07 Februari 2017

Memahami Kenapa Dia Memilih Bertahan dan Bukannya Bercerai



Sebagai tukang dicurhatin, saya terbiasa mendengar beragam topik pembicaraan. Mulai dari anak pilek, sengkring-sengkring usai sectio caesarea, sampai masalah rumah tangga yang bikin mulas pendengarnya. Widiiih, untuk ukuran nona-nona yang tidak pengalaman soal rumah tangga (tangga rumah sih paham ya) itu perkara yang berat juga. Gara-gara itu pula banyak orang “nuduh” saya belum menikah itu karena jiper dengar banyak orang curhat masalah rumah tangga. Lha gimana, wong masalah rumah tangga itu biasanya pelik bin ruwet jaya.
Tapi, swear deh kakak, saya belum menikah hanya karena belum saja. Ya, seperti rejeki dan mati begitu pun jodoh. Meski saya sudah menjolok langit dengan doa, alhamdulillah masih diberi kesendirian hingga sekarang (ihiiir...).

Eits, back to topic...Soal curhat rumah tangga. Saya pernah dapat curhatan teman yang mengalami KDRT. Semua orang bilang dia goblok karena tak mau meninggalkan suaminya. Masa, pria macam itu kok dipelihara. Yang ada cuma bikin sakit dada dan sakit jiwa. Saya tak sampai meng-goblok-goblokannya tapi tetap saja saya merasa sesak napas.  Sama seperti lainnya saya heran kenapa dia nggak cerai aja. Itu lebih aman buat dia dan anak-anaknya. Maklum terlampau sering melihat ibu dihajar ayahnya bukanlah contoh yang baik buat anak-anak itu. Secara psikologis, hal itu bisa mengganggu kejiwaan mereka. Luka batin yang dibiarkan tak tertangani bisa berakibat buruk bagi kehidupan mereka kelak.

Tapi belakangan saya bisa memahaminya. Memahami kenapa dia memilih bertahan dan bukannya meninggalkan arena. 

Pertama, menjadi janda itu tidak gampang. Ini memang benar. Tak jarang janda jadi bulan-bulanan  orang. Diomongin kesana-kemari, bahkan meski perilakunya benar. Serba salah pokoknya jadi janda itu. Tersenyum salah, nggak tersenyum ya salah. Ramah salah, jutek ya salah. Memang tidak dipungkiri ada janda yang yah begitulah perilakunya. Tetapi, nggebyah uyah pada asine (menganggap semua garam sama asinnya) jelas salah. Dan itu yang dikhawatirkan teman saya. Dia merasa gamang memandang masa depannya sebagai janda. 


Kedua, Itu ujian saya. Jadi sesusah apapun keadaannya teman saya berusaha mempertahankannya. Pilihan yang sulit. Tetapi, ya saya maklum. Sangat maklum ketika memikirkan bahwa manusia hidup itu ada ujiannya. Agar orang naik kelas memang harus melampaui banyak ujian. Masing-masing orang ujiannya beda. Ada yang diuji kaya, diuji memiliki pasangan yang penyakitan, dan lain-lain. Khusus untuk teman saya adalah pria yang ringan tangan dan malas bekerja.  Bertahun-tahun diperlakukan tidak menyenangkan, perlahan Allah memang memberi jawaban. Suaminya belakangan sudah tidak lagi main tangan. Meski penyakit menahunnya masih belum beranjak dari tempat semula. Getol betul bercokol di tubuh suaminya, apalagi kalau bukan malas bekerja. Namun, itu pun disyukuri teman saya. Alhamdulillah sudah berubah, meski masih angot-angotan soal pekerjaan, begitu katanya.

Ketiga, tak sampai hati memisahkan anak-anak dari ayahnya.  Bagaimanapun pria itu adalah ayah anak-anaknya. Jika ia bercerai dan kemudian menemukan pria baru untuk dinikahinya belum tentu bisa memperlakukan anak-anaknya dengan baik. Kekhawatiran itu memang cukup beralasan. Ia melihat sendiri orang-orang yang bercerai kemudian menikah kembali, tetapi justru menelantarkan anaknya karena tak ingin bertengkar dengan suami baru. Ini justru akan jadi dilema berat. Di satu sisi ia mencintai anak-anaknya, di satu sisi ia juga menghormati suami.  Meski badan kuat, tapi hati belum tentu. Jika terus-menerus digerus hal bertolak belakang macam itu tak urung badan juga yang jadi korban. Karena hati yang tak gembira, bisa jadi pangkal berbagai penyakit yang menyerang tubuh manusia.

