Tampilkan postingan dengan label story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label story. Tampilkan semua postingan

07 November 2011

MENJOLOK WANITA DENGAN "A" PLUS


1.044.570 0 0 0 0

“Mau nunggu apa kamu itu? Mau sampai karatan?” celetuk seorang teman
Lainnya menyahut dengan tenang ,”Kau ini pria atau bukan?”

Damn!
Mereka meragukan kejantananku kurasa. Tapi aku hanya tersenyum seperti biasa. Tak perlu menjawab. Untuk apa? Jawaban hanya akan membawa mereka menggiringku menjawab pertanyaan lainnya. Dan aku malas menjawabnya.

Sebenarnya jauh dalam hati aku juga iri. Dengan kebahagiaan yang mereka miliki
Anak, isteri, rumah…hmm, nyaman kurasa memilikinya. Terbayang betapa nikmat kala penat meruyak istri menyajikan secangkir kopi hangat. Ditingkahi celoteh khas kanak-kanak yang bening murni tanpa beban. Dinaungi rumah mungil berhalaman luas dengan rumput hijau menghampar

Tapi siapa?
Menemukan seseorang yang menerimaku seperti apa adanya. Menerima masa laluku dan segala konsekwensinya. Tak semudah membalik telapak tangan

“Menginginkan perempuan dengan A (akhlak) yang baik juga perlu usaha, Buddy,” kata seorang kawan lama.
 “Menginginkan perempuan semacam ini tidak seperti menjolok jambu atau mangga didepan rumah. Butuh usaha. Setelah kau kirim proposalmu pada-Nya, kau harus membuktikan bahwa dirimu layak mendapatkannya. Layak dalam artian kau bisa jadi pemimpinnya, qawwam-nya— wanita yang kau pinta. Lengkapi dirimu dengan A (akhlak) yang baik pula. Apa itu? Kurasa kau sudah  memahaminya. Jangan lupa persenjatai dengan doa.  Lalu presentasikan dirimu padanya. Tunjukkan bahwa kau pria yang bisa melindunginya. Dan bukannya tiran yang akan merantai kakinya.
Maka “belilah ia” dengan akad yang baik, bayarlah dengan mahar yang halal,” katanya sambil menatapku penuh arti.
“Kenapa? Kelihatannya kau tak yakin begitu?” ia tertawa, aku tertohok karenanya.

Kau benar kawan, aku tak yakin bisa melakukannya.
Aku ini siapa?
Kau tau bukan bagaimana aku di masa silam? Aku bukan pria “baik-baik” itu, kawan. Cap jelek sudah menempel erat padaku. Sulit aku lepaskan itu meski aku sudah berubah. Ingat kan, waktu aku cerita ada seorang ibu yang terbiri-birit dan berteriak memakiku saat aku hendak menolongnya hanya karena tato di tubuhku?

“Tuhan itu sesuai persangkaanmu, Buddy. Maka berpikirlah positif. Pinta saja pada-Nya perempuan yang A-nya baik itu? Memang secara harfiah, calon mertua mana pun bakalan ogah mempercayakan anaknya sama kamu. Wong  bagi mereka labelmu “Berbahaya” gitu. Casing-mu itu bikin calon mertua mana saja langsung pasang tanda “RED ALERT”. Tapi itu nurut logika manusia. Tuhan lain, jek. Tuhan raja manusia. Tak ada yang tak mungkin baginya. Jika ia menginginkan sesuatu jadilah maka jadilah! Kun fayakuun, sob!” Ia menepuk bahuku.

“Memang susah prosedur mendapat perempuan dengan A-baik. Tapi perempuan semacam ini harganya memang mahal. Tuhan kalau mau ngasih gak sembarangan. Wajar to kalau Dia memberikannya itu pilih-pilih? Iya nggak?” katanya lagi.

Aku tertawa. “Iya,” sahutku diantara derai tawa.

“Ngomong-ngomong “dia” sudah ada?”
“Siapa?”
“Inceranmu.”
Aku diam, tertawa keras lalu berkata ,”Belum.”
“Ealaaah… belum to?”
“Belum,” aku tersipu.
Temanku tertawa. Kami tergelak berdua.


251011, 05:36
Pic taken from : kateblogsworth.wordpress.com

22 Mei 2011

MENGINTIP BERANDA FACEBOOK-MU

Sebuah bayangan berhenti di sudut. Diam memperhatikan perempuan yang kepalanya terkulai di depan laptop.
Setengah berbisik ia berkata,
"Mengintip berandamu facebook-mu,
selalu kubaca kerinduanmu di tiap lekat katamu. Untukku. Selalu.
Terharu. Tapi tak bisa menjangkaumu.
Hanya kurasa aku akan menjagamu dari jauh. Dan bukan memerangkapmu untuk bersetia padaku. Aku lepaskan kau dengan segenap hatiku jika memang ada seorang yang bisa menjagamu.
Bukan, bukan karena tak cinta kamu. Justru kukatakan itu karena aku amat mencintaimu. Aku tak ingin kau sendiri menyusur lingkar jalan hidup ini.Aku tahu kamu teramat kuat. Amat sangat kuat. Setiap lekuk jalan sanggup kau lewati.
Tapi bagaimanapun juga berdua itu lebih baik ketimbang sendirian memikul beban dipundak, tak berkawan.
Menikahlah saja. Sungguh aku tak apa. Sudah cukup kurasa pengabdian dan cintamu selama kita bersama. Kini carilah bahagiamu sendiri. Jangan terpaku pada bayangku.
Aku tak ada lagi disisimu.
Aku kini berada disisi Tuhanmu, yang juga Tuhanku.
Peluk ciumku untukmu dan anak-anak.”

Sekilas kecupan mampir di kening si perempuan. Perempuan terjaga, merasakan kehadiran seseorang. Tak ada siapa. Hanya dia, ruang kamarnya, dan laptop yang masih terbuka.
Suara adzan nun jauh disana, merasuki gendang telinga. Diusapnya airmata. Lalu bangkit mengusapkan air wudlu kemuka. Segenap takzim berdoa untuk suami tercinta, yang berpulang tanpa pesan apa-apa.

15 Januari 2011

KEPITING VS KALAJENGKING

Jam 23.00. Aku dan Kee masih belum bisa menutup mata, saling diam tanpa satupun yang mulai pembicaraan. Blah! Seharusnya bukan begini ceritanya, batinku sambil mengingat kembali kisah-kisah romantis yang pernah kubaca….
Lalu, setelah perjalanan cinta yang berliku akhirnya, Kepiting Vs Kalajengking pun bersatu. Mereka disatukan dalam satu pernikahan yang indah, penuh bunga dan tawa bahagia. Ketika malam tiba, sang pengantin kembali ke peraduannya, saling pandang penuh cinta dan kemesraan yang tak bisa kau bayangkan sebelumnya.
“ Oh, kanda…aku sangat bahagia bisa bersatu denganmu,” ucap Kepiting sambil menggelendot manja.
“ Demikian juga aku, Dinda. Setelah hari ini tanpamu duniaku akan hampa,”
“ Oooh, Kanda…”
“ Oooh, Dinda…”
Sang mempelai berpelukan sedemikian eratnya. Saat mata mereka beradu, mereka tahu inilah saatnya untuk memadukan cinta tulus suci mereka. Lalu tangan pun tergenggam kian era, sementara wajah mereka kian dekat, kian dekat, kian dekat…Dan…
Gubraak!!
Lamunanku buyar. Kulihat disudut Kee memucat, sambil menunjuk-nunjuk pada mahkluk alien yang muncul di depannya.
“ Ran!” Kee merapatkan diri ke tembok, ketika mahkluk sialan itu mendekat.
“ Raaan!! Aaah, jangan kelamaan!”
Bentar deh, Tuan Besar! Aku sedang mencari penebah nih. Duh, kemana sih penebah? Biasanya ada di dekat tempat tidur, kok ini enggak? Ah, tidak tahu kalau orang lagi butuh!
“ Ran!!! Buruan udah nggak tahan!” Kee mulai histeris.
Ah, apa boleh buat tak ada penebah sandal kamar pun jadi. Maka dengan segenap tenaga aku menghantam alien berkumis panjang itu. Sayang sang alien berkelit, tubuhnya yang ramping menghindar dengan cepat lalu terbang menuju Kee tersayang. Kee geragapan, dengan jijik ia kibas-kibaskan bajunya sambil berteriak kencang ,” Raniya, geliiiii!!”
Pak! Dzziiinggg! Bug! Ciaaaatt!
Sang alien pun kalah telak. Ia tak berdaya diujung sandal kamar warna merah muda.
“ Sudah?” Kee setengah berbisik.
“ Nih!” aku mengacungkan alien yang kini tak jelas bagaimana bentuknya setelah kupukul segenap tenaga.
“ Iuuuh…,” Kee bergidik ngeri.
Tanpa prasangka membuka pintu kamar, hendak membuang tuan Cocroach, alien dari negeri kegelapan. Ketika pintu terkuak, baaaa…Ada banyak wajah yang nongol disana.
“ Ngapain?” aku dan Kee melongo heran.
“ Hehehehe, enggaaaak,” sahut semua orang, kompakan.
Aku merasa tak nyaman, terlebih ketika mereka meneliti diriku dan Kee dengan seksama mulai ujung rambut hingga ujung kepala. Ada apa? Aku menengok ke diriku sendiri. Kurasa baju yang kupakai normal saja. Celana bulukan dan kaos yang tak jelas warnanya apaan, sungguh nyaman untuk tidur malam. Sementara Kee bangga dengan baju kesayangannya, celana sedengkul yang warnanya pudar dan kaos kumal karena terlalu sering di cuci-kering-pakai.
“ Kok nggak kayak gambaran pengantin yang sedang beradu kekuatan?” bisik seorang tante sambil membuat gesture yang kau bisa artikan sebagai seseorang yang tengah bercinta
“ Lah yang seru tadi kenapa ya?” bisik saudara lainnya, sembari ngeloyor sendiri-sendiri.
Aku dan Kee tertawa.
“ Hahahaha! Penonton kecewa, dikiranya itu tadi jeritan-jeritan bercinta!” Kee cekikikan sambil memegang perutnya, begitu juga aku sebelum kami sadar kalau itulah yang harusnya terjadi antara dua orang berlainan jenis dalam satu kamar setelah tadi siang dinikahkan secara resmi.
“ Makasih ya atas pertolonganmu tadi,” katanya setelah tuan Cocroach melayang keluar.
“ Iya.”
“ Ngapain ya enaknya sekarang?” Kee berpikir keras.
Bercinta? Aku geli sendiri memikirkannya.
“ Kok mukamu jadi merah muda kenapa, Ran?” Kee mengernyit heran.
Oh ya? Sejelas itukah yang terlihat dimukaku?
“ Mikir apa kamu?”
Aku menggeleng malu.
“ Kamu mikirin itu ya?” Kee membuat gesture dua burung sedang bercumbu.” Seperti yang dipikiran orang-orang tadi?”
Kee nyengir kuda. Tersipu-sipu setelahnya. Mendadak kecanggungan terasa mengental, membuat kami berdua beringsut saling berjauhan. Satu-satu, entah siapa yang mulai dulu, langsung menarik selimut dan berusaha tidur. Sayang, otak dan hati tak sejalan. Mata malah sulit terpejam ketika menyadari ada orang lain disebelahmu, yang bernafas, hangat dan memakan sebagian besar luas tempat tidurmu.
“ Ran? Sudah tidur atau…?”
“ Apa?”
“ Heran nggak sih kamu, kita bisa kawin gini.”
“ Salah, kita memang resmi menikah. Tapi kawin? Oh belum. Menurut ilmu biologi yang namanya perkawinan itu adalah pertemuan antara sperma dan ovum. Gitu.”
Cepluk! Bantal cinta melayang ke muka. Bikin aku ilfil lalu serta merta menendang dengkulnya.
“ Aww! Sakit tahu?!” ia melotot sambil memencet hidungku.
“ Wuuuh!” aku balas melempar bantal.
Sebentar kemudian suasana kamar jadi berantakan. Dua orang dewasa yang tak mau kalah saling serang, sambil cekikikan dan ejek seperti dulu, saat kami masih berjaya jadi mahasiswa…
“ Ran, bangun Ran!” seseorang menggoyang-goyangkan badanku.
Aduuh, nih orang minta ditelan! Tahu nggak sih kalau empunya kamar masih pengen berlayar di alam mimpi?
“ Ran, sudah pagi! Ayo bangun bangor!”
“ Apa seeeh!” aku menepiskan tangan itu.
“ Raaaan!!” teriakan maha dahsyat, menyambar telinga. Menyeretku agar membuka mata, dan kulihat Kee the cool case di depan mata! Hwaaaa! Ngapain sih nih orang! Dengan panic aku meraih selimut dan mengusirnya agar keluar. Kok bisa sih kamu dikamarku? Jangan-jangan kamu mau memperkosaku? Hiiiyyy, aku beringsut takut.
“ Raniya! Batereimu lemah ya? Ngapain pake ngusir aku? Aku ini suamimu, ingat?! Kee berkacak pinggang.
Oh ya ampuun, iya. Kemarin siang kami kan dinikahkan, kok bisa lupa daratan ya?
“ Sorry, lupa.”
“ Ayo, banguuuun! Kita mau ke Bali kan sekarang?”
Bali? Oh iya, aku dan Kee sudha merencanakan untuk honey moon disana. Tanpa ba-bi-bu lagi aku langsung melesat pergi. Dan mendapati senyuman aneh di luar sarangku.
“ Apa sih?” aku menaikkan alis.
“ Nggak,” riri sepupuku cekikikan melihat rambutku yang awut-awutan.
“ Apa?”
“ Gimana? Seru nggak semalam?”
“ Seru,” sahutku asal, menyadari mengarah kemana perkataan mereka.
“ Rasanya gimana? Selangit gak?”
“ Geli.”
“ Oh ya?” semua mendekat, penuh harap.
“ Kalau nggak percaya tanya tuh, Tuan Besar. Dia aja ampe jejeritan.”
“ Kok malah kebalik? Bukan kamu?”
“ aku kan gak takut kecoa, ngapain jerit segala. Timpuk pake sandal kan beres.”
“ Lho? Kok kecoa? Apa hubungannya?” Riri garuk-garuk kepala. “ Yang bikin geli itu apa?”
“ Kecoa, saudara. Semalam kita berdua perang melawannya. Emang apaan?”
”Oalaaahh….” Mata-mata yang tadi bersinar ingin tahu, langsung berubah jadi mata yang penuh tawa.
“ Kalian pikir…” aku memakai bahasa isyarat untuk bercinta.
Mereka mengangguk serempak.
“ Yaelah, keburu nggeloso karena capek, bo… Lagian kalau dilaksanakan semalam kalian pasti cari dengar. Kita kan udah paham, makanya nunggu pas honey moon di bali ajah.”
“ Hmmmmmm…Bisa aja alasannya.”

