan. Kemudian disusul keluarga dan teman-teman. Beberapa mengangkat telepon saya dan menangis begitu mendengar apa yang saya sampaikan. Lainnya tidak bisa dihubungi, meski nadanya tersambung tapi telepon saya tidak diangkat. Saya memahaminya. Hari masih terlalu dini. Orang-orang pasti masih terlelap dalam tidurnya.
            Suara mobil lain tiba bebeberapa saat kemudian, membawa Ayah dan jenazah Ibu saya. Di atas meja panjang yang dipesan Ibu beberapa bulan sebelumnya, disanalah beliau dibaringkan. Ibu masih seperti semula, secantik yang saya ingat. Hanya saja wajahnya lebih pucat. Ayah saya tampak berduka. Meski berusaha menahan, tapi saya bisa membaca dari air mata yang terkadang menitik dan segera diusapnya. Adik saya, Wawan, yang baru saja tiba nampak terpukul. Ia  menyesal karena pagi hari saat hendak berangkat ke tempat kerja tidak pamitan karena tergesa-gesa. Ia diam saja, termenung di kamarnya, mungkin tengah menasehati dirinya sendiri agar tegar menghadapi kenyataan.
            Saudara-saudara yang mulai berdatangan tak bisa menahan tangisnya. Rata-rata mengungkapkan keterkejutannya mendengar kabar duka dari saya. Tidak heran mengingat Ibu saya nampak sangat sehat di hari-hari akhirnya. Tiga hari sebelumnya ibu masih jalan-jalan pagi di seputar rumah, menyapa dan tersenyum pada tetangga. Namun, Minggu pagi ia sudah berpulang ke haribaan Allah. Saya tidak bisa melakukan apapun selain menepuk pundak mereka. Mengatakan agar mereka tidak menangisi Ibu saya. Sudah begitu jalannya, Ibu meninggal tanpa memberi tanda. Kepada adik saya yang berada di Kalimantan, saya dan Bapak berpesan agar fokus saja pada pekerjaannya disana. Tidak perlu memaksa diri untuk pulang. Jika bisa kami bersyukur, jika tidak juga tak apa-apa. Kami sangat memaklumi keadaannya.
            Pagi tiba, orang-orang yang melayat mulai berdatangan ke rumah saya. Beberapa kali terdengar tangisan keras ketika memasuki ruangan, dan seperti semula saya selalu berkata ,”Tidak apa-apa, jangan sedih. Jangan menangisinya. Ibu memang sudah waktunya meninggal dunia.”
            Orang-orang berkata betapa tegarnya saya. Saya masih bisa tersenyum saat menyambut tamu dan menyilakan mereka masuk ke dalam rumah. Menjawab dengan tenang ketika ada yang bertanya kronologis bagaimana Ibu meninggal. Bahkan memberi penghiburan ketika mereka terisak-isak di depan jasad Ibu saya. Sesekali saya turut menitikkan air mata, tetapi menurut mereka selebihnya saya baik-baik saja. Benarkah demikian? Sesungguhnya tidak. Jauh di dalam sana saya merasakan kesedihan seperti mereka. Bahkan lebih. Tapi,  saya sadar meratap secara berlebihan takkan mengubah keadaan. Ibu tetap berpulang karena Allah sudah menentukan. 

mengantar kepergian ibu laiknya mengantar kepergian mereka yang hendak pulang kampung
             Saya berpikir daripada menganggapnya meninggal kenapa saya tak menganggap Ibu pulang ke kampung halaman. Laiknya mengantar kepergian mereka yang pulang kampung, tak selayaknya saya mengantar kepergian Ibu dengan wajah muram. Bukankah perjalanan yang ditempuh ibu selama 59 tahun sesungguhnya untuk itu? Bila ia sudah menyiapkan kepulangannya begitu lama, mengapa saya tidak merelakannya? Saya harus ikhlas, tak boleh lagi merintangi jalannya dengan tangis atau ratapan. Kurang lebih pukul sembilan jenazah Ibu dibawa ke pemakaman. Tak lama kemudian Ibu segera dikebumikan. Saya turut menyaksikannya proses dari awal hingga akhir. Doa saya semoga Ibu mendapat tempat yang baik di sisi Allah.
            Jika ada yang bertanya apakah saya bisa melewati rasa kehilangan Ibu dengan mulus? Saya rasa tidak juga. Perasaan saya naik turun seperti halnya roller coaster. Tapi,  saya tidak mengelaknya. Ketika saya sedih, saya menuliskan perasaan saya. Saya tulis sisi negatif dan positif  kehilangannya, hingga pelajaran besar yang diberikan Allah di hari Ibu meninggal. Tulisan itulah yang kemudian saya edit dan kirimkan ke sebuah website Islam, berharap apa yang saya alami itu bisa membantu mereka yang mengalami situasi sama. 
 
