Tampilkan postingan dengan label rupa-rupa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rupa-rupa. Tampilkan semua postingan

23 Juli 2018

Stop Upload Foto Korban Pembunuhan Atau Kecelakaan, Itu Menyalahi Etika Dan Kemanusiaan


 
sumber gambar : https://pixabay.com
Saya selalu melewati jika ada orang yang share gambar atau video kekerasan, korban pembunuhan, atau kecelakaan. Saya tidak jijik atau lemah hati, hanya tidak tega melihatnya. Untuk mengantisipasi hal yang sama, biasanya saya cukup unfollow atau hide postingannya di akun media sosial, daripada saya sebal jika ia mengunggah hal yang sama kemudian hari. Terlebih bagi mereka yang gemar membagikan hal semacam itu sebelumnya.

Akan tetapi, tindakan ini ternyata terkadang tidak cukup. Yang di media sosial sudah aman, di aplikasi percakapan malah terbuka lebar. Seperti beberapa waktu silam. Seorang kawan mengisahkan, sewaktu ramai berita pengeboman di Surabaya, seseorang dengan entengnya mengunggah gambar pelaku tanpa sensor. Dalam kondisi utuh saja rasanya tidak nyaman, apalagi jika tidak utuh lagi. Sontak semua kawannya mengingatkan. Tidak hanya dianggap norak, berbagi gambar semacam ini juga menunjukkan kurangnya etika si pengunggah.

Lain hari, masih di grup WhatsApp, ada kejadian serupa. Seseorang membagikan video korban pembunuhan kalau tidak salah. Korbannya, seorang perempuan, tergeletak di tepi parit atau semacamnya dalam keadaan tak berbusana. Niatnya mungkin hanya berbagai berita, tetapi bagaimana pun tindakan berbagi gambar atau video korban (baik pembunuhan, kekerasan, pemboman, atau kecelakaan) itu tidak pantas dilakukan.

17 Juli 2018

Selalu Ada Cara Mengatasi Kesulitan, Asal Kita Tak Tinggal Diam



sumber gambar : Photo by Kaboompics .com from Pexels


Saya tercenung di depan komputer. Masalah command prompt yang beberapa waktu lalu terselesaikan kini muncul lagi. Meski tanda (x) sudah di klik comman prompt tetap muncul lagi dan lagi. Upaya menggunakan aplikasi RKill untuk membenahi masalah tersebut juga gagal. Si command prompt tetap bandel tidak mau pergi.

Di saat yang sama setiap kali membuka google chrome, selalu muncul Nineteducer.info.
Nineteducer.info adalah pop-up ads yang selalu muncul bila kita membuka browser. Secara konstan kita akan diarahkan ke situs Nineteducer.info meski sudah menolaknya dengan cara klik tanda (x). Berulangkali, hal samalah yang terjadi. Wah, saya garuk-garuk kepala karena ini.

Masalahnya saya tidak punya teman yang bisa dimintai tolong untuk mengatasi hal ini. Jadi apa yang harus saya lakukan? Menanti adik saya pulang dan minta dia mengatasi problem tersebut atau mencari jalan keluar sendiri? Saya pilih opsi kedua karena jika memilih opsi pertama akan terlalu lama. Adik saya yang paham soal IT bekerja di luar kota. Pulang hanya sepekan sekali. Jika menunggu dia, maka saya harus bersahabar menantinya beberapa hari. Wah, nggak asyik.

Maka solusinya adalah mengandalkan diri sendiri. Google terbuka lebar, ada banyak ilmu tersedia jika kita mau mencari. Pikir saya. Maka tanpa ragu saya mencari informasi bagaimana cara mengatasi problem  pop-up ads Nineteducer.info tadi. Berbekal koneksi internet saya ketikkan info yang saya butuhkan via mesin pencarian ternama, Google. Rupanya Nineteducer.info menginfiltrasi komputer kita berbarengan dengan file yang kita unduh dimana didalamnya telah disusupi virus.

Satu-satunya cara adalah uninstall program-program yang tanpa kita sadari terinstal sewaktu kita mengunduh file dari internet. Saya yang awam berusaha keras mencari tahu bagaimana caranya. Ternyata prosedurnya ternyata sederhana. Hanya masuk ke kontrol panel, klik uninstall a program, lalu klik installed on, dan kemudian klik tanggal mulai problem terjadi (munculnya pop-up Nineteducer.info bermula). Dari sini akan muncul aplikasi apa saja yang terinstal tanpa kita sadari. Hapus semuanya. Dan masalah teratasi seketika.