29 Juni 2010

CATATAN SEORANG RELAWAN



Setahun lalu…
Melihat berita pemboman Israel di Gaza lewat televisi itu hatiku tercabik. Keprihatinan yang dalam mendorongku untuk mendaftarkan diri menjadi relawan medis disana. Istri, mertua dan orang tuaku melarang. Bukan apa-apa, tapi itu daerah perang. Jika nyawa melayang siapa yang akan menanggung. Tapi tekad sudah bulat. Mereka memerlukan bantuan. Dan aku punya kemampuan. Selaku dokter spesialis orthopedi kurasa keahlianku dibutuhkan.
Hari-hari sebelum keberangkatan adalah hari terberat untukku. Istriku menangisiku. Anak-anak tak mau lepas dari pelukanku. Mertua dan orang tuaku turut pula menghalangi langkahku. Kenapa aku harus kesana sementara menurut mereka di Indonesia masih banyak orang yang membutuhkan bantuan? Tanya mereka. Biarlah badan resmi pemerintah saja yang melakukan, bukan kamu yang tak tahu apa-apa soal menolong orang di medan perang.
Benar apa yang mereka katakan. Jangankan di Palestina, disini saja masih banyak orang yang membutuhkan bantuan. Tapi jika dipikirkan lebih dalam mereka-lah sekarang yang lebih membutuhkan bantuan. Begitu banyak korban perang membutuhkan penanganan sedangkan tenaga dokter dan obat-obatan kurang. Lagipula jika menunggu pemerintah saja yang melakukan, apakah tidak terlambat nanti? Kataku tenang.
Wajah-wajah tak puas milik istri, mertua, dan orang tuaku menjadi jawaban. Mereka tetap tak menyetujui niatku pergi mengikuti misi kemanusiaan. Namun entah bagaimana sehari sebelum kami terbang ke Mesir istriku akhirnya luluh juga. Ia mengikhlaskanku pergi dengan berurai air mata. Doa-doa keselamatan ia panjatkan. Begitu juga dengan mertua dan orang tuaku yang saling bertangisan.
Setibanya kami di Mesir, aku dan kawan-kawan serombongan relawan medis dari Indonesia tak bisa segera memasuki perbatasan Palestina. Kami tertahan di Kairo seminggu lebih. Selain karena gentingnya keadaan di Palestina akibat serangan Israel yang membabi buta, urusan surat-menyurat yang kami butuhkan untuk memasuki wilayah Rafah juga belum usai. Ketika akhirnya kami bisa berangkat ke sana, tak serta merta pintu perbatasan Rafah dibuka untuk kami. Prosedur pemeriksaan yang panjang, berbelit, dan membosankan tetap berlaku meski jelas-jelas kami sudah mengantongi izin dari Kementrian Luar Negeri dan Amnu El Daulah atau State Security Mesir. Tentu saja hal ini menyulitkan, bukan hanya bagi kami, tapi juga semua warga asing lainnya yang datang membawa bantuan kemanusiaan.
Sewaktu aparat keamanan di pintu perbatasan Mesir membolehkan kami memasuki Rafah sebuah bom berdaya ledak besar diluncurkan dari pesawat-pesawat tempur Israel. Sekejap saja suaranya yang menggelegar membuat hati saya gemetar, gentar memikirkan andai bom itu nyasar salah satu dari kami, terlebih aku. Tak bisa kubayangkan bagaimana sedihnya anak istriku bila ayahnya pulang tinggal nama, batinku getir.
Seolah tahu apa yang kurasakan, Bang Anas yang sudah berpengalaman bertugas di wilayah konflik semacam ini mendekat. Tepukan di bahu dan senyumannya menenangkan. Mengingatkan aku yang baru pertama ikut misi kemanusian semacam ini pada tujuan utama kami, yaitu ikhlas menolong sesama walau bagaimanapun keadaannya. Aku mengangguk kecil sembari berkata pada diriku sendiri untuk berani. Bukankah sebelum berangkat dulu kami sudah diberi briefing apa yang bisa terjadi jika memasuki daerah semacam ini. Maka dengan basmallah aku menegakkan diri. Mengusir takut dan bergerak maju mengikuti jejak Bang Anas, Bang Yusron, dan Ali.
Setibanya disana pemandangan yang kami saksikan di televisi bisa kami lihat sendiri. Rakyat tak berdosa menderita karena pasokan air dan listrik berhenti sejak pecah perang dengan Israel tanggal 27 Desember 2008. Bahan pangan sulit di dapatkan. Acap kami temukan rakyat mengais di antara puing-puing, mengambil apa saja yang masih tersisa, yang masih bisa dimakan oleh mereka. Walaupun bantuan kemanusian akhirnya diperbolehkan masuk melalui Rafah, jumlahnya masih kurang. Itupun hanya bisa beberapa jam dari pagi hingga jam sebelas siang, saat pesawat tempur Israel tak melakukan manuvernya di udara. Yang lebih menyedihkan lagi saat itu musim dingin tengah tiba. Bahkan bisa nol derajat malam harinya. Jadi bisa dibayangkan betapa sulit kehidupan mereka menjalani hari-hari di tengah kecamuk perang dan balutan musim yang tak bersahabat.
Di rumah sakit Asy Syifa tempat kami bertugas keadaan tak kurang menyedihkan. Menurut cerita dokter-dokter kematian mengintai setiap hari. Tak ada yang bisa sembunyi. Tiap hari pesawat pembom dan tank-tank Israel membombardir Gaza. Menjadikan korban kian menumpuk dan tak tertangani. Bahkan banyak pasien yang mati di ranjangnya sendiri akibat obat-obatan tak mencukupi.
Mendengar kisah ini, aku mengelus dada dan bersyukur telah hidup di Indonesia. Hingga tak perlu mengalami penderitaan seperti mereka, terusir, tertindas, dan sengsara di tanah kelahirannya.
Tak berlama-lama larut dalam cerita-cerita menyedihkan itu kami segera terjun membantu dokter-dokter disana mengurus korban-korban perang yang terus berjatuhan. Pasien pertamaku hari itu adalah seorang bocah 11 tahun bernama Abdullah Saad yang harus diamputasi sebelah kakinya akibat terkena bom. Anak yang hebat karena ia cukup tabah menerima kenyataan. Ia bahkan tersenyum dan memohon agar ibunya jangan menangisi keadaannya lagi. Aku tercenung mendengar perkataannya sementara sang ibu kian tergugu disisi sebelah kiri ranjangnya.
Pasien setelahnya adalah Umar, seorang pemuda umur 24 tahun. Dagingnya tercabik dari betis hingga paha. Harus berjuang keras menyelamatkannya. Syukurlah, Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Saat kami perkirakan ia tak akan bisa bertahan melampaui masa kritisnya, keadaan yang terjadi justru sebaliknya. Ia bertahan dan siuman. Saat ia cukup kuat untuk bercerita, ia berkata bila ia masih sempat lari ke rumah sakit Asy Syifa walaupun luka parah semacam ini. Subhanallah! Maha Besar Allah. Batinku dalam hati.
Pasien-pasien lain yang tiba seringkali tak bisa diselamatkan lagi. Luka bakar yang parah dari kulit hingga tulang-lah yang menjadi penyebabnya. Ini mengherankan. Sebab hanya bom yang mengandung fosfor putih-lah yang bisa mengakibatkan luka sedemikian rupa. Bukti lain yang menguatkan kami adalah efek kehancuran pada bangunan-bangunan yang terkena hantaman bom Israel. Semua hancur, rata dengan tanah. Tak ada yang tegak. Kami benar-benar tak habis pikir, bagaimana mungkin mereka bisa menggunakannya? Bukankah sudah ada ketentuan dari PBB tentang pelarangan menggunakan bahan ini sejak lama? Betapa keinginan untuk meraih kemenangan rupanya telah membutakan mata hati mereka, hingga menghalalkan segala cara.
Yang mengagumkan, di saat menyedihkan seperti ini keramahan rakyat Palestina tak berkurang. Pernah suatu hari kami berkunjung ke rumah salah satu pasien yang kami tangani, kami disambut hangat sekali. Bak sudah kenal jauh-jauh hari sebelumnya meski baru sekali ketemu. Bahkan penghormatan kepada tamu pun tak berkurang meski mereka tengah mengalami kesulitan. Terbukti dari hidangan-hidangan, kue-kue, dan minuman yang mereka hidangkan. Kami, terutama aku jadi malu sendiri. Berkelebat pikiran di kepala, apakah aku akan melakukan hal yang sama bila berada di posisi mereka. Atau justru tak peduli. Toh sedang mengalami penderitaan ini.
Ketika sang kepala keluarga bercerita bagaimana ketiga anak lelakinya gugur sebagai pejuang Palestina, tak sedikitpun raut penyesalan muncul di sana. Mereka menyatakan betapa bangganya memiliki tiga anak yang gugur demi melawan kedzaliman Israel.
Di hari lain, kutemui seorang ibu yang tak sekalipun meneteskan air mata melihat anak pertamanya meregang nyawa di Asy Syifa. Padahal di seminggu sebelumnya ia telah kehilangan putri bungsu dan suaminya. Kemana tangis itu? Tanyaku penasaran. Sewaktu aku nekat bertanya bagaimana perasaannya dengan gamblang ia berkata ,” Tentu saja aku sedih. Tapi aku ikhlas menerimanya. Sebab semua ini Allah yang punya.”
Ikhlas menerima karena semua Allah yang punya? Ulangku dalam hati. Jadi inikah jawaban kenapa banyak orang di Gaza kulihat masih bisa tersenyum walau duka terus mengikuti?
Sayang karena kian gentingnya keadaan, baru dua mingguan melakukan tugas kemanusian, kami harus hengkang dari Palestina. Sewaktu kami bergerak meninggalkan Gaza dan mendekati Rafah tak kurang dari tiga kali bunyi sirine terdengar mengiringi perjalanan kami. Sirine itu setahu kami adalah tanda bahaya, peringatan bagi warga agar menjauhi wilayah perbatasan sebab pesawat intai Israel sedang terbang dan melakukan pengindera awal untuk menyerang Palestina. Benar saja, tak berapa lama bom-bom dijatuhkan. Menghadirkan asap serupa cendawan besar di angkasa raya, setelah hunjamannya melukai bumi Palestina.
Sebulan, sekembalinya aku dari Palestina aku mendapatkan email dari seorang rekan dokter disana yang menceritakan bagaimana keadaan Palestina sepeninggal kami. Rupanya keadaan Palestina tak kunjung membaik. Bahkan lebih buruk karena bom-bom Israel semakin intens menyerang negeri mereka. Subhanallah, desisku sendiri.
Kini setahun sudah berlalu, peristiwa yang kualami di Palestina takkan bisa kulupakan. Banyak hal membekas dan merubah pandanganku selaku dokter spesialis orthopedi. Jika dulu motivasiku mengambil spesialisasi ini karena orientasi uang, perlahan tujuan itu terbelokkan kearah kemanusiaan. Rupanya hal itu tak luput dari pengamatan orang. Termasuk salah seorang rekan sekerja yang mempertanyakan,
“ Apa kau tak lelah dirimu menjalani semua? Bukankah tugas kemanusiaan itu tak menghasilkan profit bagimu?”
Aku tersenyum membalas tanyanya. Iya, kau benar kawan. Tugas kemanusiaan itu memang tak menghasilkan keuntungan. Kadang-kadang aku harus merogoh kocek sendiri untuk itu. Tapi aku percaya, seperti efek sebuah gema, hal-hal kecil yang kulakukan selama jadi relawan di wilayah manapun akan menumbuhkan kebaikan-kebaikan.

