12 September 2017

MENEROBOS FIRDAUS MINI DI KAWANGSARI



Kawangsari masih terdengar asing di dunia wisata Banyuwangi. Terletak di kampung Kawangsari, desa Wringin Putih, kecamatan Muncar, blok mangrove ini  belum banyak dikenal oleh masyarakat luas. Berbeda dengan Pulau Merah, Teluk Ijo, atau justru Kawah Ijen yang sudah mendunia, kawasan ini baru saja muncul ke permukaan. 

Untuk mencapainya Anda harus melajukan kendaraan menuju desa Tembokrejo, langsung menuju desa Wringin Putih. Dari jalanan beraspal desa ini, Anda akan diarahkan menuju Kawang, melewati rumah-rumah penduduk yang berselang-seling dengan areal persawahan. Perjalanan mendekati akhir bila Anda mendapati deretan tambak-tambak yang memanjang di kiri-kanan jalan.  

Di terik siang itu, tambak-tambak tampak lengang. Tidak ada aktivitas apapun karena sudah lama ditinggalkan. Di masa silam tambak-tambak ini pernah berjaya. Setiap hari dipenuhi aktivitas dari pemilik dan pekerja tambak yang sibuk mengurusi benur hingga jadi udang siap ekspor. Tetapi, fenomena penyakit “white spot” yang menyerang tambak-tambak udang bertahun-tahun silam, membuat usaha ini mulai ditinggalkan. Untuk membangunnya kembali butuh biaya yang mahal. Sehingga banyak  pemilik tambak yang kemudian menonaktifkan lahan tambak miliknya. Tetapi, beberapa bertahan. Dan tetap mengurusi tambaknya hingga sekarang.

SUDAH BANYAK PERUBAHAN

Setahun lalu tak ada apapun disini, sejauh mata memandang hanya sunyi

Setahun silam saat saat saya dan teman-teman datang, yang kami temui di Kawang hanya kesunyian. Tak ada apapun kecuali geliat bakau dihembus angin, rumput-rumput liar, serta cemara muda yang sengaja ditanam untuk program reboisasi pantai. Sesekali kesunyian dipecah oleh suara burung-burung yang tak nampak wujudnya. Tersembunyi diantara lebatnya kanopi bakau, hingga hanya kepak dan suaranya saja yang tersampai pada kami. Kadang terdengar kaok-kaok burung entah jenis apa, menyelusup diantara sunyi. Meski tidak sering terdengar tetapi suaranya yang keras terdengar dominan. Tak jarang, beberapa kadal dan kepiting kecil bertangan merah muncul menjadi teman sembari kami mengipas-ngipasi ikan yang tengah kami bakar. 


Areal yang dulu sunyi kini menjadi kawasan Konservasi Mangrove dan Cemara Kawang

Tetapi, kini Kawangsari atau Kawang sudah banyak berubah. Blok mangrove yang kini dikenal sebagai Kawasan Konservasi Mangrove dan Cemara Kawang tak lagi sunyi. Perawan yang dulu tersembunyi di antara tambak-tambak yang terbengkalai itu kini telah menunjukkan tajinya. Menggeliat dan berangsur menjadi primadona wisata baru di kawasan Banyuwangi.

KAWANGSARI, SEMAKIN MOLEK KINI
Berada di teluk Pang-pang, kawasan konservasi Kawang semakin menarik hati. Jika dulu nampak kotor dan tak tertata rapi, kini kondisi tempat wisata ini telah berubah.  Rumput-rumput liar sudah dibabat. Cemara-cemara muda telah tumbuh dan memayungi sebagian besar dataran kosong yang ada di area ini.  Fasilitas dasar seperti kamar mandi dan mushola, juga dibangun disana, meski sederhana. Warung-warung makan yang menjajakan menu-menu sederhana pun sudah tersedia.