29 Juni 2018

KETIKA AFIN YULIA MENJADI MARKONAH A.K.A MARISA




Februari silam ...
"Fin, kamu besok ikut main Oplosan (red. nama talkshow di sebuah televisi lokal, Banyuwangi TV) ya," kata Mas Faisal, waktu ketemu saya di Rumah Baca Sahabat Kecil.
Jreeng! Ha, saya kok disuruh berakting. Mana bisa? Sekalinya saya nampil di depan orang banyak (sok) nge-drama itu ya bersama Maliki dan Widhi di acara ISL (inspirasi Sekolah Literasi) 2017 Desember silam. Selain itu mana pernah. Tapi, nggak apa-apalah ini acaranya kan tujuannya untuk pendidikan. Kalaupun nanti gagal, paling kedepannya tidak dimainkan. Pikir saya sambil mikir adegan yang mungkin saya mainkan. Yah, paling figuran. Pikir saya tenang.

"Kamu main jadi TKI yang baru pulang ke Indonesia ," kata Mas Faisal sambil menjelaskan seperti apa saya harus tampil nanti yakni kudu bling-bling, cetar, dan gaya.

Mbokneee! Secara saya ini tampilan sehari-hari 'kan tomboy. Baju seadanya, sandal jepit, jilbab, dan tanpa bedak pula. Pernik-pernik yang "cewek banget" saya nggak punya. Saya punya rok, tetapi nggak cocok untuk gambaran Markonah itu.
Terpaksa saya ke mal (heleeh, kok mal? swalayan  hai ...) beli baju baru untuk acara itu.
Karena sehari sebelumnya saya harus ikut acara Kelas Relawan di Margomulyo, maka persiapan pun seadanya. Saya pikir masih bisa pulang, ternyata langsung bablas ke Singojuruh. Jadi bisa dibayangkan, dari Margomulyo saya hanya bawa tas ransel isi baju yang kemarin dipakai, peralatan mandi, dan sandal japit. Untungnya kostum untuk bermain peran sudah masuk tas, kalau tidak bisa dibayangkan seperti apa mumetnya.

sumber gambar : koleksi pribadi
 
Tiba di tempat, muka saya yang sudah cakep ini (hak preet!) langsung dipermak oleh Mbak Ayoel menjadi lebih cakep lagi. Kostumnya pun ganti, tetapi hanya bagian atas saja. Yang bawah tidak, wong saya tidak membawa baju lainnya.
Wis, singkat kata begitu selesai dipoles, Afin Yulia hilang. Saya menjelma menjadi Markonah alias Marisa, si TKI yang super gaya itu.

04 Desember 2017

TAKE IT EASY (SAAT AWKWARD MOMENT TERJADI)


source image : http://pixabay.com/


Dikira Hamil
            Sebagai orang yang tidak berlangganan internet di rumah, saya memang acap menggunakan internet di luar. Entah wifi-an di RTH Maron atau justru di warnet. Wifi-an di RTH Maron memang sudah saya tinggalkan sejak sinyalnya mulai susah ditangkap sekitar setahunan silam. Sebagai gantinya saya lebih sering ke warnet saja.
            Ditempat itulah sebuah awkward moment terjadi. Satu kali saat hendak membayar jasa warnet, pemiliknya bertanya ,”Hamil to?”
            Saya tercenung sekian detik. Lalu dengan sigap tersenyum dan menjawab ringan ,”Ndak, Mas. Cuma gendut saja.”
            Seperti yang saya duga wajah pemilik warnet itu langsung berubah warna. Seperti halnya saya kalau saya salah melontarkan pertanyaan atau salah menyapa orang. Ingah-ingih-lah bahasa Jawa-nya. Tetapi, saya pura-pura tidak melihatnya. Saya tetap berlaku santai, seolah tidak ada apa-apa.
            Lain hari, saat melihat-lihat pameran di Banyuwangi salah seorang penjaganya yang ramah bertanya ,”Hamil berapa bulan, Mbak?”
            Dziingh! Saya bingung mau jawab apa. Saya sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi kalau saya jawab sebenarnya. Tapi, kalau tidak saya jawab kok ya ndak sopan. Bagaimanapun juga Mbak itu hanya mencoba berlaku ramah kepada saya, tidak lebih. Niatan mengolok saya kira juga tak ada, wong dia tidak kenal saya.
            Maka sambil menahan tawa saya menjawab sedatar dan seenteng mungkin, berharap tidak membuat si Mbak malu, dengan kalimat ,”Eng...ini sih bertahun-tahun nggak lahiran.”
Begitu dengar jawaban saya mak bles, si Mbak langsung minta maaf. Jelas banget kalau dia merasa tak enak dengan saya. “Maaf, Mbak. Saya ndak ngerti,” ucapnya sambil piye gitu (hahahaha).

