Tampilkan postingan dengan label kisah inspiratif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah inspiratif. Tampilkan semua postingan

03 Juli 2018

Bepergian Sendiri Mengajari Saya Memahami Arti Kalimat "Berbaik Sangka Pada-Nya"






Saya memang bukan petualang. Saya tak paham adventure atau segala macam. Terlebih saya itu anak rumahan. Kata adik bungsu saya itu kalah jauh mainnya sama ayam. Iya memang benar. Saya hampir tidak pernah keluar karena dulu acap merasa tidak nyaman. Takut bila nanti di jalan kenapa-napa, padahal berangkat saja belum. Padahal yang dituju hanya seputar kabupaten sendiri.

Sekarang sebaliknya. Orang-orang sering heran karena saya pergi sendirian mengunjungi berbagai tempat wisata yang bejibun di kabupaten saya tinggal, Banyuwangi. Tidak beramai-ramai dengan lainnya. Padahal acapkali saya tidak paham betul tempat yang saya tuju meskipun  Hanya mengandalkan google map dan info-info yang saya dapat dari browsing, saya biasanya menetapkan hendak menuju kemana. Tanpa perlu mengajak si ini atau si itu.

Entahlah, menurut saya pergi sendirian itu jauh lebih nyaman ketimbang bareng teman. Bukannya bareng-bareng tidak menyenangkan, akan tetapi ada hal-hal yang bisa jadi kurang pas dengan gaya saya jalan. Saya ini tergolong tukang jalan minimalis. Bekal saya tidak besar, ada uang untuk masuk dan parkir plus sedikit uang saku saja sudah cukup. Air minum bawa dari rumah, tapi tidak untuk makanan kecuali beberapa butir coklat saja. Tetapi, soal data tempat tidak. Saya butuh waktu browsing dan melihat peta. Kalau perlu peta di screenshot untuk saya pelajari detilnya. Baru kemudian berangkat.

Meski demikian saya pun kerap tersesat. Bagaimanapun juga, peta dengan kenyataan di lapangan terkadang jauh berbeda. Gambaran yang kita bangun di kepala, bisa runtuh begitu dihadapkan dengan kenyataan di depan mata. Yang nampaknya gampang di peta  dan bikin kita bilang "Ah, gini aja. Kecil!" ternyata bikin pusing. Sering saya harus memanfaatkan GPS betulan alias "gunakan penduduk setempat" untuk sampai di tempat tujuan.

03 November 2016

AKHIRNYA SAYA PILIH IBU DAN BUKAN PEKERJAAN

 
Bunda cinta dan kasihmu adalah cahaya

            Agustus, 2014.
            Tak ada yang lebih menyenangkan bagi seorang yang tengah dilanda “kekeringan” ketimbang tawaran pekerjaan. Maklumlah sebagai penulis saya memang masih taraf belajar. Tulisan saya belum banyak yang tembus ke media. Beberapa kali jadi finalis atau menang lomba nulis, tak berarti saya mumpuni. Maka tak heran jika hasil dari menulis jauh dari harapan. Tak bisa dijadikan pegangan.
            Maka wajar jika saya bergembira ketika karib saya, Endang, mengatakan ada lowongan pekerjaan. Meski pun profesi yang ditawarkan jauh sekali dari ilmu yang saya pelajari semasa kuliah dulu yaitu jadi guru SD di sebuah sekolah swasta baru.
            “Siapa tahu, Fin. Kenapa tidak dicoba? Nggak apa-apa meski kamu lulusan Faperta.”
            Pertanyaannya kemudian ”Apa saya mampu? Mengajar tak sekedar mencari uang, didalamnya ada tanggung jawab besar. Apalagi saya tak memiliki ilmu mengajar”.
            Seolah tahu apa yang saya pikirkan, Endang, sahabat saya itu berkata ,”Coba saja. Tak ada salahnya. Yuk aku antar ke tempat Mbak Sita (bukan nama sebenarnya). Katanya di sekolah Islam yang dia rintis ini butuh banyak guru.”
            Ah, dia benar juga. Coba saja. Tak ada salahnya. Lagipula jika saya memiliki pekerjaan, saya bisa memiliki penghasilan tetap. Sehingga saya tak selalu was-was diliputi pertanyaan “Adakah uang untuk pergi ke warnet?” setiap kali saya ingin mengirim artikel, cerpen, atau novel.

