06 Desember 2016

MENDAKI IJEN, MENAKLUKKAN DIRI SENDIRI


            

            Saya belum pernah naik ke Gunung Ijen ketika Yogi, teman saya, menawari saya untuk ikut bersama rombongan tour yang dipimpinnya. Tawaran yang menarik. Tapi, saya sangsi mengingat saya belum pernah mendaki gunung sebelumnya. Mendaki gunung itu bukan kegiatan main-main. Butuh stamina kuat agar energi tubuh tak mudah terkuras saat melakukannya. Bahkan meski  jaraknya hanya sejauh 3 km seperti Gunung Ijen. Jangan salah, meski jalurnya pendakiannya pendek medan yang dilalui cukup berat—menanjak dengan dengan kemiringinan antara 25-35 derajat. Tanahnya berpasir pula. Siapapun yang pernah kesana pasti tahu bahwa langkah kaki  akan terasa lebih berat. Para pendaki harus menahan bobot tubuhnya agar tak tergelincir kembali ke bawah. 
pagi hari di gunung Ijen
             Oleh karena itu kondisi tubuh harus disiapkan betul saat melakukan pendakian. Tubuh yang kurang fit selain membuat perjalanan jauh lebih lambat juga bisa merepotkan kawan seperjalanan. Padahal itulah yang saya alami kala itu,  tak enak badan—meriang ditambah dengan tenggorokan yang kering dan sakit. Yang bikin keraguan saya bertambah besar adalah bobot tubuh. Dengan tinggi mencapai 146 cm, berat tubuh saya mencapai 60 kg lebih. Saya tak yakin bisa mendaki tanpa kerepotan dengan bobot sebesar itu.

            Tapi, melewatkan kesempatan itu sayang juga. Kapan lagi jika bukan sekarang? Mumpung ada teman, pikir saya. Akhirnya saya pun mengiyakan. Saya berdoa semalaman agar keesokan hari saya diberi kemudahan. Ajaib, esok paginya saya sudah enakan. Saya tak lagi merasa seburuk semalam. Perjalanan ke Banyuwangi bersama Yogi dan seorang teman lain, Edwin, berjalan lancar.  

menghabiskan waktu menunggu loket buka sembari menikmati cemilan dan minuman hangat

             Jelang tengah malam, rombongan berangkat menuju Gunung Ijen menaiki mobil Jeep Trooper. Jalanan sangat lengang saat kami beranjak menuju desa Licin. Dari desa Licin mobil terus bergerak membelah jalanan yang dipadati oleh pepohonan di kanan-kirinya. Beberapa kali kami melewati perumahan, tetapi selebihnya pohon-pohon yang berdiri tegak dalam kegelapan malam. Tiba di Paltuding pukul 12 malam. Sembari menunggu bukanya loket, seluruh rombongan memilih untuk menikmati minuman hangat dan makanan kecil di warung-warung yang berjajar disitu. Pukul 12.30, loket dibuka, dan perwakilan dari rombongan kami membelinya. Saya sendiri hanya duduk manis saja. Merasakan hawa dingin yang menusuk kulit seraya menanti waktu keberangkatan. Sedikit menyesal saya tak membawa penutup kepala, sebab mengenakan jilbab rupanya tak bisa melindungi telinga dari hawa dingin itu. 
            Sekejap kemudian, rombongan kami dan lain-lainnya berangkat. Pada awalnya masih semangat. Jalanan masih landai. Tapi, seratus meter kemudian mulai terasa langkah kaki semakin berat.  Selain menanjak, melewati jalanan berpasir itu tidaklah mudah. Saya harus mencondongkan tubuh ke depan, untuk mengimbangi bobot tubuh  dan  kemiringan gunung yang curam. Beruntung saya tak membawa ransel berat, hanya tas kecil berisi air minum, kamera, ponsel, dan sedikit obat-obatan untuk jaga-jaga jika terjadi sesuatu di tengah jalan.
            Belum sampai pos Bunder, saya sudah ngos-ngosan. Beberapa kali saya berhenti untuk mengatur napas di tengah dada sesak dan oksigen yang mulai menipis.  Beberapa orang yang semula mendahului saya nampak kelelahan. Mereka duduk di tepi-tepi jalan, dimana batu, tanah, rumput, dan kayu tak ubahnya es. Dingin sekali, sampai menembus celana. Beberapa orang-orang yang bertubuh tambun seperti saya bahkan harus didorong-dorong oleh temannya. Semata agar tak ketinggalan karena perjalanan menuju puncak masih jauh.
            “Ayo, ayo...kamu bisa!” saya dengar begitu mereka menyemangati temannya. Sementara napas si teman sudah satu-dua dan mulai kehilangan energi tubuhnya meski pendakian belum lama dilakukan.
            Saya tidak menyalahkannya. Orang-orang ini pasti berangkat ke Ijen berbekal semangat seperti saya tanpa memperhitungkan betapa berat medan yang akan dilalui nanti. Saya bersyukur di rumah saya kerap Yoga, jadi hasil latihan itu memberi efek baik untuk saya. Meski saya harus berjalan lebih pelan daripada lainnya, ketahanan tubuh saya cukup terjaga.
            Walau begitu, mendaki gunung itu tak hanya butuh ketahanan fisik semata. Mental yang kuat diperlukan juga. Ada saat dimana, saya merasa ingin berhenti mengetahui puncak Ijen yang hendak saya capai masih jauh dari jangkauan. Jangankan puncak Ijen, pos Bunder sejauh 1,5 km itu rasanya seperti di ujung dunia. Perasaan semacam itu  kian menguat saat orang lain melewati saya. Langkah mereka yang panjang, diselingi dengan tawa, bikin saya merana. Saya heran bagaimana mereka bisa melakukannya. Lihatlah saya. Jangankan tertawa, menarik langkah saja saya berat. Laksana diganduli seekor gajah.
            Namun, hati saya berbisik agar jangan menyerah.
            “Sudah kepalang tanggung, masa menyerah sekarang? Ingat nggak waktu kamu memutuskan untuk jadi penulis dan meninggalkan pekerjaan kantoran? Kau mengalami kesulitan. Kau sering gagal. Dari sekian banyak lomba yang kau ikuti jarang sekali menang. Iya ‘kan?” katanya disela kelelahan.
            “Kau pernah ingin berhenti, tapi kau memilih untuk melanjutkan. Perlahan mimpimu jadi kenyataan meski harus mengalami perjalanan panjang dari 2009. Kau berhasil menerbitkan novel atas namamu sendiri, tak hanya antologi,” lanjutnya ditengah keringat yang menetes di tubuh.