pic taken from www.cybermq.com

19 Juni 2010

ANAK SAYA YANG PEREMPUAN

Anak saya yang perempuan, umurnya sudah tiga puluh sekarang. Betah betul melajang, bikin hati saya empot-empotan. Mikir siang malam, apa jadinya kalau ia terus menerus sendirian. Apa dia ndak ngerti kalau kawin punya anak lewat tiga puluh itu beresiko tinggi? Bukan hanya itu, kalau terlalu tua saat punya anak itu ndak enak. Bayangkan disaat anak-anak masih memerlukan biaya besar, kita sudah loyo. Tak bertenaga untuk mencari uang. Repot kan?

Tapi dianya ringan. Tiap kali saya menyinggung perkara itu jawabannya enteng saja. Nanti juga ketemu.
Kapan?
Entahlah.
Ibu kan keburu tua. Kalau mati gimana?
Eh dia malah berkata ,” Lha kalau saya dulu yang mati?”
Skak mat! Saya ndak bisa omong. Hanya menghela nafas panjang dan membiarkannya melenggang.
Tulilut! Tulilut!
Itu hape anak perempuan saya. Nampaknya ia tak berkenan. Sambil mendecak malas ia biarkan sms itu berlalu tanpa balasan.
“ Dari siapa kak?” saya berharap yang sms itu-pria.
“ Orang kantor. Males deh. Lagi cuti juga ada aja yang nelfon kemari.”
Oh. Bukan dari seorang pria? Yang barangkali menaksirmu atau apa? Bukan ya? Padahal saya mengharapkannya.
Kemarin dulu ia bercerita ada yang naksir dengannya, tapi anak perempuan saya biasa aja. Kenapa enggak? Kata saya. Dia nyengir saja.

Anak ini memang angelan alias susah dari sononya. Sejak kecil ia punya pikiran sendiri tentang banyak hal. Tidak akan bergeming jika bukan karena dirinya sendiri yang menyuruh. Cenderung keras kepala. Mirip Bapaknya. Bapaknya saja sampai geleng kepala.
Dulu jaman dia kecil, dia paling males dipita-pita. Padahal saya senang melihatnya. Lucu. Sedang ia lebih suka membiarkan rambut ikalnya tergerai begitu saja. Lepas, melintir-melintir melewati kepala kecilnya. Percayalah, butuh waktu dan debat seru hanya untuk melihatnya memakai pita-pita itu.
Saat usianya menginjak remaja, disaat anak-anak sebayanya sedang senang-senangnya ngecengin cowok-cowok sebayanya ia cuek saja. Iseng saya tanya-kenapa? Dia bilang dia nggak bisa pura-pura dan bermanis muka biar mereka terpesona. Suruh saja baca tiga buku tebal ketimbang ikutan heboh begitu. Anehnya ia selalu kebagian curhat teman-teman perempuannya, mulai dari bahagia sampai patah hatinya. Jika begitu ia akan sediakan telinganya untuk mendengar dan memberi komentar. Seperti seorang pakar.

Ah sok tahu, kamu. Kamu nggak pernah pacaran kok ngasih tahu orang? Kata saya waktu itu sambil bercanda.
Ngasih tahu orang kan harus dari pengalaman pribadi. Dari buku, dari cerita teman kan bisa. Sahutnya.
Waktu masuk kuliah juga. Ia emoh diatur-atur harus masuk fakultas mana. Semua sesuai kemauannya. Keinginannya. Padahal saya ingin ia masuk kedokteran. Dan apa jawabannya? Ia bilang ,” Sayalah yang paling tahu seberapa besar seberapa kapasitas saya.”
Sekarang perkara jodoh sama juga. Ia lempeng saja meski sudah banyak orang yang mengenalkannya dengan pria-pria baik. Saya jadi gemas. Apa sih maunya nih anak? Masa dari sekian banyak itu ndak ada juga yang nyantol sih?!

Tulilut! Tulililuuut!
Ponsel saya berteriak kencang. Dari anak kedua saya rupanya. Riang saya menyapa. Menanyakan keadannya di Kalimantan. Ia bilang sehat dan tenang. Semua baik-baik saja. Saya jadi lega. Tapi langsung berdebar ketika ia berkata ingin saya melamarkan seorang gadis untuknya. Deg! Kakaknya-anak perempuan saya itu bagaimana? Ia bahkan tak terlihat menggandeng siapa pun. Masa iya dia harus dilangkahi adiknya. Saya resah selepasnya
“ Kak…” lembut saya menyapanya.
“ Hm…” ia asyik menatap layar komputer. Tangannya sibuk ketak-ketik.
“ Adik minta dilamarin gadis.”
“ Ya lamar aja.”
“ Kakak gimana?”
Ia hentikan ketukan diatas tuts keyboardnya. Ia memandang saya. “ Gimana piye to, Bu?”
“ Mbok Kakak itu cepet cari sana. Kan ndak enak dilangkahi adik.”
Anak perempuan saya garuk-garuk kepala. “ Nyari itu ya dimana sih, Bu?”
“ Kan banyak tuh…”

Dia nyengir. “ Masa iya nyari pria hanya biar nggak dilangkahi adiknya. Masa iya mencari pria hanya berasalasan bosan diomongin orang karena seusiaku masih betah melajang. Nikah kan gak cuma perkara penyatuan dua badan untuk menghasilkan keturunan. Lebih dari itu kan, Bunda? Nikah itu tanggung jawab luar biasa. Pada Tuhan, pada keluarga, pada anak-anak saya, pada suami saya, juga diri saya. Saya tak ingin menjadikan seorang pria kesempatan buat saya untuk menghindarkan diri dari cibiran orang. Lantas bubaran sebelum setahun pernikahan dengan alasan ketidakcocokan. Doakan saya, Bu, insyaallah nanti pasti ketemu. Yang baik, yang seru, yang sayang sama Bapak itu, tapi juga punya jiwa petualang seperti di gambar itu,” ucapnya santai sambil menunjuk salah gambar pada lembar mimpinya.

