19 Juni 2017

KARENA BAHAGIA NGGAK PAKAI UKURAN KOLOR TETANGGA




Saya pikir, bahagia itu berarti memiliki suami tampan, mapan, dan rupawan. Tetapi yang memiliki ketiganya ternyata memilih untuk bubar jalan. Memiliki suami tampan, mapan, dan rupawan itu tak seindah impian. Dia manja, banyak maunya, dan tidak dewasa. Kerap melabuhkan hati dimana saja. Lupa kalau sudah beranak-pinak. 

Lalu bahagia itu apa?

Oh, mungkin ini yang dinamakan bahagia itu berwajah cantik dan memiliki pekerjaan hebat. Pasti jadi perempuan itu bahagia. Tetapi, sepertinya tidak begitu ceritanya. Si cantik dengan pekerjaan hebat itu memiliki kehidupan rumit bak sinetron. Ia memang berjaya dalam kariernya, wajah cantiknya juga tidak usah diragukan. Namun ia harus menghadapi situasi yang tidak menyenangkan. Suaminya dituduh melakukan korupsi dan kemudian dipenjara. Ia juga tidak bisa sembarangan berkata-kata kepada orang, karena banyak hal yang harus dijaga. Ia juga tidak memiliki banyak waktu untuk bercengkrama dengan teman-temannya. Karier yang bagus itu sudah menyita waktunya. Praktis hidupnya adalah kantor dan rumahnya. Lainnya? Bukan tidak ingin, hanya waktunya yang tidak bisa.


Lalu bahagia itu apa?

Hm, kurasa ini dia yang namanya bahagia. Berharta dan bisa memiliki apapun yang diinginkan. Ingin tamasya keluar negeri tak perlu repot uang sakunya darimana. Ingin makan enak, tak perlu khawatir harganya. Ingin beli mobil, rumah, dan hal-hal mewah ah mudah saja! Tetapi, kenapa setiap hari yang memiliki hal-hal itu menggerutu. Merasa menjadi orang yang paling tidak beruntung sedunia? Merasa sedih karena anak-anaknya mendekat hanya saat butuh saja, terutama butuh sesuatu yang terkait uang atau harta. Bukan karena benar-benar “menginginkannya”.

So, bahagia itu apa?

Orang-orang biasa yang saya temui justru menyampaikan lewat sikap hidup mereka, bahwa bahagia itu terkait dengan hati kita. Saat hari bersyukur atas apa yang kita punya, kita akan lebih mudah menerima segala hal dengan gembira. Susah juga gembira, apalagi bahagia. Segala kesenangan dunia, yang kerap menjadi tolak ukur kesukesan seorang manusia, bisa jadi dia menjadi sumber ketidakbahagiaan kita
Lebih jauh, deretan orang-orang itu menyeru lewat gayanya hidupnya agar “Jangan mengukur bahagia dengan ukuran kolor tetangga”. Meski bagus buatnya, belum tentu buat kita. Bisa jadi ukurannya tak cocok dengan kita. Maka puaslah saja dengan kolor yang kita punya. Itu justru membuat hati tenang, dan tak sibuk menilai-nilai orang lainnya. Sekaligus membebaskan hati dari ketidakpuasan yang berujung dengan gerutu kesal. 

Hug, hug.

image source :  https://pixabay.com

9 komentar:

  1. Happiness is homemade, karena bahagia itu datangnya dari diri sendiri,

    BalasHapus
    Balasan
    1. setuju mbak Tian, bahagia itu ada memang datangnya dari diri sendiri

      Hapus
  2. Kalau mau ngerasain oleng juga gak papa, Mbak makek kolor tetangga. Jadi, pas kegedean, da tahu rasanya melorot, dan pas kekecilan, dia tahu rasanya sesak napas. :)

    BalasHapus
  3. Hihi..analognya kok kolor Mak, ngebayangin pakai kolor tetangga, gak deh ��

    BalasHapus
  4. Suer deh, judulnya itu lho mak hahahhaaa.....pake kata kolor

    >o<'

    BalasHapus
  5. gak pernah ngeliat tetangga koloran doank... gimana donk. wkwkwkkw

    BalasHapus
  6. Bahagia saya kalau bisa bersyukur, gawat kalau lupa bersyukur kan?

    BalasHapus
  7. hahaha... istilah "kolor" tetangga mengalahkan "hijaunya rumput" tetangga. Setuju. Bahagia itu hanya kita yang bisa merasakannya. Nggak bisa disamakan dengan kebahagian orang lain. Yang jelas sih mensyukuri nikmat yang kita miliki. Insya Allah bahagia akan datang denagn sendirinya.

    BalasHapus
  8. Bahagiaku simpel Mbak, keluargaku kecilku sehat dan bapak ibuku bahagia. Sudah cukup.

    BalasHapus