30 November 2017

CERITA SEDIKIT DARI ROOM TO READ





            Aplikasi workshop menulis Room to Read Phase 2 Cycle 3 Desember ini sudah dibuka. Saya yakin banyak penulis yang ingin masuk ke dalamnya. Tetapi, bagaimana sih sebenarnya workshop Room to Read itu? Benarkah pelatihan menulis ini menakutkan? Yang masuk hanya penulis terkenal dan berpengalaman? Mau tahu jawabanya, nih cerita saya...
           
            Saya sedikit sangsi sebelum mengirimkan aplikasi ke Room to Read Juli lalu. Bukan apa-apa, saya mendengar kalau yang lolos seleksi di pelatihan ini kebanyakan sudah berpengalaman semua. Sementara saya tidak memiliki pengalaman cukup di bidang penulisan cerita anak. Boleh dikatakan saya baru saja belajar. Karena baru itu belum ada tulisan saya yang lolos media nasional. Bobo belum terdengar, Nusantara Bertutur sama saja, begitu juga yang lain-lain. Kalaupun ada, hanya  beberapa di majalah berbahasa Jawa, Jaya Baya, serta beberapa buah antologi. Jadi, bisa dikatakan mengirim aplikasi ke Room to Read itu bikin saya gamang.
             Satu hal kemudian menyadarkan saya, kenapa saya takut sebelum mencoba. Lakukan saja, perkara lolos atau tidak urusan belakang. Toh, kalau tidak lolos pun saya tidak rugi apa-apa. Takut amat sih? Begitu kata hati saya. Berbekal kalimat itu saya menulis dua naskah cerita sesuai yang disyaratkan yaitu sepanjang 50-200 kata. Selesai ditulis, cerita saya endapkan sejenak, sebelum akhirnya saya kirim tanggal 2 Juli, enam hari sebelum deadline. Saya tidak berpikir apa-apa. Berpikir lolos atau tidak lolos juga tidak. Pikiran saya teramat sederhana ,”Pokoknya saya berusaha, selebihnya biar Allah saja yang menentukan.”
            Tanggal 23 Juli 2017, ponsel saya berbunyi. Kala itu saya berjibaku (eleuh, bahasanya!)  menuruni jalan setapak menuju air terjun Telunjuk Raung bersama kawan saya, Niken. Nomer yang tertera di layar memang asing, tetapi saya terima juga karena berpikir itu penting. Lhadalah beneran! Ternyata yang menelepon adalah perwakilan dari pihak Provisi Education yang menyatakan saya lolos pelatihan Room To Read. Yang lolos siapa saja? Hm, saya emejing melihat daftarnya. Karena nama yang tertera adalah orang-orang yang saya kenal sebagai penulis andal. Jadi, saya beruntung lolos pelatihan yang dilaksanakan mulai tanggal 18-21 Agustus itu.

16 Oktober 2017

MY GENERATION, FILM YANG MENGANGKAT KESENJANGAN ANTARA ORANG TUA DAN GENERASI MILENIAL

  
Dari kiri ke kanan : Konji, Zeke, Orly, dan Suki  (credit IG : @upirocks)

            Membicarakan anak muda  tak urung mengingatkan saya pada lagu lama Bang Rhoma yang berjudul Darah Muda. Saya tak ingat keseluruhan liriknya kecuali beberapa, salah satunya  “Masa muda masa yang berapi-api”. Kalimat ini memang pas menggambarkan kondisi anak-anak ketika mulai menginjak usia remaja. Perubahan perilaku dan keberanian mereka mencoba sesuatu terkadang mencemaskan. Agar anak-anak ini tak tersesat jalan di rimba raya dunia, orang tua jelas melakukan perlindungan. Akan tetapi, kerap kali caranya tak sejalan dengan pemikiran anak muda. Orang tua menggunakan “kacamata lampau” untuk memahami anak muda. Sementara anak muda merasa cara-cara itu sudah tak sejalan dengan realita. Tak pelak kondisi ini memunculkan gap antara keduanya.


