Tampilkan postingan dengan label Review film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review film. Tampilkan semua postingan

16 Oktober 2017

MY GENERATION, FILM YANG MENGANGKAT KESENJANGAN ANTARA ORANG TUA DAN GENERASI MILENIAL

  
Dari kiri ke kanan : Konji, Zeke, Orly, dan Suki  (credit IG : @upirocks)

            Membicarakan anak muda  tak urung mengingatkan saya pada lagu lama Bang Rhoma yang berjudul Darah Muda. Saya tak ingat keseluruhan liriknya kecuali beberapa, salah satunya  “Masa muda masa yang berapi-api”. Kalimat ini memang pas menggambarkan kondisi anak-anak ketika mulai menginjak usia remaja. Perubahan perilaku dan keberanian mereka mencoba sesuatu terkadang mencemaskan. Agar anak-anak ini tak tersesat jalan di rimba raya dunia, orang tua jelas melakukan perlindungan. Akan tetapi, kerap kali caranya tak sejalan dengan pemikiran anak muda. Orang tua menggunakan “kacamata lampau” untuk memahami anak muda. Sementara anak muda merasa cara-cara itu sudah tak sejalan dengan realita. Tak pelak kondisi ini memunculkan gap antara keduanya.


            Kesenjangan semacam inilah yang rupanya hendak ditangkap Upi, sutradara mumpuni yang sebelumnya berhasil membesut film sebeken My Stupid Boss (2016), lewat film “My Generation”. Diperlukan riset selama dua tahun sebelum benar-benar membuat film ini. Hal ini dilakukan Oleh Upi semata untuk menunjukkan seperti apa realita generasi milenial sesungguhnya. Bagaimana perilaku mereka kala bersosial media, apa yang kerap mereka bicarakan, bahkan hingga tutur dan gaya bahasa yang digunakan. Tidak heran kita akan mendapat para tokohnya berbicara menggunakan bahasa campur-campur antara Indonesia dan Inggris kala berdialog, karena sejatinya begitulah cara anak sekarang berkomunikasi. Utamanya di perkotaan.  

25 Agustus 2013

42 : COULD YOU HANDLE YOUR EMOTION?


 Theatrical release poster for  film "42"

Judul Film    : 42
Genre          : Drama
Sutradara    : Brian Helgeland
Negara       : Amerika
Tahun edar  : 2013
Pemeran     : Chadwick Boseman, Harrison Ford, Nicole Beharie
Durasi        : 128 menit

Menilik judulnya sepertinya tak ada yang istimewa. Tapi sesungguhnya film ini layak jadi tontonan oleh anda-anda semua, rekan penulis yang tercinta. Yang pemula atau yang kawakan. Yang bersedih karena berbagai penolakan, yang berduka karena cemoohan. Karena dalam film ini ada sebuah pesan yang penting yang mengesankan. Apakah itu?

Let’s follow me, guys...

Kisah dimulai ketika General Manager Brooklyn Dodgers, Branch Rickey mengutarakan niatnya mencari pemuda kulit hitam untuk menjadi anggota tim bisbol tersebut. Semua menentang keinginannya. Wajar mengingat pada masa itu tak ada orang kulit putih yang bersedia main satu liga dengan pria kulit hitam. Tetapi Branch Rickey seseoang yang punya visi ke depan. Tak hanya soal uang yang ia pikirkan, tetapi ada yang lebih dalam dari itu. Kecintaannya pada olahraga itulah yang membuatnya berpikiran jauh melampaui orang-orang di masanya.

Segenap usaha dilakukan untuk mencari pemain yang pas mengisi klubnya. Bertumpuk profil pemain masuk ke mejanya namun ia justru tertarik Jackie Robinson. Seorang pemuda kulit hitam, shortstop terbaik Kansas City Monarch, yang terkenal sangat emosian.

Ketika Jackie resmi dipanggil masuk ke klubnya, Branch Rickey sempat mengujinya dengan serangkaian kata-kata provokatif yang memerahkan telingan. Tujuannya hanya satu, ia ingin tahu seperti apa reaksi Jackie terhadapanya. Saat Jackie bertanya dengan sedikit menantang ,”Apakah kau menginginkan seorang yang punya tidak punya nyali untuk membalas?”

Rickey justru menjawab, “Tidak, aku ingin seorang pemain yang punya nyali, untuk tidak melawan balik.”