Tampilkan postingan dengan label Sharing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sharing. Tampilkan semua postingan

23 Oktober 2017

GURU TERBAIK BERNAMA PEMATERI YANG MEMBOSANKAN



Suatu hari di sebuah pelatihan menulis yang diadakan Bekraf...
Beberapa orang keluar dan tidak kembali. Yang lain terkantuk-kantuk dan mulai sibuk corat-coret buku catatannya sendiri-sendiri. Saya sendiri tak kalah sibuk, sibuk berangan-angan sambil nengok kiri-kanan. Beberapa orang nampak tidak sabar. Berkata lirih dengan teman sebelah soal topik yang diulang-ulang dari awal sang pemateri memberi paparan soal novelisasi film.

Saat istirahat saya sempat berkata pada teman, pemateri kedua ini njomplang dibanding pemateri lainnya. Dari sisi literasi kurang, komunikasi apalagi, penguasaan medan tak bisa dibahas. Aduh Mak...pelatihan menulis yang diadakan sebuah badan pemerintahan itu jadi sia-sia saja kesannya karena membawa pemateri yang salah. Ia bahkan tidak mampu menjawab pertanyaan dengan taktis, terasa nggrambyang, dan terkadang tidak nyambung babar blas. Rasa-rasanya tidur jauh lebih baik daripada bertahan di ruangan.
Tapi, beberapa waktu kemudian saya tersadar. Okelah dia tak berhasil jadi penyampai pesan yang mumpuni pada materi yang dia sampaikan. Tetapi, saya juga tak perlu menyombongkan diri dengan berkata ia belum layak tayang. Toh, seorang pemateri handal sebenarnya juga belajar dari banyak kesalahan. Jika pemateri pertama dan kedua begitu enak menyampaikan itu juga disebabkan karena jam terbang.

12 Oktober 2017

UNFOLLOW DEMI KESEHATAN JIWA



Belakangan diam-diam saya suka unfollow orang. Bukan tanpa alasan saya melakukannya. Biasanya saya unfollow jika akun yang bersangkutan sudah terlampau sering curhat masalah sampai tidak mengenal batasan (ngamuk disertai kalimat umpatan), kerap share berita dengan sumber tak berdasar ditambahi dengan caption menyebalkan, dan kemudian menyerang orang lain yang tak sependapat atau sepemikiran dengannya meskipun bukan saya yang ditujunya.

Pada mulanya saya biarkan, toh saya bisa melewatinya. Tetapi, lama-kelamaan intensitasnya semakin besar. Pada akhirnya negativisme yang menyebar di beranda saya itu sudah melampaui batasan. Saya tidak nyaman membaca banyaknya amarah yang muncul tiap kali saya membuka akun sosial media saya. Saya jadi terprovokasi untuk “menasehatinya”, agar jangan terlalu kala bersosial media. Pakailah sudut pandang beragam, agar tidak gampang jadi orang yang panasan. Sedikit-sedikit nyinyir melambai di media sosial. Bahkan untuk hal yang belum jelas perkaranya.

07 Agustus 2017

SAAT KAU MERASA HIDUPMU SERASA MANUSIA DI EMPER TOKO (CUMA BISA MELIHAT ORANG-ORANG MENDAPAT YANG DIINGINKAN SEMENTARA KITA MELONGO)






Apakah pernah Anda berada di emperan toko? Anda hanya bisa melihat orang-orang lalu-lalang masuk ke dalam toko yang megah di seberang, tanpa Anda bisa mengikutinya. Anda ingin tapi tidak bisa. Perasaan iri muncul tatkala melihat orang-orang itu tertawa sambil menenteng belanjaan. Sedih melihat mereka bisa menikmati makanan di sebuah kedai gerai siap saji di lingkup toko besar itu sementara Anda menelan ludah. Melihat ke arah lain, Anda hanya bisa menghela napas sewaktu menatap orang-orang menikmati kopi di kedai paling gaya dalam lingkup toko besar itu juga. Sedangkan Anda? Jangankan kopi, uang saja tinggal seribu rupiah. 

Anda mulai mengutuki keadaan. Mungkin juga mulai mengutuki Allah. Bertanya sembari memaki kasar kenapa Allah yang Maha Pemurah itu tak kunjung membuat hidup Anda naik kelas? Anda masih ada di level terbawah. Level kelas teri, itu teri kualitas rendah. Bukan teri berkelas yang dijajakan di toko-toko besar kenamaan. Usaha Anda seperti berhenti di tengah jalan. Anda tidak mendapat kesuksesan justru harus menghadapi kenyataan kalau usaha Anda terancam gagal. Anda tidak tahu sampai kapan bisa bertahan dengan uang seribu rupiah itu.