            Kesenjangan semacam inilah yang rupanya hendak ditangkap Upi, sutradara mumpuni yang sebelumnya berhasil membesut film sebeken My Stupid Boss (2016), lewat film “My Generation”. Diperlukan riset selama dua tahun sebelum benar-benar membuat film ini. Hal ini dilakukan Oleh Upi semata untuk menunjukkan seperti apa realita generasi milenial sesungguhnya. Bagaimana perilaku mereka kala bersosial media, apa yang kerap mereka bicarakan, bahkan hingga tutur dan gaya bahasa yang digunakan. Tidak heran kita akan mendapat para tokohnya berbicara menggunakan bahasa campur-campur antara Indonesia dan Inggris kala berdialog, karena sejatinya begitulah cara anak sekarang berkomunikasi. Utamanya di perkotaan.  

13 April 2017

MAAF, SAYA BLOGGER YANG TIDAK ADIL






Seperti halnya orang lain saya senang jika ada yang mengunjungi blog saya. Tetapi, sebaliknya saya jarang sekali berkunjung ke rumah blogger lainnya. Situasi saya memang tidak lega. Saya tidak bisa komen sebebasnya. Saya baru bisa koment kalau sudah online di warnet.
Masa sih nggak bisa koment via ponsel? Pernah nyoba, berat dan susah. Setiap kali mengisi capcha (entahlah saya sebenarnya tidak pernah pasang, tapi sudah ada begitu saja di blog), selalu fail. Jadi komen via ponsel tak saya lakukan.

Online via warnet juga terbatas waktunya. Selama dua jam biasanya sudah disesaki agenda yang panjang. Posting ini di blog, browsing artikel pendukung cerita, cari video ini, kirim naskah...alhasil komen di blog sendiri saja kadang nyempet-nyempetin. Syukur nggak kelewat, kalau kelewat ya sudahlah.
Saya terkadang merasa tak enak sendiri, pada mereka yang sudah blogwalking. Sudah didolani kok ya nggak mau bales dolan balik. But, thats true. 

13 Februari 2017

KADALUWARSA


            Sudah jamak bagi saya menerima pertanyaan “Kapan nyusul, “Kapan nikah?”, “Mana calonnya?” karena orang melihat kesendirian saya. Saya jarang mempermasalahkan atau memasukkan ke hati, apalagi sampai mendendam pada si penanya. Tapi, bukan berarti saya tak pernah marah. Pernah. Ketika itu kesendirian saya  dijadikan bahan olokan oleh seorang rekan kerja. Ia mengatakan saya kadaluwarsa, tak ubahnya susu basi yang teronggok di pojok gudang tempat saya bekerja (sekarang sudah ex). Nadanya yang sinis sangat menyakiti perasaan.
            Jika menuruti emosi maka saya akan melempar printer LQ 2170 didepan saya sekaligus mejanya. Sudah terbayang di mata saya betapa menyenangkannya melihat orang itu tersungkur sambil mengaduh-aduh kesakitan. Itu akan sangat memuaskan bukan? Tetapi kebalikan dari hati, saya  justru tidak melakukan apapun. Saya biarkan orang itu dan kata-katanya berlalu, tak mengijinkan kata-kata buruknya menyentuh hati saya. Seujung pun.
            Sederhana. Karena saya  tidak kadaluwarsa. 
            Kadaluwarsa bagi saya  adalah bagaimana manusia menjalani hidupnya. Manusia kadaluwarsa itu tidak update pada sekitarnya. Cenderung bersikap negatif menghadapi dunia. Lebih suka nyinyir saat yang lain mendapatkan kebahagiaannya tanpa bertanya pada diri sendiri sekeras apa usahanya di dunia. 
            Manusia kadaluwasa cenderung tidak suka belajar. Menganganggap dirinya paling pintar, paling berpengalaman, paling mengerti padahal dalam kenyataan nol besar. 

17 Oktober 2016

MEMELIHARA IRI TAK UBAHNYA MEMELIHARA SAKIT GIGI (SEBUAH CATATAN BLOGGER YANG PERNAH DILAMURI IRI)



image source https://pixabay.com


23 Agustus 2015 rupanya saya pernah menuliskan soal ini di dalam catatan saya, ketika hati dilamuri iri melihat prestasi blogger tetangga. Apakah Anda tengah mengalaminya juga? Siapa tahu ini bisa jadi bahan renungan bersama.