Kalau tidak ketemu? Saya jadi ingin menangis.
“ Optimis. Jangan mikir negatif. Biar Tuhan juga yakin kalo mo ngasih.”
Saya diam. Menatap anak perempuan saya dengan perasaan campur aduk. Anak perempuan saya-usianya sudah tiga puluh sekarang. Bukan lagi gadis lima tahunan. Sudah dewasa dan punya pikiran sendiri akan banyak hal. Kurasa ia benar saat berkata sebaiknya saya mendukungnya dari belakang. Berpikir positif dan mendoakannya. Tetapi salahkah saya jika berharap ia segera menemukan jodohnya di usianya sekarang? Dan menghidangkan harapan itu setiap kali kami berbincang? Terdengar memaksakah jika demikian? Entahlah.
Saya menghela nafas. Menatap anak perempuan saya sambil berdoa pada Tuhan.

* thanks to Three Miss Kenthir

:)

05 Mei 2010

SEMPURNA

Masih berpikir tentang sempurna ketika melihatnya. Tinggi cantik putih, mempesona. Rambutnya coklat pirang, high heels-nya nggak ketulungan. Tinggi, runcing, langsing. Selangsing kaki belalangnya yang terpampang hingga di pertengahan paha, selebihnya menghilang di balik rok ber-rimpel warna baby pink. Naik ke atas sedikit sampai ke pinggang rampingnya. Melihat ukurannya mana mungkin 28, pasti 27 atau 26 ya?
Dan wajah itu betapa putihnya, mulus tanpa noda. Mungkin hasil karya salon-salon terkemuka. Bukan yang murahan, mana mungkin perempuan se-elite dia pergi ke salon macam itu. Mungkin saja dokter spesialis kulit seperti bosku-yang katanya harus mengeluarkan uang beratus-ratus ribu maybe moore untuk kulit sehat sempurna, seperti Apel New Zealand atau sejenisnya, yang merah merona. Menggoda, minta digigit saja.
Ya Tuhan, aku kok jadi iri ya. Ingin rasanya memiliki apa yang ia punya. Ia sempurna seperti gambaran wanita-wanita dalam iklan. Andai saja waktu bisa diputar, aku ingin lahir dengan kaki jenjang sepertinya. Agar tak ada lagi yang mengolok-olokku sebagai Miss Kaki Kesebelasan. Besar, banyak goresan dan mesti pakai stoking kalau enggak mau kelihatan belangnya. Itu saran temannya teman, kedengaran manis tapi mengiris perasaan. Dan pinggang itu, aduhaaai! Tak ada sama sekali gelambir selulit nempel disana. Heran deh, kemana siiih lemak-lemak yang masuk ke tubuhnya disingkirkan? Betapa hebat pencernaannya, hingga segala hal yang tak penting bagai keberadaan tubuh langsingnya langsung dikeluarkan agar tak menjadi sampah di tubuhnya.
“ Kecilin tuh body! Pria-pria takut melihat body macam ini. Barangkali itulah yang jadi penghalangmu mendapatkan jodoh. Ngerti?” ucap seorang kawan kemarin siang sambil menunjuk selulit di perutku.
“ Pria-pira suka yang perempuan model tahun 2010. Ceking sehat. Bukan yang banyak lemak.” Aku diam, menahan perasaan.
Zab! Aku menonjoknya. Ia menggelepar di lantai, mengaduh dan meminta ampun. Sayang hanya dalam angan, sesalku bersamaan dengan sepasang tangan halus yang menarikku ke belakang dan membisikkan ,” Nggak usah diladeni. Cuma bikin capek hati.”
Aku menoleh, mengiyakannya. Tapi tak urung ucapannya buruk itu terus-menerus berdentam. Seperti bunyi drum, bunyinya memenuhi ruang perasaan. Mengaduknya dan menjadikan hatiku tidak nyaman. Damn!
Sreeek!
Bunyi kursi diseret. Lamunanku bubar. Kulihat dua pria, memakai baju krem dan satunya biru duduk di depanku. “ Hm...arah jam dua belas boleh juga,” seru si biru.
Si krem tersenyum penuh arti. “ Apalagi property yang menggantung di dadanya itu. Boleh sekali,” ucapnya disambut kikik geli si biru, kawannya.
“ Berapa kira-kira?”
“ More than 34 kurasa.”
“ Fyuuuh…,” kata si krem geleng-geleng kepala seraya menyeruput es jeruk pesanannya.
Aku tergoda untuk ikut melihat juga. Ah, Memang iya. Bukan cuma mengintip kurasa, tapi sudah melongok keluar. Hendak tumpah seolah ingin mempertontonkan keindahan benda putih mulus di baliknya.
“ Lehernya jenjang. Kakinya juga. Seperti burung flamingo ya?”
“ Iya. Ah, menyenangkan betul siang-siang melihat perempuan penganut paham minimalis soal dandanan.”
“ Hahahahaha!”
“ Andai minuman, ibarat kopi panas dia itu.”
“ Oh ya?”
“ Ya, enak dan mantap diseruput di saat malam-malam berhujan. Pasti menyegarkan.”
“ Ohohoho…iya sih. Tapi tahan berapa lama hangatnya? Toh akhirnya akan mendingin juga. Mana enak sih ngopi kalau sudah dingin?”
“ Lha ketimbang nggak ada lainnya? Kan mending apa yang ada disikat saja. Dingin-dingin kalau lagi butuh ya diembat saja.”
Keduanya tertawa. Si wanita yang jadi bahan bicara tak menyadarinya. Sibuk ketak-ketik embuh apa di ponselnya. Berhenti. Ketak-ketik lagi. Manyun. Ketak-ketik lagi. Resah. Ketak-ketik lagi.
Siapa sih yang sampeyan kirimi sms? Para pemuja ya? Berapa banyak? Ah, kok mau tahu saja!
Si cantik mengibaskan rambutnya. Mengingatkan pada model-model iklan shampoo terkenal. Seperti apa sih rasanya jadi sampeyan, Mbak? Pasti menyenangkan ya, setiap hari pergi diiringi tatapan kekaguman. Tak sepertiku yang tak pernah masuk hitungan. Takkan memacetkan lalu lintas jika menyeberang jalan, begitu istilah DA-ku (Distributor Advisory). Sedangkan sampeyan? Oh my…jangankan menyeberang jalan, baru dipinggirnya saja semua pasti menghentikan laju kendaraan.
Satu sms datang, berbarengan dengan terbukanya yahoo di tangan. Aku abaikan. Lebih baik ngecek emailku duluan. Hanya ada empat email baru-konfirmasi PO, pemberitahuan kenaikan harga barang, form laporan monthly, dan curhatan teman. Tak satupun dari seorang pangeran. Ck, kasihan betul diriku. Batinku sambil menghembuskan nafas gulana ke udara.
Kembali dari dunia maya kulihat seorang waitress tiba ke meja dua pria tadi. Membawakan dua piring soto ayam komplet. Bersama dua gelas jus. Kuning warnanya. Mungkin jus mangga. “ Trims mbak…”ucap si krem, disambut anggukan waitress.
Tepat saat itu muncul dua orang perempuan. Memakai seragam, rambut di gelung rapih di belakang. Diberi pita. Hak tinggi menghiasi kakinya. SPG kurasa. Sejak tiba mereka berkicau saja. Tertawa-tawa, berisik, sambil menarik kursi untuk duduk mereka. Omongannya rame, seru, kebanyakan tentang pria. Mulai dari body sampai perut six pack-nya. Tak peduli pada tatapan aneh orang-orang lainnya. Seolah yang lain numpang dan hanya mereka yang bayar. Mengesalkan.
“ Burung-burung dara yang barusan tiba gimana?” si biru memulai bicara.
“ Es krim kurasa. Enak dijilati sambil jalan-jalan.”
“ Otak lo itu!”
“ Tapi enggak usahlah. Es krim lama-lama lumer juga kalau nggak dipasang di suhu yang pas. Mau disimpan dimana kalau enggak ada pendinginnya. Merepotkan saja.”
“ Jadi gimana?”
“ Air putih saja. Seperti yang di rumah. Menyegarkan walau tanpa gula dan campuran lainnya. Lebih alami dan tak perlu merasa berdosa menikmatinya. Dia juga bisa jadi apa saja. Terserah apa maunya, jadi kopi, teh…sudah halal.”
“ Akhirnya kembali ke selera asal.”
Derai tawa keduanya membahana. Aku bangkit meninggalkan meja, menuju kasir sambil mencatat kalimat terakhir tadi. Kembali ke Asal. Yang dirumah lebih halal. Sampai di parkiran langsung tancap gas, kembali ke kantor dan bergelut dengan rutinitas harian.
Malam tiba. Tak kemana-mana. Nonton teve saja. Salah satu serial menarik perhatian. Tentang perempuan yang bersikeras mengikuti kontes Dewi Amerika, hanya untuk mendapatkan cinta. Dengan serangkaian operasi plastik si itik buruk rupa dirubah jadi luar biasa. Tapi apa daya, setelah semua pengorbanannya ia masih kesepian juga. Cinta yang diharapkan malah kian jauh ketika semua orang merasa ia jadi pribadi yang tak menyenangkan. Seorang yang terlalu gupuh jika ada yang bilang ada satu bagian tubuhnya yang kurang. Dan selalu operasi plastik jalan keluar yang ia pikirkan.
Akhirnya, di tengah kegamangan ia memutuskan untuk membuang semua implant. Menjadi dirinya yang dulu, yang menurutnya biasa-biasa saja. Tetapi dilimpahi cinta orang-orang yang benar-benar menyayanginya. Orang-orang yang mendukungnya meski ia bukan siapa-siapa.
Aku tercenung memikirkannya. Moral cerita itu sederhana, syukuri apa yang ada. Tak usah mendongak ke atas karena belum tentu bahagia ketika kau telah meraihnya. Bisa jadi hanya luka sewaktu kau telah tiba di puncaknya sambil bertanya-tanya ,” Kemana hilangnya bahagia? Kenapa tak terasa jua setelah serangkaian derita?”
Aku merasa ditampar. Sangat keras.
Paginya, agak terlambat aku lari-lari masuk ke dalam kantor. Agak heran ketika orang-orang berkerumun di sudut ruang.
Ada apa sih?” aku nimbrung kesana.
“ Ini lho, eman-eman. Cantik-cantik kok bunuh diri?” sahut seorang teman.
Aku melongok. Lho, itu kan perempuan yang kemarin? Kenapa bunuh diri? Apa sih yang kurang darinya? Ia sempurna. Cantik jelita, kelihatannya dari keluarga mapan juga.
Terdorong rasa ingin tahu aku tarik koran, kubaca dan kudapati alasan si jelita itu melemparkan diri ke jurang kematian. Ia tak bahagia. Ia merasa tak pernah dicintai siapa pun juga semasa hidupnya. Limpahan harta tak memberikan arti apa-apa. Semua orang datang karena menginginkan sesuatu, bukan karena ketulusan. Itu yang tertulis dalam suratnya.
Jadi masihkah kau ingin sempurna? Sepertinya si jelita yang memilih membunuh dirinya?
Hatiku kecilku berucap tanya.
“ Di dunia ini tak ada yang sempurna. Karena Tuhan bertujuan mulia agar kita saling melengkapi dengan ketidaksempurnaan itu. Lagipula menurutku orang yang sempurna adalah orang yang menyadari ketidaksempurnaannya tapi selalu mensyukuri dan selalu berpositif thinking pada-Nya,” tulis seorang kawan nun jauh disana sewaktu aku mengiriminya email-ku yang berjudul Sempurna padanya.
Sore tiba. Hujan turun di menimpa jendela kaca. Masih belum reda. Sekedar membuang waktu, kutuliskan kejadian itu dalam satu rangkaian cerita, lalu diposting via blog tercinta. Bukan hendak menggurui siapa-siapa. Namun andai ada yang membaca aku berharap mereka mendapatkan hikmah cerita tentang sempurna.
* berteman Vicky Sianipar, Twelve Girls, Saluang (instrumentalia Minang), Apocalyptica, Vanessa Mae, dan The Dreamhouse Orchestra.