22 Oktober 2016

MENGAJI KEMBALI DI USIA KE-28, ITU PENGALAMAN TAK TERLUPAKAN



source : https://pixabay.com


DITEGUR TUHAN
            Merasa cukup dengan pengetahuan agama, saya tidak merasa perlu untuk menambahnya. Sampai satu hari saya ditegur Tuhan lewat peristiwa kecil yang berefek besar.
            Sore itu saya mendengar kumandang adzan dari surau kecil di timur kantor kepolisian. Sang muadzin sudah tua, terdengar jelas dari suaranya. Tetapi, bukan itu yang jadi pangkal kejengkelan melainkan kekukuhannya mengumandangkan adzan meski tahu suaranya tak memenuhi syarat—buruk, gemetar, napasnya pendek, dan nadanya asal. Parahnya lagi panjang-pendek yang harus diperhatikan dalam adzan diterjangnya habis-habisan. Kentara bila sang muadzin tak paham tajwid dengan benar.
            ”Ck, muadzin tak becus tajwid begitu disuruh maju. Yang lainnya memang gak ada? Yang muda-muda, yang paham cara ber-adzan kan ada?!” gerutu saya.
            Di detik itu juga, Allah mengusik hati kecil saya dan membuatnya bertanya ,”Bagaimana jika anak muda yang kau maksudkan tidak ada? Atau kalaupun ada mereka tidak mau mengambil alih tugas itu dan memilih menjadi penggerutu seperti kamu? Dan kamu sendiri bagaimana? Mengatai orang tak becus tajwid, memangnya sudah berkaca? Lihatlah, kau sendiri tak lebih baik dari muadzin tua itu. Ilmu tajwid-mu jauh dari sempurna!”
            Saya tertegun. Deretan kalimat itu membuat saya tercenung cukup lama. Perlahan mendorong satu hal baru dalam diri saya, ingin mengaji kembali setelah sekian lama merasa cukup dengan pengetahuan yang saya punya. Mengaji kembali dari nol.  Tetapi, dimana? Memangnya ada tempat mengaji yang mau menerima orang dewasa.

09 April 2016

BATAL MENGELUH MEMBACA KISAH INSPIRATIF DI BLOG MBAK LISA







Capek luar biasa! Itu yang saya rasa ketika menyinggahi rumah maya Mbak Lisa. Mata saya panas, begitu juga pantat saya. Punggung sakit, betis berkonde...aduh saya benar-benar remuk redam.
Sungguh, pekerjaan yang saya geluti baru-baru ini membuat saya kelelahan. Sampai-sampai saking lelahnya, ketika pulang kerja, saya tak sanggup lagi membasuh muka. Sekedar membersihkan make up dari wajah saya.

Seperti hari itu. That’s why saya yakin gak bakalan sanggup membaca satu pun artikel di rumah Mbak Lisa. Yang ada di kepala saya, saya akan ngusruk di depan komputer tak sampai lima menit kemudian.
Tetapi saya salah besar. Mata saya tetap terbuka lebar menekuri tulisan-tulisan Mbak Lisa. Dimulai dari kisah pengojek payung bernama Wendra yang mengingatkan saya agar tak mudah mengeluh bagaimanapun keadaannya. Terus saja berjuang sembari menyalakan harapan. Mungkin saja harapan-harapan itu terlihat naif, aneh, dan tidak mungkin kesampaian. Tetapi, siapa yang tahu apa yang bakal terjadi di depan? Kini si bocah pengojek payung itu berhasil menjadi manajer artis papan atas.