Agustusan nggak ikut lomba apa-apa tapi dapat door prize itu ya saya. Nggak nanggung-nanggung, sekalinya dapat door prize rasanya juara. Nyut-nyutan sampai susah tidur malam. Apaan tuh? Sakit gigi. Fyuuh, sakit yang satu ini bikin apapun jadi terasa salah. Berdiri salah, miring salah, tidur salah, duduk salah, lapar mau makan ya salah, minum kelewat dingin salah. Wis lah! Pokoknya serba salah. Apalagi begitu melihat timeline seliweran berita-berita bahagia. Blogger anu menang lomba, hadiahnya tujuh juta. Blogger lain dapat pemberitahuan kalau duit dari adsense sudah bisa dicairkan. Blogger yang ono lagi-lagi dapat job review. Belum lagi yang cerita kalau page rank-nya ramping, pengunjungnya sejagad raya, dan lain sebagainya. Waduh...bikin hati tambah merana. Lebih merana lagi melihat saldo di bank nggak nambah juga. Itu berarti belum satupun tulisan saya di muat di media.

Aih, hidup benar-benar tidak adil saudara!


10 Oktober 2016

Koleksi Buku dan Secarik Kisah Dibalik Itu





            Jika dihitung-hitung buku yang saya kumpulkan sudah mencapai menembus angka dua ratus lebih sekarang. Dari mulai cergam sampai buku agama, dari buku motivasi sampai novel sastra. Ada yang beli, ada juga yang hasil menang lomba. Memang masih  tergolong sedikit bila dibanding kolektor lain, tetapi di balik itu ada kisah menarik mewarnainya.


             Seperti kisah buku berjudul “Sepuluh Tjerita Anak-Anak” ini. Buku tersebut adalah salah satu buku paling tua yang saya miliki. Terbit tahun 69-an dan masih mengunakan ejaan lama. Saya menemukannya di warung Buyut semasa duduk di bangkus SD. Buku itu tergeletak mengenaskan, kertasnya sudah kecoklatan, sampulnya robek, dan siap dijadikan bungkus bahan belanjaan. Diam-diam saya menyelamatkannya dan menyimpannya di rumah. 
  

18 Juli 2016

POKEMON GO MERAMBAH PEDESAAN BANYUWANGI




            Pokemon Go belum rilis secara resmi di Indonesia. Berdasarkan update terbaru fanpage resminya tanggal 16 Juli silam, Pokemon Go baru luncur di 26 negara setelah sebelumnya hadir di lima negara yaitu  Amerika Serikat, Australia, Selandia Baru, Inggris, dan Jerman. Dilansir dari Reuters, John Hanke selaku CEO Niantic, menyatakan Pokemon Go di Asia akan diluncurkan di  dua negara yaitu Jepang dan Korea Selatan. Sementara di China masih belum mendapat kepastian. Namun demikian, game augmented reality ini sudah digemari di Indonesia.
            Tak hanya di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, atau Surabaya saja, kini Pokemon Go sudah merambah kemana-mana. Batam, Bali, Pekalongan, juga Malang dilaporkan sudah terkena demam game ini. Bahkan di Banyuwangi Pokemon Go mulai merambah wilayah pedesaan.
            Rendi, pemuda asal Blokagung (kecamatan Tegalsari) ini menyatakan ia mulai memainkan Pokemon Go sejak malam takbiran. Sengaja memilih game ini karena  nostaliga masa silam. Ia mengaku semasa kanak-kanak sudah menggemari kartun ini. Tetapi, tidak hanya itu yang membuat aplikasi game ini asyik. Keharusan untuk jalan dan berpetualang untuk mengumpulkan pokemon di Pokedex sangat menarik bagi lajang satu ini.

09 Maret 2016

KERIPIK AYAM LA FOREST : HUH HAH, RENYAH, PECAH!



   Sepertinya tak ada yang istimewa dengan keripik satu ini. Bungkusnya mungkin boleh juga. Tetapi tampilan kripiknya tidak menarik mata. Warnanya terlampau coklat, membuat calon penikmat berpikir sedikitnya dua kali untuk mencicipinya. Tetapi, laiknya mencari calon pasangan, tampilan luar ternyata tak bisa dijadikan tolak ukur. Bisa jadi yang tampilannya menarik, justru tak asyik jadi pasangan. Sebaliknya yang biasa saja dan terkesan membosankan malah mengesankan. Nah, part terakhir itulah yang tepat untuk menggambarkan keripik ayam La Forest.

   Rasanya ternyata tidak mengecewakan. Begitu satu dimakan rasanya pecah di mulut, kawan! Rasanya rempahnya yang kuat, dipadu pedasnya cabai membuat kita terhenyak. Fuuh, panas! Tapi bikin nagih. Itu yang saya pikirkan waktu memakannya. Tak heran meski bolak-balik harus ber-huh-hah kepedasan, nyatanya saya tak berhenti menikmati keripik itu.