Apa sih mau Allah? Jika dia Maha Pemurah seharusnya Allah memudahkan jalan Anda. Bukankah Anda sudah bekerja keras? Anda bahkan memulai usaha itu dengan niat baik. Allah sungguh tidak adil!
Apakah Anda tahu, niat baik Anda sedang diuji? Diuji dengan beragam persoalan sampai Anda megap-megap rasanya. Anda seperti masuk goa, dimana disana tidak ada sedikit pun cahaya. Anda mulai dilanda kecemasan, rasanya melangkah kemanapun jadi terasa salah. 

Itu pula yang pernah saya alami seusai melepaskan diri dari pekerjaan kantor kurang lebih lima tahun lalu dan beralih profesi menjadi penulis. Tetapi seiring waktu, saya mulai bisa menyesuaikan diri. Saya tidak lagi kebingungan di hidup di tengah goa yang gelap itu (baca : kesusahan). Mata saya mulai terbiasa dalam kegelapan, saya bisa melihat jalan meski remang. Kadang-kadang...oh tidak bukan kadang tetapi seringkali saya merasa bosan. Perjalanan melewati goa itu amat panjang dan saya mulai jengkel karena tak juga mencapai ujungnya.. Tidak jarang saya berniat berhenti dan balik kanan, kembali ke awal. Tetapi, jalan yang saya tempuh sudah jauh. Tak terbayang kalau harus kembali lagi.

01 Agustus 2017

KARENA SUKSES ITU BUTUH PROSES



Suatu hari saya duduk dengan teman. Dia tengah memulai usaha baru, setelah memutuskan untuk tidak lagi bekerja di perusahaan tempatnya bernaung dulu. Ia memutuskan hal ini bukan tanpa perhitungan. Ia merasa  memiliki ilmu dan pengalaman, jadi kenapa tidak dicoba. Tetapi, ternyata  menjadi seorang enterpreneur memiliki banyak cobaan. Teman saya mengaku ilmu dan pengalaman yang ia miliki tak semua bisa diterapkan pada usaha barunya itu. Saya memahaminya, sebab meski kami terjun di dunia yang berbeda (dia kuliner dan saya menulis), situasi yang terjadi kurang lebih sama.

Saya ingat saat memutuskan terjun bebas di dunia menulis lima tahun lalu saya pun membawa semangat yang sama. Saya yakin mampu dan bisa. Dalam perjalanan saya menyadari “amunisi” saya masih kurang dalam menghadapi merah-birunya dunia penulisan. Buat anak baru dan unyu seperti saya, dunia menulis itu belantara. Saya tergagap-gagap mencari jalan yang mana. Saya benar-benar tidak tahu harus apa. Selama itu pula saya juga harus menghadapi kenyataan dunia menulis itu tidak memberikan janji keindahan finansial. Haduh, saya pontang-panting demi terus menulis dan mengirimkan naskah yang ujungnya tidak ada kabar. 

24 Juli 2017

JANGAN COPY PASTE SEMBARANGAN, TAPI TEKAN TOMBOL SHARE ATAU TOMBOL BAGIKAN


sumber gambar : https://pixabay.com

Belakangan kasus plagiarisme memang mencuat. Saya tak banyak berkomentar, karena kenyataannya saya masih harus memperbaiki soal penulisan dan bagaimana cara mencantumkan nara sumber yang benar. Tak jarang karena tulisan itu terlampau umum, kita menuliskan tanpa pikir panjang. Lalu mengunggahnya di media sosial, tanpa sekalipun terpikir menyebutkan nama penulisnya. Karena masalah inilah saya berpikir ulang sebelum ikut-ikut “nyinyir melambai” di berbagai sosial media. 

Lho kenapa kok saya berpikir demikian?

Sederhana saja, tak jarang saya  berpikir yang saya lakukan sudah lurus dan benar. Padahal saat ditelisik dan di runut sampai ke belakang, eh ternyata saya pernah melakukannya. Hanya saja kita lupa, tidak sadar, atau malah tak ketahuan.

Lalu bagaimana cara kita berkontribusi melawan plagiarisme?