10 Maret 2016

BELAJAR SABAR DAN POSITIF DARI MBAK ESTI SULISTYAWAN



Saya terdiam membaca tulisan seorang teman blogger, Mbak Esti, yang berjudul Pentingnya Sugesti Diri. Dalam artikel singkat itu Mbak Esti mengungkapkan perjuangannya sebelum akhirnya hamil dan memiliki anak. Empat setengah tahun bukan waktu yang singkat untuk terus bersabar dalam penantian. Aduh, saya nggak bisa bayangkan kalau itu saya. Lha wong dicoba nggak punya duit saja saya sudah merana, seolah matahari tak bersinar lagi, apalagi begitu rupa. Entah apa yang akan saya katakan pada Tuhan. Bisa jadi saya akan menggerutui apa yang ia gariskan. Tidak mau peduli bahwa Tuhan sudah memberi banyak  pada saya, berupa kesehatan, udara gratisan, pikiran yang jernih, dan keluarga serta teman yang menyenangkan. 

Seperti yang dikatakan Mbak Esti “...kami memang harus berusaha sekuat tenaga, akan tetapi hasil akhir adalah hak sepenuhnya Allah Swt” itu ada benarnya. Seperti apapun manusia berusaha hak prerogatif memang ada pada Tuhan. Jika memang cobaan yang dihadirkan lebih dulu sebelum akhirnya doa kita dikabulkan, tujuannya bukan untuk melemahkan. Tetapi, menguatkan dan membuat manusia lebih dekat pada-Nya. Sekaligus belajar sabar di saat yang sama.

Eh, masa?

Lho iya, beneran ini. Coba ingat-ingat, kalau kita sedang ditengah kesulitan bukankah kita jadi sering “ngapelin Tuhan”? Duduk di dalam kesunyian, memohon dengan sungguh-sungguh agar kita kuat menghadapi kesulitan sekaligus ditunjukkan jalan keluar.

02 Oktober 2015

SEMANGAT BERKARYA WALAU CARPAL TUNNEL SYNDROM MENDERA

carpal tunnel syndrom afilia.blogspot.com
pic captured from  this video


    Saya sedang mengasihani diri dan butuh asupan motivasi ketika membaca pengalaman Yuyun Rahmawati. Crafter yang saya kenal lewat grup membuat bros dan aksesoris di facebook mengaku ia tengah menderita penyakit CTS (Carpal Tunnel Syndrome).

    Semua bermula ketika ia masih menjadi pekerja kantoran beberapa tahun silam. Layaknya pekerja kantoran lainnya, Yuyun harus berkutat dengan komputer saban hari. Selama itu semua berjalan lancar hingga suatu hari ia merasakan ada yang aneh dengan tangan kirinya. Rasa nyeri, kebas, kesemutan dan rasa seperti terbakar ia rasakan di jari dan pergelangan tangan. Semula keadaan ini tak terlampau ia pedulikan. Sampai suatu ketika ia memegang barang yang lumayan berat dengan tangan kirinya, dan ia terkejut mendapati si barang terlepas begitu saja. Dari situlah ia mengetahui bahwa ia mengalami penyakit yang dinamai Carpal Tunnel Syndrom (CTS). Rupanya  tanpa ia sadari kegiatan mengetuk-ngetuk tuts komputer secara intens menyebabkan terjadinya sindrom ini.