Sekumpulan orang sedang berteduh dibawah naungan cemara

Yang paling mengasyikkan adalah kemudahan bagi pengunjung untuk menjelajahi kawasan ini. Jika dulu harus menanti air laut surut untuk bisa menjelajahi Kawang, kini tidak lagi. Orang bisa menjelajahi hingga tepi pantai Kawang dengan jembatan bambu yang sengaja dibangun untuk menghubungkan areal hutan cemara hingga ke ujung hutan mangrove. Jangan lupa mengabadikan perjalanan Anda disini. Percayalah, tempat yang alami ini memiliki banyak spot yang asyik untuk dijadikan obyek fotografi!

Jembatan cinta dari atas menara

Di ujung hutan mangrove, jembatan tak berhenti. Tetapi dibangun menyerupai bentuk love. Anda bisa berselfi disini, berlatarkan lebatnya hutan mangrove atau justru pemandangan laut lepas, sementara angin laut dan sinar matahari menerpa wajah. Tak puas berada disini Anda bisa berpindah ke menara pandang. Dari atas menara ini, Anda bisa memotret jembatan cinta tersebut secara penuh. Tidak perlu takut jatuh. Menara ini cukup kokoh untuk menopang  selagi Anda memotret. Ukurannya tak terlalu besar, tetapi tersedia cukup ruang bagi Anda untuk bergerak bersama beberapa teman. Akan lebih menyenangkan jika acara duduknya diselingin dengan makanan. So, jangan lupa bawa perbekalan. Entah berupa makanan kecil atau makanan berat. Malas bawa dari rumah? Beli saja di bagian depan, tepat di sisi kiri pintu masuk. Disana tersedia makanan yang Anda butuhkan.

Oh ya, bagi Anda yang tak terbiasa dengan ketinggian, menaiki menara pandang memang bikin gamang. Jadi, jika Anda tak berani lebih baik berada di dasar saja. Ini lebih aman bagi Anda. Tak perlu cemas tak ada tempat untuk duduk di lantai dasar menara. Bagian ini cukup lapang juga. Sepuluh orang duduk disini pun masih bisa.

BANJANG-BANJANG NUN DI KEJAUHAN

Banjang-banjang dari atas menara, hanya nampak serupa garis-garis panjang tipis di kejauhan

Dari ujung jembatan cinta, Anda akan disuguhi pemandangan berupa konstruksi bambu di tengah lautan. Konstruksi macam itu tidak aneh bagi penduduk lokal, tetapi jelas asing bagi para pelancong. Oleh penduduk lokal konstruksi tersebut dinamai banjang. Banjang merupakan alat penangkap ikan secara tradisional, dimana bambu sebagai tiang dan jaring sebagai pembatas. Biasanya terdiri dari beberapa bagian yaitu kantongan, kamar satu dan kamar dua, pani, serta penaju. Pani merupakan berfungsi sebagai mulut banjang, sedangkan penaju berguna sebagai penggiring ikan untuk masuk ke dalam banjang. Sementara kantongan beserta kamar satu dan dua merupakan tempat nelayan memanen ikan. 

Tak semudah kelihatannya, berjalan menyusuri pantai Kawang yang surut butuh usaha tersendiri

Untuk mendekatinya, Anda bisa turun melewati undakan kecil di ujung jembatan cinta, dan berjalan menyusuri pasir pantai Kawang. Tidak seperti berjalan di pantai biasa, berjalan di pesisir pantai Kawang butuh effort lumayan. Pasalnya dataran yang terhampar merupakan campuran lumpur dan pasir yang ketebalannya bervariasi, antara 10-50 cm. Kondisi ini membuat dataran di tepi bakau itu tidak mudah dilalui. Bila Anda memakai sandal jepit sebaiknya dilepas saja, sebab kalau terjeblos dalam lumpur akan sulit diambil. Kalau dipaksa, sandal malah bisa putus dan tinggallah Anda gigit jari.  Selain itu Anda juga harus hati-hati, sebab ada ranjau disini. Bukan ranjau betulan, melainkan pecahan kerang pantai yang tajam. Jika Anda tak hati-hati, wew...bisa menggores kaki, euy!  