20 April 2010

SIAP(A SAJA)!

Minggu pagi, ngerem aja di kamar sendiri. Sibuk buka-buka ebook hasil download kemarin. Secangkir besar susu coklat panas jadi teman. Baunya harumnya bikin perut jumpalitan. Lalu srupuuut! Hm, masih panas. Meluncur ke dalam perut yang keroncongan bersamaan dengan suara assalamualaikum di pintu depan.
Kuseret sandal kelinci kesana dan bertanya-tanya-Siapakah dia gerangan? Oh ternyata Mama, adik ibu yang nomer dua.
Ada apa, Ma?”
“ Ibumu mana?”
“ Di belakang, bercanda sama lele-lele di kolam.”
“ Lha kamu kok masih awut-awutan. Masih belekan gitu. Apa nggak ada acara keluar ?”
“ Enggak, Ma. Tanggung bulan gini dompet mulai kosong glondangan. Males jadinya keluar.”
“ Apa kalau keluar itu harus butuh uang? Enggak dong, jalan-jalan sama pacar meski dompet kosongan tapi membahagiakan lho.”
“ Heheheh, masa sih? Masalahnya itu dia yang nggak ada, Ma.”
“ Cari dong, masa pacaran sama buku aja. Kamu tahu simple kok syarat mendapatkan pasangan itu.”
“ Apa, Ma?” tanyaku antusias.
“ Siap.”
“ Siap? Siap gimana?”
“ SIAP..PA SAJA.”
“Hah? Siapa saja? Asal pria dan ada nafasnya? Hiiih ngerinya? Mama ini gimana?”
Melihat mimikku yang seperti orang melihat drakula itu, Mama ngakak-ngakak.
“ Ya bukan gitu juga. Maksud Mama siapa saja, asal pas di hati dan jiwa. Nggak perlu heibaaat, seperti Brad Pitt.”
“ Pas di hati dan di jiwa mah gampang nulisnya. Aplikasinya susah, Ma.”
“ Emang apa sih syarat buat jadi pasanganmu? Harus sarjana gitu?”
“ Nggak muna sih, Ma. Kalau setara kan enak ngomongnya.”
“ Hei, Yang, memangnya ada kalau syarat jadi ayahnya anak-anak harus sarjana. Kan enggak? Banyak tuh yang sarjana tapi enggak ngerti anak istrinya. Lihat papa, lihat bapakmu juga. Memangnya mereka sarjana? Enggak kan? Tapi kok mereka bisa jadi ayah yang baik?”
Iya juga ya. Sarjana juga belum tentu bisa jadi suami dan ayah yang baik ya? Pinter juga Mama…
“ Ingat ya, Molen. Dia mungkin bukan pria yang paling maha, kamu nyaman bersamanya.
Nyaman? Kedengarannya kok seperti selimut ajaib yang enak untuk bergelung saat musim hujan. Asyik buat rebah-rebahan dan nggak bikin gerah badan saat kemarau melanda. Pokoknya always coca cola, nyaman di segala suasana. Itukah dia?
Aih mendadak jadi ingat Ustadz. Beliau sering kali berkata ,“ Carilah pasanganmu karena empatnya. Wajahnya, hartanya, akhlaknya, dan agamanya. Nah tapi dibalik semua yang penting itu yang paling akhir. Insyaallah jika agamanya bagus maka baguslah semuanya…. Dan bla…bla…bla…”
Kami percaya itu. Namun, sekali lagi namun, begitu tiba pria yang akhlak dan agamanya bagus, hadir dengan sederhana, tanpa banyak bunga kata dan kesombongan di sekujur tubuhnya kenapa hati justru angot-angotan? Kenapa kita tak serta merta ikhlas menerimanya? Berbeda jika yang hadir adalah mahkluk berlabel ‘bad boy’ di jidatnya, entah kenapa ia pintar sekali menarik hati kita. Menyedot perhatian dengan tingkah lucu dan kata-kata mesra, padahal sholat dan ngaji aja dilewatkannya. Gila ya?
Hah, apa sih yang kamu cari hai wanita? Nggak ngerti gua! Hati kecil geleng-geleng kepala.
*iseng aja sambil nginget-inget chit-chatku sama Di (kembaran lain ibu lain babe)