    Meski begitu, wanita berjilbab yang kini pilih melepas pekerjaan kantor demi merawat putri kecilnya itu tak berhenti berkarya. Keinginannya untuk membantu suami membuat wanita satu ini bertekad menghasilkan uang dari tangannya sendiri. Disela-sela kesibukannya mengurus

17 Juli 2013

NGANTRI KE SURGA




            Wajah perempuan disebelahku sudah berubah warna sejak tadi. Sama sekali tidak tersenyum gara-gara kelamaan ngantri di BCA. Aku sendiri kurang lebih sama, hanya saja aku berusaha keras “men-setting” wajahku sedemikian rupa agar tampak biasa saja. Aku tidak mau muka kece ini jadi jelek karena kelunturan dongkol tingkat dewa. Kebayang deh, fansku pada lari karena melihat perubahan dari cantik menjadi Dracula *jiaelaaah gayanya.
            Tapi mendadak gara-gara itu jadi kepikiran : “Trus gimana kalo ngantri ke surga?”
            Sebenarnya ke surga nggak perlu ngantri juga. Syaratnya hanya menjalankan perintah Tuhan dengan segala keikhlasannya, tak ada lainnya. Tidak bertanya ono-ini bila garis hidup tak sesuai keinginan kita. E...tetapi  pada kenyataannya ternyata lebih sulit menjalankan perintah-Nya dengan ikhlas ketimbang ngantri di BCA. Ah, jangankan ikhlas menjalankan perintah-Nya, bersikap sabar saja ternyata tak mudah bagi saya. 


12 Juni 2013

IMPIAN, SETELAH LAMA BERSELANG




Belum bisa membaca dan menulis waktu orang tuaku mengenalkan Jaya Baya. Aku tidak mengerti apa isinya, pokoknya seru saja melihat gambarnya. Saat aku mulai lancar membaca majalah berbahasa Jawa itu menjadi salah satu favoritku. Aku akan berebutan dengan orang tuaku untuk membacanya. Aku kadang kesal kalau keduluan. Berarti akan lebih lama bagiku untuk bisa membaca rubrik kesukaanku, Taman Putra. Isinya cerita kanak-kanak.

Kadang karena tidak sabar aku jadi mengganggu mereka, bertanya bolak-balik kapan selesai bacanya. Tentu saja orang tuaku jadi kesal, karena keributan yang kulakukan. Hahaha, lucu ya. Tapi begitulah aku, jika sudah menyangkut bacaan selalu egois. Aku jadi yang paling duluan membacanya.


Berawal dari membaca aku jadi bercita-cita ingin menulis cerita juga. Aku mencobanya. Tapi setiap kali mencoba, aku menghapusnya. Jelek banget kata-katanya. Siapa juga yang mau membaca? Pikirku.

Lalu masa kanak-kanak berganti begitu cepat. Aku menjadi remaja, yang lebih sibuk dengan teman-temannya. Les ini, les itu. Ribut belajar untuk mengejar nilaiku. Aku bukan anak yang terlalu pintar, tetapi dikatakan bodoh juga tidak. Sudah pernah mencicipi posisi dua puluh besar sampai lima besar. Tetapi aku pembosan, jika tidak senang satu pelajaran punya kecenderungan mengabaikan. Mau tahu apa yang kulakukan saat itu. Tentu saja membaca. Sesekali memperhatikan guru bicara, dan menunduk dengan setia. Seolah mencatat, padahal yang kulakukan adalah membolak-balik halaman.

Di masa itu impian untuk melihat tulisanku nampang di Jaya Baya terlupakan. Sampai aku lulus kuliah pun impian itu terkubur dalam. Tetapi semangat itu muncul kembali setelah aku terperosok ke dunia tulis-menulis beberapa tahun silam, tepatnya setelah ketemu teman-teman dunia maya yang keranjingan nulis tahun 2009.


29 Desember 2012

CERITA SI GOKIL : MUNDUR ATAU MAJU JADI PENULIS? TERSERAH LU!