mengikhlaskan kepergian Ibu membuat perasaan saya  naik-turun seperti roller coaster
             Acap saat rindu pada Ibu, saya menitikkan air mata. Di saat itulah saya bertanya mengapa harus ibu saya, bukan ibu orang lain Tapi, ketika saya melihat anak kecil-kecil lewat di hadapan saya bersama ibunya saya memahami kenapa. Allah memilih saya karena saya sudah lebih siap menghadapi musibah bersebut, bukan lainnya. Allah tahu saya bisa melewatinya ketimbang bocah-bocah kecil itu.
            Terkadang rasa rindu itu juga membawa saya untuk berderma pada sesama. Memberikan sedikit uang kepada mereka yang tak berpunya untuk mengenang apa yang Ibu lakukan tanpa sepengetahuan saya. Rupanya hal-hal itu memberikan manfaat luar biasa. Bersinggungan dengan mereka membuat kemalangan yang saya rasa jadi tiada artinya. Mengetahui masalah hidup mereka membuat saya bisa melupakan masalah hidup saya. Itu membantu saya untuk melihat masalah dari sudut yang berbeda, sudut yang lebih positif.
 
mengikhlaskan dan menjalani ujian  kehilangan itu laiknya keteguhan pendaki gunung
             Pada akhirnya ini membawa energi yang baik bagi saya. Membawakan optimisme sekaligus kesadaran bagi saya bahwa apa yang saya alami adalah bagian dari ujian kehidupan. Tak satu pun manusia di dunia ini yang akan kalis darinya. Dan ujian adalah bagian dari ketetapan-Nya. Tersebut dalam surat Al Baqarah 155  bahwa setiap manusia pasti akan diuji dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, atau jiwa. Jadi mengapa saya merasa jadi manusia yang paling malang sedunia? Yang saya lakukan adalah mengikhlaskan dan menjalani ujian itu laiknya pendaki gunung, yang yakin kelelahannya akan terbayar begitu melihat indahnya pemandangan di puncak.
            Apakah kau punya kisah kehilangan sepertiku? Kehilangan orang tua, saudara, kekasih, sahabat, atau lainnya? Ah, tuliskan saja kisahmu. Ikutlah tantangan nulis bluevalley bersama Kak Jia Effendie. Tak perlu ragu. Mari berbagi tulisan, siapa tahu  buah pikirmu itu membuat orang lain yang senasib denganmu tak merasa sendirian. Yuk...


Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tantangan nulis BlueValley bersama Jia Effendie

image source :
Jia Effendie

12 komentar:

  1. Aku malah mbrebes mili bacanya Mbak.
    Belum pernah ngerasaian tapi pasti sangat berat. Terus semangat ya Mbak :)

    BalasHapus
  2. Terenyuh bgt baca tulisannya mba, Ibu utk aku segala2nya jd kebayang kl beliau berpulang apakah aku bs setegar mba apa ngga...

    BalasHapus
  3. bisa merasakan bagaimana rasanya ditinggal org yg kita sayangi, karena ayah saya pun sudah tiada. rasanya nyesek ya, ditinggalkan org tua tanpa ada tanda2 sakit

    BalasHapus
  4. Tulisannya begitu mengalir dan deskriptif, tapi satu yang bisa dipelajari. Memberikan penghormatan kepada orang yang meninggalkan kita dengan tetap optimis. Semoga saya bisa melakoninya...

    BalasHapus
  5. kehilangan orang tua mmg sedih mendalam..bapak sy meninggal tanpa sy bisa lihat wajah terakhirnya krn sy jauh...sy hanya bisa melihat kuburannya pd esok harinya..semoga ibu saya bisa sehat..bisa jumpa lagi di lebaran ini

    BalasHapus
  6. Kedua ortu saya masih lengkap, semoga diberi kesempatan memberikan yang terbaik sebelum salah satu dari kami dipanggil, Aamiin.. :(

    BalasHapus
  7. Saya berbinar-binar haru membaca ini. Persis hampir mirip dgn apa yg Saya alami beberapa thn silam

    BalasHapus
  8. Very beautiful story mbak...Ibu saya masih ada, tapi karena saya tinggal jauh darinya membuat saya rindu setengah mati setiap hari..

    BalasHapus
  9. Aku sampe speechless sebenarnya. Semoga amal ibadah ibunda mba, diterima dan beliau ditempatkan di tempat terbaik. Sabar dan tabah ya mba.

    BalasHapus
  10. Segala doa baik menyertai ceritamu, dan ibu mbak, aamiin

    Salam,
    Rasya

    BalasHapus
  11. Huaaaa.. Nangis.. Alfatihah buat ibunya mba, semoga tenang di alam sana 😢😢😢

    BalasHapus