Tampilkan postingan dengan label Flash Fiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Flash Fiction. Tampilkan semua postingan

12 Juli 2013

KOMPAS


Ransel telah siap di tangan. Lelaki bersiap meneruskan perjalanan.
“Sebentar,” cegah si perempuan.
“Ada apa?”
Perempuan membuka tangan. Ada kompas terulur ringan.
“Kompas?” Lelaki itu penuh tanya
“Ya, agar kau tahu arah pulangmu,” jawab si wanita.


FF 37 kata


pic taken from : www.survivalnewsonline.com

30 Maret 2013

NGIDAM



“Bukan!” Yumi mengerutkan mulutnya tak senang.
Aku melongo menatap perempuan yang perutnya membuncit berisi bayi kami tersayang. “Tapi tadi kau memintanya,” kataku tak karuan. Berusaha sabar meski sebenarnya ingin sekali mengumpat kencang.
“Bukan yang ini, Bang!”
“Yang bagaimana lagi? Ini sudah sesuai pesanan, bukan?” Aku menggaruk rambut tak sabar.
Mata Yumi mulai berkaca-kaca, suaranya bergetar saat berkata ,”Bukan, bukan ini...”
Ia membuang buah sembarangan, menaikkan kemarahanku ketingkat sembilan.

Hmmmh! Aku mengepalkan tangan. Kupejamkan mata sejenak sebelum akhirnya berkata penuh bujukan ,”Yumi...kesayangan Abang, ayolah. Abang susah lho nyarinya. Dimakan gih?”
“Tapi bukan yang begini, Abang!” Yumi bersedakap, mempertontonkan kekeraskepalaannya.
“Yang bagaimana, Sayang?” Aku menghela napas panjang.
“Yang segar, Bang, dipetik langsung  dari pohonnya.”
“Ha?”
Mendadak aku jadi pusing mendengarnya. Dimana ada pohon manggis di tengah kota Jakarta? Oh, nak, kenapa sih Bundamu mintanya yang ada-ada saja?Terus piye iki?
“Tapi Abang yang metik ya?”
Apa?! Aku kan takut ketinggian...


pic : taken a few weeks ago, at home
While hearing My favourite Japanese song’s : You’re The Only (Ono Masatoshi), First Love (Utada Hikaru), True Love (Fumiya Fuji) and etch

07 Desember 2012

SEBATANG POHON KEBENARAN




Sebatang pohon itu bernama Kebenaran. Amat sulit menumbuhkannya di masa sekarang. Ia menghendaki tempat tumbuh tidak sembarangan. Ia takkan berkembang jika hati diliputi keserakahan, keinginan untuk memiliki hal yang bukan milikmu, dan kedengkian.
Jangan khawatir, jika kau bersikeras menanam akan ada banyak kendala menghadang. Mulai dari hama, cuaca tak bersahabat serta cibiran akan datang tanpa diundang.
Bukan hanya itu, pohon kebenaran itu juga tergolong pohon yang lambat berkembang. Pertumbuhannya hanya perlahan-lahan, tidak secepat yang kau harapkan.
Tapi percayalah, ia akan menghasilkan buah yang menyenangkan. Tak terlalu manis, tapi cukupan. Yang ketika dimakan akan memberikanmu kesehatan dan bukannya penyakit sebagai efek sampingan.

Tapi sebatang pohon kebohongan lebih menarik untuk ditanam. Ia bisa tumbuh di segala medan. Tak perlu pupuk untuk menyuburkan sebab ia mendapat energi dari tiap dengki, iri, dan keserakahan. Tanpa sadar ia begitu cepat berkembang. Sebab hampir tak ada hama yang bisa membuatnya lambat dalam pertumbuhan. Daunnya rimbun dan buahnya secepat kilat bisa bermunculan. Maka tak ayal pohon menanam pohon ini begitu menggiurkan.
Setiap orang yang pernah merasakan buahnya akan menggeleng-geleng kesenangan. Duhai betapa lezatnya, seru mereka dalam beberapa gigitan. Hanya saja mereka mulai mulas di akhir gigitan. Getir dan pahitnya buah kebohongan mulai mencekam. Diakhiri tusukan mulas di perut yang berkepanjangan. Mencekikmu, menjeratmu dengan rasa sakit di sekujur badan...


