Postingan

Menampilkan postingan dengan label Kepada Sang Pejalan Jauh

Unggahan Terbaru

Kepada Sang Pejalan Jauh Part 12

Gambar
Sudah lama tidak bertemu, apa yang terjadi padamu?
Mengapa aku melihat banyak goresan pahit diseluruhmu? Mengapa mendung kelam menghuni kepalamu? Kemana perginya mata bintangmu? Yang berkilauan setiap kali kau ceritakan kemana kau hendak berpetualang. Kau sudah letih dan kuyu. Seolah beban hidup itu telah menghabiskan energimu
Kurasa aku telah kehilangan dirimu. Semangatmu telah padam dan kau goyah diatas kakimu. Katakan padaku, apa terjadi padamu? Baiklah, baiklah…jika kau enggan bercerita. Kurasa kita duduk-duduk saja. Mari bicara tentang kisah lampau kita. Tentangmu, bocah kecil badung yang menyebalkanku. Kau dulu sering berbuat jahat padaku. Melempariku dengan batu. Mendorong-dorong tubuh kurusku. Membiarkan anjingmu menggigitku. Heuuuh, kalau ingat aku ingin menjitakmu!
Meski begitu aku yang kau datangi dalam galaumu. Kau akan duduk duduk dibatu. Tidak berkata apa-apa selain membisu. Kau suruh aku menerka dan membacamu. Ah, mana kutahu? Aku bukan dukun atau cenayang tahu? Mampu me…

SANG PEJALAN JAUH PART 11

Gambar
Sang Pejalan Jauh
Si Kemayu. Dia tak sadari kalau aku menangkap profilenya dengan kameraku. Sebenarnya sudah lama juga menahan perasaan. Sejak masih bau kencur dan malu-malu bila ketahuan suka bocah perempuan. Di usia ketujuh belas aku menyatakan perasaan setelah sekian lama dipendam. Hasilnya hanya senyuman. Tanda diterima? Bukan? Ia menolakku dan menyatakan kalau ia menyukaiku sebagai teman. Sialan! Tapi aku tak patah arang. Masih juga berharap dengannya-lah kuhabiskan hidup hingga ajal menjelang. Lalu perempuan lain datang. Mengisi kesendirian, membuatku melupakan si kemayu. Tapi tak sepenuhnya begitu. Yang lain, yang juga kemayu, tak mampu mengusirnya sepenuhnya ia dari anganku. Tak bisa dibantah bila senyumnya mengawang di angan kurasakan kenyerian yang sulit dilukiskan. Apa itu sebuah kebodohan? Entahlah. Sekarang di usia yang sudah matang, kuulangi lagi ungkapan perasaan. Apa itu bahasa anak sekarang? Nembak kan? Dan jawabannya kembali senyuman. Ah, jadi gemas. Sungguh, s…

SANG PEJALAN JAUH PART 10

Gambar
Senang juga melihatnya datang. Sudah lama tak bersua. Banyak perubahan padanya. Bukan hanya muka yang tampak lebih dewasa tapi juga pola pikirnya. Pengalaman hidup rupanya berperan menjadikannya sedemikian rupa.

Ha oh ya, ia juga lebih tambun dari yang kuingat. Bila duduk nampak ada yang menyembul di balik kausnya. Ular naga, katanya bercanda tiap kali seseorang menyentil gelambir di perutnya.“ Beginilah. Terlalu banyak makan fastfood dan jarang olahrga,” cetusnya santai mendengar celetukan kecil sang kakak atas bentuk tubuhnya sekarang.

Kok tahu? Iya, sebab jika kemari ia suka duduk bersamaku dan menceritakannya di laptop itu. Lantas di posting di blog pribadi yang kini jarang diambahi.

Sibuk, banyak waktu dihabiskan dijalan. Nggak sempat lagi ngurusin yang begituan. Begitulah alasan yang terlontar seiring dengan kesibukan kerja yang sulit ditinggalkan. Tapi ada satu yang tak berubah. Kesukannya memetik gitar. Kapanpun ada kesempatan. Seperti sekarang.Seuntai lagu mellow mulai dimaink…

