01 Mei 2017

TERNYATA INI HAL YANG BIKIN SAYA TIDAK KAYA-KAYA.



Sering saya bertanya kenapa Tuhan tidak membuat saya kaya. Setidaknya dengan kaya saya bisa melakukan banyak hal. Membantu orang tua, membantu oang lain, atau saudara. Tuhan itu nggak adil kan? Tetapi benarkah demikian? Saya merenung dan menemui bayangan diri saya. Seorang perempuan muda, dengan badan yang berisi, dan angan-angan yang terlampau luas melebihi jagad raya.

Melihatnya saya jadi tahu alasan Tuhan belum menjadikan saya secara harfiah. Secara mentalitas  ternyata  saya belum terasah, itu terbukti dari cara saya saya menyikapi banyak hal. Contohnya ketika saya ingin membantu orang. Saya sering pilih-pilih kepada siapa bantuan itu hendak diberikan. Saya terlampau takut jika kelak bantuan yang susah-susah saya berikan tidak diingat atau dilupakan. Alhasil saya mundur melakukan kebaikan. Atau bahasa mudahnya tidak ikhlas. Padahal Empunya hidup yang lebih kaya saja nggak banyang cing-cong memberi pada saya. Dalam bentuk apa saja. Dari mulai kesehatan sampai beragam kesenangan yang tidak terduga.

Saya juga cenderung mikir kalau mau memberi sedekah. Saya takut jika memberi sedekah, maka hal-hal lain yang lebih penting (bagi saya tentu saya), seperti keinginan bela-beli ini itu tak terpenuhi. Atau bahkan takut kurang jika sedekah diberikan. Oleh karena itu saya kerap batal memberi sedekah,  meski  hanya selembar seribu rupiah. 

Saya ternyata jauh dari kaya, karena saya masih suka “ngenes” kalau kehilangan barang. Nggak jarang ngumpat dan marah “kenapa mesti saya?”.
Saya juga jarang berterima kasih pada Tuhan.Bukankah seharusnya saya ngikhlasin aja? Wong semua juga dikasih pinjam sama Tuhan dan saya tidak benar-benar memilikinya seperti yang saya pikirkan.

Jadi yang kaya itu siapa? Ya yang ono, yang memiliki dunia dan seisinya.

Bantuan dari Allah pun saya sikapi dengan biasa, karena saya pikir berhak mendapatkannya. Dan merasa tidak perlu mengatakan apapun kepada-Nya, bahkan dalam bentuk kalimat sederhana “Thanks Allah” misalnya. 
Padahal Allah  yang kaya itu seringkali memberi saya rejeki tidak terduga. Tidak melulu berupa uang, tetapi sambutan baik teman, makana, dan lain-lain yang saya lupakan. Anggapan
Anggapan saya itu rejeki nomplok doang. Lupa kalau yang mendadak nomplok juga sudah diatur-Nya.

Sampai di titik ini saya menyadari, ternyata inilah penyebab doa saya belum dikabulkan-Nya. Allah ingin saya belajar lebih banyak bagaimana seharusnya seorang kaya bersikap.

Salam dari kejauhan.

Hug, hug.

source image :  pixabay

16 komentar:

  1. Terima kasih ya mbak, jadi reminder untuk saya juga nih :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama-sama Mbak Dwirani, terima kasih sudah mampir

      Hapus
  2. Intinya banyak2 bersyukur ya mba, ia, kadang2 aku masih kurang bersyukur, bahan instrospeksi diri

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya Mbak Zefy, dan soal syukur ini pun saya kerap lupa

      Hapus
  3. Bgs artikelnya mba.. Pengingat utkbaku juga, supaya bisa lbh rajin dan ikhlas kalo kehilangan sesuatu :). Ga ada 1 pun yg kita punya ini, bener2 hak milik kita. Semuanya punya Allah ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, kita cuma dititipi...hihi, terima kasih sudah mampir dan komentar Mbak Fanny

      Hapus
  4. Terkadang kita sering terpaku pada istilah " kaya adalah kaya harta". Padahal kesehatan dll juga merupakan anugrah yang juga bisa disebut kekayaan kita.Tapi kita paling sering lupa mensyukurinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget Mbak Mutia, mungkin karena kaya harta lebih nampak di mata manusia.

      Hapus
  5. yang penting kaya hati, gak lupa bersyukur dan bantu orang mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. ha, bener itu Mas Ikrom Zain.

      Hapus
  6. Alhamdulillah.... allah sudah kasih aku kaya dengan sehat... kaya akan canda dan hubungan yang baik dan mesra dengan suami... bahagia lahir batin adalah kekayaanku yang aku sukuri saat ini...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah saya juga turut seneng nih dengan soal hubungan baik dengan suami. Itu suatu hal yang pantas disyukuri banget ya, Mbak.

      Hapus
  7. Alhamdulillah... saya pun demikian. Kaya yanh melekat pada saya semenjak lahir iaitu kaya membantu oranglain dengan sedikit yang saya punya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha justru kekayaan yang mbak sebutkan itu butuh keikhlasan banget. Syukur banget Mbak Fitri memilikinya, it's awesome!

      Hapus
  8. Benar mba.. Saya pun terkadang demikian mba.. Nice Sharing mba :)
    Kaya itu ketika kita bersyukur atas apa yang telah kita terima dari Allah SWT :)
    rodhiyatummardhiyah.bogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya itu ya Mbak Mardhiyah, kita suka nggak sadar soal itu. Terima kasih sudah mampir kemari

      Hapus