*based on my chit chat with Raka, my li'l bro
 " Kini musimnya membenarkan apa yang biasa, bukannya membiasakan apa yang benar"

repost from my facebook note  310111
pic : www.cambreenotes.com



05 Desember 2012

CINTA (TANPAMU AKU TAHAN, TANPA TUHAN DEBU PUN AKU BUKAN)



Aku tak tahu seperti apa persisnya menggambarkan perasaanku padamu. Segalanya seterang siang itu, saat aku duduk di tanah lapang. Diantara rerumputan dan ilalang, serta kesiur dedaunan dialun angin siang. Langit sangat cerah, biru dihiasi awan-awan putih. Dan aku melihat wajahmu timbul tenggelam di antara awan-awan itu. Memajang senyum termanismu, sepertinya kau mengajakku bercanda. Sesekali aku melirik sekitar, takut ada orang lain melihatnya. Melihatku tersenyum menatapmu di awan-awan itu.

Kurasa memang aku sudah gila, mengapa tertawa sendirian pada sesuatu yang tidak nyata? Tetapi begitulah cinta, seringkali terasa aneh dimata lainnya, tapi tidak dimata penderitanya.
Oh, tidak. Aku bukan penderita. Aku merasakannya.

Dan kau? Apa kau begitu? 

Sayangnya aku tak tahu. Aku bahkan tak bisa menera apakah kau pernah sekali saja memikirkanku, sepertiku memikirkanmu? 

Memikirkan hal itu senyumku memudar dengan sendirinya.
Rasa asing itu telah membuatku hilang kendali. Terlalu berpijak pada hayalan sendiri. Sementara kenyataan tidak begini.

Adzan dhuhur timbul tenggelam di kejauhan. Kurasa baiknya kuusaikan saja menatap langit sembari rebah dibawah lalang.
Aku akan pulang, hendak bertemu Tuhan. Kau tahu, tanpamu aku bisa tahan. Tetapi aku tanpa Tuhan, debu pun aku bukan.


* a photo story

11 Agustus 2011

RUINS





Bintang-bintang dimatanya pudar tersaput mega. Senyum getir menghiasi perginya.
Aku kaku. Hendak menjangkau tangannya dan berkata maaf tetapi kelu.


Kau tahu, aku senang kau jadi sahabatku. Mendengar keluh kesahku. Tapi cinta? Kurasa aku tak tepat untukmu. Aku bukan pria baik-baik itu. Terlampau baik dan terlampau lugu kau itu dimataku. Tak tahu seberapa dalam kau tentangku, perilaku kelamku di masa lampau.

Sungguh aku tak bisa mengecewakanmu. Maka biarkan aku menolakmu. Ada yang lebih pantas untukmu. Seorang pria yang dikirimkan Tuhan sebagai qawwam-mu.

Flash fiction
84 kata


*qawwam : pemimpin

While hearing I’ll stand by you and The Reason (Hoobastank)

pic : stockfresh.com

05 Desember 2010

SEBUAH PERTOLONGAN


Malam pekat. Pagi melambat. Kulalui jalan setapak. Kuseka peluh sembari membenahi buntalan daun jati di pundak. Mendadak rasa tak enak menyergap. Bertalu-talu ia mengharap—Pulanglah cepat!
Di tikungan seseorang meraup dadaku lekat. Mulutku dibungkam kuluman yang jahat. Aku tak bisa berontak. Hingga satu kesempatan tiba, aku melesat.
Sampeyan kenapa?” tiba-tiba pria tua muncul dan bertanya.
Aku tergugu dan menurut saja saat ia menuntunku ke warungnya.
“Diam disini, ia takkan menemukanmu,” katanya seolah tahu apa yang menimpaku.
Benar saja, sang durjana tak melihatku disana. Kudengar serapahnya, gara-gara aku tak juga ditemukannya.
“ Sudah aman, keluarlah sampeyan sekarang,” kata pria tua itu kemudian.
Aku mengiyakan, tapi mataku tak kuat menahan kantuk dalam. Hingga aku dibangunkan seorang pencari kayu yang bertanya heran ,”Ngapain sampeyan tidur di pring-pringan?”


126 kata termasuk judulnya
Dibuat dalam rangka Lomba Flash Fiction Blogfam

Catatan
Sampeyan : kamu
Pring-pringan : rimbunan bambu