26 November 2015

LAUNDRY KI LOAN : SAAT CINCIN LAMARAN NYANGKUT DI JARI LING LING




             Omong-omong soal sitkom, setelah Bajaj Bajuri dan Preman Pensiun saya memang belum punya jagoan lagi. Bajaj Bajuri dengan Bajuri dan istrinya—Oneng yang fenomenal itu,  kerap membuat saya terpingkal-pingkal. Preman Pensiun, meski yang diangkat adalah kisah para preman tetapi jauh dari kesan menyeramkan, bahkan bisa dibilang kocak maksimal. Hadirnya Kang Mus, Kang Komar, dan kawan-kawan jelas membuat sore hari saya jadi menyenangkan



            Beberapa waktu lalu seorang teman kemudian merekomendasikan Laundry Ki Loan yang tayang di TransTV pukul 18.30. Katanya itu cukup lucu. Sayangnya jam segitu bukan jam nonton saya. Setelah jam lima Babe saya (baca : Bapak euy) adalah penguasa teve sampai pukul sembilan malam. Maka yang saya lakukan pada jam-jam itu adalah membaca, nongkrongkin laptop, atau nempelin kepala di bantal dan liuran. See...saya sibuk sekali bukan? *Melet.
            Namun  akhirnya saya bisa nonton juga berkat teman yang berbaik hati kasih link ke You Tube. Mula-mula sih malah pesimis. Ah, paling gitu aja  nih sitkom, pikir saya diawal Ling Ling muncul dan menyanyikan lagu soundtrack-nya serial F4 jaman baheula. Tetapi, dugaan saya meleset. Beberapa kali saya tertawa karena di serial baru TransTV ini.

29 Januari 2015

IIK, DAPAT LIEBSTER AWARD!




 Liebster award.

Memang tidak sekelas Tony, Emmy, atau Oscar...tapi karena award ini saya harus semedi. Demi memberikan jawaban paling nggak masuk akal.

Buat yang udah baik hati ngasih ini yaitu Jeng Agia di http://www.agiasaziya.com  saya trenyuh. Saya sampai berdoa semoga besok gak dapet lagi hihihi...


Mari heningkan cipta. Biar selamet sebelum dan sesudah membaca rentetan mitraliur di bawah ini :

1.      Kalo jadi tokoh antagonis di film, lo mau jadi siapa? Berikan alasannya.

Aro (sumber Twilight Saga_Breaking Down Part 2)

01 Juli 2013

DAMN!





Bosan. Saban hari itu yang terdengar. Seputar ukuran dada, paha dan pinggang.
Plus tips-tips khusus membuat perempuan jatuh bangun disimpul rayuan maut.

Bosan. Apa nggak ada pembicaraan yang cerdas menyegarkan. Seputar gadget terbaru kek. Atau apalah…asal jangan-maaf-ukuran dada, paha, dan pinggang.
Hei, pria! Yang kau bicarakan sampai berbusa itu kaum ibumu juga. Yang harusnya kau hormati dan kau jaga. Bukannya diraba-raba.
Inget nggak anakmu perempuanmu itu dua. Apa pernah terpikir olehmu bagaimana hancurnya rasamu jika ada pria meraba mereka dengan segala ketaksenonohannya?

Sepi.
Pembicaraan sunyi. Si dia meraih ponsel di sakunya, lalu memijit nomer telefon seseorang yang dikenalnya.
“ Hallo, sayaaaang…Apa kabar? Udah makan siang?”
Si dia tertawa lebar. Membuat saya geregetan ingin melempar stapler besar.
“Iya, dimana? Jimbaran? Delta Maron? Bu Maksum? Atau di mana? Terserah deh…” suaranya lembut menggoda. Bikin eneg saya.
“Okeee…”
Percakapan terhenti, si dia tersenyum-senyum sendiri. Perempuan mana lagi sih yang mau dikadali pria ini? Apa sih bagusnya dia? Selain kantong yang sedikit tebal, body bagus, dan kumis tipisnya?

“ Eh, ini aku mau nyoba SPG baru ntar sore di Ketapang. Gimana?” katanya pada dua rekan kerjanya.
Mereka tertawa.” Siapa? Anes  yang dadanya…” si baju biru menyahut sambil membuat gesture bola.
“Hahahaha…bukan. Ini anak baru. Yang ngelamar jadi SPG di tempatku.”
“Kau itu selalu nemu. Cakep nggak?”
“ Wuhuuuu!” Si dia membuat gesture bohay.
Ketiganya tertawa. Tapi tidak dengan saya. Saya berharap saya bisa menendang ketiganya di afrika. Jatuh di tempat suku terasing dan tidak kembali lagi sebelum otak kotornya dibersihkan larutan kimia.