Sayangnya Anda tak bisa melakukannya di saat pantai rob seperti sekarang. Jika Anda ingin mendekat banjang-banjang ini, pastikan laut dalam kondisi surut. Sehingga Anda bisa berjalan tenang menyusuri pantai hingga ke areal tersebut.

MENARA KEMBAR, SPOT BARU YANG MENAWAN
Kini tak hanya jembatan cinta (atau aslinya bernama jembatan anti galau) yang jadi destinasi utama disana. Tetapi, ada juga menara kembar yang baru saja dibangun sebagai tujuan melancong lainnya. Dari pintu masuk, Anda akan menemukan sebuah jembatan lain yang menghubungkan daratan kawasan Kawang, yang sengaja dirancang berliku, membelah kelebatan hutan bakau.

Jembatan bambu diantara bakau di kawasan Konservasi Mangrove dan Cemara Kawang

Di awal, deretan pohon bakau yang menjulang akan menyambut Anda. Seperti biasa, sepanjang alur  jalan, suara “krek-krek” khas jembatan bambu, akan menemani sepanjang perjalanan. Bersama kesiur angin yang berhembus, aduh...rasanya perjalanan jadi kian menyenangkan. 

Seperti halnya di jembatan pertama, disini pun rasanya tak lengkap jika tak selfie atau wefie bersama teman. Tak lupa pula mengabadikan keindahan Rhizopora sp., yang menaungi jembatan. Dimana ranting-rantingnya yang terjulur dipenuhi oleh daun berwarna hijau segar. Mendekati ujung hutan bakau, terdapat peristirahatan yang dibangun di kiri dan kanan jembatan. Anda dan sejawat bisa beristirahat disini, menikmati semilir angin sembari menyesap minuman.


Namun, jika Anda ingin cepat sampai ke menara kembar, terus saja jalan. Di ujung jembatan ada dua buah menara pandang, yang sengaja dibangun untuk kenyamanan para wisatawan. Jika malas naik ke lantai atas, Anda bisa duduk di bagian lantai dasarnya, sembari menikmati ombak yang bergerak pelan ditiup angin siang. Tak hanya ombak yang senang ditiup angin, Anda pun demikian. Berasa betul sejuknya duduk di tempat ini. Segenap letih dan penat serasa kabur tatkala wajah dan tubuh dibelai angin-angin pantai.

Rhizopora sp., yang tumbuh lebat di kawasan Kawang

Tetapi, tidak hanya pemandangan indah saja yang bisa Anda dapatkan di kawasan Konservasi Mangrove dan Cemara Kawang. Anda juga bisa sekalian belajar disini. Di beberapa tempat Anda akan melihat papan nama yang menjelaskan bahwa pohon bakau yang Andai lewati adalah jenis Rhizopora apiculata. Di tempat lain, ada juga papan yang menunjukkan jenis rajungan atau kepiting apa yang menjadi penghuni pantai Kawang. Bahkan terpajang pula papan yang berisi penjelasan tikus jenis apa yang ada di wilayah tersebut. 
 

Nah, kawan tunggu apalagi? Ajaklah teman untuk menerobos firdaus mini di Kawangsari. Segera pesan tiket pesawat atau kereta api  serta tempat menginap via tiket.com untuk liburanmu nanti. Dan rasakan sendiri betapa menakjubkan pemandangan di areal Konservasi Mangrove dan Cemara Kawang ini.








6 komentar:

  1. Subhanallah, indahnya... tfs Maak

    BalasHapus
  2. apike fin jembatan dengan view laut lepas ituuuh

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya Mbak, bagus banget memang

      Hapus
  3. waa ada menara eifel :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe....menara eifel konstruksi lokal

      Hapus