Tidak perlu muluk-muluk, mulai saja dari diri sendiri dengan tidak meng-copy paste sembarangan tulisan yang tersebar di media sosial. Jika menemukan tulisan yang bagus tekan saja tombol share atau bagikan. Kalaupun ingin copy paste, pastikan tulis sumbernya dengan benar. Jangan copy paste lalu ditulis dengan kalimat “Copas dari tetangga beranda”, “Copas dari FB sebelah”, “Copas dari status teman” di akhir posting-an.

18 Juli 2017

JARANG MENJAWAB PESAN, TANDA TEMAN TAK PERHATIAN?


sumber gambar : https://pixabay.com/

Beberapa kali saya ngobrol dengan teman, soal kekecewaan mereka pada teman lain yang susah sekali menjawab sapaan mereka via BBM, Line, WA atau sosial media. Kalaupun dijawab biasanya lama.
“Jadi malas deh berteman dengannya. Masa iya balas pesan gitu aja nggak bisa. Emang sesibuk apa sih hidupnya? Lha wong aku yang sibuk ono, ini, anu, itu aja masih bisa kok balas chat di BBM atau WA.”

Saya memahaminya kekecewaannya. Saya pun pernah berpikir sama. Seorang teman yang tak membalas berarti tak lagi perhatian sama kita. Dan itu menjengkelkan saya. Saya jadi berburuk sangka padanya. Saya berpikir ia sudah tak ingat lagi pada saya. Padahal dulu semasa lajang, segala hal dilakukan dengan saya. Bahkan curhat masalahnya pun ke saya. Sekarang jangankan “say hi”, ketemu saja sulitnya minta ampun. Teman macam apa itu?

Tetapi pemikiran itu berubah ketika bertandang ke rumah seorang teman lainnya. Saya melihat bagaimana kesibukannya sebagai ibu rumah tangga yang harus menjaga anak, sambil menyetrika, masak, dan seabrek kegiatan lainnya. Bisa melongok ponsel dan membaca status teman-temannya saja sudah menjadi barang langka dan berharga. Dan itu memang diakui teman saya.

10 Juli 2017

PESAN MAMA MUDA UNTUK SINGLE FIGHTER SEPERTI SAYA: JANGAN NYEKOLAHIN ANAK KARENA GENGSI SEMATA




Sebagai mama muda Liv (bukan nama sebenarnya), menginginkan yang terbaik untuk anak. Karena itu saat mertua menyarankan agar anak sekolah di dekat rumahnya saja, ia menolak. Liv beranggapan sekolah di desa tidak cukup baik untuk putri pertamanya. Ia ingin dia mengenyam pendidikan di sekolah terbaik. Kebetulan di kecamatan tempat dia tinggal merupakan gudang sekolah terbaik. Dari TK, SD, SMP sampai SMA semua ada. Jadi ia tidak perlu khawatir soal pendidikannya.

Karena itu begitu putri pertamanya usia lima tahun ia masukkan ke sebuah TK favorit. Meski biaya pendaftaran mahal tak apa, yang penting baik bagi putrinya. Begitu juga SD-nya. Ia bahkan rela membayar agar sang putri bisa masuk SD idaman sejuta umat itu. Tapi, apa lacur yang terjadi kemudian justru bikin Liv merasa stress sendiri. Putrinya, sebut saja Nana, enggan sekolah. Setiap hari ia harus berperang dengan putrinya, hanya agar si putri mau berangkat sekolah. Sepertinya sekolah adalah momok menakutkan bagi Nana. 

Belakangan Liv menyadari sekolah jadi sesuatu yang memberatkan bagi Nana. Di SD favorit itu, anaknya dibebani pe-er begitu banyak. Ia pun harus les untuk mengejar pelajaran. Saban hari les hingga waktu bermainnya hilang. Les di sekolah, les privat di kala malam, belum lagi ditambah pe-er berlembar-lembar, itulah hal-hal yang harus dilakukan Nana setiap hari. 

19 Juni 2017

ENGLISH COURSE? iCAN COURSE!





Jaman sekarang kemampuan bahasa Inggris sangat diperlukan. Tidak hanya pekerjaan sebagai diplomat, penguasaha, atau mereka yang bekerja di industri pariwisata saja yang harus menguasainya, semua bidang pekerjaan juga memerlukannya. Bahkan penulis sekalipun.