Heran saya. Apa sih yang ada dikepalanya itu tentang wanita? Tahu nggak sih mereka perempuan itu hadir bukan untuk dipegang, dijilat lalu dinikmati semacam es krim rasa vanilla?
Tahu nggak sih mereka, bahwa pria-pria yang kebanyakan ngomong mesum tanpa jeda, dimana saja, kapan saja, tak peduli tempatnya dimana, itu bodoh dimata wanita? Tahu nggak sih mereka, perempuan justru tertarik dengan pria yang bicaranya asyik,  up to date, tapi nggak menggurui? Bukan mesum semacam ini?

Lihat nggak mereka mbak-mbak akunting yang mendengar mereka sudah pasang tampang desperate gila? Malas dengan obrolan yang-huuuffff!-itu lagi saban harinya?

Ugh! Dan saya juga!
Tapi mau apa?! Mau protes juga nggak bisa. Saya cuma dispenser di pojok ruang seluas 7x5 meter.

DAMN!


 pic taken from : www.dreamstime.com

17 Januari 2013

SEPULUH HARI TER-WAW!




Praktis udah empat lima hari tiba di rumah kembali setelah training selama sepuluh hari di BIN Surabaya.  Berbeda dengan Surabaya yang panasnya ampun dije ituh, Banyuwangi saban hari diguyur hujan. Nggak ada ceritanya pulang kantor nggak pake basah. Hari Rabu kemarin beberapa ruas jalan malah kebanjiran saking derasnya hujan, sampai beberapa motor jadi macet dijalanan. Cool bukan?
Di kantor sih dari Senin belum ngapa-ngapain. Senin acaranya bersih-bersih berjamaah. Mule nyapu, ngepel, bersih-bersih meja, bersih-bersih WC dan dapur (di kantor BIN Banyuwangi dapurnya guede, bo! Sumpe deh...bisa buat guling-gulingan looh).
Hari kedua, listrik mati dengan suksesnya selepas jam sepuluhan.  Sampai jam empat lewat nggak hidup-hidup. Gila banget deh! Alhasil kita cengo jaya, nggak ngapa-ngapain. Mati gayalah pokoknya. Udah gitu pake hujan pula klop dah. Sementara kita nongkrong, anak-anak gudang pada main futsal di dalam gudang. Abis belum ada kegiatan apa-apa, daripada bengong mending olahraga kan ya? Biar sehat jiwa raga *ngeeek.
Oh ya ngomong-ngomong aye belum cerita ya gimana kisah kita pas training. Benernya sih kalo niat diceritain bisa panjang dan lama. Tapi aye singkat ya jadi cerita dibawah ini, hehe...

Fakta selama sepuluh hari training adalah :
1.   Disemutin
Heran, kita nggak nyimpen makanan apapun yang bikin semut mupeng, tapi kok ya tetep aja mereka berdatangan. Udah disapu tiap hari, eh tetep aja nongol. Alhasil kita cuek aja, dan berpikir positif bahwa kita sejenis pabrik gula, sangat manis *digetok kemoceng.
2.   Tempat tidurnya kecil
Dengan tempat tidur kecil dan harus diisi tiga orang pengaturannya cukup merepotkan. Kalau langsing mah enak. Lha kalo ketambahan  aye yang jelas-jelas  nggak selebar daun kelor ini, dua lainnya mau ditaruh mana?  Akhirnya kita tidur melintang. Dan masalah terpecahkan, walau kaki kudu nyentuh lantai karena ukuran kasurnya yang kecil tadi. Hahahahahaha....
3.   Gayung lumutan
Di kamar mandi yang ketahuan dari baunya jarang diambah orang itu, gayungnya lumutan. Coba pikir, kalo gayung mpe gitu bayangin udah berapa lama nggak terjamah sabun dan sejenisnya saudara? Benernya ya nggak tega make tapi nggak ada lainnya ya akhirnya ya dipakai juga. Sesuai pepatah lama, tak ada rotan akar pun jadi hihihihi. Nggak tahu, orangnya ahli kebatinan apa gimana, eh satu hari gayungnya udah bersih sodara! Wakakakakaka...padahal kita nggak pernah tuh ngomong sama sekali perkara ini.
4.   Makanan
Namanya juga di rantau, jadi kalo nggak sesuai harapan ya wajar. Pagi-pagi biasanya kita udah beli makanan di depan kompleks tempat kita tinggal. Macam-macam, seperti nasi kuning, nasi campur dan lain-lain seharga 3500-an. Porsinya kecil dan nasinya kasar. Kami bersyukur karena kami dikaruniai perut yang tidak rewel dan sensitif, jadi makanan apapun masuk aja.

 makanan pagi hari kami...

