SIKAPI KEGAGALAN SEBAGAIMANA NELAYAN BERJUANG MENDORONG PERAHU KE LAUTAN



Kadang ada satu masa di mana kita merasa bosan dan putus asa. Terlebih ketika yang kita upayakan gagal di depan mata. Seperti yang saya alami hari itu, ketika mendatangi pantai Pecemengan untuk menikmati sore di sana. Saya nampak baik-baik saja di luar. Akan tetapi, di dalam saya tengah berkutat dengan perasaan tidak nyaman akibat kegagalan. Naskah novel yang saya kirimkan untuk lomba, gagal. Tidak masuk final. Naskah dua cerpen anak saya pun demikian.

Hal pertama yang saya lakukan usai membaca pengumuman lomba-lomba tersebut adalah kesal. Disusul dengan gerutuan ,"Tahu begini nggak usah ikut saja. Sudah susah-susah menulis, tak ada satu pun yang nyangkut juga."

Namun, Allah yang baik justru memberikan pelajaran gratisan dari dua orang nelayan tua yang berupaya mendorong perahunya ke tengah lautan di Pantai Pacemengan. Perahu itu jelas tidak ringan. Mendorongnya ke lautan, untuk kemudian digunakan berlayar mencari ikan, jelas butuh butuh kekuatan. Lalu bagaimana caranya agar si perahu sampai ke tepi pantai Pacemengan dari tempatnya ditambatkan? Bisakah hanya dilirik saja?

Tentu tidak. Dua nelayan itu harus menyorongnya terlebih dulu. Dengan bantuan dua gelondong kayu yang ditaruh di bawah perut perahu, mereka bergotong-royong mendorong perahu. Tak hanya separuh tenaga, seluruhnya dikerahkan pada tolakan pertama. Perahu teranjur, nelayan pun menghentikan tolakan. Pada usaha berikutnya, perahu bergeming. Tidak beranjak jua meskipun kedua pria tua itu telah mengeluarkan tenaga sepenuhnya.

Namun bukannya diam seperti saya sewaktu menuai kegagalan, dua nelayan tua berdiam sejenak untuk mengatur langkahnya. Dengan kedua kakinya, gelondong kayu yang ada di bagian buritan dimajukan. Rupanya mereka menyadari, menaruh gelondong kayu di ujung buritan, membuat perahu susah bergerak. Benar saja. Begitu gelondongan kayu itu ada di tengah, perahu bergegas maju begitu didorong kedua nelayan itu.

Usaha semacam ini dilakukan mereka berulang-ulang. Hingga kapal tiba di tepi pantai dan siap digunakan berlayar, mencari ikan di tengah lautan. Bukannya berhenti di tengah jalan, membiarkan kapalnya terdampar di atas pasir meski kelelahan.






Di titik itu saya diam. Saya seperti melihat diri saya sendiri di sana.  Berupaya sepenuh tenaga, namun hasilnya tak seperti harapan. Tulisan-tulisan saya gagal jadi finalis lomba. Bedanya ketika dua nelayan tadi sibuk melakukan upaya lain setelah gagal, saya kebalikannya. Saya sibuk merutuk dan meratap.

Seharusnya saya meniru mereka. Tidak berhenti berupaya meski upayanya gagal. Berhenti sejenak tak apa. Akan tetapi bukan berputus asa, melainkan untuk mengatur langkah berikutnya. Sekali gagal, bukan berarti dihentikan. Harus ada upaya keras agar cita-cita sampai ke tujuan. Bukannya dibiarkan mangkrak di tengah jalan, karena orangnya sibuk mengasihani diri sendiri.

Diam-diam saya tersenyum, merasakan tamparan yang diwartakan oleh angin sepoi di pantai Pacemengan. Sepotong syukur terlontar diam-diam, bahwa hari itu saya mendapatkan hadiah yang tak ternilai di sana. Isinya pengingat agar saya bisa menyikapi kekalahan sebagaimana nelayan berjuang mendorong perahu ke lautan. Gagal, diulangi. Gagal, diulangi lagi. Bukan malah berhenti dan merasa usaha yang sudah dilakukan sia-sia belaka.