Beberapa kali saya lihat web-web tertentu menawarkan kesempatan untuk menjadi pengisi konten dengan bayaran yang lumayan. Tapi, karena keterbatasan dalam berbahasa membuat saya gigit jari. Mau bagaimana lagi? Lha wong nggak bisa nulisnya. Jangankan nulis, baca saja terbata-bata. Beruntung banget sepuluh menit baca website berbahasa Inggris bisa tahu intinya. Nah, masalahnya nih kalau mau meng-up grade kemampuan itu dimana? Mau ikut kursus di satu lembaga, kapan waktunya? Inginnya sih yang kursus yang mobile saja, yang bisa dilakukan diantara kegiatan salto dan kayang...eh, kesibukan ding *hihihi. Maklumlah kalau sudah kerja agak sulit kalau harus menemukan waktu yang cocok untuk ikut kursus langsung di sebuah lembaga. Apalagi kalau sudah berputra, wah...malah nggak nyaman karena harus meninggalkan mereka.
Nah, beruntunglah waktu itu di halaman facebook saya seliweran soal kursus bahasa Inggris di I Can Course. Saya tertarik karena kursus dilakukan online, jadi tidak memerlukan tempat khusus. Cukup dilakukan di WA dan proses belajar pun dilakukan. Nah, proses belajar itu akan berlangsung selama 2 bulan, sebanyak delapan kali pertemuan, dari jam 19.30-21.00. 

KARENA BAHAGIA NGGAK PAKAI UKURAN KOLOR TETANGGA




Saya pikir, bahagia itu berarti memiliki suami tampan, mapan, dan rupawan. Tetapi yang memiliki ketiganya ternyata memilih untuk bubar jalan. Memiliki suami tampan, mapan, dan rupawan itu tak seindah impian. Dia manja, banyak maunya, dan tidak dewasa. Kerap melabuhkan hati dimana saja. Lupa kalau sudah beranak-pinak. 

Lalu bahagia itu apa?

Oh, mungkin ini yang dinamakan bahagia itu berwajah cantik dan memiliki pekerjaan hebat. Pasti jadi perempuan itu bahagia. Tetapi, sepertinya tidak begitu ceritanya. Si cantik dengan pekerjaan hebat itu memiliki kehidupan rumit bak sinetron. Ia memang berjaya dalam kariernya, wajah cantiknya juga tidak usah diragukan. Namun ia harus menghadapi situasi yang tidak menyenangkan. Suaminya dituduh melakukan korupsi dan kemudian dipenjara. Ia juga tidak bisa sembarangan berkata-kata kepada orang, karena banyak hal yang harus dijaga. Ia juga tidak memiliki banyak waktu untuk bercengkrama dengan teman-temannya. Karier yang bagus itu sudah menyita waktunya. Praktis hidupnya adalah kantor dan rumahnya. Lainnya? Bukan tidak ingin, hanya waktunya yang tidak bisa.

09 Juni 2017

MENEMPATKAN MASALAH PADA TEMPATNYA





Sebagai orang yang tidak berlangganan internet di rumah, saya memang acap menggunakan internet di luar. Entah wifi-an di RTH Maron atau justru di warnet. Wifi-an di RTH Maron memang sudah saya tinggalkan sejak sinyalnya mulai susah ditangkap sekitar setahunan silam. Sebagai gantinya saya lebih sering ke warnet saja.
Ditempat itulah sebuah awkward moment terjadi. Satu kali saat hendak membayar jasa warnet, pemiliknya bertanya ,”Hamil to?”
Saya tercenung sekian detik. Lalu dengan sigap tersenyum dan menjawab ringan ,”Ndak, Mas. Cuma gendut saja.”
Seperti yang saya duga wajah pemilik warnet itu langsung berubah warna. Seperti halnya saya kalau saya salah melontarkan pertanyaan atau salah menyapa orang. Ingah-ingih-lah bahasa Jawa-nya. Tetapi, saya pura-pura tidak melihatnya. Saya tetap berlaku santai, seolah tidak ada apa-apa.