Siang hari biasanya kita bareng sama orang-orang kantor BIN Surabaya (Mbak Dini, Mbak Vita, Bu Maryam, Mas Firman, Ainin atau Rukin). Mereka beli dimana kita ngikut aja. Kalau malam itu yang rada rempong. Kudu jalan lumayan jauh untuk nyari makan. Yang ditawarkan sepanjang jalan pun sama aja, tempe penyet, lele penyet, ayam penyet. Penyeeeet semua! Sampai khawatir deh kita, jangan-jangan kalo makan penyet tiap hari muka kita kaya  tempe atau ayam penyet tadi, xixixixix...
5.   Air
Kualitas air di Surabaya, khususnya daerah Margomulyo memang tidak terlalu bagus. Kuning dan asin. Tiap kali sikat gigi berasa menikmati oralit *nyengir.

6.   Orang-orang  di tempat training
 Dalam pandangan saya semua orang baik, dari OM, Sesco, Admin-admin (akunting, kasir, ADH, SA fr, dan admin smart), sampai orang gudang semua menyenangkan.  Jadi serasa di rumah sendiri saja.  Terima kasih untuk semua, maaf jika kami suka meleng atau malah ngantukan selama training disana.


Nyang ngajarin aye pas training ada Ce Ainin, Ko Firman, dan Ko Rukin


 Mbak Dini  (depan) dan Mbak Vita (belakang) di bagian piutang dan kasir, eh atu lagi benernya
Bu Maryam...sayang nggak kejepret...


sederet Mas-Mas yang bertugas digudang
7.   Jauh dari mana-mana
Kompleks tempat kami tinggal selama training meman jauh dari keramaian. Indomart dan Alfamart pun harus ditempuh dengan jarak yang cukup jauh. Kalo mo ke mall sih bisa, tapi harus naik lin yang kita nggak tahu jalurnya.  Tapi andai tidak ada Happy si tukang jalan, pasti kita nggak akan kemana-mana. Dia selalu memprovokatori semua orang untuk ngikutin dia yang nggak betah terus-menerus diam di rumah saja. Dan selalu berhasil.

lagi di Tugu Pahlawan => urut dari depan ke belakang Merlin, Happy, Lina, Fendi, dan Viki

Gempor jaya, ngikut Happy yang pengen jalan-jalan ke Bungkul. Lihatlah muka Viki yang memelas itu :)


 beli kopi dan nyeduh sendiri, sementara Happy asyik gaya-gayaan. Belum kelar ngopi eh Happy ngajak pulang *letoy...

8.   Kangen
Kalo orang-orang pada kangen pacar dan sibuk sms atau telepon mereka, saya kangen kompi saya. Tangan gatal melihat lomba nulis seliweran. Mata jadi ijo, pengen ikutan. Tapi sarana nggak ada.
Nggak cuma itu saya juga kangen dengan kegiatan merajut dan memotret pagi hari. Weh, mana saya masih punya janji dengan dua kawan saya untuk menyelesaikan tas ransel dan HP pouch.  Uwaaa...kapan pulang ini, Mas Bro?
9.   Airnya mati
Ealah, dua hari menjelang kepulangan kami airnya mati. Ya memang mandi tapi ya mandi bebek dah. Lup, lup...dicelup dan bau air ya sudah. Sholat aja pake tayamum, Mas Bro!
Aye sama Lina udah kepikiran beli air galon aja buat mandi. Untungnya sehari menjelang pulang airnya ngalir.
10.        Gokil friends
Hari Sabtu tanggal 12, adalah hari terakhir kami—aye dan kawan-kawan training. Kami pulang naik travel. Dan aye rasa cuma hari itu, ada penumpang travel yang gokil punya. Kalo yang lain bakalan duduk diam atau tidur sampai tiba di tempat eh kita enggak. Punggung kursi diturunkan.  Kartu digelar dan empat orang diantara kami sibuk menghilangkan bosan dengan main 41. Cuma si Merlin a.k.a ustad anteng sepanjang jalan. Lha saya ngapain? Saya sibuk motret.







And finally we’re back home. 

 jelang perbatasan Banyuwangi Jember, yey!

Senang rasanya ketemu orang rumah lagi. Merasakan hujan deras yang turun via jendela samping rumah, nulis dari tengah malam ampe pagi, motret pagi hari, serta merajut kembali.