15 Februari 2010

BUKAN SUAMI SESEORANG-DAMN VALENTINE!! part 1



KEA
Dua hari yang lalu….
Hari berhujan ketika aku datang ke Pengadilan Agama. Kulihat di depan ruang sidang Lea datang diantar oleh ayah dan adiknya, mengenakan baju hitam berenda kesayangannya. Kerudung hitam berenda ia sampirkan, sementara matanya ditutupi kacamata hitam lebar. Sekilas kami berpandangan, bibirnya membuka seolah hendak berkata tetapi aku justru memalingkan pandang kearah lantai warna terakota di bawah sepatuku.
Sejurus kemudian kami memasuki ruang sidang. Dengan segala bla-bla-bla dan kebosanan aku berharap sidang cepat diakhirkan. Lalu detik-detik menentukan pun datang. Ketukan palu Hakim terdengar, satu tanda bahwa aku dan Lea telah syah berpisah di tengah jalan, satu hal yang tak pernah kuimpikan sejak awal pernikahan.
Semua berawal di bulan keenam pernikahan kami sewaktu selentingan tengan perselingkuhannya mula kudengar. Rasa marah yang menggelegak akibat berita itu benar-benar menyiksa perasaan. Tetapi logika sehatku masih berjalan. Aku harus punya buktinya dulu sebelum menuduh seseorang melakukan kesalahan, sebab jika tidak berarti kau telah termakan omongan tak benar dan mempertaruhkan pernikahanku yang selama ini tenang. Entah bagaimana bukti itu datang dengan sendirinya tanpa aku harus bersusah-susah mematai-matainya. aku ingat hari itu aku pulang lebih cepat dari jadwal tugasku di Banyuwangi hanya untuk memberikan surprise di ulang tahunnya yang ke-26. Jam 12 tepat, saat orang-orang kantoran istirahat aku tiba di bank tempat istriku bekerja untuk menjemput dan mengajaknya makan siang. Sayang kata satpam Bu Lea sudah keluar lima menit sebelumnya.
Maka dengan sedikit kecewa akhirnya aku melesat ke kantor subdist Jember. Berbincang sebentar dengan Arika, adminku, tentang beberapa hal yang berkenaan dengan program serbu pasar yang minggu depan akan dilaksanakan. Dari sana aku lalu meluncur ke Mentari supermarket, setelah sebelumnya aku mengontak Risma, SPG-ku. Tepat saat itulah mataku menangkap sosok Lea bersama seorang pria di escalator menuju lantai dua. Melihat keduanya aku urungkan niatku menemui Risma dan justru mengikuti mereka. Di Food Court mereka berhenti. Kulihat dari mimik dan gayanya bicaranya kurasa istriku cukup akrab dengannya. Hai, kata itu hampir saja terlontar dari mulutku sebelum mataku menangkap pria itu meremas lembut tangan istriku. Tubuhku meremang, perasaanku tak karuan terlebih ketika istriku malah membiarkannya dan bukan menepiskan.
“ Hallo?” aku berusaha tetap tenang saat menelfon Lea, walau pun badai tengah bergolak di dada. “ Lagi istirahat, Cantik?”
“ Hallo? Eh, iya Mas.”
“ Makan siang dimana?”
Ia sebutkan satu tempat di dekat kantornya. Aku menggeleng pelan. Kau tak disana. Kau sedang di Food Court dengan seorang pria yang mengelus pipimu dengan mata penuh cinta, geramku. Malam itu setelah seharian berusaha menenangkan perasaan aku mengajak Lea ke restoran Terapung. Berbicara kesana kemari sambil menikmati hidangan lezat tanpa ia tahu kecamuk amarah di dalam. Ia terlihat gembira saat aku mengeluarkan cincin berlian yang ia idam-didamkan. Sampai di rumah percakapan menyenangkan itu terus berlangsung, sebelum akhirnya aku bertanya siapa pria yang kulihat bersamanya saat makan siang.
Wajah Lea memucat. Tapi sebentar kemudian ia telah menguasai keadaan. “ ah, Papa ini ada aja ngelindur. Aku tadi kan enggak kemana-mana. Cuma makan siang dekat kantor saja. Persis seperti yang kukatakan waktu tadi Papa telefon.”
“ Benarkah? Karena aku tadi di belakangmu waktu kamu makan siang di Food Court-nya Mentari Supermarket.”
Mendengar itu ia membeku. Tak bisa mengelak. Tak bisa berkata. Ia memohon maaf karena telah melakukannya. Ia berkata semua itu dilakukannya karena ia kesepian. Ia butuh teman, sedangkan aku lebih sibuk dengan pekerjaanku bahkan saat kami tengah berdua di rumah. Lalu pria itu datang, asyik diajak berbincang tentang apa saja dan pendengar yang baik pula. Tak seperti diriku yang terlalu sibuk dengan duniaku sendiri. Ia juga berkata hubungannya hanya sebatas bicara, tak berselingkuh secara seksual.
Sepanjang malam itu kami berpisah. Ia tidur di kamar utama dan aku di kamar satunya. Menghabiskan waktu mengutak-atik kerjaan yang sebenarnya tak perlu kukerjakan sekarang. Sepanjang malam itu aku merenung, apa yang semestinya kulakukan. Sambil menangis kuceritakan semua pada Tuhan segala kegundahan. Dan jawaban itu dikirimkan tuhan melalui artikel yang kubaca di salah satu situs yang kubaca selepas sholat malam. Maafkan dan lakukan perubahan! Perhatikan istrimu dan jadilah teman, jangan biarkan ia temukan orang lain sebagai tempatnya bersandar.
Maka sejak itu hubungan kami pun membaik. Tak seperti dulu aku jadi lebih sering menelfonnya, mengajak makan siang jika aku tengah pulang ke kota Jember. Mengajaknya jalan-jalan di akhir pekan dan sering memberinya surprise yang membuatnya terlonjak senang. Tak pernah kupikirkan lagi kesalahan yang ia lakukan, sampai suatu hari sesoerang menelfonnya di sabtu siang swaktu ia berbelanja ke warung sebelah dan akulah yang berada di rumah. Ia mengucapkan segala kata rindu dan cinta sebelum aku sebelum mengucap hallo padanya. Mendengar itu aku gemetar, aku oleng di sisi meja makan. Kututup tanda end untuk mengakhiri pembicaraan, lalu dengan sengaja menyusurin inbox di ponsel istriku untuk mengetahui sms-smsnya. Hatiku semakin saat mengetahui berpuluh-puluh dikirimkan dari nomer yang sama dengan segala gombal dan rayuannya.
Aku merasa bodoh sekali saat itu. Kenapa aku tidak bisa seperti Kris, Hendra atau Didon yang memanfaatkan setiap kesempatan untuk bersenang-senang dengan banyak perempuan. Bukankah aku sendiri punya banyak kesempatan? Selama ini banyak sekali perempuan yang mengirimiku sinyal ketertarikan, bahkan mau saja kalau sekedar diajak ‘bobo-bobo siang’ tanpa kelanjutan. Lihat sekarang! Kesetianmu tak dihargai oleh istrimu yang telah bersumpah setia dan berjanji untuk tak mengulangi kesalahannya yang lalu.
Mengingatnya kebencianku pada Lea menaiki derajat tertinggi di kepala. Kali itu aku tak memberinya ampun. Ucapan maaf dan bahkan ajakan bercinta yang selama ini selalu bisa meredakan amarahku padanya tak kugubris. Keputusan berat kupaparkan, bahwa aku ingin berpisah saja sekarang. Lea terdiam dengan air mata yang menetes pelan. Sebulan kemudian setelah bolak-balik berpikir baik dan buruknya, akhirnya aku menyerahkan Lea kembali pada orang tuanya. Menyatakan bahwa aku tak sanggup lagi menjadi imam bagi putrinya setelah dua kali ia berselingkuh di belakangku. Mata ayah Lea nampak berkaca-kaca, terlihat marah tetapi tak bisa berbuat apa-apa.
Setelah itu aku melayangkan gugatan cerai. Di sidang pertama, yang isinya mediasi, Lea berkata tak ingin berpisah denganku. Ia masih cinta dan sayang padaku. Damn! Bisa-bisanya kau katakan itu! Seharusnya kau memikirkan itu sebelum menduakan hatimu dengan orang lain. Sidang berjalan tak semulus yang kukira, sebab Lea tak bergeming dengan keinginannya untuk tak berpisah denganku sementara aku sudah jelas ingin berpisah.
Dan sekarang inilah aku…Dua hari menjelang hari kasih sayang aku bukan lagi suami dari seseorang, aku kembali lajang. Dan ketukan palu tadi yang mensyahkan. Seharusnya aku senang, karena sidang perceraian yang menyedihkan telah berakhir sekarang. Tetapi kenapa rasanya tetap menyakitkan, remuk redam seperti dilindas truk jeruk yang lewat disebelahku barusan. Sialan! Umpatku tak tahan tepat ketika Kotak mengalunkan lagunya lewar radio mobilku,
Lepaskanlah ikatanmu dengan aku
Biar kamu senang
Bila berat melupakan aku
Pelan-pelan saja…
(Kotak: Pelan-Pelan Saja)
Inspired by the people said ,” selingkuh itu sial (an)!”
Thanks to : Kotak (Aku masih Cinta, Pelan-pelan saja)
pic : taken from http://thesiriusnetwork.org/

25 Januari 2010

TIGA HARI MENJELANG RAMADHAN


Kepada Yth. Ibu Negara,
Assalamu’alaikum, Ibu. Semoga Allah selalu memberkahi dan melindungi Ibu. Entah kenapa malam ini saya ingin bercerita tentang semua keresahan saya kepada Ibu tercinta.
Sudah beberapa hari ini saya tidak bisa tidur nyenyak, Bu. Diganggu kegelisahan tiap kali menatap penanggalan. Ya, tiga hari lagi ramadhan tiba dan saya tak punya uang. Jangankan untuk belanja selamatan menjelang ramadhan, Bu, untuk makan sehari-hari saja saya kebingungan. Mau hutang ke warung Yu Kismi saya tak berani, sebab masih ada hutang lalu yang belum saya lunasi. Bahkan si kecil demam pun saya tak bisa membelikannya obat. Yang bisa saya lakukan hanya berdoa sambil mengompresnya dengan air dingin.
“ Pergilah ke Puskesmas, Yu. Gunakan Jamkesmas,” saran Bu Rus, pengurus Posyandu RT kami.
Tapi bagaimana caranya? Saya kan tidak punya. Entah kenapa kok justru orang-orang yang lumayan berada seperti Mbak Sri yang justru bisa menggunakannya. Bukankah program jaminan kesehatan masyarakat ini seharusnya hanya untuk orang-orang miskin seperti saya, Bu?
Belum selesai perkara ini eh si Ardi, anak saya yang duduk di kelas dua STM, berkata kalau ia masih menunggak pembayaran buku-buku sekolah. Aduuh, uang dari mana? Sedangkan Bapaknya sudah tidak melaut lagi selama tiga hari ini, pekerjaan sambilannya sebagai buruh bangunan juga sedang sepi. Ah, Bu, katanya sekolah gratis ada dimana-mana tapi kok masih terasa berat ya di pundak saya?
“ Sekolahnya gratis, lain-lainnya ya ndak! Buku, seragam dan lain sebagainya kan harus biaya sendiri, “ sahut seorang tetangga ketika saya berkeluh kesah tentang itu pada mereka.
“ Karena itu kusuruh Arti berhenti sekolah saja, biar bisa bantu-bantu orang tua. Sekolah tinggi juga nggak jaminan, nyatanya itu si Dirun bisa jadi juragan kapal tanpa sekolah,” sahut yang lainnya.
Deg! Saya miris mendengar ini. Saya dan suami tak ingin pendidikan anak-anak berhenti disini. Kami punya cita-cita tinggi agar anak-anak bisa melebihi kami yang tak tamat SD ini.
Kemoncolen! Kere wae macem-macem (Sok! Miskin saja macam-macam.red)!” komentar seorang tetangga mendengar tekad kami.
Kemoncolen? Bukan, Bu. Bukan begitu. Kami hanya berpikir dengan bekal ilmu dari sekolah nasib mereka bisa berubah. Tidak mewarisi pekerjaan ayahnya sebagai sebagai nelayan yang sekarang sulit dijadikan topangan. Siapa tahu kelak dia jadi Presiden seperti suami Ibu, lalu meluncurkan cara-cara jitu bagaimana cara mengangkat kehidupan nelayan kearah lebih baik sekaligus meretas masalah hilangnya ikan-ikan dari lautan. Kata suami saya hilangnya ikan-ikan itu akibat ulah kapal pukat, Bu. Tanpa ampun mereka tandaskan semua ikan tanpa peduli ukurannya bahkan terumbu karang pun jadi ikut rusak akibat tersangkut jaring mereka. Yang lebih gawat ulah kapal pengebom ikan, sudah merusak terumbu karang tempat kami mencari ikan mereka juga seenaknya saja meninggalkan ikan yang tak masuk dalam buruan terapung-apung mati di lautan. Inilah yang kemudian jadi pikiran suami saya. Seringkali ia termangu di beranda rumah reot kami, sembari menatap langit-langit malam, memikirkan bagaimana ia harus memenuhi kebutuhan sehari-hari jika kondisi seperti ini terus terjadi.
Saya sendiri ikut merasa cemas juga, Bu. Bertanya-tanya dalam hati apakah masa depan kami akan sesuram cahaya lampu minyak penerang rumah kami.
Sabar, Nduk. Gusti Pangeran luwih ngerti apa sing apik kanggomu lan keluargamu (Sabar, Nduk. Gusti Pangeran lebih tahu apa yang terbaik bagimu.red),” ucap Ibu mertua saya sembari membenahi jala, seolah tahu kegelisahan yang saya sembunyikan.
Saya mengangguk dalam, sementara pikiran saya melayang-layang.
“ Assalamu’alaikum,” suara salam itu membuyarkan lamunan. Saya segera bangkit menuju depan. Saya lihat seraut wajah kuyu milik Ardi ketika pintu rumah terkuak lebar.
“ Kok pulang sore lagi, Di? Sudah seminggu ini kau pulang sore terus, apa ada kegiatan di sekolah?”
Ardi menggeleng. “ Ah tidak , Bu.”
“ Lha terus kamu kemana?”
Ardi meringis .” Sudah seminggu ini ikut sekolah diperbaiki. Saya nguli disitu, Bu, supaya bisa melunasi tunggakan buku dan membelikan Tri obat. Maaf, saya memang ndak bilang dulu sama, Ibu,” jawabnya polos.
“ Apa kamu tidak malu, Le, dilihat teman-temanmu?”
“ Ah, tidak, Bu. Malu takkan bisa menyelesaikan masalahku,” katanya sembari tersenyum.
Tangis merebak di mata saya, bangga sekaligus terharu. Terlebih ketika menerima sebotol sirup penurun panas dari tangannya yang kurus.
“ Terima kasih, Le,” sahutku terbata-bata.
Bapaknya langsung berkaca-kaca ketika saya ceritakan semua itu. Sejumput rasa bersalah terlontar dari mulutnya di tengah kebanggaan yang melingkupi dadanya. Katanya ,” Maaf, seumur hidupku belum pernah aku membuatmu dan anak-anak bahagia.”
Aku trenyuh menatapnya. Dalam hati aku berkata ,” Maafkan aku juga, Pak, sering ngomel-ngomel kalau rejeki lagi seret begini. Bahkan dalam kesempitanku aku sering menyuruhmu hengkang ke negeri jiran tanpa peduli bagaimana nasibmu disana nanti. ”
Sejurus kemudian hening menguasai kami. Tak ada yang kami bicarakan selain diam, asyik tenggelam dalam alam pikiran kami masing-masing. Tiba-tiba seseorang mengucap salam, kami segera bangkit melihat siapa yang datang. Ternyata, Dik Kasno . Kedatangannya tak lama, ia hanya mengabarkan kalau besok ada kerjaan. Apalagi kalau tidak jadi buruh bangunan.
Berita singkat itu kontan membuat wajah suami saya berubah menjadi cerah. Senyumnya terkembang ketika ia menatap saya. Alhamdulillah, batin saya bercampur malu. Bukan malu pada suami saya, tapi pada Tuhan, Bu. Sedari tadi saya mengeluh saja, dan ternyata kini ia justru mengirimkan rejeki-Nya.
Ah, tak terasa malam kian larut, Bu. Tuntas sudah segala kisah saya tumpahkan. Maafkan jika ada kata yang kurang berkenan, jujur saya tak punya maksud apa-apa ketika keluh kesah ini saya sampaikan. Hanya sekedar bercerita, seperti layaknya curhat seorang anak kepada ibunya, meski sang Ibu diam saja dan hanya menatapnya tapi perasaan sudah lega. Plong, setelah beban di kepala terlontar kepadanya.
Oh iya, tiga hari lagi ramadhan tiba, saya ucapkan selamat menunaikan ibadah puasa. Semoga Ibu dan Bapak dikaruniai keberkahan. Selalu diberi kesehatan agar tidak mudah tumbang menunaikan kewajiban sebagai pemegang kemudi kapal bernama Indonesia. Juga diberi kejernihan menghadapi badai dan gelombang yang terus menghadang.
Wassalam.