Lain hari, saat melihat-lihat pameran di Banyuwangi salah seorang penjaganya yang ramah bertanya ,”Hamil berapa bulan, Mbak?”
Dziingh! Saya bingung mau jawab apa. Saya sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi kalau saya jawab sebenarnya. Tapi, kalau tidak saya jawab kok ya ndak sopan. Bagaimanapun juga Mbak itu hanya mencoba berlaku ramah kepada saya, tidak lebih. Niatan mengolok saya kira juga tak ada, wong dia tidak kenal saya.
Maka sambil menahan tawa saya menjawab sedatar dan seenteng mungkin, berharap tidak membuat si Mbak malu, dengan kalimat ,”Eng...ini sih bertahun-tahun nggak lahiran.”
Begitu dengar jawaban saya mak bles, si Mbak langsung minta maaf. Jelas banget kalau dia merasa tak enak dengan saya. “Maaf, Mbak. Saya ndak ngerti,” ucapnya sambil piye gitu (hahahaha).

24 April 2017

SEKEPING PELAJARAN LEWAT SEONGGOK TAS




Saya memang tergolong orang yang cuek soal tas. Ketika banyak teman perempuan berlomba membeli tas kece, saya justru jarang sekali. Saya bukan nggak doyan lihat tas caem, masalahnya tas caem itu nggak mungkin saya bawa sembarangan. Oleh karena itu saya lebih memilih tas ransel atau tas-tas selempang murah tapi fungsional. Bisa bawa kamera saku, ponsel, flashdisk, dompet, dan charger.

Meski begitu saya punya juga tas yang berharga lumayan. Kurang lebih setengah juta. Saya beli itu dengan pertimbangan bahwa saya butuh tas yang kuat, yang besar, dan muat untuk membawa banyak barang. Sebelumnya saya beli paling mahal seratus ribuan, tapi karena bolak-balik talinya putus akhirnya nekatlah saya membeli tas itu. Maklum saat masih ngantor dulu saya sering kali bawa kerjaan kantor pulang yang beratnya aduhai benar.

Oke deh, tasnya memang sesuai harapan. Satu hal yang diluar prediksi saya adalah tas itu ternyata berat sekali. Itu  dalam kondisi kosongan, belum berisi barang-barang. Kalau berisi barang, waduh! Pundak saya sampai memble sebelah. Bayangkan coba! 

17 April 2017

KETIKA JALAN KELUAR ITU BERNAMA PERCERAIAN



Saya tidak tahu sejak kapan saya jadi pendengar bagi orang-orang. Saya bukan orang yang bijak, berilmu, dan pantas dimintai nasehat.  Tetapi mungkin itu hadiah Tuhan. Saya jadi belajar banyak dari pengalaman orang-orang.

Dari sekian banyak hal yang membuat saya bersedih adalah mendengar kata perceraian. Mungkin saya akan baik-baik saja di depan si pencerita, tapi setelahnya saya bisa menangis berderai-derai tanpa tahu kenapa saya yang harus menangis bukannya dia. Terutama jika orang yang hendak bercerai punya anak, saya membayangkan jika saya berposisi sebagai anak mereka. Pasti saya akan sedih melihat dua orang yang saya cinta terpisah dengan alasan PERBEDAAN YANG TAK DAPAT DISATUKAN.

Diam-diam saya membayangkan saya menjadi mereka, jatuh cinta pada seseorang dan yakin benar untuk melangkah ke gerbang pelaminan bersamanya. Sebegitu gembiranya saya maka yang  lupa untuk melakukan persiapan. Kalaupun ada, tak ubahnya persiapan layaknya orang yang pergi berwisata. Saya siapkan koper berisi pakaian dan uang serta segepok buku panduan berwisata yang menyenangkan dimana disana dijelaskan berbagai tips agar perjalanan jadi mengesankan. Lengkap dengan tempat-tempat yang harus dikunjung, dimana letaknya, naik apa. Semua serba sempurna. Yang ada dikepala hanya bagian baik-baiknya saja. Lupa kalau di jalan bisa terjadi apa-apa. Begitu pun pasangan saya.

28 Juli 2016

PLEASE, JANGAN NYAMPAH DI TOILET BANDARA!



                                       



Tanggal 21, sekitar pukul  satu. Saya sudah tidak sanggup menahan hasrat ingin pipis begitu pesawat Batik air yang saya tumpangi dari Jakarta ke Kupang landing. Saya segera turun dan mencari toilet di bandara kecil itu. Sepertinya saya sedang tidak beruntung, antriannya cukup panjang. Tetapi, saya harus sabar. Bukankah orang sabar di sayang Tuhan? Bisik hati saya.

