17 April 2017

KETIKA JALAN KELUAR ITU BERNAMA PERCERAIAN



Saya tidak tahu sejak kapan saya jadi pendengar bagi orang-orang. Saya bukan orang yang bijak, berilmu, dan pantas dimintai nasehat.  Tetapi mungkin itu hadiah Tuhan. Saya jadi belajar banyak dari pengalaman orang-orang.

Dari sekian banyak hal yang membuat saya bersedih adalah mendengar kata perceraian. Mungkin saya akan baik-baik saja di depan si pencerita, tapi setelahnya saya bisa menangis berderai-derai tanpa tahu kenapa saya yang harus menangis bukannya dia. Terutama jika orang yang hendak bercerai punya anak, saya membayangkan jika saya berposisi sebagai anak mereka. Pasti saya akan sedih melihat dua orang yang saya cinta terpisah dengan alasan PERBEDAAN YANG TAK DAPAT DISATUKAN.

Diam-diam saya membayangkan saya menjadi mereka, jatuh cinta pada seseorang dan yakin benar untuk melangkah ke gerbang pelaminan bersamanya. Sebegitu gembiranya saya maka yang  lupa untuk melakukan persiapan. Kalaupun ada, tak ubahnya persiapan layaknya orang yang pergi berwisata. Saya siapkan koper berisi pakaian dan uang serta segepok buku panduan berwisata yang menyenangkan dimana disana dijelaskan berbagai tips agar perjalanan jadi mengesankan. Lengkap dengan tempat-tempat yang harus dikunjung, dimana letaknya, naik apa. Semua serba sempurna. Yang ada dikepala hanya bagian baik-baiknya saja. Lupa kalau di jalan bisa terjadi apa-apa. Begitu pun pasangan saya.

Akibatnya ketika sampai di tempat tujuan  saya dan pasangan saya terkejut menghadapi kenyataan di depan mata.  Di belantara pernikahan yang baru itu kami tak menemukan tempat berteduh seperti yang kami harapkan. Kami harus berjibaku membangunnya mulai dari awal, dari pondasinya. Tak terkira betapa lelahnya kami berdua. Kami jadi terlalu capek bekerja dan komunikasi memburuk karena kami sama-sama kelelahan. Saat lapar makanan tidak langsung tersedia, harus dicari dan diolah dulu. Betapa merepotkan. Padahal naga di perut sudah berteriak-teriak meminta makanan. Emosi, lapar, dan kesal, kemudian menyalakan api diantara kami berdua. 

Kala makanan akhirnya tersedia, rasanya jauh dari ekspektasi. Tidak ke utara atau selatan, timur atau barat juga bukan.  Nasinya juga terlampau kasar sehingga jadi mual, mulas, dan berakhir dengan diare parah. Dalam kondisi itu kami harus mencari obat untuk kesembuhan. Tetapi, jalannya tidak mudah. Ada banyak tanjakan dan turunan. Dan ketidakbiasaan melewati medan sedemikian rupa membuat  tenaga kami terkuras. Ditambah lagi cuaca yang tak bersahabat. Ada kalanya angin berhembus kencang, kemudian turun hujan disertai kilat. Esok pagi panas menyengat, lalu malamnya dingin menusuk tulang. 

Keadaan macam ini mulai menggerus perasaan. Kami kehilangan kesabaran. Komunikasi yang nampaknya lancar sebelum pernikahan mendadak jadi hambar, bahkan penuh kepahitan. Kami mulai berdiaman, enggan berujar, karena enggan terjadi friksi yang bisa menjadi jalan perseteruan lainnya. Segalanya dipendam hingga tak sadar menjadi tumpukan sesal. Tumpukan sesal menggunung dan  memicu timbulnya percik api kemarahan. Kemarahan tak terkontrol menghasilkan jurang pemisah yang lebar. Ditambah lagi orang-orang terdekat yang dipikir bisa memberikan pertolongan justru meniupkan angin perpecahan, bukan solusi atau dukungan untuk terus meneguhkan perasaan. Pada akhirnya tak satu pun jembatan mampu menautkan lagi dua hati yang sudah berseberangan.

Begitukah?
Entahlah, saya juga tak tahu. Tapi, saya berharap semoga siapapun yang sedang mengalami masalah keluarga segera diberi jalan keluar. Masing-masing pihak diberi ketenangan untuk mengambil sikap yang matang.

Salam.



 source image : pexels










14 komentar:

  1. Amin, iya Mbak, harus sabar dan berpikir jernih ya untuk urusan dengan pasangan ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak Wahyu, kadang sedih juga kita yang kebagian denger

      Hapus
  2. aamiin, semoga diberikan yang terbaik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiin, semoga saja orang-orang yang tengah dirundung masalah semacam itu diberi keberkahan, batal berpisah

      Hapus
  3. amin mbak ... , intinya mbak kita harus selalu tahan emosi dan saling percaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. ha itu dia, Mas. setuju saya

      Hapus
  4. Bagus artikelnya mba :).. Pernikahan itu memang seharusnya kedua pasangan udh sadar dgn apa yg nantinya dihadapi yaa. Biar ga kaget, siap ama semua kemungkinan, jd ga gampang gt aja memilih cerai.. Aku sendiri trmasuk yg pernah bercerai. Mungkin krn usia kami msh terlalu muda, mungkin krn sama2 masih egois, mungkin krn aku ga bisa maafin mantan suami yg selingkuh wkt itu, ...

    Tapi buatku jd pelajaran aja sih.. Semoga pernikahan kedua yg skr aku dan suami bisa lbh kuat dan siap :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, turut senang atas pernikahan kedua Mbak Fanny. Semoga yang ini langgeng, dipenuhi berkah oleh Allah.

      Hapus
  5. baca ini pagi2 sukses bikin nangis :))
    selamat pagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. selamat pagi Neng Biker.
      Tapi, habis itu senyum kan?

      Hapus
  6. Menurut pengalaman saya, jangan berpikir percaraian kalau berniat nikah lagi karena beberapa orang bertemu dengan pria berbeda tapi kareakter dan sifat sama.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha iya itu ya Mbak Fitri...

      Hapus
  7. pernikahan memang tidak seindah cerita di drama korea, selalu banyak aral melintang :(
    perceraian adalah satu hal yang paling saya takutkan.. ya Allah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di drama Korea, akhiran cerita bisa sedemikian indah sesuai ekspektasi pembaca, di dunia nyata memang ndak semudah itu ya neng...

      Hapus