Aku penyuka buku pada awalnya. Menyukainya hingga bermimpi punya buku atas namaku sendiri. Tetapi mimpi itu terkubur seiring hari-hari, dan aku melupakannya hingga bertahun-tahun saat blog muncul dan telah trend pada awal aku terjun.
Dari sekedar ngeblog pada 2006, aku mulai merambah lomba-lomba ringan. Lomba-lomba yang mengantarkanku ke lomba-lomba berikutnya, bertemu banyak orang, menjadi rival dan kemudian berteman dengan mereka.
Jangan tanya prestasiku apa. Karyaku belum banyak tembus media. Memang ada sekian antologi, tetapi majalah dan koran? Hwoow, belum banyak. Paling hanya dua jari saja. Aku juga bukan penulis yang produktif luar biasa. Menulis seenak udelnya seperti notes atau blog bisa saja kuposting setiap harinya, tapi fiksi dan non fiksi yang ada tujuannya membuatku sering mampet, terbebani, dan jadi stag mau kemana. Ealah...Belum lagi perkara disiplin dan kemauan yang masih kembang kempis seperti balon kurang isi. Aish! Klop sudah.

Tahun 2012, aku dengan tak terduga lolos audisi outline di salah satu penerbitan. Wedyan! Mengingat persiapannya yang gradag-gruduk asal. Maka bisa dipastikan aku kalang kabut begitu harus menerjemahkan outline dalam bentuk cerita sepanjang 80-120 halaman.
Napasku serasa ngos-ngosan, aku seperti seorang yang dipaksa lari sejauh ribuan kilometer di hari pertama aku belajar jalan. Bagusnya, saat itu printer kesayanganku telah tewas dengan sentosa. Terpaksa aku merogoh kocek lebih dalam untuk mencetak artikel dan data yang kuperlukan demi si bakal novel. Padahal di saat yang sama aku sudah berhenti bekerja, hahahahahaa...Untungnya aku masih bisa mengais rezeki dari rajutan *plok, plok, ploook!
Sewajarnya sebuah usaha, usaha rajutanku juga tak selalu lancar. Kadang naik, kadang turun.  Jadi belum bisa memberi kemantapan secara finansial. Belum lengkap, modem yang biasa kujadikan kawan untuk mencari rizki  ngadat pula.  Sudah tidak mau lagi bekerja sama denganku. So aku harus ke warnet untuk mengkilik-kilik mbah google demi beragam info yang kuperluka, juga saat  nge-share hasil rajutan sekaligus promo jualan.  Tidak efektif dan bikin biaya kian bengkak heheheh...
Dan  untuk melengkapi puzzle kebahagiaan sebagai penulis yang nekat menulis novel padahal tidak punya pengalaman memadai di dunia literasi, si kompie meninggal dunia. Krik...krikk...hening sunyi dunia karena saya mengheningkan cipta (nangis maksudnya).  Terus piye jal?
Aku sudah hampir nyerah ketika akhirnya dapat pinjaman laptop dari emak (dibelikan tapi saya bilang itu pinjaman). Apa pasal? Tabungan saya belum cukup kalau harus diperah beli laptop, nek. Weleh nyusahin banget to ya?