Masuk ke dalam, saya dibuat tercengang. Deretan tisu bertebaran. Toilet bagi perempuan itu tak ubahnya tempat sampah. Astaga! Saya menghela napas. Dalam hati saya mendumal, apa iya mbak-mbak atau ibu-ibu sebelum kami tidak tahu ada tempat sampah di bawah wastafel. Kalau tidak tahu kok kebangetan? Tempat sampahnya segede Gaban! Atau jangan-jangan memang kebiasaan? Langsung lempar begitu saja tisu yang dibawanya di sembarang tempat. Aih, benar-benar tidak tahu adat, pikir saya sambil masuk ke dalam salah satu bilik di toilet.

Sampai di dalam bilik, saya lebih tercengang. Lagi-lagi tisu bergeletakan di lantai. Melihat hal itu saya hanya bisa geleng-geleng kepala. Dalam hati berharap pelakunya mendapat keberkahan, sehingga ia tak lagi “nyampah” di toilet mana saja. Bahkan tak hanya di toilet tapi dimanapun ia berada, imbuh saya sembari naik mobil yang hendak membawa saya ke Belu, tempat dimana festival baca diadakan.

Beberapa hari kemudian, tanggal 24 Juli, saya kembali ke Bandara El Tari-Kupang. Perjalanan saya ke mengikuti festival baca di Belu sudah kelar, dan saya harus pulang dengan flight pukul 15.05 nanti. Memang masih lama, mengingat saya tiba di bandara sekitar pukul satu siang. Selama menanti saya dan teman-teman duduk di salah satu kafe-nya. Memesan kopi sambil ngobrol segala macam.

Lagi-lagi hasrat ingin pipis itu datang. Saya segera berlari mencari toilet untuk menuntaskannya. Seperti kemarin, pemandangan tisue yang bergeletakan di lantai toilet saya saksikan. Sungguh, saya tidak paham apa begitu berat membuang benda ringan itu pada tempatnya? Toh, tak sampai sekilo jika ditimbang, dumal saya diam-diam.

12 Juli 2016

THE CONFESSION OF TUKANG DENGERIN CURHAT JILID 2 : KALAU NASI SUDAH JADI BUBUR



image source : https://pixabay.com/




Beberapa waktu lampau...
Saya sudah lama tidak mendengar kasus apa-apa. Ibarat detektif, saya sedang rehat panjang. Tidak menerima kasus dari siapapun dalam kehidupan saya yang tenang. Tetapi ketika saya berpikir ketenangan itu akan bertahan lama saya salah. Satu ketika seorang teman datang dan mengabarkan ,”Kami sudah pisah...”
Bah, pisah? Saya terbengong-bengong tidak paham.

Lalu sederetan penjelasan datang. Suaminya sudah menyatakan talak tiga. Pertengkaran yang terjadi beberapa waktu silam itu telah menghasilkan keputusan yang diluar dugaan—divorce!
“Apa tidak bisa diperbaiki?”
“I wish I could...Tapi dia sudah bilang begitu. Nggak bisa ditawar lagi.”
“Apa masalahnya?” Saya berusaha bertanya dengan nada sedatar mungkin, seperti seorang pro.
“Dia bilang bla...bla...bla...”

Dwengg! Ada beragam hal yang berkelebat di kepala saya mengapa pria itu (gegabah) mengambil keputusan demikian. Mungkinkah karena  merasa tertekan? FYI, sejak dia  menikah dia memilih mengikuti istrinya. Dan

07 Mei 2016

SURAT UNTUK JODOHKU DI MASA DEPAN





Kepada Yth.
Jodohku di Masa Depan
Dimanapun berada

Assalamualaikum,
            Ketika menuliskan surat ini, saya ingin mengawali dengan kalimat ”Entah apa yang harus kutuangkan dalam secarik kertas ini. Goresan tinta indah sekalipun tak ada yang bisa mewakili...”. Tetapi, saya membatalkannya. Seharusnya saya menulis surat cinta dengan gaya saya, bukan mencontek dari orang lain yang membuatnya terlihat palsu dan mengada-ada. 

Jodoh itu rahasia, sama seperti rejeki dan mati
(sumber gambar https://unsplash.com/photos/bA68bHUS9mA)

            Karena itu saya memulai dengan cara sederhana, siapa saya. Saya orang biasa. Kepadamu saya tak bisa menawarkan apa-apa. Saya tidak cantik, kaya, bahkan pintar. Atau berakhlak mulia dengan pemahaman agama yang mendalam. Bahkan saya berencana menyodorkan berpuluh-puluh kekurangan dan keburukan saya saat engkau datang. Kenapa demikian? Bukankah harusnya saya menonjolkan kebaikan jika ingin mengesankan seseorang? Membuatnya terpesona dan akhirnya datang melamar. 