PEJALAN JAUH PART 8

Gambar
Sejak bertemu denganmu aku merasakan sesuatu yang berbeda. Pikiran bebasmu menyeretku ke satu dunia yang tak pernah kumasuki sebelumnya. Dunia penuh mimpi, dunia yang kuabaikan selama ini. “ Bermimpilah karena mimpi tidak bayar. Untuk apa takut bermimpi, apa kau tahu banyak hal hebat di dunia ini berawal dari mimpi,” katamu seolah percikan api yang membakar hasrat diri. Begitukah? Bagaimana jika aku kehilangan segala kenyamanan yang kupunya hanya untuk mengejar sebuah mimpi yang belum pasti? Inilah hidupku, ini pilihanku. Sesuatu yang memang kusukai sejak dulu. “ Benarkah itu?” ucapmu sambil menuang air panas dalam gelas berisi bubuk kopi. “ Jika kau suka mengapa kau selalu mengeluh? Tak pernah kulihat kau merdeka di dalamnya.” Diam tak bisa berkata-kata. Kutekuri tanah di bawah kakiku. Mengiyakan dalam hati ucapnya itu. Kau benar. Aku tak merdeka. Aku sudah lupa apa arti merdeka. Orang lain melihatku tampak bahagia, sesungguhnya tidak di dalam sana. Tapi aku selalu menepiskan …

PEJALAN JAUH PART 9

Lama tak mendengar kabarmu, Pejalan Jauh. Ternyata aku sudah ketinggalan banyak berita seberapa jauh engkau telah tumbuh. Kudengar jejak langkahmu kian mantap. Goresan-goresannya prestasi yang kau bangun berkembang, menyeruak diantara segenap banyak orang yang berkemauan. Kau memang hebat, Pejalan Jauh. Kau selalu tak mudah menyerah, maju terus pantang mundur demi sepotong cita-cita yang kau gantungkan setinggi bintang.
Tetapi menyaksikanmu bersimpuh di hadapan Tuhan, jauh lebih mengesankan ketimbang berita kesuksesanmu yang sering terdengar. Kau tampak menyatu dan jauh dari kesan sulit dijangkau saat berhadapan dengan Sang Pencipta Alam. Seluruh kesah kau haturkan dalam nada lirih penuh perasaan.
Kau sama sekali tak tampak garang, tapi justru kesan lembutlah yang tersembul jika demikian. Betapa berbedanya engkau kini, Pejalan Jauh. Tak sama lagi seperti lelaki kecil yang kutemui beberapa tahun lalu.
Ingatkah kamu ketika syair-syair patah hati merasukimu. Kau jadi sedemikian sentiment…

PEJALAN JAUH PART 7

Duluuu…saya ndak pernah mikir saya bisa cinta saya manusia seperti sampeyan. Apanya yang menawan dari seorang pria berbandana hitam, menutupi rambut cepak yang malas shampoan, kulit coklat karena terbakar sinar, bercelana sedengkul bulukan berpadu kaus pudar yang paling nyamleng kata sampeyan, beserta tas ransel tua yang nggak pernah ketinggalan. Fiuuh!! Noraaak! Norak bukan kepalang!
“ Yo ben! Pokokmen aku seneng,” balas sampeyan enteng waktu seseorang menegur perkara penampilan yang aneh bin ajrut-ajrutan itu. “ Sumpah deh, saya gak mau sama orang kayak gitu,” batin saya sambil berlalu. Tapi apa yang terjadi kemudian? Pelan-pelan tingkah laku sampeyan mencuri perhatian. Cara bicara yang tajam dan tepat sasaran bikin saya ternganga, kepingin nimpuk tapi sekaligus menyadari kalo sampeyan benar tentang makna pasrah yang sering kali disebut banyak kyai dalam pengajian bukanlah pasrah, neda nrima, tanpa usaha. Sudah ada pancingnya, maka kaillah ikannya. Jangan diam saja berharap pancing…

PEJALAN JAUH PART 6

Gambar
Selalu saja ia datang dan berkata ,” Mari bertaruh untuk memiliki Sang Pejalan Jauh.” Dan selalu pula aku tak acuh. Membiarkannya berkelebatan bagai hantu di terik siang, tidak menakutkan hanya jeritnya memekakkan. Ah, menyebalkan. Apa yang kau mau kawan? “ Mari bertaruh untuk memiliki Pejalan Jauh!” Untuk apa? Biarkah aku mencinta dengan cara yang berbeda. Membiarkannya berliku dijalannya, tak hendak membelokkannya kearahku kecuali Allah menghendakinya. “ Kau terlampau lemah, hai wanita!” Terserah katamu, Kawan. Bagiku bertaruh bukan suatu kepentingan. Apalah artinya pertaruhan jika empat puluh hari saja ia bisa kau luluhkan, selebihnya itu cinta buyar menjadi kepingan. Tak bisa disatukan karena rasa memang tak bisa dipaksakan. “ Kau penakut! Haha, kau tak berani bukan menerima kenyataan jika ia sang pujaan lebih memilihku ketimbang dirimu yang tak berani menyatakan perasaan.” “ Bisa jadi kau ben…