akhirnya sampai di puncak setelah perjalanan yang bikin ngos-ngosan
             Semangat saya membara kembali. Saya percaya kalau saya mampu dan bisa mendaki gunung ini. Sekejap kemudian saya bangkit dan menapaki jalur pendakian yang kian menanjak meski dengan kecepatan semut. Sampai di pos Bunder, saya menarik napas lega. Alhamdulillah, sampai juga setengah perjalanan menuju puncak Ijen. Setelah menghela napas sejenak langkah pun kembali dilanjutkan. Saya melihat beberapa rombongan nun jauh di depan saya di tengah kegelapan lewat sinar senter yang mereka hidupkan. Saya menabahkan hati agar kuat hingga tujuan. 
 
teman-teman seperjalanan, ketika kabut mulai tersibak dan matahari bersinar
             Pukul 3.00 saya sampai di puncak bersama Yogi, Edwin, dan seluruh rombongan. Angin dingin yang keras menampar-nampar muka saya. Saya menggeloso di dekat kawah. Saya capek sekaligus puas sebab saya sudah berhasil mencapai sejauh ini meski awalnya tidak yakin. Kelelahan terbayar dengan melihat Kawah Ijen yang menganga di sana. Beberapa orang mengajak untuk pergi melihat blue fire, tapi tenaga saya sudah terkuras. Saya memilih untuk istirahat dan menghadiahi diri sendiri dengan sebotol aqua yang terasa lebih dingin dari air kulkas.
para penambang belerang, saban hari bolak-balik ke puncak melewati medan berat
             Saking lelahnya, pada akhirnya saya berlindung di balik ceruk-ceruk yang berjarak beberapa puluh meter dari kawah dan tertidur pulas. Memang tidak terlalu nyaman sebab tanahnya terasa dingin. Tapi, karena mengantuk dan lelah saya tak terlalu merasakannya. Saya bangun ketika kegelapan berubah menjadi terang tanah. Sembari melihat orang-orang berfoto di tepi kawah, saya melihat berkeliling. Beberapa penambang nampak asyik membawa belerang. Beberapa lainnya menawari para pendaki untuk turun bersama dengan kereta angkutnya. Harganya cukup mahal, saya lupa berapa tepatnya, yang jelas diatas dua ratus ribu. Wajar mengingat perjalanan turun juga tidak gampang.

bersiap menuruni Ijen setelah menikmati keindahan alamnya
            Beberapa saat kemudian matahari mulai kelihatan. Kabut yang tadi menyelimuti menghilang digantikan dengan matahari pagi. Tapi, udara tetap terasa dingin. Setiap kali orang bicara seperti mengeluarkan asap dari mulutnya. Usai menikmati keindahan pagi di kawah Ijen, kami pulang. Bila di awal kami harus ngos-ngosan untuk menaiki jalur yang curam, kali ini kebalikan. Kami harus pandai mengerem langkah karena turunannya tajam. Jika tak hati-hati bisa-bisa kami terguling-guling dan cedera. 