            Saya bukan tak tahu soal itu. Sebagai mantan admin sales, saya tahu bahwa menonjolkan keunggulan suatu barang adalah taktik jitu untuk menarik pembeli datang. Sebagai blogger yang pernah menulis untuk satu-dua Job Review saya tahu benar bagaimana cara melambung-lambungkan satu produk untuk mempengaruhi orang. Meski terkadang produk itu tak sehebat yang dituliskan. Sebagai penulis saya paham benar bagaimana cara menuliskan kemolekan satu produk (dalam hal ini saya) dengan kalimat berbunga yang akan membuat pembaca terkagum-kagum hingga liuran.


10 Januari 2016

AH, TERNYATA KITA LEBIH PANDAI MENCELA...







Tahun ’98 ketika para mahasiswa demo menuntut Presiden Suharto dilengserkan, saya bertepuk tangan. Saya senang betul melihat akhirnya ia turun tahta. Tentu saja tak lupa membubuhinya dengan komentar paling pedas yang saya bisa.
Lalu seseorang berkata ,”Jangan terlalu...”
“Memangnya kenapa? Orang seperti dia pantas menerima hujatan. Sudah lama dia membuat kita sengsara.”
“Memang benar, tetapi diantara itu pasti ada saja sisi baik yang akan dikenang.”
Saya mencebik tidak percaya. Mana mungkin orang seburuk itu punya sisik baik, pikir saya sambil terus menonton riuhnya demo mahasiswa via televisi. Lalu Presiden benar-benar tumbang. Harapan saya semoga setelah ini Indonesia berjaya dan gilang-gemilang.

Ekspektasi saya berlebihan. Tahun berlalu, pemimpin berganti, Indonesia masih segini-gini aja. Tak satu pun dari mereka yang bisa membawa Indonesia bersinar, pikir saya kecewa.  Rupanya tidak hanya saya yang kecewa, orang lain juga sama. Secara random ada saja diantara mereka yang ternyata merindukan jaman kepemimpinan Presiden Suharto.
“Meski otoriter, tapi hidup ndak serepot sekarang. Sekarang apa-apa mahal, duh...memang benar ‘Penak jamane Mbah Harto biyen (Enak jaman Pak Harto dulu)’.”

30 Desember 2015

AKHIR TAHUN MENJELANG, WAKTU YANG TEPAT MENSYUKURI KEMALANGAN




 
source : https://unsplash.com/
 
Tinggal sehari lagi, tahun baru akan datang. Lalu orang berbondong-bondong merayap ke berbagai titik keramaian, menyaksikan pergantian tahun dengan berbagai cara. Sekedar duduk nongkrong dengan teman, makan-makan, atau bahkan larut dalam pertunjukan seni yang diselenggarakan tanggal 31 malam.

Di sosial media, tak kalah ramai orang menyambut tahun yang akan datang. Beragam status dilontarkan. Kebanyakan berisi resolusi tahun depan dan pencapaian tahun sekarang. Menyenangkan membaca yang paling belakang. Lewat berbagai ucapan syukur kepada Tuhan atau serangkaian foto kompilasi keberhasilan yang diraih sepanjang 2015 mereka mengekspresikan kegembiraan.

Saya jadi tergerak untuk menuliskan ucapan selamat di bawah status mereka. Tetapi, ada yang janggal dengan saya. Tangan saya terhenti menyaksikan orang-orang “memamerkan” kebolehannya. Ya, ya...tiba-tiba saya merasa tidak bahagia, meski sungguh saya tidak menginginkannya. Itu  membuat “air diminum rasa duri, nasi dimakan rasa sekam” alias tidak enak makan dan minum perasaan jadi tak karuan. Mendadak apa yang kita capai tidak lagi cukup. Semua serba kurang, tidak cukup besar untuk melampaui pencapaian orang. Tidak cukup terlihat untuk diakui khalayak di dunia per-sosmed-an. Tanpa sadar envy  sudah merajalela. Saya batal mengucapkan selamat dan memilih melipir dari sosial media.
           