Kadang  ingin saya mengeluhkan kerepotan itu hingga mengular naga panjangnya. Tanganku sudah mengetikkannya, tinggal klik saja dan muncul di beranda efbe saya. Ha tapi urung begitu sadar kalimat negatif itu takkan mengubah apa-apa. Malahan justru bikin sampah di dinding teman-teman lainnya. Thats why, akhir-akhir ini saya lebih banyak diam (dehem kenceng), ketimbang nyeplosin keburukan di dunia maya. Hidup sudah susah, masih juga ditambah dengan kalimat sampah. Jiaaah, enggak banget ah!
Nggak jarang saya pengen cerita pada kawan. Akhirnya malah batal demi hukum, hahahaha...nggak ding batal demi nggak nyusahin orang. Kebetulan saya kerap diajak teman curhat. Tahu rasanya gimana saat kamu sendiri butuh dukungan, orang datang dan mewek cerita panjang lebar. Begitu selesai masalah dia kabur dan kau ditinggalkan. Nelpon atau sms saja enggak. Sekedar nanya kabar.
Lha dipikirnya saya ini nggak punya hati, hingga nggak bisa marah kalau digituin? Saat hati bening saya selalu berkata pada diri sendiri, itu bukan hal besar. Wajar aja, kok. Ngapain dipikir? Saat buram pikir, saya kesel juga dan bertanya dimana kalian saat saya membutuhkannya? Hwahahahaha, ternyata saya belum bisa jadi tempat sampah yang baik ya?
Duuh, menggapai cita-cita itu seribet ini ya? Dan jika dengan keribetan itu saya berhenti, bisa dipastikan itu gila namanya!  Aku bisa dihabisi Emak kalau begitu caranya (hahaha nggak ding).  Justru karena itulah aku harus ngebut dan menyelesaikannya. Aku punya hutang banyak pada emak dan orang-orang rumah yang sebegitu pengertiannya. Tapi menyelesaikan novel ini belum sampai pada titiknya. Masih ada editor, penerbitan, pembaca, dan sebagainya.

Masalahnya saat bertekad semacam itu, semangat saya masih belum bangkit juga. Sompreet deh ya...Di saat sekritis itu saya justru lebih banyak menghabiskan waktu dengan membaca-baca artikel tentang Agnes Monica, Bing Bang (itu tuh idol grup dari Korea), dan S4 (yang terakhir grup baru jebolan ajang Galaxy Superstar).
Agnes Monica, meski di cap sombong oleh orang lain tapi nggak bisa disangkal perjuangannya luar biasa. Fighting spiritnya gila! Ia keras betul mengusahakan mimpinya. Nggak peduli orang berkata apa, dia tetap fokus dan melaju di jalurnya. 


Big bang? Proses menuju tangga kesuksesan grup musing yang digawangi G-Dragon, Taeyang, T.O.P, Dae Sung, dan Seungri nggak semudah bikin sambal (hahah mentang-mentang saya suka sambal ya?).  Perjuangannya makan waktu dan kesabaran.
S4? Saya bukan fans mereka tapi mencermati mereka. Saya terkekeh-kekeh melihat grup baru, yang sebelum resmi meluncurkan mini album-nya, sudah ada anti fans-nya.
Kalau dibalikin ke saya, anti fans itu adalah kendala (malas, gak punya duit, etch). Kalau itu bikin kamu tepar dan nggak mau lagi berusaha, wah kapan berkembangnya? Lha mereka yang diatas itu bisa kayak gitu karena mereka nggak balik kanan dan justru berhadapan dengan kendala, je...

Jadi gimana? Pilih mundur atau maju?

Saya pilih maju dengan segala resikonya. Ketimbang mundur dan menyesal kemudian hari.  Setidaknya saat saya mati, saya tidak penasaran *oisssh bahasanya.
Dan  diatas semua kerepotan itu,  I would like to say thank you to Allah. Allah telah memberi saya kebahagian melampaui kesulitan yang saya terima.
Kelak semua cerita seru itu akan jadi legacy buat anak-anakku tercinta. Aku ingin mereka tahu terkadang perjalanan meretas mimpi tak semudah perkiraan kita. Seringkali sakitnya lebih banyak ketimbang bahagianya. Dan itu untuk mengingatkan kita, jika satu hari impian itu telah tergenggam kau bisa menghormatinya dengan cara yang benar. Berempati saat orang mengalami hal yang sama  dan tidak begitu saja mencela ketika mereka mengeluhkannya.

GANBATTE!

FIGHTING!

*halah kok jadi lebay gini ya

Anyway, pidato kenegaraan saya sampai disini saja ya? Kurasa sudah banyak orang nunggu saya di luar sana, psst...bukan mo minta tanda tangan, tapi sibuk pada mo lempar sendal.