25 November 2009

MAN OF MY DREAM


Selembar mimpi tercetak dalam rangkaian gambar. Tentang keinginan seorang perempuan akan pria pujaan. Tak terlalu tampan, seorang pecinta alam, tak canggung berpelukan dengan kesederhanaan, bahkan orang-orang biasa yang ia temui di jalan. Adakah dia dalam nyata? Lalu bersama-sama bergabung membentuk satu kesatuan, di atas rumah mungil di atas bukit, dengan halaman depan yang penuh pepohonan. Menyejukkan pandang, tempat dua bocah kecil, laki-laki dan perempuan berguling-gulingan di rerumputan. Memanggilnya dengan keriangan agar bergabung di atas permadani hijau tebal menghampar, milik alam. Dari kebun belakang pria itu muncul, bermandikan peluh tapi ceria saat menatap perempuan itu dan dua buah hatinya.
“ Lihat apa yang Ayah bawa,” pria itu tersenyum lebar, memberikan sekantung strawberry dari kebun belakang.
Dua bocah itu berlari saling mendahului, mencoba tiba lebih dulu untuk mengambil kantung harta karun dari Ayahnya, yang berkulit kecoklatan, yang berwajah ramah menyenangkan.
Perempuan itu nyengir melihat keriuhan didepannya. Ia biarkan lelaki yang gambarnya pernah menghiasi lembar mimpinya itu menghadapinya. Ia abaikan tatapan memohon bantuan darinya, ditempatnya ia berdiri, tersenyum geli melihat dua bocah kecil itu meminta gendong ayahnya.
“ Besok kita kemana, Yah?” sang putri kecil penuh harap.
“ Umm, kemana ya?” Ayah pura-pura berpikir keras.
“ Adik pengen ke kali, Ayah,” jagoan kecil mengeluarkan pendapatnya.
“ Kenapa?” Sang Ayah memandangnya antusias.
“ Mengail ikan, berenang…asyikkk!” jagoan kecil melonjak riang.
Sang Ayah tersenyum. “ Kamu, Putri?”
Sang putri mengangguk.
Perempuan itu tersenyum, dua buah hatinya ternyata punya kecintaan yang sama dengan alam sama seperti sang ayah. Hanya kadang ia khawatir jika mereka bertiga tak juga pulang hingga petang menghampar. Terlebih jika hujan deras turun menghias. Sering ia ingatkan suaminya tentang hal itu, tapi pria itu hanya tertawa. Lalu nyengir kuda, membuat hatinya luluh seketika.
“ Apa yang kau takutkan di dunia ini?” Tanya pria itu, saat mereka berduaan memandang bintang di atas atap rumah mereka.
“ Kehilangan kalian,” perempuan itu menatapnya. Rasa panas mengaliri sudut matanya.
“ Ah, kau ada-ada saja.”
“ Kalian bertiga punya kesukaan yang sama, begitu suka dengan alam. Aku takut kalian meninggalkan aku sendiri disini dan tidak kembali.”
“ Aku mencintai alam, tapi aku tahu kapan pulang. Seperti seorang surfer professional, ia selalu suka berpelukan dengan ombang laut yang menantang, hanya saja mereka selalu tahu kapan kembali ke tepian,” pria itu tersenyum menenangkan.
Gemintang berkerjapan. Ditingkahi suara gitar yang didentingkan pria itu, terdengar lagu yang dinyanyikannya dengan nada sumbang. Perempuan itu tertawa. “Kayaknya, aku saja yang benyanyi, Yah. Suaramu payah,” ujarnya sembari tertawa gelak.
Pria itu melotot. Tak serius, dan perempuan itu tergelak.
“ Kau mungkin tak tahu, aku mencintaimu bahkan sebelum kita bertemu. Mengagumi kisah-kisah perjalananmu. Kagum akan pengetahuanmu tentang bagaimana survive di alam, yang tak pelit kau tularkan pada orang. Aku heran kenapa demikian. Toh kita tidak kenal, tapi saat melihat gambarmu aku tahu kaulah pria yang kucari itu.
Tapi detik-detik waktu berlalu dan harapku bertemu denganmu terkikis waktu. Hingga pada suatu masa kau tiba tanpa kuduga, saat aku bahkan tak memikirkannya. Aku masih ingat bagaimana tercengangnya aku saat kau berkata-would you marry me-saat itu. Rasa panik dan bingung menguasai hatiku.
Seharusnya aku bahagia, kau mengucapkannya padaku. Tetapi anehnya aku malah menangis dan berlari darimu. Kau tahu, aku ketakutan waktu itu. Berusaha meyakinkan diriku bahwa yang kudengar itu bukan impian, tapi kenyataan. Aku berusaha mencari kebenaran itu di matamu. Tapi gayamu yang terlihat biasa, bahkan cenderung tak serius sebagai orang yang mengajak untuk mengarungi lautan kehidupan berdua, membuatku kecewa. Kau hanya bercanda, pikirku kecewa.
Tapi ketika kau menyatakan untuk kedua kalinya, aku disadarkan bahwa proposalmu itu betulan. Sebab setahuku jika tidak penting, kau jarang mengulang pertanyaan.
Dan sekarang disinilah kita, berdua. Diatas rumah mungil berkarpet hijau segar, ciptan Allah yang Akbar. Dengan seorang putri dan seorang jagoan yang meramaikan dunia kita dengan segala jeritan, pertengkaran, dan tawa yang menyegarkan,” batin perempuan itu tatkala suaminya nekat menembangkan sebuah lagu tentang alam, tak kalah sumbang dari yang awal.


Only story, inspired by my daily funny story
Cerita di balik cerita
Thanks to Ilo, Nessa, and Cinta Astari who asked me ,” Who is this guy, Fin?”
Aku ingat di hari mereka bertanya itu aku celingukan sambil tertawa. Mene ketehe? Aku ndak mengenalnya…Oh ya aku memajang gambarnya di lembar mimpi ( selembar kertas yang kutempeli rangkaian gambar yang melukiskan cita-citaku ke depan), suka juga mengikuti ceritanya, tapi dia aku tidak mengenalnya sedetil dalam cerita. It was my imagination, guys! Kalau pun aku menulisnya, hanya sebuah kebetulan saja. Obrolan dengan teman dan harapan suatu hari aku bias sepertinya membuatku menulisnya. Itu saja.
Hwahahahaha! Aku kian tergelak ketika mereka berkata ,” Yaelah, kupikir dia….”
“ Special man in my life gitu?” batinku menyahutinya. Waduuh…only in my dream ya (tapi kalo kejadian juga nggak pa-pa hahahaha!).
“ Jadi siapa dia?” tanya Cinta.
“ Pssst, off the record ya…” kataku sambil mengetikkan satu nama yang bikin Cinta Astari terkekeh-kekeh karenanya sembari menuliskan kalimat tentangnya yang dengan gampang kuartikan sebagai “dia memang laki-laki banget!”.
Kwakakakaka, aku kembali tertawa. Terlebih ketika Nessa bertanya ,” Jadi lo kenal dia…”
“ Gyahahahahaha!!!” aku tak bisa menahan tawa, disaksikan oleh komputer dan mouse yang mengerjap-ngerjap ceria.

09 November 2009

BILA KAU MULAI MENYESALI DIRIMU

Menjadi lajang di usiamu yang ke-29 tentu saja menimbulkan pertanyaan. Kapan menikah, kapan calonnya akan dikenalkan sudah jadi makanan sehari-hari yang harus ditelan. Apalagi ditambah problema karir mandeg dan melarnya badan, wah lengkap sudah penderitaan. Itu juga yang dialami Tata, sahabatku tercinta via ponsel kemarin lusa. Seharusnya aku sedih mendengarnya tapi gaya berceritanya yang jenaka membuatku tak bisa menghentikan tawa.
“ Ah, elu! Bukannya Bantu malah ketawa, gimana sih, Bu?” ia mendengus kesal. Aku berhenti tertawa. Lalu hanya hening yang kudengar. Dari seberang nafas berat ia hamburkan, seperti tengah mengumpulkan kekuatan.
“ Aku nggak ngerti kenapa hidupku begini, Fin. Aku hanya ingin bahagia, tapi seolah semua tak terjangkau. Sendirian, tak punya pacar, kegemukan, pekerjaan yang nggak berkembang. Kenapa demikian? Sementara orang-orang lain sudah bersiap terbang ke bulan.”