10 Desember 2015

KETIKA BLOGGER TETANGGA TAMPAK LEBIH HIJAU



 
Satu ketika, mendadak jadi ngilu melihat syarat tawaran kerjasama untuk blogger seperti di bawah ini :
1.      Blog dengan domain pribadi
2.      Blog Aktif
3.      Usia domain minim 2 tahun
4.      DA minim 20
5.      Memiliki PR minimal 2
6.      CF minimal nganu
7.      Memiliki TF minimal nganu
8.       PA minimal nganu
9.      MozRank diatas nganu
10.  MozTrust minim nganu
*semakin berkunang-kunang membaca nomer 6-10

Hari lainnya, mendadak gegana (gelisah, galau, merana) melihat blogger-blogger tetangga terlihat hijau dipandangan mata. Saban kali melongok sosial media selalu mendapati mereka pamer prestasi terbarunya. Ada yang baru saja menang lomba blog berhadiah puluhan juta, ada yang dapat job review menggiurkan, ada yang baru panen google adsense-nya, ada yang pamer Alexa Rank ramping dan viewer yang sehari bisa ribuan orang. Sementara blog sendiri tak ubahnya padang yang rumputnya tumbuh jarang-jarang. Tidak segar!
           
Nge-blog sudah cukup lama prestasi tidak naik-naik juga. Beberapa kali ikut lomba tak satu pun juara. Berusaha dapat job review seperti yang lain nggak pernah dapat. Sekalinya dapat disuruh review tempat jualan jam branded murah yang ternyata aspal. Mengajukan google adsense selalu dapat penolakan.

23 November 2015

PICTURES TALK : HEAVEN IS NEAR





Tak perlu jauh mencari surga, ia ada setiap kali kau palingkan muka. Jika kau tak percaya tak apa. Kemarilah, akan kutunjukkan  bukti kalau surga itu memang benar-benar di dekat kita.



Surga, begitu kau bisa menyebutnya jika pagi buta saat kau terbangun, kau masih bisa menikmati cahaya lampu panjar tersampai di matamu. Bayangkan jika malam sebelumnya kau masih bisa melihat dan keesokan paginya Tuhan mencabut indra penglihatanmu. Akan jadi seperti apa dirimu. Jadi jika kau ingin tahu rasanya surga, itulah salah satu bentuk kecilnya.



Surga, begitu kau bisa mengatakannya bila kau menapakkan kakimu di luar rumah dan kau dapati pagi yang dramatis. Berdiri di bawah sebuah menara yang tingginya berkali-kali lipat tubuhmu, berlatar belakang awan-awan di pagi cenderung mendung dan angin dingin yang merasuki tubuhmu, kau pasti merasakan ketakjuban itu. Betapa luasnya alam raya dan betapa kecilnya kau disana.

08 November 2015

SECARA FISIK JAUH DARI SEMPURNA? KAU HARUS BANGGA!




 
captured from Raisa's Music Video "Apalah Arti Menunggu
Apakah kau tengah mendura? Menatap kaca sambil mengeluh betapa  secara fisik kau jauh dari sempurna, tak seperti Raisa? Tidak memiliki standar kecantikan yang ditetapkan segerombolan manusia—tinggi, langsing, berkulit kutih, wajah sempurna (mata serupa almond, hidung mancung, bibir tipis, pipi tinggi, alis rapi bak semut beriring, muka V shape), kaki jenjang, rambut panjang tebal baik lurus atau ikal.
Kau hanyalah perempuan Indonesia biasa—berkulit kulit sawo matang, mata sipit, dan rambut hitam, cenderung keriting ketimbang disebut ikal, tinggi tak sampai 150 cm, agak gemuk dan kerap disebut si gempal. Hidungmu kecil seperti kismis yang ditempelkan di atas roti bantal. Aduh mengenaskan.
Rasa-rasanya kau ingin saja memecahkan kaca.


Ah, jangan begitu. Jika bening pikir yang kau gunakan akan kau lihat betapa sedikit wanita yang memiliki standar demikian. Sebagian besar adalah wanita berwajah biasa. Apa kau tidak percaya? Sesekali pergilah ke jalan raya. Berdirilah di tepi dan hitunglah diantara mereka berapa banyak yang sudah cantik dari sononya. Berapa banyak wanita biasa? Catatlah dan kau akan tahu perbandingannya berapa.

Lagipula apa salahnya memiliki wajah biasa-biasa saja atau super biasa saja menurut standar kecantikan manusia? Wong itu semua juga anugerah dari Tuhan. Masih untung dikasih wajah, bagaimana kau tidak memilikinya?