07 Agustus 2017

SAAT KAU MERASA HIDUPMU SERASA MANUSIA DI EMPER TOKO (CUMA BISA MELIHAT ORANG-ORANG MENDAPAT YANG DIINGINKAN SEMENTARA KITA MELONGO)






Apakah pernah Anda berada di emperan toko? Anda hanya bisa melihat orang-orang lalu-lalang masuk ke dalam toko yang megah di seberang, tanpa Anda bisa mengikutinya. Anda ingin tapi tidak bisa. Perasaan iri muncul tatkala melihat orang-orang itu tertawa sambil menenteng belanjaan. Sedih melihat mereka bisa menikmati makanan di sebuah kedai gerai siap saji di lingkup toko besar itu sementara Anda menelan ludah. Melihat ke arah lain, Anda hanya bisa menghela napas sewaktu menatap orang-orang menikmati kopi di kedai paling gaya dalam lingkup toko besar itu juga. Sedangkan Anda? Jangankan kopi, uang saja tinggal seribu rupiah. 

Anda mulai mengutuki keadaan. Mungkin juga mulai mengutuki Allah. Bertanya sembari memaki kasar kenapa Allah yang Maha Pemurah itu tak kunjung membuat hidup Anda naik kelas? Anda masih ada di level terbawah. Level kelas teri, itu teri kualitas rendah. Bukan teri berkelas yang dijajakan di toko-toko besar kenamaan. Usaha Anda seperti berhenti di tengah jalan. Anda tidak mendapat kesuksesan justru harus menghadapi kenyataan kalau usaha Anda terancam gagal. Anda tidak tahu sampai kapan bisa bertahan dengan uang seribu rupiah itu.

Apa sih mau Allah? Jika dia Maha Pemurah seharusnya Allah memudahkan jalan Anda. Bukankah Anda sudah bekerja keras? Anda bahkan memulai usaha itu dengan niat baik. Allah sungguh tidak adil!
Apakah Anda tahu, niat baik Anda sedang diuji? Diuji dengan beragam persoalan sampai Anda megap-megap rasanya. Anda seperti masuk goa, dimana disana tidak ada sedikit pun cahaya. Anda mulai dilanda kecemasan, rasanya melangkah kemanapun jadi terasa salah. 

Itu pula yang pernah saya alami seusai melepaskan diri dari pekerjaan kantor kurang lebih lima tahun lalu dan beralih profesi menjadi penulis. Tetapi seiring waktu, saya mulai bisa menyesuaikan diri. Saya tidak lagi kebingungan di hidup di tengah goa yang gelap itu (baca : kesusahan). Mata saya mulai terbiasa dalam kegelapan, saya bisa melihat jalan meski remang. Kadang-kadang...oh tidak bukan kadang tetapi seringkali saya merasa bosan. Perjalanan melewati goa itu amat panjang dan saya mulai jengkel karena tak juga mencapai ujungnya.. Tidak jarang saya berniat berhenti dan balik kanan, kembali ke awal. Tetapi, jalan yang saya tempuh sudah jauh. Tak terbayang kalau harus kembali lagi.


Waktu lima tahun itu membentuk saya. Memoles kembali saya. Menunjukkan saya banyak hal hebat yang baru saya rasa belakangan. Kesukaran, gagal, tidak punya uang, memberikan perspektif baru pada diri saya. Perspektif positif tentunya. Saya dulu seorang penakut, sebelum memulai mencoba hal-hal baru saya akan berpikir panjang lebih dulu. Alhasil saya mundur karena takut bayang-bayang. Tetapi, sekarang berbeda. Saya akan maju, mencobanya, jika tidak berhasil itu soal belakangan. Saya, si petasan banting, yang dulu susah betul menjaga emosi, jadi belajar mengendalikannya. Kalaupun impian saya tidak tercapai, saya cukup menghela napas sejenak, lalu melepaskannya. Tidak lagi marah-marah apalagi mengutuk keras. Saya tahu, Allah pasti lebih tahu yang terbaik untuk saya.

Selama itu pula saya belajar bahwa berproses itu penting sebelum menuai hasil. Butuh waktu panjang dan pengorbanan agar sampai tujuan. Jika pun tujuan tak sepenuh tercapai, selalu ada efek baiknya. Tangguh, tekun, sabar, berpikir positif, dan lebih “ringan” jika harapan meleset dari jangkauan adalah deretan hal yang saya pelajari selama lima tahun itu. 

Tapi, apa yang saya alami itu tidak seberapa. Masih banyak orang-orang yang cobaannya melebihi saya, namun masih bisa tersenyum dan menjalani hidup tanpa keluhan. Dan orang-orang itu mengajari saya, keluhan tak mengubah apapun. Kecuali menambah beban perasaan. 

Karena itu saya berpikir lima tahun itu adalah  tahun-tahun terbaik saya. Saya melewati “masa kuliah” dengan segala pontang-panting dan dramanya. Saya berpikir, jika hidup saya dimudahkan bagaimana saya akan menghadapi masa depan? Mampukah saya mengatasi kesulitan di masa itu jika saya tidak belajar tangguh tahun-tahun sebelumnya? Jika saya dimudahkan, apakah saya akan menghargai kesuksesan? Mungkin saya jumawa, mengira itu hasil keringat saya, tanpa campur tangan Empunya dunia.

Dan bagaimana denganmu? Apakah kau tengah mengalaminya sekarang? Aku hanya ingin bilang ,”Bertahanlah dan teruslah berjalan, kawan. Bahkan saat kau merasa hidupmu serasa seperti manusia di emper sebuah toko. Hanya bisa melongo melihat orang-orang membeli apa yang diinginkannya. Suatu hari kerja kerasmu berbayar dan kau akan berada di dalam toko itu. Bukan di emperannya lagi.”

Salam dari kejauhan.
Hug, hug.
sumber gambar : https://pixabay.com/

6 komentar:

  1. Huuu, hug back

    BalasHapus
  2. Intinya sabar yaa bang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Kak, sabaaaar, sabaar, sabaaar

      Hapus
  3. Tp kadang jd orang yg Berada di dlm tokonya, dan melihat orang lain yg diemperan hanya bisa melihat, juga bikin miris mba.. Pengalaman yg aku rasain sendiri pas di manila.. Kita sdg makan di salah satu gerai fast food, dan beberapa anak yg kliatan lapar, hanya melihat dr jendela :( . Rasa2 makanan ga bisa ketelan jadinya sebelum akhirnya berbagi dengan anak2 itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha, itu dia Mbak Fanny...nyesek ya

      Hapus