http://indonesian-hijabblogger.com/


            Sepanjang jalan pulang saya mengucap syukur pada Allah. Perjalanan ini sangat berarti karena  memberikan sebuah kemegahan tersendiri. Tak hanya mampu mencapai puncak, saya juga berhasil menaklukkan diri sendiri. Saya tak menyerah dan memilih melanjutkan perjalanan yang berat. Disaat itulah saya merasa Allah tengah mengajari saya bahwa willpower atau kemauan yang kuat bisa mendobrak sesuatu yang tadinya dirasa tak mungkin menjadi mungkin.
            Terima kasih  ya Allah. Saya takkan lupa betapa hebat pelajaran-Mu hari itu.

 Post ini diikutsertakan dalam Blog Competition Serioxyl X IHB

           

           
           

           

20 komentar:

  1. Keren banget Mbak. Kuat banget :) sukses ya lombanya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih mbak wahyu. Kuat mungkin karena Allah juga ya, asli ngos-ngosan euy

      Hapus
  2. ketika mendaki seperti itu, musuh utamanya bukanlah lelah, tetapi diri sendiri. Selamat Mbak, ujian berat yang ini terlampaui. You should be proud of you, tentu saja.
    Pendakian terakhir saya (Agustus lalu) berakhir dengan saya memutuskan turun sendirian karena kantuk yang tak tertahankan karena belum tidur selama 30 jam nekat naik gunung. Feeling saya menyatakan begitu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha, setuju mbak Susindra. Mengalahkan diri sendiri itu yang utama. Karena naik gunung gak bisa sembarangan, seperti keputusan saya ternyata. Esok kalau kesana lagi harus lebih disiapkan. Gunung bukan untuk ditaklukkan, kita yang perlu meredam ego

      Hapus
  3. Mantap mba sesuatu yang belum pernah aku coba seumur hidup hehe..gudluck y mba pun sama dg ku xixixi

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya juga baru sekali itu tergolong nekat pula. Eh, yang sama bobotnya kah? hwahahahahaha

      Hapus
  4. suamiku juga mantan pendaki gunung pas muda...pastinya seneng kalau diajak mendaki di gunung ijen

    BalasHapus
    Balasan
    1. waah, mbak prana...pasti itu. Kapan-kapan Mbak dan suami harus kesana

      Hapus
  5. mendaki gunung adalah obesesi yg blm pernah terwujud sampe sekarang..badan udah melar gini jalan dikit aja udah ngos ngosan :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. hwahahah...saya beruntung hari itu ada yang ngajakin Mbak. Kebetulan saya dibantu dengan olah tubuh, yoga. Jadi itu yang lumayan bikin bantu saya soal jaga stamina

      Hapus
  6. Keren banget Mba pemandngan Gunung Ijen dan sekitarnya.. Btw, aku juga belum pernah mendaki gunung seumur2.. Makanya salut banget sama cewek2 yang hobi mendaki gunung.. Staminanya itu lho patut diacungi jempol...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Uuh, asli ngos-ngosaaan bingit. Iya bagus mbak, sayang kamera saya waktu itu drop. Jadi ya sudahlah, saya motret sedapetnya

      Hapus
  7. betul memang mendaki fisik kuat dan harus bisa mengendalikan diri agar sampai dengan selamat

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak Tira, banget. Duuh. ngerasain banget deh betapa keduanya harus disiapin.

      Hapus
  8. Hebat mba, pastinya butuh persiapan fisik dan stamina sebelum mendaki

    BalasHapus
    Balasan
    1. ih saya mepet banget mbak, itu gak boleh ditiru. Beruntung sebelumnya saya memang aktif yoga, jadi stamina lumayan kebantu dengna latihan itu

      Hapus
  9. Ceritanya menarik banget.
    Sayang sekali waktu kami masih tinggal di Jatim tidak kesampaian berkunjung ke salah satu gunung terkenal ini .. Semoga kelak bisa ada kesempatan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. insyaAllah, mbak. Amiin.
      Jangan kesana pas musim hujan pokoknya, soalnya perjalanan bisa tambah berat.

      Hapus
  10. Kita emang perlu banget menaklukan diri sendiri, keluar dari zona nyaman, dan melampaui batas dalam hal yang positif :))) selamat mbak

    Salam,
    Oca

    BalasHapus
  11. Jadi keingetan film 5cm klo bicara gunung hihihi

    BalasHapus