KEPADA SANG PEJALAN JAUH PART 5

Gambar
Tumben kau lama duduk di situ. Seingatku kau jarang berlama-lama jika bertandang di tempatku. Selalu ada acara yang lebih penting ketimbang denganku. Maka tak heran jika kau buru-buru berlalu setelah berbicara dan mengutarakan maksudmu.
Apa ada yang ingin kau tanyakan padaku, sampai kau rela bersimpuh menungguku? Mari masuk kemari. Jangan ragu, aku selalu ada waktu untukmu meski jadwalku penuh dan banyak masalah yang harus kubereskan dalam tugasku sebagai CEO nomer satu.
“ Apa nikmat itu?” tanyamu.
Lho jadi kau tak tahu apa nikmat itu pejalan jauh? Bukankah sepanjang jalan hidupmu telah kau rasakan itu? Tapi baiklah jika kau tak tahu aku tak segan memberitahumu.
Ruangan meredup, di hadapan terpampang gambar seorang pria tengah makan. Ia terperangah, berbalik kearahku dan bertanya ,” Lho itu aku. Bagaimana Kau tahu?”
Aku tertawa geli melihat keheranan Pejalan Jauh. Aku ini CEO nomer satu, tak ada yang tak mungkin bagiku. Jika seluruh semesta tunduk padaku, hanya mengetahui peristiwa s…

KEPADA SANG PEJALAN JAUH PART 4

Gambar
Hari ini dimana, besok dimana. Teman milis sampai bertanya kenapa tempatnya selalu berganti tiap kali kirim berita. Sebenarnya kamu dimana? Nomaden ya? Aku tertawa, percayalah itulah yang kulakukan demi sebuah tanggung jawab yang kupegang. Hari ini di KL, besok terbang ke Bali, dan esok hari sudah ada di negeri Kiwi, sebelah Australi. Menyenangkan betul kelihatannya? Ah seringnya aku malah bosan. Rindu rumah, rindu kampung halaman acap menyesak ingin dimuntahkan tapi waktu sebanyak dua puluh empat jam terasa begitu rapat hingga sulit menyelipkan agenda pulang. Tapi kulihat kehidupanmu menyenangkan, menantang, kawan! Aku jadi iri tiap membaca kisah yang kau pampang di blogmu itu, sungguh! Oh ya? Aku malah iri melihat kehidupan sampeyan yang tenang, tidak diburu-buru pekerjaan. Tapi begitulah manusia sawang-sinawang, selalu melihat rumput tetangga lebih hijau ya kan? Ahahahaha, apa kabarnya kopian di pojokan jalan? Sampaikan salamku pada si empunya kopian, kalau kopi buatannya kurinduka…

KEPADA SANG PEJALAN JAUH PART 3

Gambar
KUPU-KUPU DI ATAS KAPAL

19 April, sepanjang penyeberangan Gilimanuk-Ketapang… Zwing! Mata-mata mahkluk berjenis kelamin pria mendadak terfokus ke satu titik saat seorang perempuan berpenampilan menyegarkan memasuki ruangan. Sihir! Semua orang seolah terpaku saat menatapnya berjalan. Saya tertawa diam-diam menyadari mengapa pria-pria seperti saya enggan menundukkan pandang. “ Sungguh, meski sampeyan tidak menyodorkan senyum menggoda, tapi rok mini yang sampeyan kenakan benar-benar sulit dilewatkan mata,” batin saya sambil menatap kagum pada sepasang kaki jenjang yang tengah berjalan mencari-mencari tempat duduk yang nyaman. “ Coba ya tiba-tiba dia duduk di sebelah ini,” pikir saya tanpa melepas pandangan ke arahnya. “ Maaf…disebelah Mas, kosong ya?” saya mendongak, setengah gelagapan karena ia datang sebelum saya sempat mengalihkan pandang. ” Ii…iya,” jawab saya salting sambil beringsut memberinya tempat duduk. Dalam kesempatan itu, lewat ekor mata, sempat saya menangkap waj…