Pada akhirnya sore pun menua. Dua nelayan pantai Pecemengan sudah selesai menunaikan tugas awalnya. Mengantarkan perahu sampai ke tepian pantai, di mana ombak menepi menjilati lambung perahu. Senyampang mereka bersiap untuk berlayar, saya memilih pulang. Bukan dengan tangan hampa, melainkan seraya membawa pesan penting dari-Nya, bagaimana cara mengatasi keadaan apabila harapan tak berjalan sesuatu keinginan.

Salam.

Komentar

  1. MasyaAllah, begitu hebatnya semangat oara nelayan. Kita patut menirunya ya mbak😍 salam kenal ya mbak😉

    BalasHapus
  2. Ikut lomba, berjuang habis-habisan (versi kita), eh, giliran pengumuman ternyata hasilnya tidak sesuai dengan keinginan kita. Ya, kecewa, pasti. Kesal, tak akan terbantahkan. Akan tetapi, kalau berlarut-larut memang justru kita yang bakalan lelah, diam, tak bergerak. Kalah, koreksi, cari letak kekalahan itu darimana.

    BalasHapus
  3. samaaa.. aku br gagal lomba indiva nih. masuk finalis aja enggak. comico udah big 20 ternyata gagal. naseb oh naseb ahahah tp msri berjuang! sm kyk nelayan2 itu. bergeming, lalu coba lg.

    BalasHapus
  4. Seperti Allah sedang mengajarkan sesuatu lewat 2 nelayan tua, terima kasih nasihatnya mb. Salam kenal.

    BalasHapus
  5. Nah, itulah gunanya piknik. Bisa refreshing sekaligus menyesap motivasi dari mana saja. Cemunguuud Kakaak

    BalasHapus
  6. Gagal..bangkit lagi..gagal..bangkit lagi ya mb, semangat mb. ( doa yang sama buat saya juga soalnya🙄)

    BalasHapus
  7. Terkadang kejadian-kejadian di luar membuat kita jadi banyak belajar.

    BalasHapus
  8. Wah, langsung dapat pelajaran berharga ya. Tetap semangat berkarya. Gagal 1 tumbuh seribu!

    BalasHapus
  9. Bagus sharingnya mbak... :) setuju banget, walaupun kadang sulit diterapkan pd diri saya. Masih sering tergoda untuk berhenti saat gagal. Harus banyak belajar agar bisa melecut diri tanpa tergantung dorongan eksternal nih... Hehe

    BalasHapus
  10. Masalah ini saya alami di awal-awal ikut lomba, Mbak. Padahal udah tahu ya, konsekuensi lomba yan cuma dua, kalau nggka menang ya kalah, tapi kok ya masih kecewa. Tapi itu dulu, sekarang mah bodo amat, hehehe. Yang penting udah kerja maksimal, kirim, lupakan. Kalau menang ya girang dong, hehehe.

    BalasHapus
  11. Jika kita melihat dan mengamati sekeliling akan banyak ditemui orang-orang seperti nelayan itu. Maka harusnya kita sadar, nikmat Tuhan mana lagikah yang akan kita ingkari?

    BalasHapus
  12. Kegagalan adalah sukses yg tertunda. Smgt ya...

    BalasHapus
  13. Terima kasih atas sharingnya Mbak. Kegagalan jangan membuat kita patah arang, tapi jadikan kegagalan untuk terus berjuang dan melangkah. Saya sendiri kalau gagal pun merasa sedih, tapi sedih sebentar boleh nggak lama-lama 😁🤭

    BalasHapus
  14. sungguh nice sharing Mbak, mau dan mampu menangkap hikmah dari kejadian2 dalam kehidupan itu sungguh sesuatu sekali, bikin kita mawas diri ya Mbak.. Sungguh Allah memberi banyak hikmah dan anugerah jika kita mau mendalami dan berfikir..

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

KEGEDHEN EMPYAK KURANG CAGAK

Kiprah Fiya Mendorong Tumbuhnya Budaya Literasi di Lingkungan Sutri

HAND SANITIZER KADALUARSA? MANFAATKAN SEBAGAI PENGHILANG NODA TINTA!

TONGKAT MADURA MILIK MAYA

KERIPIK AYAM LA FOREST : HUH HAH, RENYAH, PECAH!