Deg! Mendengar kata Tata barusan aku seolah melihat diriku beberapa waktu sebelumnya. Seorang gadis yang meratap setiap kali menatap bayangannya di kaca. Tiada hari berlalu tanpa mengeluhkan hidungnya yang pesek, rambut yang ikal berantakan, kaki yang mirip anggota kesebelasan, kegemukan, pekerjaan yang apa adanya, serta kisah hidup yang datar-datar saja. Ah! Sebalnya!
Setipa hari, seperti orang bodoh aku membawa harapan aneh dalam tidur malamku. Kau tahu apa itu? Aku berharap agar jika esok tiba, hidung pesekku akan jadi bangir dan kaki pendekku akan memanjang seperti kaki belalang. Pekerjaanku pun tak lagi admin distributor yang jual sabun mandi cap similikithi, tapi sudah menjadi seorang esmud (bukan es kelapa muda, tapi eksekutif muda) perusaan minyak goreng jelantah merk bahagia. Dan punya pacar keren yang pantas tuk dipamerkan di meja makan. Bagaimana? Mantab kan? Ah, tapi seperti umumnya hayalan tak berdasar, semua itu tak pernah jadi kenyataan.

Perasaan rendah diri itu juga yang membuatku enggan pergi kemana-mana. Itu juga yang membuatku malas menghadiri reuni kecil kawan-kawan SMA kalau tidak dibujuk Irma. Tapi apa yang terjadi disana? Fuuh, aku merasa ingin tenggelam saat mereka tanyakan seperti apa kehidupanku sekarang. Apa yang harus kuceritakan? Aku tak tinggal di luar seperti Renee dan Neisya (Renee di DC dan Neisya di Italia). Tak pernah merasakan petualangan di Afrika seperti Kartika atau menara Eiffel di waktu malam seperti seperti Irma. Tidak juga menjadi pengacara sekaligus penulis berbakat seperti Dayu.
“ Aku kerja di Banyuwangi, tinggal dengan orang tua, dan bekerja sebagai admin di salah satu distributor,” akhirnya aku menyahut juga, dengan suara lirih hampir tak terdengar. Oh dan anggukan, itu yang mereka lakukan. Tak ada cemoohan, namun entah mengapa rasa maluku kian dalam. Ketika percakapan bergulir dengan jenaka, semua pun tertawa kecuali aku yang terus menunduk di sudut ruang, sambil memandang penampilan teman-temanku yang terlihat heibat-heeeiibaaat itu! Oh, Tata…Dalam hati aku menyesal kenapa mesti datang segala ke acara reuni yang menyiksa?
Yang lebih menyedihkan ketika kami lanjutkan acara dengan jalan-jalan di mall. Semua pria keren menatap mereka, satu dua menyuitinya, mengajak berkenalan ketika kami asyik ngopi dan minum juice di food court. Sedangkan aku? Sama sekali tak tak ada, walau aku juga bersama mereka Duooh! Pengen balik kanan aja, pulang, lalu ngerem di kamar! Arrggh!

Beruntung dalam kondisi itu seorang sahabat baik mendatangi dan menasehatiku. Kau mau tahu siapa dia? Tak lain dan tak bukan adalah, Bunda. Dengan arif ia berkata ,” Hidung pesek dan kaki kesebelasan yang kau risaukan itu adalah anugerah tak ternilai, Kak. Andaikan kau tak punya salah satunya bagaimana kau akan bernafas dan berlari? Lagipula masih banyak dalam hidup ini yang perlu dirisaukan ketimbang penampilan.”
“ Tapi ini dunia nyata, Bu,” bantahku dalam hati.” Penampilan itu perlu…”
“ Penampilan memang perlu. Tapi tak selalu, “ kata ibu seolah tahu apa yang berkecamuk di kepalaku.
Kau hanya belum tahu, kekuranganmu justru bisa menjadi kelebihanmu.”

Aku mengangguk, tapi tak sepenuhnya percaya apa yang dikatakannya. Hingga akhirnya kehidupan bergulir dan mengajarkanku banyak hal. Menjadi jelita tak selamanya membahagiakan, Tata. Kau ingat Mbak Merlika, Mbak Kos kita dulu itu? Aku bertemu dengannya beberapa waktu lalu. Kecantikannnya sudah pudar. Body seksi yang dulu dikagumi orang hilang entah kemana, berganti dengan tubuh kerontang, pucat dan jauh dari kesan bahagia. Kudengar perkawinannya dengan suami super kerennya itu bak bencana. Pukulan, tendangan, dan cacian selalu jadi santapan harian. Kabarnya itu dilakukan karena suaminya cemburuan. Mengira Mbak Merlika yang bukan-bukan, bahkan hanya gara-gara kelamaan ngobrol dengan tukang jual tempe di depan rumah. Duuuh! Sial!

Punya pekerjaan mantap dengan gaji tinggi pun ternyata membawa konsekuensi yang tidak sedikit. Kerja, kerja, kerja saja yang jadi prioritasnya. Alhasil, setiap kali pasang status di facebook keluhannya adalah pusing, sakit kepala, pengen muntah, nggak enak badan. Itu yang terjadi pada kawanku, Fana, yang kini bekerja sebagai hakim. Bukan hanya itu perkawinannya pun diambang perceraian, karena ternyata susah menjaga keseimbangan antara anak, suami, dan karier yang sedang melaju pesat.
Perkara kegemukan yang kualami, sampai sekarang pun aku memeranginya. Tidak mudah memang menurunkan berat badan hingga lima kiloan. Apalagi didera rasa malas dan kurang kuatnya kemauan. Tapi aku beruntung ada sahabat yang menyeretku masuk ke sanggar senam. Meyakinkanku bahwa kegemukan takkan bisa dilawan hanya dengan diam.
“ Kenapa termangu? Kau malu karena tak punya baju yang pantas untuk senam? Takut kalau nanti kamu terlihat paling gendut disitu? Ayolah! Buang rasa rendah dirimu!” seru Mbak Haya.
Mataku pun terbuka lebar ketika datang ke sana. Kulihat perempuan-perempuan itu datang dengan masalah yang sama. Tapi bukannya meratap justru mencari solusi untuk memecahkannya.
Jangan ikut senam untuk menurunkan berat badan, yang ada kamu akan kecewa. Semua perlu proses dan bukan hasil sulapan. Nikmati saja, perlahan-lahan gerakan senam ini akan membakar lemakmu dan mengencangkan otot-otot di tumbuhmu. Seperti aku,” kata Mbak Fatim. “ Ya tentu saja aku tak bisa sekurus saat remaja, maklum umur sudah diatas tiga puluh dua. Sudah turun mesin sebanyak dua kali pula,” katanya kemudian dengan jenaka, membuatku ikut tertawa.

Dan jangan juga berpikir jika bobot tubuhmu-lah yang menjadi penghalang kau dapat pasangan. Jika kau tak percaya apa kataku, karena aku masih jomblo sepertimu tak apa. Mungkin kau harus bertemu dengan Mbak Ivy atau Te. Mereka juga bukan perempuan bertubuh langsing, tapi mereka berhasil menemukan pria yang mencintai mereka bukan ‘karena kau…” tapi “ meski pun kau…”
Maka nikmati saja, semua ada masanya. Mungkin dengan kesendirian ini sesungguhnya Allah justru menyuruh kita mempersiapkan diri dengan berbagai keterampilan dan pelajarang penting sebagai bekal untuk menghadapi hari-hari dimana kita sudah bukan lagi nona, tapi nyonya. Ketika anak-anak berlarian dan membuat rumah seolah kapal pecah, pekerjaan rumah yang tak habis-habisnya dan suami yang harus dilayani walau tubuh sudah enggan diajak kompromi.

Dan kau tahu apa yang ibuku katakan dulu itu benar. Hidung pesek ini ternyata justru dikatakan lucu oleh temanku, sementara ia menyesali hidung bangirnya yang nampak aneh dan kebesaran. Ada lagi yang menginginkan rambut yang acap kusesali, kawan, agar tak perlu lagi menggunakan curly iron untuk tampilan ikal. Dan kakiku yang seperti kaki kesebelasan itu, Tata Sayang, justru membuatku kuat berjalan. Mampu menopang bobot tubuhku tanpa harus ngos-ngosan sementara nona-nona berkaki belalang mengeluh capai saat kami harus mendaki bukit dalam rangka tamasya kantor beberapa saat lalu.
Lalu bagaimana dengan pekerjaanku? Apakah aku masih sering mengeluhkannya? Well, ya…masih, wong aku ini manusia biasa. Tetapi setiap kali melakukannya aku akan memikirkan perkataan teman-temanku yang jadi tukang parkir, tukang becak, penjahit kodian, atau pedagang sayur di pasar bahwa,
“ Ini hidup kita, disesali pun tiada guna. Ayo qonaah, jangan pasrah!”
Jujur aku jadi malu mendengar itu. Mereka yang tak mengenyam bangku kuliah seperti kita ternyata lebih bijak memandang kehidupan. Diam-diam tawa ringan melesat dari dalam. Hahahaha! Rupanya, selama ini akulah yang membuat hidupku sendiri jadi tidak menyenangkan. Maka yang bisa kukatakan adalah,
Jangan pecahkan cerminmu saat kau melihat kesuraman disekelilingmu, tapi gantilah kaca matamu dengan yang baru agar kau bisa melihat segalanya lebih jelas, lebih indah, dan lebih cerah.”

Satu hal yang harus kau sadar tentangmu, Tata. Dibalik semua yang kau risaukan kau punya banyak kebaikan. Kau selalu memulai hari dengan sedekah pagi. Menyapa semua orang dengan riang. Mendengarkan orang-orang yang butuh didengar meski saat kau butuh bantuan mereka tak datang. Kau juga selalu punya gurauan garing yang membuat orang tertawa. Nah, bagaimana? Apa kau masih berpikir kau ini biasa-biasa saja? Tunggu saja, suatu hari seseorang akan mengatakannya!

Only story, inspired by my daily funny story ( I hear, I watch, I write, I love it)
Thanks to :
Vita untuk ‘
nikmati saja semua ada masanya
Mamanya Nazwa (bener gak nih nulisnya) untuk ‘
jangan ikut senam untuk menguruskan badan
serta lalu lalang cerita yang menyenangkan