SELAMAT MENYONGSONG FAJAR BARU 2013

03 Januari 2012

MEMBANTU ANAK-ANAK PUTUS SEKOLAH DENGAN RAJUTAN




Sederhana saja. Mimpi itu dimulai ketika saya mengaji di daerah Genteng Wetan tahun 2007-an. Saya bertemu dengan beberapa teman baru disana. Kebanyakan masih usia sekolah. Ada satu hal yang saya cermati selama itu. Bahwa di daerah mereka tinggal sudah jamak bila anak-anak putus sekolah. Lebih baik mencari kerja untuk menyambung hidup ketimbang menggapai mimpi lewat jalur pendidikan. Entah dengan prithil brambang, jadi penjahit kodian, atau jual tempe, pokoknya menghasilkan uang. Mengapa demikian? Ketika saya tanya alasan yang dikemukakan memang tak jauh-jauh dari seputar ekonomi. Kemiskinan, butuh makan, adalah hal yang sering terdengar di telinga saya. Lalu terpikir oleh saya bagaimana cara membantu mereka. Tapi bagaimana caranya?
Seringnya jalan-jalan ke daerah Genteng Wetan, terutama Cangaan dan sekitar membuat saya sadar daerah itu adalah sentra industri garmen. Disana setiap hari diproduksi beratus-ratus baju sekolah, topi, jilbab, dan mungkin juga baju muslim. Pastilah banyak kain perca tersisa. Kain perca ini bisa dimanfaatkan untuk apa saja. Mulai dari dompet, tas, selimut, atau tatakan gelas. Ah, seandainya saya bisa memanfaatkannya lalu mengajak anak-anak putus sekolah disana untuk mengerjakannya pasti bagus hasilnya. Saya punya kemampuan untuk membuatnya dan saya bisa mengajarkan pada mereka. Tetapi lagi-lagi saya terkendala dana. Saya tak punya cukup uang untuk melakukan. Tapi tak apa. Masih ada cara lain untuk membantu mereka.

Bukankah saya bisa membuat bros, bandana, syal, korsase, bahkan tas dari rajutan? Saya bisa menggali dana dari sini kan? Jadi prosedurnya adalah saya langsung memotong 5 atau 10% dari harga tiap barang yang saya hasilkan untuk tabungan sedekah. Taruhlah harga sebuah bros rajutan adalah Rp 5.000,00. Dari harga itu 5%-nya kita ambil dan dimasukkan dalam tabungan sedekah. Nominalnya memang kecil, hanya Rp 250,00. Tetapi jika dikumpulkan akan menjadi banyak. Dengan begitu tanpa sadar kita telah memberdayakan orang lain dengan baik. Tak hanya mengajak mereka membeli tapi juga mengajak bersedekah tanpa mereka sadari. Dan saya pun tak perlu meminta-minta agar mimpi saya terwujud nyata. Kelak jika uangnya sudah terkumpul, bisa dimanfaatkan siapa saja. Terutama anak usia sekolah yang butuh bantuan dana pendidikan. Asalkan mereka punya niat dan semangat untuk itu.
Lalu bagaimana realisasinya? Saya sudah mulai membuat bros dan korsase rajutan. Masih dikumpulkan dulu hingga menjadi banyak untuk kemudian dijual. Tak terpikir oleh saya usaha ini gagal. Yang saya pikirkan saya maju saja. Apapun yang terjadi kelak. Bukankah dalam hidup selalu ada resiko? Maju beresiko, mundur apalagi. Lalu kenapa tidak maju saja dan mewujudkan mimpi? Dan bagaimana denganmu? Mari tuliskan mimpimu, lalu wujudkan dengan cara yang kau tahu.

Jika ingin membaca dan komen langsung tulisan ini di Annida silakan klik link ini http://www.annida-online.com/artikel-4796-Afin%20Yulia.html
Atau bila ingin vote tulisan ini bisa klik saja di http://www.annida-online.com/media.php?module=cerpentawuran&halaman=1