Finally, saya merasa bersyukur bisa belajar dari curhat teman saya itu. Betapa ia sabar menghadapi kondisi keluarganya. Bisa jadi orang memandang “Ah, itu kan karena dia tidak berdaya! Coba kaya dan punya banyak duit kayak artis-artis, suami memble gitu pasti dipecat”. Saya justru berpikir, itu adalah upaya manusia untuk mendapatkan nilai plus di mata Tuhan. Membuat Tuhan mencintainya karena melihat kegigihannya berusaha melampaui setiap tahapan hidup yang penuh penuh tantangan.
Well, selalu ada hal positif dari yang negatif bukan?

Salam sayang dari kejauhan.

image source :  https://pixabay.com/

10 komentar:

  1. Hmmm... aku pny beberapa temen yg gini & beberapa tmn yg milih cerai. Hidup adalah pilihan, susah senang, cerai-ngga, semua kembali lagi pada individunya masing2 yang menjalani, saya yang kadang dicurhatin cuman bisa ngasih nasehat, dan dukungan aja sama temen saya yg seperti mba lakukan :)

    BalasHapus
  2. apapun yang menimpa kita, intinya kita harus bersabar..

    BalasHapus
  3. Well besar hati banget mbak temannya. Memang betul sih secara psikologis akan berimbas pada anak2 itu yg utama jika perceraian sampai terjadi.

    BalasHapus
  4. Saya pun mengenal seseorang yang cukup dekat. Suami dengan pedenya bercerita kalau dia selingkuh dan sudah menikah siri (sorry kasus suaminya ini bukan poligami yang benar spt ajaran Rasul). Kenapa si perempuan bertahan dengan rumah tangga yang ribut tiap hari? Dia takut jadi janda. It's ok, itu pilihan hidup dia. Cuma muak aja kalau denger dia buka aib suaminya. Masalah dituduh takut nikah karena sering nyimak cerita2 kayak gini, saya pun begitu dan iyain aja biar mereka girang, haha...

    BalasHapus
  5. Semua kembali ke pribadi masing2 buat memilih. Aku nyeseg bacane ya, bener2 sabar mbak temenmu itu.
    Terkadang, hidup memang butuh pengorbanan dan perjuangan berlebih untuk sebuah rumah tangga. Ini berat, tapi harus dijalani

    BalasHapus
  6. Aku pun dulu gitu mba kalo denger cerita masalah rumah tangga, kenapa sih msh aja bertahan. Tapi skrg aku ngeliat sendiri kerabat dekat yg hampir sama pengalamannya kayak cerita mba itu. Dia bertahan, tetep tinggal serumah sama suami dan anaknya. Pilihan hidup ya mba.. Sabar bgt ngadepinnya..

    BalasHapus
  7. hebat ya mbak kuat banget itu temennya...iya menyandang status janda itu memang susah ya

    BalasHapus
  8. Mungkin bisa disarankan Mbak kepada temannya untuk ikut les bela diri. Minimal Pencak Silat, karate kalau misalnya Tarung Derajat terlalu extreme.
    kalau di Bandung ada WSDK (Woman Self Defence Kopo).

    BalasHapus
  9. Kasus kaya gini buanyak banget, makanya sulit bagi komnas perlindungan perempuan utk melindungi perempuan. Karena mereka lebih memilih dibilang sabar, ketimbang dibilang percaya diri utk bercerai. Tentu saja utk kasus kdrt ya ... pdhal kalau memelihara suami yg kdrt itu lingkaran hitam utk generasinya. Anak perempuannya akan pilih suami yg serupa bapaknya. Anak laki2 akan serupa bapaknya. Ini yg hrd diubah siy mindsetnya.. dan itu susah. Sulit meyakinkan perempuan korban kdrt kalau mereka punya supporting group utk survive. Yah, semoga keluarga temannya senantiasa dilindungi Yang Maha kuasa ..

    BalasHapus
  10. Kadang klo udh ga tahan percuma juga klo dipertahanin T_T..

    BalasHapus